Silence

Silence
Bab 68



Happy reading 📖📖guys


DEON


“Di mana Rayla Pramanta? Saya ingin bertemu dengannya.”


Gue terkejut atas pertanyaan yang dilontarkan pria di hadapan gue saat ini. Sekejap kemudian, gue teringat di mana gue mendengar nama itu.


Sialan! Di antara jutaan pengusaha yang ada di Indonesia, mengapa papa memilih perusahaan pria blasteran ini untuk melakukan kerjasama bisnis? Pepatah mengatakan dunia sempit ternyata memang benar.


Gue berdeham, berupaya mengontrol rasa tidak suka gue pada pria itu. “Maaf, Mr. Erik. Ada urusan apakah dengan kekasih saya? Bukankah hubungan kalian sudah berakhir sekitar tujuh bulan yang lalu?”


Kini giliran Mr. Erik yang terkesiap. Mungkin dia tidak mengira kalau gue mengetahui perihal hubungan antara dirinya dengan Rayla.


Gue lantas menggunakan kesempatan ini untuk memperjelas status dia yang sekarang hanya sekadar mantan.


“Kekasih saya tiba-tiba tidak enak badan. Tadi saya membawanya ke kamar Hotel dan meminta Dokter keluarga saya untuk mengecek kondisinya. Kabar baik yang diberitakan oleh Dokter kami, membuat kebahagiaan saya malam ini berlipat-lipat.”


Dahi Mr. Erik mengernyit. Menandakan tidak paham atas ucapan gue yang ambigu. “Selamat atas jabatan Anda sebagai CEO baru di perusahaan ayah Anda. Namun, saya tidak tertarik tentang Anda. Saya hanya ingin bertemu dengan Rayla. Urusan kami sebelumnya belum selesai.”


Gue memasang senyum lebar demi kesopanan. “Sayangnya kekasih saya belum bisa diganggu, Mr. Erik. Trimester pertama lebih rentan. Oleh karena itu, Dokter menyarankan untuk banyak beristirahat juga mengurangi beban pikiran yang dapat memicu stres.”


Mr. Erik berdiri terpaku dengan kedua mata terbelalak. “Anda jangan bercanda! Rayla seorang wanita yang memiliki harga diri yang tinggi,” ucapnya dengan berapi-api.


“Tentu saja! Kecantikan kekasih saya tidak hanya dari luar saja, dia juga memiliki inner beauty yang tidak ditemukan pada wanita lain. Namun, tidak jarang sepasang kekasih yang saling mencintai jatuh terperangkap dalam gairah cinta bukan?” gue sengaja memberinya penekanan pada kalimat terakhir, bahwa gue lah pria yang dicintai Rayla, bukan dia.


Dia mengepalkan telapak tangannya kuat-kuat. Giginya bergemeletuk karena marah. “Apakah Anda sudah lupa, siapakah saya ini?” tanyanya dengan sinis.


“Mr. Erik Xavier Jadison. Perusahaan kita sudah menjalin kerjasama dalam tiga tahun ini.”


“Menjaga hubungan baik dengan rekan bisnis adalah hal penting untuk mempertahankan kelanggengan kerjasama. Seharusnya kita bisa berinteraksi dengan baik, tetapi jika Anda membuat saya kecewa, maka saya tidak ragu-ragu mencabut kerjasama kita,” ucapnya mengintimidasi.


Gue memasang raut berpikir selama sesaat. Membuat pria di depan gue ini yang usianya terpaut jauh, memasang senyum penuh kemenangan.


Pria seperti inikah yang sempat menjadi pilihan tante Restin dan memaksa Rayla untuk menikah dengannya?


Ternyata kita tidak bisa menilai seseorang hanya dari apa yang dia pakai, karena apa yang dia pakai belum tentu mencerminkan dirinya, belum tentu sebaik sikapnya.


“Jika Anda berpikir sikap saya sudah mengecewakan, kalau begitu saya meminta maaf yang sebesar-besarnya. Sungguh ironis, saya yang sudah berusaha tidak mencampuradukan urusan pribadi dengan perusahaan, malah Anda sendirilah yang tidak bisa bersikap profesional.” Gue mengucapnya dengan suara rendah.


Wajahnya terlihat memerah penuh emosi. Dia seolah siap untuk menyerang gue dengan wajah yang memerah padam.


Tatapan matanya menghunus tajam ke arah gue, tetapi gue tidak terintimidasi. Dia mau memutuskan hubungan kerjasama? Akan gue kabulkan permintaannya.


Mr. Erik mengatur deru napasnya yang memburu, menahan gejolak emosi. “Rayla bekerja sebagai Asisten Anda, bukan? Kalau begitu, saya masih memiliki banyak kesempatan bertatap muka dengannya. Terima kasih karena posisi jabatan yang Anda berikan kepada Rayla, secara tidak langsung mempermudah tujuan saya. Semoga kerjasama kita ini berjalan lancar. Saya pamit dulu,” ucapnya kemudian tertawa keras-keras.


“Saya yang seharusnya berterima kasih kepada Anda karena telah memberi saya kesempatan memiliki berlian ini. Yang kecantikannya memang memukau dan membuat orang enggan berpaling. Terutama saya,” tukas gue dengan bibir menyunggingkan senyuman lebar.


“Anda tunggu saja kartu undangan pernikahan kami. Saya pasti tidak lupa mengundang Anda.”


Bibirnya mengatup rapat, sementara kedua telapak tangannya mengepal semakin erat hingga buku-buku jarinya membiru. Tanpa mengindahkan ucapan gue, dia melangkahkan kedua kakinya berjalan meninggalkan tempat.


Sialan! Gue kepingin banget ngehamilin Rayla, lalu secepatnya menikah. Akan tetapi, bagaimana caranya dia hamil sedangkan dia mengonsumsi pil kontrasepsi? Belum lagi tentang traumanya yang sampai sekarang masih belum teratasi. Sabarlah, Deonartus. Pahala bagi orang yang bersabar.


Beberapa pikiran masih berkecamuk dalam benak gue, ketika tiba-tiba terdengar suara tepuk tangan.


Gue memalingkan kepala ke arah sumber suara. Spontan gue langsung melengos saat melihat satu lagi wajah pria yang ingin gue singkirkan, sedang berjalan mendekat.


“Wow! Saya tidak menyangka kalau Anda sangat berani melawan relasi bisnis Anda demi mempertahankan wanita yang dicintai. Terutama terhadap Xavier Jadison. Apakah Anda tidak tahu kalau mereka adalah salah satu sepuluh orang terkaya sekaligus pengusaha terbesar di Dunia?” Mr. Grayson Carter memicingkan matanya, tak percaya atas apa yang dia lihat beberapa waktu yang lalu.


Gue memutar bola mata ke atas, kemudian berkata, “Maaf, Mr. Grayson Carter. Saya harus kembali ke Ballroom.”


Kedua kaki gue sudah bersiap melangkah, tetapi tidak jadi karena pertanyaan Mr. Grayson Carter membuat telinga gue terasa panas mendengarnya.


“Bagaimanakah keadaan Rayla? Apakah darah rendahnya kumat lagi?”


“Keadaan kekasih saya bukan urusan Anda, Mr. Grayson Carter. Jika Anda mendengar obrolan saya bersama Mr. Erik tadi, seharusnya Anda paham apa yang sedang terjadi pada kondisi kekasih saya,” tukas gue dengan nada sedikit meninggi.


Sikap sopan gue sudah hilang. Gue sedang berada dalam kondisi sulit mengontrol emosi karena munculnya dua orang pria yang pernah hadir dalam hidup Rayla.


Mr. Grayson Carter terkikik geli. “Saya mengenal betul wanita seperti apakah Rayla. Dalam hidupnya tidak ada pernikahan. Jadi, mustahil dia membiarkan dirinya hamil.”


Dada gue bergemuruh kuat. “Lo ….” Mata gue terbelalak berapi-api. Ada dorongan kuat untuk melayangkan tinju pada wajah pria berengsek ini.


Sial! Sial! Sial! Jangan bilang kalau pria ini adalah cinta pertamanya Rayla!


Mr. Grayson Carter melambaikan tangan berpamitan. “Jangan lupa kasih gue undangannya juga, ya,” imbuhnya sambil tertawa sebelum sosoknya menghilang dari pandangan gue.


Tiba-tiba gue merasa menyesal, meminta papa memindahkan jabatan Rayla menjadi Asisten gue. Bukan Mr. Erik yang menjadi ancaman gue, melainkan pria blasteran Inggris itu. Berengsek!


Gue segera mengambil ponsel dari dalam saku celana. Menekan sambungan keluar dan menghubungi sebuah kontak telepon dengan tangan gemetar karena menahan emosi yang siap meledak.


Gue tidak menghiraukan ejekannya. “Segera cari tahu info tentang Elian Grayson Carter, mulai dari siapa saja yang pernah berhubungan dengannya sejak kecil hingga sekarang. Semuanya. Besok lapor ke gue.”


“Sialan, lo! Bukannya tanya kabar sahabat lo ini, malah kasih gue tugas? Gue sekarang sedang sibuk!” dengkusnya sebal.


“Kalau begitu, gue beri tahu ke orang tua lo tentang lo yang masih have fun dengan wanita lain, sedangkan tunangan lo-“


“Ok! Ok! Fine! Besok gue kasih kabar ke lo, berengsek!”


“Besok pagi sebelum jam sembilan,” ucap gue tegas.


“Eh, kampret! Apa tidak salah, lo? Udah suruh orang, masih berani minta batas waktu?” umpatnya.


“Pilihan lo hanya dua, Leonel. Jalani tugas dari gue tepat waktu atau gue bocorin rahasia lo itu.”


“Begini yang namanya sahabat?”


“Tenang saja. Gue pasti kasih imbalannya, kok! Gue tunggu besok pagi jam sembilan.”


Setelah gue menekan tombol merah, sedetik kemudian dering ponsel berbunyi. Gue menatap nama penelepon yang masuk pada layar ponsel. Jantung gue langsung diserbu perasaan cemas. “Rayla bagaimana, kak Sarah?”


“Rayla sepertinya mengalami tekanan. Tubuhnya demam tinggi. Dia tidak berhenti memanggil ….” kak Sarah tidak melanjutkan ucapannya. Membuat gue semakin penasaran.


“Rayla memanggil siapa, kak?”


Sesaat hening menyergap sebelum suara kak Sarah kembali terdengar. “Deon, apakah Rayla bertemu dengan papanya di acara ini?”


“Hah? Mengapa kakak bertanya seperti itu?” Dahi gue mengernyit. Pasalnya, gue tidak melihat Rayla bersama dengan orang yang kemungkinan adalah papanya.


“Rayla tidak berhenti memanggil papanya. Kakak yakin, dia mengalami tekanan berat karena bertemu dengan papanya.”


“Aku mengerti, Kak. Aku serahkan Rayla pada kakak. Setelah acara berakhir, aku langsung ke sana.”


“Tenanglah. Mama dan kakak akan menjaga Rayla.”


“Terima kasih, Kak.”


Kemudian gue segera menghubungi Peter Wales karena gue tidak memiliki nomor ponselnya Agatha.


Nada sambung terdengar beberapa kali sebelum akhirnya suara Agatha yang terdengar. “Hai, Deon. Apa kabar? Peter sedang ke kamar mandi. Ada apa?”


“Kebetulan gue sedang mencari lo, Tha. Gue mau tanya, apakah lo tahu nama papanya Rayla?”


“Tahu, sih, tapi kenapa lo tanya ke gue? Kenapa tidak bertanya langsung sama Rayla?”


Gue segera memutar otak, mencari alasan yang masuk akal agar Agatha tidak curiga.


“Rayla pindah jabatan sebagai Asisten gue. Bagian Personalia sekarang sedang mengumpulkan data identitas karyawan yang akan di pindah bagian maupun naik jabatan. Kebetulan data Rayla kurang lengkap karena nama papanya tidak tercantum. Gue mau tanya sama Rayla, tapi dia sedang istirahat karena tidak enak badan,” ucap gue menjelaskan.


Memang sebenarnya di dalam data identitas Rayla pada kolom bagian nama ayah, kosong.


“Oh, begitu. Nama papanya adalah Frans Pramanta,” jawab Agatha tanpa curiga.


“Ok. Makasih, ya, Tha.”


“Rayla sakit apa memangnya?” tanya Agatha.


“Demam biasa. Gue sudah memanggil Dokter keluarga.”


“Ya sudah. Kalau begitu, besok gue hubungi dia menanyakan kabarnya.”


“Kapan-kapan saja, Tha. Tunggu dia sudah sehat, gue bisa kasih tahu dia kalau lo mencarinya,” tukas gue cepat.


Untungnya Agatha tidak banyak bertanya lagi. Dengan terburu-buru gue menghubungi Leonel.


“Ada apa lagi?” tanyanya dengan sengit.


“Sekalian cari tahu juga tentang pria yang bernama Frans Pramanta.”


Leonel berdecak-decak sebelum berkata, “Gue minta bayaran dua kali lipat.”


“Gampang. Asalkan lo tepat waktu lapor ke gue hasilnya,” jawab gue santai.


“Memang sahabat berengsek, ya, lo!”


Gue tertawa terbahak-bahak sebelum memutuskan sambungan telepon. Frans Pramanta. Mengapa namanya sama dengan Frans Osborn?


Sepertinya gue juga perlu minta bantuan pihak Hotel memeriksa daftar nama-nama tamu yang datang.


Jangan lupa tambahkan ke Favorite lalu tinggalkan Komentar, berikan Vote, Like dan Dukungannya ya guys. Terima kasih 🙏🤗 Loph you all 😘