
*Happy reading 📖📖 guys*
DEON
“Gue tahu lo dendam sama keluarga bangsawan keturunan Belanda itu, tapi gue tidak bisa fokus mengurus bisnis bokap gue. Lo tahu sendiri, organisasi yang gue dirikan dengan susah payah ini adalah cita-cita gue sejak dahulu. Dan gue tidak mau membengkalaikan usaha gue itu demi memenuhi dendam pribadi lo,” ucap Leonel.
“Come on, Leo! Setelah misi gue berhasil, gue tidak akan mengganggu lo lagi. Hanya sementara saja, kok!” gue masih mencoba membujuk Leonel. Untuk menjatuhkan Xavier Jadison, gue perlu bekerja sama dengan perusahaan yang menjadi rivalnya, yaitu perusahaan papanya Leonel.
“Memangnya lo masih punya banyak uang melakukan pencadangan dana ke perusahaan bokap gue? Bukankah lo harus bayar penalti sebesar 1,5 triliun ke Xavier Jadison?” tanya Leonel dengan nada menyindir.
Gue menyungggingkan senyuman lebar di depan Leonel. “Keuntungan yang gue dapatkan dari bisnis ilegal lo itu pastinya tidak sedikit, bukan?”
Leonel menghela napas pasrah. “Lo butuh berapa?” Leonel merogoh ponselnya kemudian mengutak atiknya.
Tiba-tiba suara dering pada ponsel gue berbunyi. Gue membaca nama penelepon yang tertera pada layar, lalu memberi kode kepada Leonel agar tidak bersuara. “Selamat siang, Pak Osborn. Saya menanti-nantikan telepon dari Anda.”
“Apakah kamu sedang sibuk, Deonartus?”
“Saya sedang tidak sibuk. Silahkan katakan apa yang Anda inginkan sebagai ganti rugi tanah tersebut.”
Pak Osborn terdengar berdeham beberapa kali. “Saya yakin bahwa Rayla sudah menceritakan tentang masa lalu yang terjadi di antara kami berdua.”
Ucapan pak Osborn membuat gue terkejut. Tadinya, gue berpikir beliau akan meminta sesuatu sebagai ganti rugi kehilangan pendapatannya, juga berpura-pura bersikap tidak terjadi apa-apa antara beliau dengan Rayla.
“Saya bisa melihat tatapan matamu yang penuh diselimuti amarah saat membahas tentang Xavier. Apa yang telah dilakukan putra Xavier memang tidak bisa termaafkan.”
Gue menatap Leonel yang sedang menatap gue penuh tanda tanya. “Tentang tanah itu ….” Gue menggantungkan ucapan gue.
Pak Osborn tertawa kecil. “Saya akan melakukan tawar menawar dengan mereka.”
“Bolehkah saya tahu penawaran apakah itu?”
“Mereka harus pilih salah satu, uang penalti 25% atau lima tanah itu? Kalau mereka tidak mau melepas salah satunya, saya akan menyebarluaskan rekaman adegan persetubuhan Xavier bersama Sekretarisnya.”
What? Dari mana pak Osborn mendapatkan rekaman itu? Bukankah ruangan kerja Xavier tidak dipasang cctv?
“Saya masih memiliki banyak bukti lain yang bisa menjatuhkan pamornya sebagai pengusaha terbesar di seluruh dunia.”
“Anda menyelidiki kelemahan mereka selama dua hari ini?” tanya gue tanpa menutupi rasa terkejut. Kabar yang gue dapatkan, benar-benar di luar perkiraan.
Pak Osborn tergelak tawa sebelum menjawab, “Uang memang selalu berbicara.”
Gue memasang senyum puas. Ternyata gue punya calon mertua papa yang kehebatannya menyaingi Xavier. “Kalau begitu, kita akan bahas lagi tentang ganti rugi yang harus saya berikan kepada Anda setelah hasil keputusan mr. Xavier besok,” ucap gue.
“Kita langsung bertemu di sana. Dan tolong rahasiakan hal ini dari Rayla. Saya tidak mau dia semakin membenci saya.”
“Ya, Pak. Saya mengerti.”
“Beritahu saya, apa lagi rencanamu? Saya bersedia membantumu, Deonartus.”
“Eh? Rencana?” Sekali lagi gue terkejut mendengar pertanyaan dari pak Osborn.
“Saya tahu kamu tidak hanya menginginkan putus kerja sama, tetapi juga berniat menghancurkan mereka. Dugaan saya benar, bukan?” pak Osborn tertawa kecil. “Apa yang bisa saya bantu? Jangan ragu-ragu mengatakannya.”
“Hmm … saya memang punya rencana seperti itu, pak Osborn. Untuk sementara ini, saya masih bisa handle sendiri. Kalau saya mengalami kesulitan, saya akan menghubungi Anda,” jawab gue, jujur.
“Baiklah kalau begitu. Saya bersyukur Rayla bertemu denganmu, Deonartus. Bahagiakan dia kalau tidak, kamu akan menyesal pernah mengenal Frans Osborn.”
Restu yang disertai ancaman tentu saja bukan hal yang biasa. Namun, gue tetap bahagia karena secara tidak langsung, gue mendapatkan lampu hijau dari papa kandungnya Rayla. Walaupun tidak diakui sebagai papa oleh Rayla. “Anda tenang saja, Pak Osborn. Saya akan membahagiakan Rayla.”
“Ho ly shitt! Beruntung sekali lo dapat kepercayaan dari Frans Osborn,” ucap Leonel kesal setelah percakapan gue dengan pak Osborn di telepon berakhir.
*****
Gue memandang pria di hadapan gue dengan tatapan tajam dan menusuk sementara pria itu terlihat berusaha menutupi gelisahnya dengan terus mengusap telapak tangan yang mungkin basah.
“Saya tidak menyangka Mr. Osborn juga bersedia datang kemari,” ucapnya berusaha terlihat santai.
“Ada sesuatu hal yang ingin dibahas Pak Osborn, Mr. Xavier Jadison,” ucap Papa menjelaskan.
Dahi Mr. Xavier Jadison mengernyit. Matanya melirik Pak Osborn dengan tatapan heran.
“Terus terang saya tidak setuju kehilangan passive income dari aset tanah yang telah saya investasikan di PT. SA. Namun, saya mengerti perasaan Deonartus yang emosi atas perbuatan putra Anda, Mr. Xavier Jadison,” ucap Pak Osborn memulai pembicaraan dengan tenang.
“Saya minta maaf atas perbuatan putra saya. Saya jamin, putra saya tidak akan mengganggu Rayla Pramanta lagi.”
“Perbuatan putra Anda seharusnya kami laporkan ke pihak yang berwajib, tetapi calon menantu saya tidak mau menggugat putra Anda. Dengan terpaksa, kami tidak bisa melanjutkan kontrak kerja sama ini,” ucap Papa dengan mata menatap lurus ke pria itu.
“Tidak apa-apa. Saya memaklumi keputusan An-“
“Kalau begitu, Anda mengerti pemutusan kerja sama ini bukan karena keinginan PT. SA sepenuhnya. Saya yakin, Anda bisa bijak menerima keinginan saya ini,” sela Pak Osborn dengan cepat.
Kemudian beliau memberikan sebuah flashdisk ke hadapan Mr. Xavier Jadison. “Saya tidak suka bertele-tele, jadi saya langsung saja ke intinya. Pilihan Anda hanya dua, Mr. Xavier Jadison, tanah atau penalty 25%?”
“Kedua hal itu sudah menjadi kesepakatan antara PT. XJ dan PT. SA,” tukas Mr. Xavier Jadison dengan tegas.
“Kalau begitu, isi file yang ada di dalam flashdisk itu akan saya sebar luaskan ke seluruh media.” Pak Osborn menatapnya dengan ekspresi datar, tetapi nada bicaranya terdengar mengancam.
“Apa ini?”
“Sebaiknya Anda menggunakan laptop untuk melihatnya sendiri,” jawab Pak Osborn. “Ah, ya, matikan dulu speaker-nya jika Anda tidak mau kami mendengar suara yang indah itu,” imbuhnya disertai senyum simpul.
Mr. Xavier Jadison menatap tajam kepada Pak Osborn. Pria itu memanggil Sekretarisnya untuk membawakan laptop ke dalam ruangan. Lalu, pria itu mencolok flashdisk tersebut ke port usb pada laptopnya. Tidak lama kemudian, matanya membulat lebar. Gue menyeringai puas melihat raut wajahnya yang menjadi pucat.
Mr. Xavier Jadison terlihat mengatur napas dan berusaha tenang. Kemudian dia mengangkat dagunya, menatap Pak Osborn. “Berikan saya waktu dua hari. Saya harus berpikir-pikir dahulu.”
Gue baru saja mau menolak permintaannya, tetapi Pak Osborn menyela terlebih dahulu. “Keputusannya sekarang juga atau saya langsung hubungi Asisten saya, memberikan salinan flashdisk itu kepada wartawan yang sedang bersamanya saat ini.”
Mr. Xavier Jadison jelas terkejut mendengar ancaman Pak Osborn. Dari ekspresi wajahnya tersirat kemarahan. Mungkin dia tidak menyangka akan mendapatkan serangan seperti ini dari Pak Osborn, salah satu raja bisnis yang tersohor, sama dengan dirinya.
“Penalti 25%. Dalam tiga hari, uang sebesar 1,5 triliun sudah harus masuk ke rekening perusahaan saya,” ucap Mr. Xavier Jadison dengan dingin.
Pak Osborn mengangguk-anggukkan kepalanya tanda setuju. Detik berikutnya, beliau mengeluarkan selembar cek, lalu menulis sesuatu di atasnya, kemudian memberikannya kepada Mr. Xavier Jadison. “Kami akan pergi dari tempat ini setelah Anda membuat surat kesepakatan kita. Jangan lupa lampirkan nama saya sebagai penanggung jawab membayar penaltinya.”
Betapa terkejutnya gue dan Papa mendengar ucapan Pak Osborn. Saat Mr. Xavier Jadison meninggalkan ruangan untuk membuat surat persetujuan, gue dan Papa langsung menolak uluran bantuan dari Pak Osborn.
Semua ini adalah keputusan gue. Jadi, seharusnya gue yang menanggung biaya penalti tersebut. Namun, Pak Osborn menolak gue mengembalikan uang itu.
“Saya membayar penalti itu bukan sekadar cuma-cuma. Ketiga tanah yang saya investasikan itu sepenuhnya menjadi milik saya. Bagaimana? Tidak apa-apa kan, Pak Surbakti?” jawab Pak Osborn.
“Saya setuju. Kalau begitu, saya akan segera mengurus peralihan hak atas tanah.”
“Tidak usah sekarang, Pak Surbakti. Untuk sementara biarkan saja dulu dalam kondisi saat ini. Suatu hari nanti, ketika saya membutuhkan tanah itu, Anda baru urus peralihannya,” tutur Pak Osborn.
“Kesepakatan ini tidak boleh hanya secara lisan saja, Pak Osborn. Kepercayaan yang sudah Anda berikan kepada kami, saya tidak mau mengecewakannya. Maka itu, saya akan membuat surat persetujuannya. Permintaan saya ini, Anda tidak boleh menolak,” ucap Papa yang dibalas Pak Osborn mengangguk mantap.
Beberapa lama kemudian, kami keluar dari gedung kantor Xavier Jadison. Gue mengambil ponsel kemudian mengetikkan sebuah pesan kepada Leonel sambil mengulas bibir senyum kemenangan. Yah, walau kemenangan ini gue dapatkan dari campur tangan Frans Osborn, setidaknya satu rencana telah berhasil. Selanjutnya, gue sendiri yang harus menanganinya.
Me: Frans Osborn berhasil mengalahkan Xavier Jadison. Lebih mudah dari yang gue kira. Segera atur waktu pertemuan gue dengan bokap lo. Berapa biaya yang gue butuhkan untuk pencadangan dana itu, gue serahkan ke lo.
*Jangan lupa tinggalkan Komentar, berikan Vote, Like dan Hadiahnya supaya aku semakin semangat menulis ya guys. Terima kasih**🙏Tambahkan juga ke Favorite supaya tidak ketinggalan up-nya🤗Loph you all😘*