
*Happy reading 📖📖 guys*
Harum nasi goreng buatan Tante Fifi menguar sampai ke hidungku. Membuat perutku berbunyi nyaring, minta segera diisi.
Tante Fifi segera menuang nasi goreng buatannya itu ke dua piring. Satu untuknya dan satu untukku.
Sekarang aku berada di rumah, makan siang bersama Tante Fifi. Sedangkan Deon, Maylin dan Darwan pergi ke tempat Restoran mama.
Entah aku harus menunggunya berapa lama. Dia bilang akan mengabariku.
“Kenapa tidak bilang kalau Deon seorang Playboy?” Tante Fifi menggeser piring yang sudah berisi nasi goreng buatannya kepadaku.
“Aku tidak ingin kehadiran Deon ditolak.” Aku segera melahap nasi goreng di hadapanku.
“Ditolak atau tidak, semua itu dilihat dari seberapa seriusnya dia terhadapmu. Contohnya seperti saat ini. Dia bertekat untuk mendekati mamamu.”
“Tante, apa ada kemungkinan mama bisa tersentuh dengan kegigihan Deon?” tanyaku dengan nada pesimis.
Tante Fifi tidak menjawab pertanyaanku, malah balik bertanya, “Kamu mencintainya?”
Sesaat aku diam sebentar menatap Tante Fifi, lalu aku mengangguk kepala sebagai jawaban.
“Deon berbeda dengan pria lain yang pernah menjadi kekasihmu. Dia punya cara sendiri untuk membuatmu tersenyum. Sudah lama Tante tidak melihatmu tertawa lepas. Deon bisa melakukannya ... selain Jason,” tutur Tante Fifi.
“Mama tidak menyukai Jason, apalagi Deon? Ditambah mama sudah tahu kalau Deon pernah menjadi Playboy.”
“Feeling Tante mengatakan kalau Deon bisa berhasil mengambil hati mamamu, Rayla. Kamu lihat saja semalam saat dia dengan begitu beraninya mencium pipi mamamu.” Tante Fifi tertawa, kemudian kembali melanjutkan ucapannya.
“Belum ada yang berani melakukan hal seperti itu pada mamamu. Bahkan, Darwan pun belum pernah. Jujur, Tante kagum atas keberanian dan kegigihan Deon. Berarti dia benar-benar serius menjalani hubungan denganmu.”
“Bagaimana kalau itu saja tidak cukup membuat mama tersentuh? Tante sendiri tahu kalau mama lebih mengutamakan materi, bukan? Baginya kebahagiaan diukur dari seberapa banyaknya materi yang kita terima,” ucapku dengan sinis.
“Rayla, kamu tahu penderitaan yang dialami mamamu. Dia memiliki pandangan seperti itu juga karena papamu. Kalau bukan karena dia-”
“Aku tidak mau mengerti, Tante!” tukasku memotong ucapan Tante Fifi. “Yang menderita bukan hanya mama seorang! Aku dan Maylin juga ikut terluka. Hanya karena mama yang melahirkan kami ke dunia ini, lantas kami dianggap anak durhaka jika tidak menuruti keinginannya? Kami bukan mesin yang bisa diatur sesukanya sesuai keinginannya, Tante! Kami punya perasaan!”
Tante Fifi tidak mengatakan apa-apa lagi. Dia hanya memandangku dengan tatapan sedih.
Aku memasukkan suapan terakhir ke dalam mulutku, kemudian beranjak dari tempat dudukku berniat mencuci piring.
Setelah selesai aku melangkah ke ruang tamu, lalu membuka saluran IndiHome TV. Aku mengambil remote, mencari saluran yang sedang memutar film bagus.
Pilihanku pun jatuh pada salah satu drama Korea yang berjudul Hospital Playlist.
Ketika aku sedang asyiknya menonton, dering pada ponselku berbunyi. Sesaat aku menatap layar ponsel sebelum menekan tanda answer. “Ya, Tha? Ada apa?”
“Lo kenapa tidak ikut Deon ke sini juga, sih? Kan, lo bisa menghalangi para wanita yang sedang berbinar-binar menatap Deon dengan celemeknya, membuat dirinya makin terlihat hot. Sebentar lagi kekasih lo ini akan diterkam habis oleh pengunjung wanita di sini,” ucap Agatha dengan histeris.
Dahiku mengernyit. Apakah Agatha sedang berada di Restoran mama? Lalu tadi dia bilang Deon dengan celemeknya? Maksudnya apa? Dia ke sana bukannya untuk mengambil hati mama?
“Gue kirim fotonya ke group.” Tanpa menunggu jawaban dariku, Agatha langsung memutuskan sambungan telepon.
Tidak berapa lama kemudian, tanda inbox masuk berbunyi.
Segera kubuka foto yang dikirim Agatha dan sejurus kemudian mataku melebar ketika melihat wajah Deon difoto itu sedang memberikan senyuman manis kepada dua orang wanita yang sedang duduk, sambil menatap kagum Deon.
Deon berdiri sambil memegang sebuah note kecil ditangannya dan mengenakan celemek di pinggangnya.
Agatha: Kenapa lo tidak bilang kalau hari ini kekasih lo mulai parttime di Restoran tante Restin sebagai waiter?
Aku segera membalas pesannya. Akhirnya, aku pun fokus pada chat group kami ketimbang melihat ketampanan wajah Jo Jung-Suk pada drama Hospital Playlist yang sedang kutonton tadi.
Me: Siapa yang jadi waiter? Hari ini dia ke sana hanya untuk mendekati mama gue.
Bella: Gue juga mau dilayani sama waiter ganteng dan hot model Deon, dong! Btw, Lo tumben ke Restorannya tante Restin, Tha?
Agatha: Tiba-tiba saja gue ngidam masakan buatan tante Restin. Makanya gue datang ke sini, lalu Deon yang melayani pesanan gue. Ada Maylin dan Darwan juga di sini. Mereka bilang Rayla ada di rumah.
Me: Kalau gue tahu lo ke sana, gue ikut ke sana juga.
Agatha: Maylin bilang tante Restin tidak merestui hubungan kalian, ya?
Me: Yup!
Bella: Deon gantengnya sudah mirip Ares, masih ditolak sama Tante Restin?
Bella: Kan, lo kan bisa bantu isiin uang kertas ke dalam dompetnya biar kelihatan tebal.
Agatha: Lo yakin tidak mau ke sini, La? Gila, ada wanita cantik yang berani banget ngedipin matanya langsung di hadapan Deon!
Bella: Kalau gue bukan ngedipin lagi, Tha. Langsung gue terkam saja itu Deon.
Agatha: Lo lagi, Bel, bisa basa-basi kalau sudah turn on. Padahal, baru lihat tampang gantengnya saja. Gue penasaran siapa yang bakal nikah sama lo.
Bella: Masih lama, Tha. Gue masih mau hidup bebas dulu.
Me: Guys, tolong balik fokus ke topik semula. Yang gue tahu, Deon sedang menggencarkan rencana untuk mengambil hati mama gue, tapi kenapa malah jadi Waiter di sana?
Agatha: Tanya sama Maylin, sana! Dia kayaknya ada di ruangan tante Restin. Sedangkan Darwan lagi dibagian kasir.
Bella: Memangnya siapa lagi yang punya kuasa di sana selain tante Restin? Mungkin tante suruh Deon jadi Waiter di sana. Mau lihat reaksinya Deon bagaimana? Tante Restin itu camer yang susah dilawan.
Agatha: Ya, apalagi tante Restin sudah tahu kalau calon menantunya ternyata mantan Playboy. Jelas makin susah dikasih restu.
Me: Guys, gue mau telepon minta penjelasan sama Maylin dulu, ya. Bye.
Kemudian aku mencari kontak Maylin dan segera menghubunginya. Dia tidak mengangkatnya hingga suara sambungan digantikan oleh suara operator.
Aku coba menghubungi kedua kalinya. Setelah beberapa deringan, akhirnya diangkat juga. “Kenapa Deon jadi Waiter di sana? Bukannya pegawai di sana sudah cukup?” tanyaku tanpa basa basi.
“Mama memberi tantangan padanya. Deon disuruh parttime jadi Waiter mulai hari ini. Setiap hari Sabtu dan Minggu, mulai dari jam sebelas siang sampai jam delapan malam.”
“Apa? Gue tidak salah dengar kan, Lin? Hari biasa saja kita sudah capek lembur, loh! Kalau begitu, Deon tidak bisa beristirahat, dong!” pekikku tidak percaya.
“Gue juga tidak paham, La. Awalnya mama mengusir Deon pergi, tapi Deon dengan keras kepalanya mengatakan kalau dia bisa membantu mama. Lalu akhirnya mama menjawab kalau begitu parttime jadi Waiter setiap hari Sabtu dan Minggu. Deon langsung mengiyakan begitu saja.”
Kepalaku tiba-tiba berdenyut sehingga membuatku memijat keningku dengan pelan. Kenapa malah jadi begini?
“La, itu artinya mama sengaja tidak memberikan kalian waktu untuk ngedate. Apa lebih baik nanti lo diskusi lagi sama Deon? Mungkin masih ada cara lain untuk mengambil hati mama,” ucap Maylin.
Aku menghela napas frustasi. “Kalau Deon mudah diajak diskusi, hari ini dia tidak mungkin datang ke sana, Lin. Dia bilang mesti sering-sering melakukan kontak dengan mama, agar mempermudah dirinya mengambil hati mama. Bukankah permintaan mama itu malah sesuai dengan keinginannya?”
Terdengar suara Maylin sedang terkekeh geli. “Gue suka cara calon kakak ipar yang satu ini, La. I’m feeling proud for him.”
“Dia bukan calon kakak ipar. Kami hanya sepasang kekasih,” elakku.
“He will be, Rayla. Soon.”
Aku tidak berniat membalas ucapannya. Aku menekan tanda end call. Kakak ipar? Sepertinya masih terlalu jauh untuk sampai ke tahap itu. Atau malah tidak akan pernah sampai.
“Minta restu dari Restin memang tidak semudah itu. Seharusnya kamu yang paling tahu itu, Rayla,” ucap Tante Fifi tiba-tiba sudah duduk di sebelahku.
“Aku tahu, tetapi menyuruh Deon parttime di sana setiap hari Sabtu dan Minggu, dari jam sebelas siang sampai jam delapan malam? Itu sama saja menyiksa Deon, Tante! Sehari-hari pekerjaan kami di kantor saja sering menumpuk sehingga terkadang kami masih harus lembur. Seharusnya hari libur digunakan untuk istirahat,” ucapku sambil mencari kontak Deon, kemudian mencoba menghubunginya.
Pada deringan pertama langsung diangkat. Bagus! Lebih baik aku menyuruhnya untuk mundur terlebih dahulu.
“Deon! Bagaimana kalau kamu mundur saja dulu? Kita cari solusi yang lain. Mana mungkin kamu parttime di sana, kan? Kita pulang dulu, lalu bahas masalah ini. Ok?”
“Kenapa tidak mungkin, Rayla? Kekasihmu itu tidak keberatan, kok! Memangnya masih ada cara lain apalagi yang dapat membuat mama berubah pikiran menerima hubungan kalian?”
Bibirku terkatup rapat. Tidak dapat membalas ucapan mama. Kenapa ponselnya Deon bisa berada ditangan mama?
“Sekarang sedang jam kerja, Rayla. Mau menghubunginya nanti malam saja jam delapan. Maylin pasti sudah memberitahumu jam kerja kekasihmu selama bekerja di sini, bukan? Mama masih berbelas kasihan menyuruhnya bekerja sampai jam delapan malam saja. Padahal, Restoran mama tutup jam sebelas malam.”
“Mama akan menggajinya, kan?” tanyaku dengan ketus.
“Kekasihmu tidak meminta gaji. Kenapa malah kamu yang membantunya menanyakan gaji? Mau mendapat restu dari mama, seharusnya pamrih, dong!” Kemudian mama langsung memutuskan sambungan dari sepihak begitu saja.
Tante Fifi terkikik geli. “Yang kamu khawatirkan itu kesehatan Deon atau kalian jadi tidak memiliki waktu untuk ngedate?”
Aku hampir saja keceplosan mengatakan kalau kami berdua sudah tinggal bersama. Untung saja mulutku ini berhasil di rem. Kalau tidak, sudah dipastikan Deon akan dimutilasi hidup-hidup oleh mama.
Tante Fifi masih bisa diajak berunding baik-baik, tetapi dengan mama? Jangan harap itu terjadi.
Bukannya aku ingin menjelekkan mama sendiri, tapi sungguh mama seperti jelmaan medusa kalau dia sudah dalam kondisi yang sangat menyebalkan. Seperti saat ini.
Jangan lupa tambahkan ke Favorite lalu tinggalkan Komentar, berikan Vote, Like dan Dukungannya ya guys. Terima kasih 🙏🤗 Loph you all 😘