
Happy reading 📖📖 guys
Bella bersikeras meminta Jason beli nasi padang untuknya. Padahal, Dokter sudah berpesan agar menjaga makanan terlebih dahulu. Namun, Bella tidak mempedulikan ucapan Dokter.
Bahkan, dia menyuruhku pergi bersama Jason untuk memastikan apakah Jason benar-benar membeli pesanannya atau tidak.
Tentu saja aku segera protes dan melempar tugas itu kepada Agatha, tetapi ibu hamil itu dengan santainya menjawab, “Lo tidak kasihan melihat perut gue yang sudah besar begini, La? Cuma jalan sebentar saja sudah membuat gue lelah. Dokter menyarankan agar gue banyak-banyak beristirahat.”
Akhirnya, di sinilah aku dan Jason, berdua di dalam mobil yang dipinjamkan oleh kantornya agar mempermudah pekerjaannya sebagai Sales Marketing.
Waktu sudah menunjukkan pukul setengah satu siang ketika kami sudah sampai di sebuah rumah makan padang yang terlihat sangat ramai.
“Tunggu aku di dalam mobil. Biar aku yang turun pergi beli,” kata Jason setelah sepanjang perjalanan dari Rumah Sakit, kami tidak mengucapkan sepatah kata.
Tiga tahun telah berlalu. Waktu yang telah terbentang, membuat kami merasa asing satu sama lain. Namun, tak bisa dipungkiri, kenangan saat kami masih bersama membuatku merindukannya sampai saat ini.
Setelah menunggu beberapa saat, Jason masuk ke dalam mobil dengan membawa dua buah kantong ditangannya.
Tanpa mengucapkan apa-apa, dia menyerahkan dua kantong itu kepadaku yang segera kuterima lalu meletakkannya di bawah jok mobil. Kemudian Jason membawa mobil meninggalkan rumah makan.
Aku mencoba mencairkan suasana di antara kami dengan berkata, “Selamat atas pertunangan lo. Agatha memberitahu gue kalau lo akan bertunangan.”
Dahi Jason mengernyit. “Agatha tidak mengatakan kepadamu bahwa pertunanganku batal?”
Entah sejak kapan, Jason dan aku mulai mengubah panggilan kami dengan ber-aku-kamu. Agatha dan Bella sempat protes karena merasa dibedakan. Pada saat itu Jason hanya merespons mereka dengan tawa.
“Terus terang, hubunganku dengannya tidak berjalan lancar. Banyak perbedaan pendapat di antara kami sampai akhirnya memutuskan untuk mengakhiri hubungan kami,” ucap Jason melanjutkan.
“Oh …,” aku hanya bergumam pelan.
Sebuah Coffee Shop terlihat. Tanpa bertanya padaku, Jason memarkir mobilnya.
“Kita mampir sebentar, yuk! Bella dan Agatha tidak akan mengomel hanya karena makanannya menjadi dingin,” ucap Jason sambil melepas seatbelt-nya dan turun dari mobil.
Aku mengikutinya dari belakang. Pada saat kami sudah masuk ke dalam, seorang Waitress datang menyambut lalu membawa kami pada meja kosong.
“Satu ice Cappuccino with Java Chip Frappuccino dan satu ice Doppio Espresso.” Sambil tersenyum, Jason menyebutkan dua jenis minuman yang sering kami pesan saat dulu.
“Masih sama, kan?” Dia melirik ke arahku. Kubalas dengan mengangguk.
Menyadari dia masih mengingat minuman favoritku, membuat dadaku berdesir dan terasa hangat. Aku tidak bisa lagi mengendalikan rasa rinduku padanya. I’m really really miss him so bad.
“Bagaimana kabarmu? Kamu pasti sudah menjadi Kepala bagian Akuntansi, bukan?” tanya Jason memulai percakapan.
“Sempat ditawarkan, tapi aku menolaknya,” jawabku.
Banyak hal yang telah terjadi selama tiga tahun terakhir. Namun, aku tidak dapat bercerita kepadanya.
Jason yang berada di hadapanku saat ini, tidak sama dengan Jason yang dulu, sahabat yang dapat berbagi keluh kesah. Ada tembok tak kasatmata di antara kami.
“Kenapa? Bukankah itu cita-citamu?”
Ya, benar. Sebelum kami berpisah, aku memberitahukan padanya dengan semangat. Tentang cita-citaku ingin menjadi Kepala Akutansi.
Namun, aku kehilangan semangat itu setelah dia meninggalkanku tanpa alasan. Seperti ketika aku kehilangan papa, perbuatannya membuatku kehilangan arah.
Pada saat Pak Gunawan, atasanku, menawarkan posisi itu, tanpa berpikir dua kali, aku langsung menolaknya. Deon, rekan kerja yang sudah menjadi senior di sana pun ikut terkejut mendengar penolakan dariku.
“Aku sudah nyaman dengan pekerjaanku sekarang,” jawabku sambil menyeruput minuman yang berada di tanganku.
Aku tahu saat ini Jason sedang memandang ke arahku, tapi aku tidak berani menatapnya balik.
Aku takut tembok yang telah dibangun itu seketika runtuh dan dia menemukan diriku sedang hancur di baliknya.
“Aku pikir, kamu sudah mengerti isi dari pesan terakhirku saat itu,” gumam Jason pelan.
Masih tanpa menatapnya, aku berkata, “Semua orang dapat berubah pikiran sewaktu-waktu, demikian juga keadaan ikut berubah-rubah tanpa pemberitahuan terlebih dahulu. Aku punya hak untuk memutuskan apakah harus menolaknya atau menerima tawaran tersebut. Keputusanku bukan lagi urusanmu.”
Jason tidak berkata apa-apa lagi. Dia hanya meneguk minumannya.
Aku tidak mengerti apa maksudnya dengan membawaku mampir ke tempat ini jika dia hanya mengatakan beberapa pertanyaan, lalu diam.
Seharusnya dia menjelaskan padaku mengapa dia mengirim pesan terakhir seperti itu? Padahal, kami sedang tidak bertengkar. Hubungan kami selalu baik-baik saja.
Mengingat diriku yang hancur karenanya pada waktu itu, membuat rasa kecewaku kepadanya kembali muncul.
Dia tidak tahu bagaimana aku berusaha bangkit dari rasa sakit hati, sekali lagi ditinggalkan oleh orang yang kusayangi, sendirian.
“Tidak ada lagi yang ingin kamu bicarakan?” tanyaku. Mencoba mengumpulkan keberanian menghadapi Jason jika dia benar-benar ingin membahasnya.
“Tidak ada, Ayla. Aku lihat ada Coffee Shop. Jadi, mampir sebentar karena aku tahu kalau kamu suka dengan kopi. Sekalian kita bisa mengobrol sebentar. Jujur saja, saat ini kita sama-sama merasakan canggung bukan?” tutur Jason dengan tersenyum kaku.
Aku memilih diam, tidak menjawab.
Jason selalu memanggilku dengan panggilan Ayla. Dulu, aku merasa senang karena dia menggunakan panggilan yang berbeda untukku. Aku merasa diistimewakan olehnya.
Namun, sekarang saat mendengar suaranya kembali memanggilku seperti itu, rasa rindu, senang dan kecewa bercampur menjadi satu.
“Erik …,” tiba-tiba Jason mengucap nama itu.
Aku terkejut. Mengapa dia menyebut Erik? Dari mana dia tahu tentang Erik?
Ah, pasti dari Bella. Dasar mulut ember yang tidak bisa memegang rahasia!
Tunggu dulu! Mengapa aku merasa khawatir kalau Jason tahu tentang Erik?
Aku dan Jason tidak memiliki hubungan apa-apa selain sahabat. Aku tidak bersalah jika memiliki kekasih, bukan? Jason sendiri pun sudah memiliki calon tunangan. Ralat, mantan calon tunangan.
“Jawab, Ayla! Apakah lelaki itu yang terbaik untukmu?“ Jason kembali bertanya. Matanya menatap dalam ke mataku.
Ini tidak baik! Aku bisa berpura-pura dan membohongi orang-orang di sekitarku, tak terkecuali Agatha dan Bella. Akan tetapi tidak dengan Jason.
Dia sangat mengerti diriku. Bahkan, tahu apa yang kupikirkan hanya dengan menatap mataku.
Aku ingin menghindari tatapannya. Namun, sepertinya aku terhipnotis olehnya karena aku tidak bisa mengalihkan mataku darinya.
“Kamu tidak yakin. Kalau begitu untuk apa kamu masih mau melanjutkan hubungan itu?” ucap Jason tegas.
See? Aku tidak menjawabnya, tapi dia sudah menemukannya sendiri.
“Ti- tidak ada urusannya denganmu! A- aku ingin berhubungan de- dengan siapa pun, tidak ada hubungannya denganmu!” balasku, berusaha menyembunyikan rasa gugup darinya.
Jason menatapku dalam diam.
“Tiga tahun kamu menghilang dari kehidupanku. Sekarang kamu berniat ikut campur dalam urusan asmaraku? Dengan status apa kamu berani mengatakan hal seperti itu sekarang? Kita sudah bukan sahabat lagi! Sahabat tidak akan pernah saling meninggalkan!” lanjutku penuh amarah.
Beberapa bulir air mata, siap menetes dari kedua sudut mataku. Namun, aku berusaha untuk menahannya.
“Ayla, kamu tidak mengerti,” suara Jason terdengar lemah. Tatapannya menyiratkan kesedihan.
“Kalau begitu jelaskan padaku! Buat aku mengerti mengapa kamu pergi meninggalkan kehidupanku begitu saja?" Debaran di jantungku berdetak sangat cepat karena perasaan emosi yang hampir akan meledak.
Jason diam, menatap gelas yang sudah kosong di depannnya.
Melihatnya tidak berniat untuk menjelaskannya padaku, membuat hatiku yang sudah terluka, semakin hancur berkeping-keping.
Aku bangkit dari kursi. Aku menunjukkan sikap dingin kepadanya lalu berkata, “Lo hanya membuang waktu gue saja, Jason. Gue mau balik ke Rumah Sakit. Mana kunci mobilnya? Biar gue yang setir.”
Jason merogoh saku celananya dan memberikan kunci mobil padaku. Kemudian aku segera berjalan meninggalkan Coffee Shop. Jason mengikuti langkahku dari belakang.
Dengan sengaja, aku menyalakan musik dengan volume suara agak keras. Bermaksud agar kami tidak perlu melakukan pembicaraan apa pun.
Sepanjang perjalanan kami hanya diam mendengar musik yang sedang diputar.
Seharusnya hari ini aku menghabiskan waktu berkumpul dengan Agatha dan Bella dengan senang, tetapi tidak disangka, Jason muncul. Membuat suasana hatiku menjadi kacau balau.
Jika tidak ingin menjelaskan ada apa sebenarnya masalah di antara kami yang tidak kuketahui pada saat dia mengirim pesan terakhir kalinya padaku, untuk apa dia mengajakku mampir ke Coffe Shop? Sekadar minum kopi?
*****
Setelah aku dan Jason kembali ke Rumah Sakit, selang beberapa menit kemudian, Jason pamit pergi karena sudah ada janji dengan klien.
Agatha dan Bella sepertinya tahu bahwa sesuatu telah terjadi di antara kami berdua saat pergi membeli nasi padang. Namun, mereka mengerti jika aku tidak ingin membahasnya. Mereka berusaha mengalihkan pikiranku.
Aku baru saja selesai mengirim pesan kepada Maylin dan tante Fifi. Memberitahu kepada mereka bahwa malam ini aku menginap lagi di rumah Agatha, ketika suara deringan pada ponselku berbunyi.
Eric’s video calling.
Aku mengembuskan napas lelah, kemudian menekan opsi answer.
Wajah senyum Erik terpampang pada layar ponsel. “Sudah pulang kerja, Beb? I’m really miss you. Sudah makan?”
Aku mencoba menarik bibir untuk tersenyum padanya. “Sudah. Malam ini aku menginap lagi di rumah sahabatku.”
Aku tidak berniat memberitahu kepada Erik kalau hari ini aku mengambil cuti. Sesekali aku bersikap egois tidak apa-apa, kan?
Aku sudah menelantarkan sahabatku yang sangat peduli padaku. Aku tidak bersalah kalau aku merahasiakan hal ini dari Erik, kan? Dia sendiri pun memiliki rahasia yang tidak diceritakannya padaku.
“Jam 4 subuh aku berangkat ke bandara. Aku akan merindukanmu, Beb. Ingat, janjimu padaku. Kamu akan menjaga dirimu terutama hatimu, untukku.”
Aku hanya menganggukkan kepala.
Sepertinya Erik menyadari sikapku hari ini berbeda. “What’s wrong, Beb? Mengapa kamu kelihatan tidak bersemangat?” tanyanya dengan nada khawatir.
Untuk pertama kalinya, dia memperhatikanku dengan teliti. Apakah suasana hatiku yang sedang buruk terlihat dengan jelas?
“Aku tidak apa-apa, Erik. Hanya lelah karena hari ini pekerjaanku menumpuk.” Aku melirik ke arah Agatha yang sedang menahan tawa, mendengar kebohonganku.
“Setelah kita menikah, aku tidak akan mengizinkanmu bekerja di sana lagi, Beb. Aku akan meminta papa memberikan posisi yang bagus untukmu pada salah satu perusahaannya. Dengan begitu, kamu tidak perlu bekerja keras seperti sekarang.”
Aku mendelik padanya lalu memasang wajah masam. “Aku suka dengan pekerjaanku sekarang! Aku tidak mau resign!”
“Setelah kita menikah, derajatmu sudah berubah, Beb. Kamu menjadi istri dari seorang Xavier Jadison. Keluarga Xavier Jadison tidak ada yang menjadi staff.”
“Kalau begitu kita bahas lagi apakah kita akan menikah atau tidak sekembalinya dirimu dari Aussie,“ jawabku ketus.
Erik terlihat terkejut kemudian dengan gusar dia berkata, “Aku tidak bermaksud menghina posisi pekerjaanmu, Beb. Aku hanya-”
“Erik, aku capek! Kalau kamu video call denganku hanya untuk membahas masalah ini, lebih baik kita putus sambungannya. Kita akan bahas lagi setelah kamu balik ke Indonesia!” potongku dengan suara tidak sabar.
“Ok, Ok, I’m sorry, Beb. Aku tidak akan membahasnya lagi. Keep contact selama aku di sana ya, Beb. Jangan lupakan aku.”
Aku balas mengangguk. Sambil berusaha memberikan senyuman padanya, aku melambaikan tangan, tanda ingin memutuskan sambungan.
Erik tidak mengatakan apa-apa lagi. Kemudian aku menekan tombol end.
Agatha menghampiriku dengan wajah serius berkata, “Dia bukan pria yang baik untuk lo, La.”
Aku tahu. Hanya saja aku membutuhkan waktu yang tepat untuk membicarakannya pada Erik.
Dia akan segera pergi ke Aussie. Masalah ini lebih baik dibahas saat kami sedang bertatap muka.
Jangan lupa tambahkan ke Favorite lalu tinggalkan Komentar, berikan Vote, Like dan Dukungannya ya guys. Terima kasih 🙏🤗 Loph you all 😘