Silence

Silence
Bab 90



*Hai, readersku tersayang **😊 Sebelum dibaca, kalian siapin tisu dulu, ya. Perasaan sang anak yang hancur begitu tergambar di part ini 😢 Aku sambil ngetik, sambil ikutan nangis juga, nih 😭*


*Jangan pernah berpikir untuk berpisah saat kalian sudah punya anak. Setuju atau tidak si anak, dia tetap sakit hati ☹️ Karena itu, sebelum bercerai, pikirkan dengan matang, karena yang kena dampaknya adalah sang anak 🥺😢 Di dunia ini ada yang namanya mantan pacar, mantan istri, mantan suami, tapi tidak ada mantan anak. *


*Yuk, kita ikutin selanjutnya interaksi seperti apa antara sang anak dan sang ayah yang sudah berpisah selama tiga belas tahun. Happy reading 📖📖 guys*


Masih teringat dengan jelas di kepalaku, kenangan ketika pria itu melangkah keluar rumah meninggalkan kami. Aku ingin menjerit, ‘jangan pergi, papa’. Namun, bibirku tidak mampu mengeluarkan suara. Sejak kepergiannya, setiap detik nyeri di sekujur tubuhku terasa semakin nyata.


Sosok papa yang muncul dengan suara tawa yang terdengar indah di telingaku, sambil menggendongku dan berkata bahwa aku adalah putri kesayangannya. Sosok papa yang muncul bersamaku dengan senyuman lembut saat kami menggunakan kamera mengambil foto bersama.


Kenangan terus datang silih berganti seperti film dalam kaset yang diputar secara acak. Semua kenangan itu berputar-putar dalam bentuk gelombang yang mengingatkanku pada kebahagiaan sekaligus kepedihan.


Jika saja aku tahu bahwa tumbuh di keluarga yang tidak utuh terasa sepedih ini, aku pasti memilih untuk tidak pernah dilahirkan ke dunia. Rasa kecewa yang begitu menyiksa hingga hampir merenggut kewarasanku. Dadaku luar biasa sesak seolah ditindih tumpukan balok berbobot ratusan pon.


“Selamat atas hubunganmu dengan Deonartus yang akan berlanjut ke pertunangan.”


Suaranya yang terdengar tulus, membuat jantungku berdentum keras, kemudian kelopak mataku terbuka yang beberapa saat lalu terpejam.


“Bertunangan adalah langkah yang selama ini sulit saya ambil setelah keluarga saya tercerai berai. Sedangkan pernikahan adalah mimpi buruk bagi saya setelah melihat kegagalan pada rumah tangga orang tua saya,” ucapku dengan nada yang sangat dingin dan wajah datar.


“Maafkan saya karena tidak bisa seperti ayah teman-temanmu, tapi saya berjanji akan memberi kalian segala yang terbaik yang bisa saya berikan setelah saya pergi.” Frans Pramanta memperlihatkan wajah sedihnya. “Ini adalah kalimat hati yang tidak sempat saya katakan keluar, ketika saya memutuskan pergi dari rumah pada saat itu.”


Aku mengedarkan pandangan ke sembarang arah. Menolak memandangi wajah pria yang berada di depanku sambil terus menahan sakit yang tidak ada hentinya menyiksa setiap jengkal tubuhku.


“Memberi segepok banyak uang adalah maksud Anda yang terbaik yang bisa Anda berikan?” Kerongkongan terasa amat ngilu saat mengucapkan pertanyaan itu.


“Bagi saya, pendidikan dan kesehatan kalian adalah aset yang paling berharga. Saya bisa mewujudkannya jika saya menjadi Osborn. Saya merasa tidak berguna saat menjadi Pramanta.”


Seketika dadaku terasa panas bukan kepalang. Aku merintih pelan merasakan perih saat bulir air mataku menyentuh kulit pipiku yang seperti dihiasi luka yang menganga.


Aku menoleh ke arahnya dengan mengeluarkan semua perasaan yang siap meluncur dari bibir. “Kebahagiaan keluarga bukan terletak pada apa yang dicapai tetapi sikap hati terhadap apa yang dicapai. Seharusnya, keluarga adalah tempat perlindungan anak-anaknya,” ucapku dengan suara meninggi.


“Apakah Anda tahu? Saya sedih dan menangis ketika ada orang yang menceritakan kebahagiaan suasana keluarganya. Saya merasa iri ketika melihat orang lain dapat bahagia bersama keluarganya, sementara hati saya terluka. Seharusnya Anda lebih paham karena Anda juga kehilangan kedua orang tua Anda. Perbedaannya, orang tua Anda meninggalkan Anda karena direnggut paksa oleh Tuhan, sedangkan saya ditinggalkan papa saya demi bisa meraih kembali kebahagiaannya sendiri,” imbuhku dengan nada lebih naik satu oktaf.


“Maafkan keegoisan Papa, tidak pernah berada di sampingmu saat kamu butuh …,” gumam Frans pelan, tapi aku dapat mendengar dengan amat jelas.


“Andai Papa punya satu kali lagi kesempatan, andai Papa lebih dulu tahu kesalahan yang akan Papa lakukan ….” Napas Frans tercekat dan air matanya jatuh, tapi dia berusaha meneruskan, “saya tidak akan menyia-nyiakan anak-anak saya….”


Air mataku semakin mengalir deras. Jantungku berdetak semakin liar dan nyeri di dadaku sudah tidak terperikan. “Setiap anak ingin keluarga yang sempurna. Baginya rumah adalah tempat yang paling nyaman. Keluarga adalah rumah ketika kami pulang dan merasa lelah. Sayangnya, keluarga saya tidak. Pengkhianatan dari keluarga itu adalah luka yang paling dalam.”


Aku memukul dadaku sendiri untuk mengenyahkan rasa sesak yang membuatku sulit bernapas. “Andalah yang membuat saya untuk merasa sulit percaya pada semua orang. Janji yang telah Anda ucapkan … anda bilang bahwa Anda akan selalu berada di samping saya, selalu memperhatikan disetiap detik pertumbuhan saya … tetapi kenyataannya? Sebaiknya tidak usah berjanji jika tidak bisa menepatinya.”


Air mata pria itu luruh semakin deras dan segera menundukkan kepalanya.


Kupejamkan mataku. Tidak ada kata yang sanggup melukiskan perasaanku saat ini. Aku jatuh, terluka, putus asa dan kecewa pada saat yang bersamaan. Ya Tuhan, ini terlalu menyakitkan.


“Maaf untuk segalanya, Rayla. Papa selalu mencintaimu dan Maylin … Papa tulus menyayangi kalian berdua.”


Tubuhku terdiam kaku mendengar penuturannya yang bagaikan parfum isi ulang, wangi tapi palsu. “Hujan tidak pernah tahu untuk apa ia jatuh, tapi air mata selalu tahu untuk siapa ia jatuh,” ucapku pelan.


Aku mengigit bibir bawahku kuat-kuat. Mengepal erat-erat kedua tanganku yang gemetar. “Saya memaafkan Anda, Frans Pramanta, tetapi bukan berarti saya telah melupakannya. Sekarang saya sudah menemukan kebahagiaan. Jadi, tolong! Jangan hancurkan dinding kebahagiaan yang sudah saya bangun sendiri tanpa dukungan Anda.”


Kemudian, aku bergegas meninggalkan ruangan. Ketika baru berjalan beberapa langkah, aku berhenti dan menoleh ke arah pria itu. “Frans Pramanta adalah papa saya. Kenyataan itu selamanya memang tidak bisa diubah. Namun, bagi saya, dirinya telah tiada setelah dia memutuskan pergi meninggalkan anak-anaknya. Sampaikan kata-kata saya ini kepadanya, Pak Osborn. Terima kasih.”


Setelah menyelesaikan ucapanku, aku kembali memutar tubuh untuk kembali berjalan keluar, mengabaikan suara isak tangis dari pria itu yang sambil tidak berhenti menggumamkan kata maaf berulang kali.


Aku mengacuhkan dirinya yang sedang menyesali perbuatannya selama bertahun-tahun, berkubang dengan perasaan bersalah yang dia tahu, tidak akan pernah bisa diperbaiki.


*****


Jika aku menulis surat pada Tuhan, akan ku curahkan semua isi hatiku di setiap halaman. Akan ku minta perang dalam jiwaku berakhir dan perbaiki dengan perdamaian.


Jika aku menulis surat pada Tuhan, aku akan mengatakan, tolong berikan jalan keluar bagiku. Akhiri semua kebencian, berikan kesabaran dalam hatiku.


Kuatkan diriku untuk melalui semuanya. Bantu diriku temukan cinta yang sudah hilang dan sepertinya banyak yang salah dalam keadaan yang aku hadapi.


*****


DEON


Tatapan mata Rayla terlihat kosong begitu dia keluar dari ruangan Frans Osborn. Tidak ada sepatah kata yang terlontar dari bibirnya. Gue menggandeng tangan Rayla, lalu dengan cepat berjalan pergi.


Di dalam lift, Rayla masih tak bergeming. Gue mendekatkan diri dan merangkul bahunya. Mengusap lembut agar dia bisa lebih tenang. Gue tahu kondisinya sekarang sedang tidak baik-baik saja.


Ketika kami sudah masuk ke dalam mobil, tangisan Rayla pun pecah bersamaan dengan tubuhnya yang juga bergetar hebat. Gue memeluknya, menenggelamkan wajahnya di dada gue.


Gue mengusap-usap punggungnya dan berusaha menenangkannya. “It’s ok. Melepaskan apa yang menyakiti hati dan jiwamu adalah salah satu keputusan paling berani yang pernah kamu buat, Sayang. Setelah ini, kamu bisa setahap maju satu langkah menuju kebahagiaan yang sesungguhnya. Aku selalu bersamamu.”


“Percayalah, kamu pasti bisa membangun keluarga yang baik dengan cinta dan kasih sayang. Karena kehilangan telah mengajarkan dirimu lebih bisa menghargai yang tidak sempurna,” ucap gue lagi yang dibalas Rayla dengan anggukkan kepala.


*****


DEON


Masalah urusan tanah telah berhasil diselesaikan. Besok, gue, papa dan pak Broto akan menghadap Xavier Jadison untuk mengurus pemutusan kontrak kerja sama. Kali ini Rayla tidak akan ikut ke sana. Gue tidak mau Rayla sampai bertemu lagi dengan Erik keparat itu.


Tentunya gue sudah menyusun banyak rencana. Salah satunya adalah selama gue sedang berada di kantor Xavier Jadison, gue mengerahkan seluruh security untuk memperketat penjagaan juga memberi perintah ke bagian resepsionis agar tidak mengizinkan tamu siapa pun masuk ke dalam gedung, tidak peduli apa pun alasannya. Cuma untuk berjaga-jaga saja kalau Erik datang ke kantor mencari Rayla lagi saat gue sedang berada di kantor papanya.


“Are you fucc king kidding me? Gue tidak akan keluar dari bisnis rahasia itu!” maki Leonel begitu Rayla sudah keluar dari ruangan.


Rencana gue yang lain yaitu mencadangkan dana di perusahaan papa Leonel tanpa sepengetahuan Xavier Jadison. Gue tidak mungkin menaruh saham di sana karena akan ketahuan oleh mereka. Satu-satunya cara yaitu lewat pencadangan. Dengan begitu, perusahaan papa Leonel dapat beroperasi lebih maksimal.


“Gue tidak menyuruh lo ngebubarin bisnis lo itu. Gue cuma bilang kalau gue mau mencadangkan dana ke perusahaan bokap lo.”


“Sama saja, kampret! Bokap gue pasti suruh gue ikut terjun mengurus bisnisnya karena lo jadi aset perusahaan beliau. Gue mana bisa membagi waktu mengurus dua usaha sekaligus?” tukas Leonel dengan sengit.


“Lo bisa, Leo! Gue tahu kemampuan yang lo miliki!”


“Lo mau memuji gue seperti apa pun, keputusan gue tetap sama. Absolutely, no!” Leonel masih keras pendirian, tidak mau mengalah.


“Lo pikir organisasi rahasia lo itu bisa bertahan berapa lama? Sampai cucu lo lahir? Atau cicit lo?”


“Da mnn it, you! Lo doain usaha gue cepat-cepat musnah, ya?” Amarah Leonel sudah memuncak hingga ke ubun-ubun.


Gue melayangkan tatapan menusuk dan tajam kepada Leonel. “Jangan lupa kalau gue ikut memberikan modal di organisasi lo itu, yang berarti posisi gue adalah bos lo juga.”


Leonel tertawa terbahak-bahak. “Lo hanya keluar uang, bukan otak dan keringat,” katanya dengan nada mengejek.


“Tanpa uang apakah bisnis lo bisa maju? Apalagi lo tidak berani menggunakan uang dari rekening keluarga lo untuk membuka bisnis lo itu. Kalau bukan gue yang bantu kasih modal, lantas lo minta tolong sama siapa?”


Rahang Leonel mengeras. “Begini yang lo bilang sahabat?” umpatnya.


Gue menarik napas dalam-dalam, lalu mencoba bicara baik-baik dengan Leonel. “Dengar, Leo. Lo sendiri yang bilang kalau perusahaan Xavier Jadison saingan perusahaan bokap lo. Gue bisa membantu usaha bokap lo masuk ke jajaran sepuluh perusahaan terbesar, lalu mengalahkan Xavier Jadison. Atau lebih baiknya lagi buat mereka jatuh bangkrut.”


*Jangan lupa tinggalkan Komentar, berikan Vote, like Hadiahnya supaya aku semakin semangat menulis ya guys. Terima kasih**🙏Tambahkan juga ke Favorite supaya tidak ketinggalan up-nya🤗Loph you all😘*