
Happy reading 📖📖guys
DEON
Gue berpamitan kepada Rayla dan rekan kerja sebelum pergi menyambut tamu. Papa meminta gue bersamanya menyalami satu per satu para tamu undangan.
Sebenarnya gue keberatan meninggalkan Rayla. Gue tahu dia kurang suka dengan acara seperti ini karena terlalu banyak orang asing, membuatnya merasa tidak nyaman. Namun, gue juga harus bersikap profesional.
Entah mengapa ada perasaan tidak tenang selama gue meninggalkan Rayla. Hampir setiap kali, sambil menyalam tamu, gue sambil mencuri pandang, mencari keberadaan sosok Rayla yang menghilang di antara kerumunan orang.
Demi menjaga kesopanan, sesekali gue memberi respons dengan tertawa kecil kepada tamu saat mereka sedang membicarakan sesuatu entah apa itu karena gue tidak bisa fokus. Sosok Rayla terus terbayang dipikiran gue.
Hingga sampai akhirnya, kedua mata gue menangkap sosok wanita yang gue cintai sedang bersama dengan seorang pria asing.
Perasaan tidak suka tiba-tiba datang menyergap. Pria asing itu tersenyum pada kekasih gue. Apakah pria berengsek itu sedang mencoba merayu Rayla? Tidak boleh!
Gue baru saja bermaksud menyingkir dari sini ketika gue melihat seorang wanita datang menghampiri mereka, lalu bergelayut pada tangan pria itu.
Gue pun memilih memperhatikan dari jauh terlebih dahulu. Setidaknya kehadiran wanita itu akan menghalangi niat pria berengsek itu mendekati Rayla.
Tidak berapa lama kemudian, muncul lagi seorang pria lebih berumur menghampiri mereka. Gue mengenal pria itu karena namanya yang tersohor dalam dunia bisnis.
Sebuah ide tiba-tiba melintas cepat dalam otak gue. Sekarang waktu yang tepat untuk menyingkir dengan memberi alasan yang tepat.
“Apakah Papa mengenal pria berusia yang sedang bersama Rayla di sana?” tanyaku pelan sambil menunjuk ke suatu arah dimana Rayla sedang terlihat bersama dengan tiga orang. Gue berpura-pura tidak mengenal sosok pria tersebut.
Papa mengikuti arah yang gue tunjuk, lalu menjawab, “Ah! Beliau adalah Frans Osborn. Salah satu pengusaha sukses terbesar di dunia. Sepertinya beliau baru tiba. Mari kita pergi menyapa beliau.”
Gue diam-diam menarik bibir senyum kemenangan karena telah berhasil menarik perhatian Papa. Kemudian Papa pun berpamitan terlebih dahulu kepada tamunya diikuti gue dan Mama.
Gue memang tidak menyukai bisnis, tapi bukan berarti pengetahuan gue dalam berita bisnis nol. Papa sering melibatkan obrolan mengenai bisnis ketika gue sedang pulang ke rumah.
Saat kak Steven masih ada, dia lah yang mengikuti obrolan papa. Ketika dia sudah tiada, gue yang tidak mau membuat papa bersedih karena tidak memiliki teman mengobrol, mau tidak mau sedikit banyak gue mulai membaca majalah bisnis.
Frans Osborn. Dalam dunia bisnis, tidak ada yang tidak mengenal beliau. Berjiwa kreatif dan memiliki sikap yang tegas serta memiliki visi yang kuat, sehingga perusahaannya semakin berkembang besar dan sudah menyebar luas hingga ke beberapa negara.
“Pak Osborn! Anda datang terlambat,” sapa Papa ketika kami sudah berada di dekat mereka.
“Sayang, kamu kenapa? Wajahmu pucat. Apakah kamu baik-baik saja?” gue berbisik di telinga Rayla dengan perasaan khawatir karena melihat keadaannya yang sepertinya sedang tidak enak badan.
Bahkan, untuk berucap pun terlihat kesulitan sehingga dia hanya menggeleng kepala. Dia bisa berbohong pada orang lain, tetapi tidak pada gue.
Papa mulai memperkenalkan diri gue kepada Frans Osborn dan gue menyalaminya dengan sopan. Gue berusaha mungkin bersikap profesional walau sebenarnya hati gue merasa cemas karena Rayla terlihat sedang dalam kondisi tidak baik.
Gue ingin segera membawa Rayla istirahat ke salah satu kamar Hotel, tetapi begitu mendengar ucapan Mr. Grayson Carter selanjutnya membuat emosi gue mulai tersulut. “Apa maksud Anda, Mr. Grayson Carter? Apakah Anda mengenal calon istri saya?”
“Yes. Kami sudah saling mengenal saat saya berumur delapan belas tahun dan Rayla berumur sempat belas tahun.”
Gue terkesiap mendengar jawaban dari bibir pria itu sehingga tangan gue yang sedang berada di pinggang Rayla merengkuhnya semakin erat. Sebelah tangan yang bebas terkepal erat.
Perasaan cemburu yang membara, membuat gue ingin melayangkan tinju pada wajahnya yang terlihat sangat memuakkan bagi gue.
Tiba-tiba Rayla jatuh pingsan, beberapa detik setelah Frans Osborn berpamitan. “Rayla! Rayla!” gue panik. Pikiran gue kalut. Perasaan takut kehilangan seperti kejadian malam dimana Rayla berniat bunuh diri, kembali muncul.
“Bawa Rayla ke kamar Hotel, Deon. Mama segera panggil Dokter Haldis,” perintah Mama.
Gue bergegas melangkah keluar meninggalkan Ballroom bersama Kak Denis yang entah sejak kapan sudah berada di sebelah gue.
Kak Denis meminta petugas Hotel mengantarkan kami ke salah satu kamar kosong.
Gue membaringkan tubuh Rayla ke atas ranjang dengan pelan. “Dokter Haldis mana, Kak? Bukankah dia juga diundang ke acara ini? Seharusnya tidak perlu menunggu selama ini!” Karena panik, gue sampai lupa bersikap sopan kepada Kak Denis.
“Belum lima menit kita baru saja sampai ke kamar ini, Deon,” jawab Kak Denis dengan nada suaranya yang tenang.
Gue melirik sekilas Kak Denis sebelum kembali menatap Rayla dan berkata, “Maaf, Kak Denis.”
“Tidak apa-apa. Kakak paham kalau kamu sedang mengkhawatirkan kondisi Rayla.”
Tidak berapa lama kemudian, Dokter Haldis datang bersama Mama dan Kak Sarah. “Dok, tolong cek kondisi kekasih saya! Wajahnya pucat. Apa lebih baik di bawa ke Rumah Sakit saja, Dok?”
“Deon, kamu minggir dulu. Dokter Haldis bagaimana bisa melakukan pemeriksaan kepada Rayla kalau kamu menghalangi pekerjaannya?” tukas Kak Sarah.
“Kembalilah ke Ballroom, Deon!” perintah Mama.
Gue langsung menggeleng kepala. “Tidak, Ma! Aku mau di sini sampai Rayla sadar.”
Mama kembali bersuara dengan nadanya yang tegas, tidak ingin dibantah. “Apakah kamu mau mempermalukan Papamu dengan meninggalkan acara ulang tahun perusahaan sekaligus peresmian jabatan barumu di tengah acara masih berlangsung?”
Pertanyaan Mama membuat gue bungkam. Gue tahu kalau harus bersikap profesional, tapi gue sangat mengkhawatirkan kondisi Rayla.
Damn it! Seharusnya gue memaksa Rayla ikut serta menyambut para tamu.
Mama menepuk bahu gue pelan. “Ada Mama dan Kak Sarah di sini. Kami akan menjaga Rayla. Mama juga tidak mau calon menantu Mama kenapa-kenapa.”
Gue dilema antara kembali ke acara atau bertahan di sini menunggu Rayla sadar.
“Mama mengerti perasaanmu, tetapi bagaimanapun juga kamu harus bisa memisahkan urusan perusahaan dan pribadi, Deon. Kamu baru saja diangkat menjadi CEO. Ingat! Para Investor juga hadir dalam acara ini. Mereka memiliki wewenang untuk menilai pantas atau tidaknya kamu menduduki posisi itu. Jika mereka kecewa padamu, lantas siapa yang akan menggantikan posisi papamu kelak? Perusahaan yang telah dirintis papamu dengan susah payah selama tiga puluh tahun, apakah kamu mau bertanggung jawab?” tukas Mama mengingatkan.
Gue menarik napas panjang sebelum menjawab, “Baiklah! Aku Kembali ke Ballroom. Kalau terjadi sesuatu pada Rayla, Mama atau Kak Sarah harus mengabariku.” Mama dan Kak Sarah mengangguk kepala.
“Ayo, Kak Denis!" gue pun meninggalkan kamar, lalu berjalan menuju Ballroom.
Maafkan aku karena tidak bisa berada di sampingmu ketika kamu bangun, Rayla. Setelah acara ini selesai, aku segera kembali.
*****
Menunggu memang membutuhkan kesabaran tinggi. Oleh sebab itu, menunggu tidak pernah ada dalam kamus hidup gue. Baik itu menunggu seseorang, menunggu pekerjaan, dan sebagainya. Untuk apa menunggu jika kita bisa melakukan dan mendapatkannya dengan cepat?
Namun, semuanya berubah setelah bertemu Rayla. Gue rela bersabar menunggu perasaan gue terbalas dan penantian gue ternyata tidak sia-sia.
Meski sambil diliputi dengan berbagai tanda tanya dan rasa khawatir, tetapi akhirnya gue mendapatkan bayaran yang setimpal atas penantian yang panjang. Kehadirannya juga membuat gue menjadi pribadi yang lebih sabar dan bijak.
Tetapi, kali ini menunggu kegiatan yang sangat menyebalkan. Padahal, acara yang digelar tinggal satu jam lagi berakhir. Namun, gue sudah mulai hilang kesabaran.
Gue tidak bisa berhenti memikirkan kondisi Rayla. Apakah dia sudah sadar? Mengapa waktu berjalan sangat lambat?
“Deon, beliau ini adalah Mr. Xavier Jadison. Relasi bisnis kita yang baru terjalin tiga tahun ini.” Suara Papa membuatku tersadar dari pikiran gue tadi. Gue memasang senyum, lalu berjabat tangan. “Dan ini adalah putranya, Mr. Erik Xavier Jadison.”
Erik? Mengapa namanya sepertinya tidak asing lagi di telinga gue?
“Senang berkenalan dengan Anda,” gue menyapa sambil menyodorkan tangan padanya untuk berjabat tangan.
Pria yang bernama Erik membalas menjabat tangan dengan kuat sehingga jari tangan gue terasa sakit. Mata gue menyipit, mengingat-ingat apakah kami berdua pernah bertemu sebelumnya dan membuat masalah dengannya?
“Ada suatu hal yang ingin saya bicarakan dengan Anda, Pak Deonartus. Jika Anda tidak berkeberatan, bisakah kita mencari tempat yang lebih tenang?”
Pertanyaannya membuat gue semakin keheranan. Sebab gue tidak menemukan ingatan di kepala tentang pria ini. “Maaf, Mr. Erik. Apakah sebelumnya kita pernah bertemu?”
Mr. Erik sudah membuka mulutnya, tetapi suara Mr. Xavier Jadison menginterupsi, penuh penekanan. “Erik! Lihat tempat dan kondisi.”
Rahang Mr. Erik terlihat mengeras. Sepertinya dia sedang meredam amarah.
“Suatu hal apakah yang ingin dibicarakan oleh Mr. Erik? Saya yakin, Anda dengan putra saya baru pertama kali ini berkenalan,” tanya Papa tanpa menutupi rasa penasarannya.
“Bukan masalah apa-ap-“
Mr. Xavier Jadison belum menyelesaikan perkataannya karena Mr. Erik langsung menyela, “Kami memang baru hari ini berkenalan, tetapi saya pernah melihat Pak Deonartus sekali walau tidak secara langsung.”
“Oh, ya?” Papa menoleh memandang gue dengan tatapan bertanya. Gue hanya mengangkat bahu.
“Mari ikut saya, Mr. Erik,” ucap gue dengan sopan.
“Erik! Ingat tujuan kita menghadiri acara ini!” tegur Mr. Xavier Jadison tegas.
“I am not a kid anymore that you can do as you want,” balas Mr. Erik dengan suara rendah, tapi terdengar penuh penekanan dalam setiap kalimat yang diucapkannya. Aura perselisihan di antara Ayah dan Anak di hadapan gue ini membuat suasana terasa mencekam.
Gue dan Mr. Erik pun melangkah berjalan menuju keluar Ballroom. Begitu kami sudah berada di tempat yang lebih tenang, Mr. Erik tanpa basa-basi menyuarakan pertanyaan yang membuat gue terkejut.
“Di mana Rayla Pramanta? Saya ingin bertemu dengannya.”
Jangan lupa tambahkan ke Favorite lalu tinggalkan Komentar, berikan Vote, Like dan Dukungannya ya guys. Terima kasih 🙏🤗 Loph you all 😘