
Happy reading 📖📖 guys
“Banyak wanita kencan gue, memilih makan salad saat gue mengajaknya dinner. Terkadang gue bertanya-tanya, apakah dengan makan sayuran saja bisa kenyang?” Deon memulai percakapan sambil mengunyah makanan.
“Gue bukan tipe orang yang menyiksa diri sendiri. Membiarkan perut kelaparan hanya untuk memberikan kesan yang baik.”
Saat di kantor tadi, aku memang tidak merasa lapar, tetapi begitu melihat foto makanan yang ada pada buku menu, membuatku tergiur dan perutku tiba-tiba terasa lapar.
Aku langsung memesan nasi ayam betutu, satu porsi sate lilit dan es kelapa jeruk.
Deon tercengang dengan kondisi mulut terbuka setengah, ketika mendengar pesananku. Dia tidak menyangka melihat tubuhku yang kecil ini ternyata memiliki porsi makan yang banyak.
Deon tertawa pelan. “Penilaian gue terhadap lo memang tidak salah. Inilah yang membuat lo beda dengan wanita lain. You’re unpredictable. Membuat gue semakin tertarik,” ucapnya dengan mimik wajah jahil.
“Simpan rayuan lo, Deon. Jangan membuat napsu makan gue hilang. Gombalan receh lo hanya berguna terhadap wanita yang lebih memilih makan sayuran dari pada daging di malam hari,” balasku.
Sambil memasang wajah sedih, Deon bersenandung nyanyian Why don’t you love me dari Hot Chelle Rae feat Demi Lovato.
🎵🎶🎵🎶 “Kujalani hidup dalam mimpi buruk yang terus-terusan terngiang. Terkunci di kamar, tergila-gila padamu dan kau tak ingin lebih dari sekedar berteman. Katakan padaku, aku ini segalanya bagimu, udara yang kau hirup. Bukalah hatimu malam ini karena aku bisa jadi apapun yang kau butuhkan. Mengapa kau tak mencintaiku, sayang?” 🎵🎶🎵🎶
Aku melempar tisu wajah ke arahnya. “Lebay, lo!” Kemudian kami berdua tertawa terbahak-bahak.
“Ngomong-ngomong, tumben lo mengajak gue kencan? Kekasih lo ke mana?” tanya Deon.
“Gue sudah bilang ini bukan kencan! Gue mentraktir lo makan karena sudah membantu gue cuti. Harus berapa kali, sih, gue katakan agar lo bisa mengerti?” protesku.
Deon mengabaikan protesanku. “Pria dan wanita pergi berdua, apa namanya kalau bukan berkencan?”
Aku memutar mata dengan malas. Percuma menghabiskan energi berdebat dengannya.
“Terserah apa kata lo, deh! Kekasih gue sedang berada di Aussie. Dia mendapat bea siswa studi dari perusahaannya selama enam bulan.”
“Jadi, kalian menjalani pacaran jarak jauh selama enam bulan ke depan? Biasanya, menjalin long distance relationship membuat para wanita sering berburuk sangka. Sesibuk apa pun harus menyempatkan berkomunikasi. Sehari saja tidak memberi kabar, langsung dicurigai selingkuhlah, tidak perhatianlah, dan sebagainya. Dan selalu kami, para pria, yang disalahkan.“
“Itu derita kalian jika berpacaran dengan wanita labil,” jawabku.
Deon menatapku dengan pandangan yang tidak bisa kutebak artinya. “Memangnya lo tidak masalah, La? Sudah berapa lama kalian menjalin long distance relationship ini?”
“Sudah dua minggu. Selama ini kami fine-fine saja, tuh! Tidak ada waktu untuk video call, bisa melalui chat, bukan?” jawabku sambil menelan suapan terakhir nasi ayam betutu dan berlanjut mengambil satu tusuk sate lilit ke dalam mulut.
“Lagi pula gue juga sibuk dengan pekerjaan. Tidak mungkin gue melalaikan pekerjaan demi membalas chat darinya, kan? Gue tidak mau dipecat,” tuturku menambahkan.
Deon tertawa terbahak-bahak. Alisku berkerut, merasa bingung melihat responsnya itu. Apakah ada yang lucu dengan ucapanku tadi?
Suara dering ponsel yang kutaruh di samping meja tiba-tiba berbunyi. Erik’s calling.
Aku melihat jam pada layar ponsel menunjukkan pukul 21:15 yang berarti di Aussie pukul 00:15.
Sudah lewat dari tengah malam, untuk apa Erik menghubungiku? Bukankah seharusnya dia sudah tidur?
Deringan kedua kali kembali berbunyi. Tadi aku terlalu sibuk berpikir sehingga tidak sempat menjawab panggilan pertama. Erik kembali menelepon kedua kalinya.
Deon melirik sekilas pada layar ponselku. “Teleponnya tidak diangkat? Mungkin saja itu panggilan penting.”
Aku menekan tanda answer. Belum sempat aku mengucapkan sesuatu, Erik terlebih dahulu berkata dengan nada penuh emosi.
“Kamu bilang malam ini lembur. Karena itu tidak sempat ber-video calldenganku, tapi nyatanya kamu sedang berduaan dengan pria lain. Apakah maksud lemburmu itu adalah makan malam dengan pria yang berada di hadapanmu sambil bersenda gurau, begitu?”
Aku terkejut mendengar ucapannya. Bagaimana Erik bisa tahu sekarang aku sedang bersama Deon? Apa jangan-jangan dia …
“Kamu mengirim seseorang memata-mataiku?” tanyaku dengan suara meninggi.
Astaga! Apa sebenarnya yang ada di dalam otak Erik? Apa dia tidak percaya padaku?
“Aku mengirim sopirku untuk menjemputmu karena terlalu berbahaya membiarkanmu pulang sendiri malam-malam.”
Aku tertawa sinis. Sejak kapan dia mengkhawatirkan keamananku saat aku pulang terlalu malam karena lembur?
Samar-samar aku mendengar suara musik berdentam dengan keras di ujung seberang sana. Di tengah malam, Erik masih berada di luar? Tempat seperti apakah yang masih buka selarut itu?
“Aku memang lembur. Sekarang sedang makan malam setelah jam istirahat siang tadi aku tidak makan apa-apa lagi karena terlalu sibuk. Kebetulan rekan kerjaku masih berada di kantor dan aku berhutang kepadanya untuk mentraktirnya makan. Tidak ada yang salah, kan?” Aku berusaha meredam emosi dengan mengambil napas dalam-dalam.
Aku segera memotong ucapan Erik. “Seharusnya aku yang bertanya padamu, sedang apa kamu di sana tengah malam? Setahuku, perbedaan jam antara Indonesia dan Aussie adalah tiga jam. Di sini sudah pukul 21:15. Berarti di sana sudah pukul 00:15 tengah malam. Bukankah seharusnya kamu sudah tidur, Mr. Erik?”
“La! Aku-”
Aku tidak memberi Erik kesempatan untuk menjelaskan. “Musik di sana memang terdengar enak jika kamu mendengarnya dalam jarak yang pas, tetapi lain hal nya jika dalam jarak sedekat itu. Gelombang suara keras yang di keluarkan dari speaker itu, dapat menulikan pendengaranmu! Pergilah ke Dokter spesialis THT. Aku tidak mau memiliki calon suami yang tuli.”
Lalu aku menekan tanda End dan membanting ponsel dengan kasar di meja.
Tanpa penjelasan darinya, aku tahu dia sedang berada di mana saat ini. Aku tidak bodoh!
Deon berdeham. Suaranya membuatku tersadar bahwa kami berdua masih berada di tempat makan. “Maaf, karena perdebatan kami membuat lo merasa tidak nyaman.”
“It’s ok. Gue paham, kok! Wanita mana yang tidak akan marah ketika mengetahui kekasihnya berada di klub tengah malam,” jawab Deon.
Aku menggeleng kepala. “Bukan itu yang membuat gue marah. Melainkan tentang dia mengirim seseorang untuk memata-matai gue. Ini namanya sudah melanggar privasi!”
Deon terlihat sedikit terkejut mendengar jawabanku. “Tentang klub ....”
“Memangnya kenapa tentang klub? Gue tidak mempermasalahkan dia mau ke klub, drunk or whatever he want to do! Dia pria dewasa. Setiap apa yang telah diperbuat, harus berani untuk bertanggung jawab.”
Tubuhku menegang ketika Deon tiba-tiba menatapku dalam. Mengapa dia menatapku seperti itu?
“You don’t love him, La,” tukas Deon lugas. Aku terdiam. “Jika lo mencintainya, yang membuat lo marah adalah dia berada di klub tengah malam. Bukan karena dia mengirim mata-mata.”
“Sok tahu, lo!” tukasku sambil meneguk habis minuman di tanganku dengan cepat demi menyamarkan rasa terkejutku.
“Lo lupa kalau gue sang Playboy? Gue juga tidak suka saat wanita-wanita yang gue kencan, mulai mencampuri urusan pribadi gue,” balas Deon sambil tersenyum.
*****
Aku merasa bingung saat Deon mengatakan bahwa dia tahu alamat rumahku. Padahal, aku belum pernah memberitahunya.
Ternyata dia pernah mengencani salah satu karyawan wanita bagian Human Resource Department di kantor. Dia tahu alamat rumahku dari karyawan itu.
Aku sempat berdebat dengannya karena dia telah melanggar privasi. Namun, bukan Deon namanya jika dia tidak dapat memberi alasan sambil memasang wajah tidak berdosa.
Tepat saat aku beranjak turun dari mobilnya dan mengucapkan terima kasih kepadanya, Mama telah berdiri di belakang mobil dengan tatapan mata yang menusuk.
Deon menghampiri Mama. lalu dengan sopan menyapa Mama. “Malam, Tante. Maaf, saya membawa Rayla pulang terlalu malam. Tadi kami lembur. Karena belum sempat makan malam, jadi kami memutuskan pergi makan terlebih dahulu baru kemudian mengantarnya pulang.”
Mama menyipitkan matanya, memperhatikan wajah Deon dengan saksama. Aku merasa malu melihat sikap Mama terhadap Deon.
“Ma!” tegurku.
“Teman kerjanya Rayla?” tanya mama menyelidik.
“Benar, Tante.”
“Sama seperti Rayla sebagai Staff Accounting?” tanya mama lagi.
“Sudah terlalu malam, Deon. Lebih baik lo segera pulang dan istirahat. Hati-hati, nyetirnya.” Dengan terburu-buru, aku mendorong tubuh Deon agar segera masuk ke dalam mobil.
Deon tersenyum lalu melambaikan tangannya juga berpamitan kepada Mama. Namun, Mama tidak mempedulikannya.
Mama memandang tajam ke arahku dan berbicara dengan lantang, “Kamu sudah memiliki kekasih, tetapi pulang dengan pria lain larut malam begini? Apa kata Erik nanti, Rayla Pramanta?”
Setelah Deon meninggalkan kami, aku menatap Mama dengan kesal. “Sikap Mama tadi apa-apaan, sih? Makan malam dengan teman kerja bukan berarti selingkuh, kan?”
Aku yakin tadi Deon pasti mendengarnya.
Mama mengikuti langkahku berjalan masuk ke dalam rumah lalu membanting pintu dengan kasar. “Mama tidak pernah mengajari kamu menjadi wanita gampangan seperti ini, Rayla. Erik baru saja pergi ke Aussie dua minggu lebih, kamu langsung mencari pengganti sementara? Mau taruh di mana wajah Mama jika sampai dilihat tante Nia?”
“Ma! Aku dan Deon hanya teman kerja! Bagaimana bisa Mama berpikir bahwa aku wanita seperti itu? Satu hal lagi, selama ini yang mendidik aku adalah tante Fifi. Bukan Mama!” ucapku dengan penuh emosi.
“Ada apa lagi ini? Mengapa kalian selalu bertengkar?” Tante Fifi muncul dari arah dapur. Diikuti Maylin yang berada di belakangnya.
Jangan lupa tambahkan ke Favorite lalu tinggalkan Komentar, berikan Vote, Like dan Dukungannya ya guys. Terima kasih 🙏🤗 Loph you all 😘