Silence

Silence
Bab 52



Happy reading 📖📖 guys


“Sekarang jelaskan, Bel. Apa maksud ucapan lo tadi?” Agatha melipat kedua tangan di atas perut sambil menyipitkan mata.


Agatha meminta Peter untuk menjaga putri mereka. Kebetulan Deon juga sedang bersama Peter. Agatha berkata kepada Deon untuk tidak mencariku sementara waktu karena kami bertiga akan melakukan perbincangan yang serius.


Lalu Agatha membawa kami pergi dari taman belakang yang menjadi tempat penyelenggaraan acaranya.


Bella memejamkan matanya sambil mengepalkan tangannya erat. Dirinya terlihat sedang menahan amarah, tapi dari hal apa?


“Bella, ada apa sebenarnya? Sejak gue menjadi kekasih Deon, lo tidak terlihat keberatan. Malah sebaliknya. Lo mendukung gue,” tanyaku pelan.


“Gue memang selalu mendukung apa yang terbaik buat lo, La. Akan tetapi, gue tidak bisa berpura-pura tidak melihat penderitaan Jason,” jawab Bella.


Tubuhnya gemetar. Buliran air mata pada kedua matanya terlihat siap merebak keluar kapan saja.


“Bel … lo ….” Sebuah pertanyaan terselip masuk dalam benakku. Apakah Bella memiliki perasaan pada Jason?


“Semalam dia pergi clubbing dan menghabiskan banyak minuman alkohol hingga dia mabuk berat. Tidak hanya itu saja. Dia bahkan, meminta gue memanggilkan wanita penghibur untuknya. Sebelumnya dia tidak pernah melakukan semua itu,” tutur Bella. Di detik berikutnya, air mata yang ditahannya sedari tadi mulai menetes keluar.


“Selama hidupnya, Jason belum pernah menginjakkan kakinya ke tempat itu. Dia tidak pernah menyentuh minuman beralkohol. Dia adalah pria yang sangat menghormati wanita yang disayangi dalam hidupnya,” ucap Bella lagi hingga dia terisak semakin keras.


Aku mengelus punggung belakangnya pelan. Tanpa sadar, aku telah menitikkan air mata mendengar berita dari Bella mengenai kondisi Jason saat ini.


Disela-sela isak tangisnya, Bella menatapku dengan penuh permohonan. “Gue tidak sanggup melihat Jason menderita seperti itu, La. Kembalilah kepadanya, La. Lo masih punya perasaan padanya walau hanya sedikit, kan?”


Aku menggeleng kepala dengan tegas. “Sorry, Bel. Yang gue cintai saat ini adalah Deon. Bukan Jason lagi.”


“Lalu bagaimana dengan Jason?” sontak Bella dengan nada meninggi.


“Bagaimana apanya? Jelas Jason harus bisa menerima kenyataan walau pahit sekalipun,” tukas Agatha.


“Jason tidak bisa kalau bukan dengan Rayla! Apakah kalian tega melihat Jason menderita seperti itu?” bentak Bella.


“Lo pikir, Rayla tidak sedih karena harus jujur mengatakan perasaan yang sebenarnya kepada Jason, pria yang paling mengerti dirinya sepanjang hidupnya? Lo pikir, Rayla tidak merasa bersalah setelahnya? Tidak mudah bagi Rayla memutuskan untuk jujur pada dirinya juga pada Jason,” jawab Agatha.


Bella terlihat akan mengucapkan sesuatu, tapi Agatha terlebih dahulu berkata, “Kalau lo tidak tega melihat Jason seperti itu, kenapa bukan lo saja yang mengobati sakit hatinya? Sudah cukup lo menyimpan perasaan terhadapnya selama ini. Sudah saatnya Jason tahu bahwa di sampingnya ada seseorang yang mencintainya dengan tulus tanpa


syarat, tanpa berharap apa pun sebagai imbalan.”


Kedua mata Bella membulat lebar. Aku pun juga terkejut mendengar ucapan Agatha barusan.


Jadi, selama ini Bella diam-diam menaruh perasaan pada Jason? Dan aku yang tidak tahu apa-apa, malah menceritakan perasaan cintaku dan hubunganku dengan Jason di hadapannya?


“Selama ini gue berpura-pura tidak tahu tentang perasaan lo itu, Bel. Ketika itu, gue tidak sengaja melihat lo sedang berdiri mematung di depan pintu kamarnya Jason yang terbuka sedikit. Gue bisa mendengar dari luar suara canda tawa Rayla dan Jason di dalam. Tatapan mata lo terlihat sedih, tapi lo menutupi perasaan lo dengan memasang wajah ceria sambil melangkah masuk,” ucap Agatha memberitahu.


Bella tertawa parau, tawa yang tidak sampai ke matanya. “Gue memang wanita paling bodoh, diam-diam mencintai seorang pria selama hampir dalam masa hidup gue. Lebih bodohnya lagi, gue tidak bisa berhenti mencintainya walau gue tahu, dia mencintai wanita lain yang sekaligus adalah sahabat gue.”


“Sejak kapan?” tanyaku serak.


“Sejak kapan itu tidak penting, kan? Pada akhirnya, Jason tetap memilih lo,” jawabnya sambil melihatku sinis.


“Sorry, Bel. Gue tidak tahu kalau lo mencintainya,” ucapku dengan perasaan menyesal. Secara tidak langsung, aku telah menyakiti hatinya.


“Kalau lo tahu, terus apa yang akan lo lakukan? Kasihan pada gue, lalu mengalah, begitu?” ketus Bella.


Aku meraih tangannya, bermaksud untuk memberikannya semangat, tetapi dia menepis tanganku dengan kasar. “Bella ….”


“Gue minta sekali lagi sama lo, La. Tinggalkan Deon, lalu kembali pada Jason,” tukas Bella tegas. Matanya menatapku tajam. Namun, di balik itu ada terselip perasaan sedih.


Aku menarik napas dalam, kemudian memberikan gelengan kepala sebagai jawaban.


“Fine! Anggap gue tidak pernah menjadi sahabat lo.” Bella bangkit berdiri, lalu melangkah pergi dengan cepat.


“Bella!” Dia tidak menggubris panggilanku. Malah terus berjalan pergi dengan langkah lebar.


Aku segera berlari menyusulnya. “Bella!” teriakku lagi.


Ketika jarak kami sudah hampir dekat, aku segera mencekal lengannya dan langkah kakinya pun terhenti.


“Jangan seperti ini, Bel! Kita sudah sebelas tahun bersahabat. Jangan karena hal ini membuat persahabatan kita putus! Gue tidak bisa kembali pada Jason. Dia sudah menjadi bagian masa lalu. Kenyataan ini memang pahit, tapi gue juga tidak boleh membohongi Jason,” ucapku gelisah.


“Bagi gue saat ini yang terpenting adalah kebahagiaan Jason. Kalaupun kebohongan yang lo buat untuknya bisa membuatnya bahagia, kenapa tidak? Gue tidak sanggup melihatnya menderita seperti itu karena lo, La. Di sini terasa sakit,” jawab Bella, tangannya memukul dadanya berkali-kali.


“Mengapa Jason tidak pernah menyadari perasaan gue? Mengapa Jason harus jatuh cinta sama lo? Apa yang lo punya yang tidak ada pada diri gue?” tanyanya lagi. Dari kedua matanya terpancar kesedihan dengan jelas.


Pertanyaan yang diucapkan Bella membuat hatiku terasa sakit. Tidak pernah terlintas dalam pikiranku bahwa Bella juga mencintai Jason.


Dia tidak pernah memperlihatkannya pada kami. Aku pikir, dia selalu bergonta ganti pasangan karena dia belum menemukan pria yang dapat memikat hatinya.


“Sorry, Rayla. Perasaan gue sekarang sedang kacau. Melihat wajah lo saat ini, hanya membuat gue marah, benci dan kecewa. Lebih baik untuk sementara waktu kita jangan bertemu.” Bella menarik kuat cekalanku hingga akhirnya terlepas. “Semoga lo bahagia bersama Deon.”


Kali ini aku membiarkan Bella melangkah pergi meninggalkan rumah Agatha. Kenangan saat kami bertiga tertawa bersama, berputar kembali dalam benakku.


“Biarkan waktu menyembuhkan luka mereka, La.” Terdengar suara Agatha berdiri di sampingku.


Kubuka kedua mataku yang sedang terpejam tadi. Kemudian kami berdua berpelukan sambil berurai air mata.


*****


Sahabat dan cinta, dua hal yang tidak mungkin terlepas dari kehidupan kita.


Pernahkah kalian berpikir bagaimana seseorang bisa menjadi teman atau sahabatmu? Kenapa yang lain tidak? Kenapa hanya beberapa orang yang sekarang menjadi sahabatmu?


Ketika kamu sudah sering bertemu dengan seseorang, kamu akan merasa akrab dengan mereka dan hal ini membuatmu lebih cenderung untuk berteman dengan mereka. Kemudian ada kesamaan, dan yang terakhir adalah timbal-balik hubungan.


Dibutuhkan waktu yang singkat untuk memutuskan apakah seseorang akan menjadi teman, gebetan, musuh, atau apa pun itu.


Dan ketika kamu jatuh cinta pada sahabat atau sahabat kita mencintai orang yang sama, kita semua akan dilema antara tetap menjadi sahabat atau mencoba menyatakan perasaan kita atau mengorbankan perasaan kita untuk kebahagiaan sahabat.


Lalu ketika terjadi penolakan, persahabatan pun akan retak. Seperti hubunganku dengan Jason dan Bella saat ini.


Setelah Bella meninggalkan rumah Agatha saat itu, keesokan harinya dia keluar dari group kami di Whats App.


Aku mencoba menghubunginya, tapi dia telah memblokir nomorku.


“Beri dia waktu untuk menenangkan pikirannya, La. Seiring berjalannya waktu, Bella dan Jason dapat menyembuhkan luka mereka sendiri,” ucap Agatha ketika aku memberitahunya dengan panik bahwa Bella telah memblokir nomorku.


Semua ini salahku. Andai saja aku tidak jatuh cinta pada Jason, maka aku tidak perlu menyakiti hati mereka berdua.


“Sayang, kamu melamun lagi.” Tiba-tiba suara Deon terdengar hingga membuatku terkesiap. Deon sedang memeluk pinggangku dari belakang.


“Sorry,” jawabku berusaha untuk tersenyum. Namun, bibirku terasa kaku untuk bergerak.


“Masih memikirkan tentang mereka?”


Aku mengangguk kepala. Deon dan Peter mendengar pembicaraan kami bertiga pada saat itu.


Sepulang dari rumah Agatha, aku hanya bisa terus menangis karena aku telah kehilangan dua sahabat terbaik sekaligus hanya dalam waktu dua hari.


“Cinta bisa datang di saat-saat yang paling tidak terduga. Ketika cinta itu datang, kita tidak akan bisa menghindari atau berlari menjauhinya. Berhentilah menyalahkan dirimu, Sayang. Tidak ada yang bisa disalahkan karena tidak akan pernah ada yang tahu kapan dan dari mana cinta itu datang,” ucap Deon menghiburku.


“Aku takut benar-benar kehilangan mereka, Deon. Bagaimana kalau seandainya mereka selamanya tidak bisa memaafkanku?”


Rasa gelisah yang muncul, membuatku tanpa sadar mencengkeram dress bridesmaid yang sedang kukenakan saat ini. Kami sedang berada di butik WO untuk fitting.


Deon memutar balik tubuhku hingga berhadapan dengannya. Kemudian dia menarik tubuhku ke dalam pelukannya.


Sambil menepuk-nepuk punggungku, dia berkata, “Tenang saja, Sayang. Saat ini mereka hanya sedang terluka karena sama-sama mendapatkan penolakan. Wajar saja mereka merasa kesal, sedih, dan emosi. Akan tetapi, bukan berarti mereka membencimu. Beri mereka jarak dan waktu untuk bisa menerimanya sambil pelan-pelan menyusun serpihan hati mereka yang telah berserakan. Ketika mereka sudah bisa melewati masa-masa sulit ini, mereka akan kembali hadir.”


Perkataannya membuatku merasa tenang seketika. Aku berdoa dalam hati, semoga Bella dan Jason bisa melewati semua ini dan hubungan persahabatan kami dapat berjalan kembali seperti dulu.


“Hey! Yang mau menikah itu gue atau kalian, sih? Kalian berpelukan begitu mirip seperti calon mempelai pria dan wanita. Membuat gue iri, tahu!” Maylin muncul dengan berkacak pinggang.


Aku memutar mata malas. “Lo sudah mau married, masih iri juga? Jangan lebay, deh, Lin.”


Deon tertawa kecil dan berkata, “Setelah kamu menikah dengan Darwan, giliran kami yang akan menikah.”


Mataku membelalak mendengar dia berkata seperti itu. Aku hendak memprotesnya, ketika Deon meraih daguku mendekat ke wajahnya.


“And when it comes, I will say it loud to the world that I’ve found a woman, The one I can live for.” Kemudian dia memagut bibirku dengan lembut dan aku sampai terlena dibuatnya.


“Gue mengambil keputusan yang salah karena mau menemani kalian fitting. Bikin mata anak gue iritasi.” Sambil berdecak-decak, Maylin memutuskan meninggalkan kami berdua.


Jangan lupa tambahkan ke Favorite lalu tinggalkan Komentar, berikan Vote, Like dan Dukungannya ya guys. Terima kasih 🙏🤗 Loph you all 😘