Silence

Silence
Bab 59



*Happy reading 📖📖guys*


Aku tidak tenang meninggalkan Maylin walaupun ada mama dan tante Fifi menemaninya di rumah. Oleh sebab itu, aku memutuskan untuk sementara kembali tinggal di rumah.


Deon setiap pagi datang menjemputku demi berangkat ke kantor bersama-sama. Sepulang kerja pun juga mengantarku pulang jika sedang tidak sibuk rapat.


Peresmian dirinya sebagai CEO masih kurang dua minggu lagi, tapi pak Surbakti terlihat sudah tidak sabar memperkenalkan putranya kepada kolega bisnisnya sekaligus berkeinginan agar putranya ikut terjun langsung dalam pembicaraan bisnis mereka.


Sedangkan mama sendiri mulai berubah. Dimana sebelumnya beliau hampir menggunakan seluruh waktunya mengurus Restoran atau berkumpul bersama teman arisannya, tapi sekarang mama menyempatkan diri membuatkan sarapan pagi dan bersama tante Fifi memasak makan malam untuk kami semua.


Menyantap makanan yang dimasak mama adalah salah satu hal yang kami rindukan sejak komunikasi kami mulai renggang. Sungguh ironis bahwa ketika putrinya mengalami tragedi, mama dapat lebih menghargai hal yang harus disyukuri dan menyadari betapa banyaknya waktu kebersamaan kami yang telah hilang.


*****


“Good Morning, Sayang,” sapa Deon yang sedang duduk di kursi dapur sambil tersenyum manis padaku. Sekarang rutinitas Deon setiap pagi adalah melakukan sarapan pagi bersama kami.


Aku menguap lebar. Menarik kursi yang berada di sebelahnya. Deon dengan sigap mengambil dua lembar roti tawar yang sudah di panggang, lalu mengolesinya dengan selai cokelat, kemudian memberikannya padaku beserta gelas berisi kopi yang baru dituangnya.


“Sesekali biarkan Rayla yang menyiapkan sarapan pagi untukmu, Deon,” tukas Mama dengan kepala menggeleng.


“Kami sudah membuat kesepakatan, Tante. Aku menyiapkan sarapan pagi sedangkan Rayla yang menyiapkan makan malam,” jawab Deon sambil tersenyum.


Saat kami berada di Rumah Sakit menjaga Maylin, karena Mama tidak memiliki waktu senggang, Deon menawarkan diri untuk membantu mengurus dan mengontrol Restoran.


Merasa dirinya telah mendapatkan lampu hijau dari Mama, Deon memberanikan diri menghilangkan panggilan formalnya kepada Mama agar memberi kesan bahwa hubungan mereka sekarang lebih akrab.


“Terlalu memanjakan Rayla, kamu sendiri yang akan pusing nantinya kalau dia menjadi malas,” tutur Mama.


“Aku rela kok, melakukan apa saja untuk Rayla, Tante. Aku malah lebih senang Rayla bermanja padaku daripada pria lain,” jawab Deon tanpa urat malu.


Tante Fifi tertawa pelan mendengarnya. Sedangkan Mama membuang napas pasrah, tidak tahu harus mengatakan apalagi.


Sudah ku katakan sebelumnya, bukan? Deon selalu dapat membuat lawan bicaranya tidak berkutik.


“Aku tidak malas-malasan, Ma. Semalam aku sibuk menyelesaikan pekerjaanku. Kurang dari dua minggu lagi, aku pindah posisi menjadi Asisten CEO. Ada beberapa pekerjaan yang harus aku tuntaskan lebih dulu sebelum penyerahan kepada karyawan lain,” ucapku mengelak perkataan Mama tentang malas.


Mama berdecak-decak. “Katakan kepada CEO kamu kalau kamu sampai membawa pekerjaan pulang ke rumah. Minta dia membayar upah lembur kamu.”


Aku terkikik geli mendengar jawaban Mama dengan mata mengarah Deon. Kucondongkan tubuh mendekati Deon dan berbisik di telinganya, “Kamu dengar ucapan Mamaku tadi? Kamu harus memberiku upah lembur.”


Deon balas berbisik, “Apa pun aku berikan kepadamu, Nyonya CEO.”


“Ngomong-ngomong, kenapa Maylin masih belum keluar juga, ya?” tanya Tante Fifi tiba-tiba.


“Biasanya dia sudah keluar kamar sebelum Rayla,” timpal Mama.


Keheningan sesaat menyeruak. Suasana canda tawa obrolan yang sempat menghiasi ruang dapur, tiba-tiba berubah menjadi tegang.


“Aku coba ke kamarnya.” Aku segera bangun dari kursi tempatku duduk, lalu berjalan melangkah ke kamar Maylin.


Aku mengetuk pintu kamar Maylin dan memanggil namanya, tapi tidak ada sahutan dari dalam. Aku kembali mengetuk dengan lebih keras lagi. Tetap tidak ada suara apa-apa.


Perasaan tidak tenang melanda diriku. Jantungku berdebar dengan kencang. Aku memutar handle pintu, tetapi terkunci dari dalam.


Aku menggedor pintu kuat-kuat. “Maylin! Buka pintunya!” teriakku.


Deon, Mama dan Tante Fifi datang menghampiriku. Wajah Mama dan Tante Fifi terlihat pucat. Tatapan mereka menyarat penuh kecemasan.


“Pintunya di kunci dari dalam. Aku sudah memanggilnya berulang kali, tapi tidak ada sahutan apa-apa,” tuturku dengan suara bergetar.


Deon menyuruhku untuk meminggir. Dengan menggunakan tubuhnya, dia mencoba mendobrak pintu. Setelah dobrakan yang kedua, pintu berhasil terbuka.


Kami segera melangkah masuk ke dalam dan menemukan Maylin dalam keadaan terbaring di lantai dengan tubuh kejang-kejang hingga kesulitan bernapas.


“Maylin!” pekik kami bersamaan.


Beberapa butir pil berserakan di samping tubuh Maylin. Tidak jauh dari tempat kami menemukan tubuhnya, ada sebuah botol kecil. Deon mengambilnya dan membaca tulisan yang tertera.


“Kita harus cepat membawa Maylin ke Rumah Sakit. Dia mengonsumsi obat tidur dengan dosis lebih,” ungkap Deon terburu-buru.


Deon bergegas mengangkat tubuh Maylin dan membawanya ke Rumah Sakit menggunakan mobilnya. Kami semua ikut masuk.


Mama tidak berhenti menangis dan berdoa sepanjang perjalanan. Perasaan takut menyergap hingga seluruh tubuhku gemetar. Oh, Tuhan! Janganlah Engkau mengambil Maylin dari hidup kami. Kumohon …


*****


“Sudah berapa lama pasien mengonsumsi obat tidur?” tanya Dokter.


“Kami ….” Mama kebingungan bagaimana menjawab pertanyaan Dokter.


“Sesungguhnya kami tidak tahu kalau adik saya mengonsumsi obat tidur, Dok,” jawabku.


“Kalau begitu, kemungkinan besar pasien membelinya melalui apotek. Mengonsumsi obat tidur melalui obat apotek atau resep dokter, perlu sangat berhati-hati dengan efek obat tidur ini. Jika obat melebihi dari rekomendasi dosis, akan menimbulkan tekanan pada sistem pernapasan sehingga menimbulkan risiko kematian. Ini adalah efek obat yang paling berbahaya.”


Penjelasan Dokter barusan membuat kami terkesiap. Aku tidak habis berpikir, mengapa Maylin tega melakukan percobaan bunuh diri? Apakah hidup bersama kami sudah tidak penting lagi baginya?


“Kami sarankan pasien di rawat inap beberapa hari agar kami dapat mengontrol keadaannya apakah ada efek samping lainnya atau tidak, dan apakah ada ketergantungan dalam penggunaan obat tersebut atau tidak. Kami perlu melakukan beberapa pemeriksaan lebih lanjut,” ucap Dokter.


“Baik, Dokter. Kami ikuti saran Dokter yang terbaik,” jawab Mama.


*****


Kami berjalan mengikuti perawat menuju ruang rawat inap VIP. Ketika kami sudah sampai di dalam, terdapat dua orang perawat sedang melakukan pelayanan medis terhadap Maylin.


Salah satu perawat memasangkan selang hidung yang dihubungkan pada tabung oksigen kemudian menggunakan regulator oksigen yang berfungsi untuk mengendalikan tekanan oksigen yang diberikan kepada pasien.


Perawat lainnya memasangkan oximeter pergelangan tangan sebelah kiri Maylin yang bertujuan untuk mengukur kadar oksigen dalam darah guna mengetahui apakah kadar oksigen dari alat bantu napas sudah sesuai dengan kebutuhan pasien atau belum.


“Kami memasang tabung oksigen untuk mempermudah saluran pernapasan pada pasien,” ucap perawat yang mengantar kami ke ruang rawat inap, menjelaskan.


Setelah perawat menyelesaikan semua tugasnya, mereka pun pamit meninggalkan ruangan.


“Dari mana Maylin membeli obat tidur?” tanyaku setelah perawat meninggalkan kamar.


Mama dan Tante Fifi saling bertatapan sesaat, berusaha mengingat apakah Maylin pernah izin keluar rumah? Kemudian kepala beliau bergeleng-geleng.


“Ada satu hari, teman kerjanya datang ke rumah karena Maylin menitipkan surat pengunduran diri. Selain itu, Tante tidak melihat dia keluar ke mana pun, Rayla.”


“Ada kemungkinan Maylin meminta tolong kepada teman kerjanya itu sekalian mampir ke apotek membeli obat tidur untuknya,” ucap Deon berasumsi.


Hampir di setiap malam aku mendengar tangisan Maylin saat melewati kamarnya. Namun, aku berpikir menangis adalah salah satu cara mengungkapkan kesedihannya agar dapat pulih dengan lebih cepat daripada memendam perasaan berpura-pura tegar.


“Aku tidak dapat membiarkan Maylin seperti ini terus-menerus. Aku akan membawanya ke Dokter Psikiater,” ucapku dengan tegas. Aku segera mengeluarkan ponsel dari tas, lalu menghubungi Kak Sarah.


“Kamu tidak ingin menunggu penjelasan dari Maylin terlebih dahulu, Sayang? Mungkin saja Maylin membutuhkan obat tidur karena dia tidak bisa tidur?” komentar Deon.


“Apa pun alasannya, aku sudah tidak bisa mendiamkan kondisi mental Maylin. Bahkan aku mendengar dirinya menangis setiap malam,” jawabku frustasi.


“Hai, Rayla. Ada apa?” Suara Kak Sarah terdengar dari seberang sana.


“Hai, Kak. Bagaimana dengan kabar kakak?” tanyaku basa-basi.


“Puji syukur aku sehat-sehat saja. Kamu sendiri bagaimana? Deon sudah bercerita padaku mengenai adikmu. Aku turut berduka.”


“Terima kasih. Adikku sedang tidak baik, kak. Aku ingin membawanya ke psikiater. Apakah kakak masih praktek?”


Kak Sarah sedang mengandung kira-kira sekitar empat bulan atau lebih. Aku tidak tahu apakah dia masih praktek atau tidak. Oleh karena itu, aku ingin memastikannya lebih dulu.


“Masih, Rayla, tapi aku tidak bisa menangani kasus adikmu. Kamu tahu, kan? Aku sedang hamil. Sedangkan adikmu baru saja kehilangan janinnya. Tidak bagus bagi adikmu yang sedang menjalani terapi, melihat perutku yang makin membesar. Rasa cemburu karena dia tidak dapat hamil lagi dapat mempengaruhi hasil terapinya.”


“Ya, kakak benar. Aku melupakan hal itu,” jawabku lesu.


Deon menautkan jarinya dan menggenggam tanganku. Seolah-olah dia sedang menyalurkan kekuatan untukku.


“Maafkan aku, Rayla.”


“Tidak apa-apa, kak. Aku mengerti maksud baik kakak.”


“Aku punya rekomendasi Dokter Psikiater yang handal. Dia seniorku. Aku akan menghubunginya dan menjelaskan sedikit perihal tentang adikmu. Nomor kontaknya juga akan aku kirimkan kepadamu.”


“Terima kasih, kak Sarah.”


“Aku pasti membantumu semampuku, Rayla. Kamu adalah bagian dari keluarga kami juga.”


Aku tersenyum mendengar ucapan tulus dari kak Sarah. Hanya saja, ada satu yang kurang. Kebahagiaanku terasa lengkap jika Maylin juga bahagia. Namun, sekarang Maylin kehilangan kebahagiannya itu.


Jangan lupa tambahkan ke Favorite lalu tinggalkan Komentar, berikan Vote, Like dan Dukungannya ya guys. Terima kasih 🙏🤗 Loph you all 😘