Silence

Silence
Bab 49



Happy reading 📖📖 guys


Aku baru sampai di Apartemen dan mendengar suara Deon sedang berbicara dengan seseorang melalui ponselnya.


Dia sedang duduk di pantri dapur. Kutatap punggung belakangnya yang terlihat kokoh.


Kulangkahkan kaki dengan cepat ke arahnya, lalu melingkarkan kedua tanganku pada pinggangnya, memeluknya dengan erat.


Aroma parfum dari tubuhnya menguar hingga ke hidungku. Perpaduan antara woody dan cinnamon, membuatku merasa nyaman. I’m home.


Deon sedikit terkejut mendapatkan pelukan dariku. Dia memutar kepalanya ke belakang, bermaksud untuk memandangku. Kemudian dia menyambutku dengan senyumannya.


“Rayla sekarang ada di sini, Ma. Mau bicara dengannya?” tanya Deon tiba-tiba sambil memasang wajah jahilnya padaku.


Aku menggelengkan kepala dengan cepat. Akan tetapi, Deon sepertinya pura-pura tidak mengerti. Dia malah memberikan ponselnya padaku. “Nih! Mamaku bilang ingin bicara sebentar denganmu.”


Aku sempat mendengus padanya sebelum akhirnya menerima ponsel tersebut. “Halo, Selamat Malam, Bu,” sapaku dengan sopan.


Jantungku sudah berdegup tidak karuan. Aku belum pernah bertemu dengan ibu Surbakti secara langsung, apalagi berbicara dengannya? Hanya pernah melihatnya dari jarak jauh saat acara ulang tahun perusahaan.


“Jangan panggil ibu, dong! Panggil Tante saja. Juga tidak perlu seformal itu bicara dengan Tante, Sayang,” ucap mama Deon dengan suara lemah lembutnya.


“Oh, Ba- baiklah, Tan … te ….” Lidahku terasa kaku saat mengucapkannya.


Deon yang sedang berada di sampingku, terkikik geli melihatku salah tingkah. Dasar kekasih kurang dihajar! Bisa-bisanya dia tertawa di atas penderitaan kekasihnya.


Aku hanya bisa melotot tajam padanya, mengingat aku masih sedang bercakap-cakap dengan mamanya.


“Kapan kamu dan Deon datang main ke sini? Tante ingin sekali bertemu denganmu. Tante hanya bisa mendengar ceritamu dari Gunawan dan Sarah. Setiap Tante bertanya kepada Deon, dia selalu jawabnya sibuk. Jujur sama Tante, apakah Deon yang tidak mengizinkan kamu datang ke sini, Nak?” tanya mama Deon.


“Maaf, Tante. Bukan salah Deon, tapi saya sendiri yang masih belum siap. Apalagi belum lama ini, saya baru tahu tentang jati diri Deon yang sebenarnya,” jawabku dengan jujur.


“Tante mengerti. Anak Tante yang satu itu memang suka sekali membuat drama. Perasaan Tante tidak ngidam yang aneh-aneh deh, saat sedang mengandungnya.”


Ya, Tante. Aku juga bingung bagaimana bisa Deon yang sikapnya lebih selengan, usil dan mematahkan banyak hati kaum wanita ini, ternyata salah satu anak dari pak Surbakti? Bahkan, sampai sekarang aku masih belum benar-benar percaya.


Tentu saja aku menyuarakannya dalam hati. Aku tidak mau mengambil resiko dipecat. Aku masih mencintai pekerjaanku. Karena itu aku hanya bisa tertawa pelan, menanggapi ucapan beliau.


“Dalam waktu dekat ini, carilah waktu datang ke sini, Sayang. Tante tidak sabar ingin melihatmu. Jangan sampai saat dihari peresmian Deon nanti, kita masih seperti orang asing,” ucap mama Deon lagi merajuk.


Suaranya yang lembut, membuatku tidak tega menolaknya. “Iya, Tante. Saya dan Deon akan mencari waktu luang untuk ke sana.”


“Tante tunggu, loh! Tidak usah repot-repot bawa buah tangan, ya. Kamu sudah bersedia datang, Tante sudah senang, kok. Baiklah. Kalau begitu, Tante tidak mau mengganggu kalian bermesraan. Sampai ketemu nanti, Rayla.”


“Sampai ketemu nanti, Tante.”


Kemudian percakapan kami pun berakhir. Aku membuang napas dalam-dalam.


Ternyata tanpa sadar selama aku berbincang dengan ibu Surbakti tadi, aku menahan napas. Pantas saja aku merasa kesulitan untuk bicara. Otakku juga tidak bisa bekerja dengan baik.


“Sebegitu menyeramkan kah, ibu Surbakti ini? Sampai-sampai kekasihku tidak bisa bernapas dengan normal selama berbincang dengannya? Padahal, hanya sekadar lewat telepon.” Deon tertawa pelan.


Aku memukul bahunya dengan keras. “Jangan lupa kalau kamu juga bersikap seperti itu saat pertama kali bertemu dengan mamaku. Bunga untuknya saja sampai harus aku yang ingatkan. Kalau tidak, mungkin bakal kamu peluk sampai pulang ke rumah,” sindirku. Deon hanya tertawa terbahak-bahak.


Aku melihat sisa mie instant pada mangkuk yang ada di depan Deon.


Pada saat perjalanan menuju Restoran mama, aku mengirim inbox padanya agar makan malam jangan menungguku.


“Kamu makan mie instant? Kenapa tidak pesan Go Food saja?” tanyaku.


Deon kembali memasukkan sisa mie instant itu ke dalam mulutnya. “Tidak ada kamu yang menemaniku makan. Aku menjadi malas pesan makanan. Akhirnya aku pilih mie instant saja.”


“Gombal saja terus!” cibirku.


Deon hanya terkekeh sambil menghabiskan mie nya. Aku memperhatikan wajah Deon dengan saksama.


Wajahnya memang tampan. Aku bukan tipe wanita yang mementingkan penampilan untuk masuk kriteria pria idamanku. Aku tipe wanita yang sulit untuk jatuh cinta.


Bahkan, sampai didetik ini, masih ada perasaan takut jika suatu hari nanti aku kembali terluka. Namun, di sisi lain juga tidak ingin kehilangan Deon. Perasaan ini belum pernah kurasakan sebelumnya. Bahkan, terhadap Jason sekali pun.


Berani mencintai, maka harus berani menerima resikonya. Kali ini aku ingin memercayakan seutuhnya pada Deon. Kejujuran adalah salah satu bagian terpenting dari setiap hubungan.


*****


Aku menceritakan tentang hubunganku dengan Jason pada Deon.


Bermula dari bagaimana kami berkenalan dan menjadi sahabat, lalu jatuh cinta kepadanya. Kemudian mama dengan teganya memintanya untuk meninggalkanku tanpa penjelasan apa-apa. Lalu sekarang mama menghubunginya dan memintanya untuk kembali padaku.


Semuanya kuceritakan padanya, tidak ada satu pun yang kulewatkan. Termasuk insiden ciuman itu. Untuk satu hal ini, sesungguhnya aku sangat takut menceritakan padanya. Akan tetapi, aku sudah bertekat untuk jujur. Aku tidak ingin sebuah satu rahasia, menjadi bom besar disuatu hari.


Sedari tadi Deon hanya bergeming. Raut wajahnya pun tidak berubah, tidak ada ekspresi apa-apa.


Tanganku yang bergetar dan mulai berkeringat, mencengkeram ujung dress. Saat ini perasaan takut, khawatir, menyesal, bercampur aduk jadi satu.


“A- aku tidak tahu kalau dia akan melakukan hal itu padaku. Aku ….”


“Kamu membalas ciumannya?” Nada suaranya terdengar dingin.


Tiba-tiba tenggorokanku terasa kering. Aku menelan ludah sebelum menjawabnya. “Y- ya ….”


“Tapi sungguh aku tidak pernah bermaksud untuk melakukannya, Deon. Aku sempat merasa jijik pada diriku sendiri. Bagaimana bisa aku melakukan hal itu? Padahal, aku sudah memiliki kekasih? A- aku sadar, aku salah. I deeply regret bad thing that I've done to you,” ucapku cepat-cepat menjelaskan dengan suara bergetar.


Deon berdiri dengan kasar hingga kursi yang didudukinya terpental jatuh ke belakang. Aku terkejut dibuatnya.


“Kapan kejadiannya?” Sorotan matanya sangat dingin menusukku. Tubuhku menegang melihat dia yang menatapku seakan-akan dia jijik padaku.


“Sa- saat … aku … berkunjung ke rumah … Agatha setelah dia … melahirkan …,” jawabku terbata-bata.


“Damn it!” Deon memukul meja dengan keras hingga aku pun berteriak kencang. “Kita bahkan masih bercinta dengan panas setelahnya, Rayla. Aku berpikir kalau kamu hanya menginginkanku. Kamu sudah membuka hatimu untukku, tapi ternyata aku telah salah mengira.”


“Kamu tidak salah, Deon. Ketika itu terjadi, aku langsung tersadar begitu mendengar ucapanmu yang mengatakan I will be your saving grace, Rayla. You can keep my promise. Ucapanmu itu menyelamatkanku. Aku mendorongnya dan-”


“Aku tidak butuh penjelasanmu,” ucapnya dingin.


Tubuhku merinding mendapati tatapan Deon yang begitu menghunus kepadaku. Aku menahan air mata sekuat mungkin.


Bodoh kamu, Rayla! Kamu benar-benar bodoh! Ini semua terjadi karena dirimu yang masih terombang ambing oleh masa lalu. Lihatlah sekarang akibat dari perbuatanmu!


Deon melangkah dengan cepat ke arah pintu. Aku bergegas menghadangnya dengan berdiri di depannya.


“Jangan pergi, Deon! Aku mengaku salah sudah menyakitimu. Aku benar-benar menyesal telah menyembunyikan hal itu darimu, tapi aku bersumpah! Aku melakukannya karena aku tidak ingin kehilangan dirimu.”


Rasa sesak menusuk dadaku hingga terasa amat perih. Aku bersalah. Aku sangat tahu itu. Aku merasakan penyesalan besar karena sudah mengkhianatinya dan menyembunyikan kejadian itu darinya.


Deon terdiam menatapku sejenak, sebelum kembali bersuara, “Kamu membalas ciumannya, Rayla. Itu berarti kamu masih mencintainya. Bahkan, siang tadi pada saat di ruangan kerja tante, saat aku mengatakan apakah dia calon suamimu atau bukan, biar itu semua keputusanmu, tapi kamu tidak menjawabnya.”


Aku menggeleng kepala dengan cepat. “A- aku-”


“Sudahlah, Rayla. Jika kamu masih mencintainya, tidak apa-apa. Kamu bisa berkata jujur padaku. Aku menghargai kejujuran walau kejujuran itu terasa menyakitkan.” Kemudian Deon bersiap-siap memakai sepatunya.


Mataku sudah mengabur oleh air mata. Sekuat apa pun aku berusaha menahan tangisku, semuanya sia-sia.


Deon menatapku, lalu kembali berkata, “Tanyakan pada hati kecilmu, Rayla, Siapakah yang kamu cintai saat ini. Aku akan menghargai apa pun jawabanmu.”


Deon berbalik badan dan memutar kenop pintu, lalu mendorong pintu itu hingga terbuka.


Jantungku seakan berhenti berdetak dan sulit untuk menarik napas, ketika melihat punggung Deon akan menghilang dari pandanganku.


“Aku cinta kamu Deonartus Surbakti! Cuma kamu!” seruku dengan serak.


“Aku tidak hanya memberikan tubuhku padamu, tapi juga hatiku. Dan kamu teganya memilih meninggalkanku? Kalau kamu masih berani melanjutkan satu langkah saja, aku bersumpah akan menemui orang tuamu dan meminta tanggung jawabmu, Berengsek!” ancamku.


Air mataku mengalir dengan deras seperti keran air yang sudah rusak, tidak bisa berhenti. Hingga pandangan mataku mengabur, tidak bisa melihat dengan jelas. Namun, aku mendengar suara pintu tertutup.


Deon pergi meninggalkanku. Aku terduduk dengan lemas di lantai dan menangis kencang.


Mengutuki diriku yang melakukan kebodohan dengan berkata jujur padanya. Juga mengutuki dirinya yang sudah membuatku jatuh cinta sekaligus membuatku kembali terluka dan kali ini lebih dalam dari sebelumnya.


“Playboy berengsek! Kalau pada akhirnya kamu meninggalkanku, untuk apa kamu mengatakan padaku akan menjadi pelindungku? Untuk apa kamu memberiku harapan jika akhirnya mengecewakanku?” teriakku sambil menangis meraung-raung.


Jangan lupa tambahkan ke Favorite lalu tinggalkan Komentar, berikan Vote, Like dan Dukungannya ya guys. Terima kasih 🙏🤗 Loph you all 😘