
*Happy reading 📖📖 guys*
DEON
“Apakah aku boleh menggunakan uang saham atas namaku sendiri, Pa?” tanya gue, pelan.
Papa mengulum senyum di bibirnya. “Tentu saja. Uang itu atas nama kamu, yang berarti milikmu. Kapan pun kamu mau menggunakannya, terserah kamu.”
“Aku tidak mau mengambil semuanya, Pa. Nanti aku konfirmasikan lagi kepada Papa berapa jumlah yang kubutuhkan.”
“Itu uangmu, Deon. Tidak perlu sungkan-sungkan. Papa berjuang mendirikan perusahaan untuk menghidupi kalian semua. Kalau bukan kalian, lalu siapa yang akan menghabiskan harta Papa?” jawab Papa kemudian tertawa terbahak-bahak.
“Kamu benar-benar kena karma cinta, Deon,” imbuh Kak Denis disertai tawa kecil.
“Ini karena aku menemukan pilar rumah cinta dari diri Rayla yang tidak kutemukan pada wanita lain,” ucap gue, jujur.
Ya, gue menemukan wanita yang membuat gue ingin mencurahkan kasih sayang dan rasa ingin melindungi dan memahami. Gue bahkan sudah mantap untuk membawa hubungan ini ke jenjang pernikahan, kalau saja Rayla tidak memiliki trauma karena masa lalunya.
“Kenapa kalian tidak langsung menikah saja?” tanya Papa tiba-tiba, penasaran.
“Menjadi kekasih Rayla saja butuh usaha keras, Pa, apalagi menikah? Aku harus pelan-pelan buat dia percaya kepadaku kalau aku bersungguh-sungguh. Aku pikir lebih baik bertunangan terlebih dahulu karena aku tidak mau pria lain punya kesempatan mengambil Rayla.”
“Dasar bucin,” olok Kak Denis.
“Dari Playboy berubah menjadi bucin tidak buruk juga, kok!” jawab gue sambil menyeringai.
“Jika Papa menjadi Rayla juga tidak mau langsung menerima kamu begitu saja. Apalagi dengan sepak terjang kamu sebagai Playboy. Rayuan gombal dari bibir kamu itu tidak bisa dipercaya.”
Gue memutar bola mata malas. “Jangan berkata seperti itu di depan Rayla, Pa. Aku tidak mau Rayla berpikir semakin jauh untuk menikah denganku.”
Papa dan Kak Denis tergelak-gelak. Sedangkan Pak Broto yang diam saja mendengar pembicaraan kami, tertawa kecil.
“Papa senang melihat diri kamu yang sekarang lebih dewasa dan bertanggung jawab, Deon. Padahal, Papa dan mama sempat mengkhawatirkan masa tua kamu akan seperti apa kalau kamu masih terus suka bermain-main,” ucap Papa yang membuat gue jengah.
“Pikiran Papa dan mama jauh banget, sih?” protes gue.
“Orang tua mana yang tidak khawatir dengan anaknya yang sudah mau masuk kepala tiga, tetapi masih belum menemukan belahan jiwanya? Beruntunglah kamu, Rayla bersedia menerimamu. Kalau tidak, mungkin kamu jadi bujangan tua,” Papa tertawa terbahak-bahak diikuti Kak Denis dan Pak Broto.
Gue memasang raut wajah masam. Mungkin cuma orang tua gue yang tega berpikir tentang masa depan anaknya seperti itu.
Papa berhenti tertawa lalu berdeham sebentar sebelum berkata, “Kita kembali fokus ke topik masalah. Broto, bagaimana dengan aset tanah?”
“Untuk lokasi B dan E adalah milik kita sendiri, Pak. Sedangkan lokasi A, C dan D, sebagiannya diinvestasikan oleh Investor,” ucap Pak Broto menjelaskan.
"Kalau begitu kita harus mengadakan rapat dengan para Investor yang bersangkutan dengan lokasi tanah tersebut,” kata Papa.
“Apakah mereka akan menyetujuinya, Pa? Jika kehilangan aset tanah ini karena untuk divestasi, tidak akan jadi masalah. Namun, lain hal nya jika karena urusan pribadi, mengharuskan mereka kehilangan salah satu sumber passive income, aku sangsi mereka akan setuju.”
Papa mengangguk-angguk kepala, menandakan apa yang diucapkan Kak Denis tadi benar. “Siapa saja Investor yang bersangkutan, Broto?” tanya Papa lagi.
Dengan sigap Pak Broto menggunakan ipad di tangannya untuk membuka internal stakeholder. “Untuk lokasi A yaitu Frans Osborn sebanyak 35% dan Ahmad Prawobo sebanyak 15%. Bagi lokasi C yaitu Frans Osborn sebanyak 40% sedangkan lokasi E yaitu Frans Osborn sebanyak 25% dan Bramatyas Sugiono sebanyak 10%.”
“Frans Osborn yang menginvestasikan paling besar?” Gue sedikit terperanjat mendengar nama itu di sebut, salah satu Investor aset tanah yang akan diserahkan kepada Xavier Jadison.
“Ya, benar,” jawab Pak Broto.
“Papa bisa mengatasi pak Prawobo dan pak Sugiono dengan menggantikan profit mereka melalui efisiensi biaya, tetapi menghadapi pak Osborn? Jujur, Papa merasa sungkan kepada beliau yang sudah menjadi Investor penyandang dana pada perusahaan kita hampir dua puluh tahun,” ucap Papa mengemukakan pendapatnya. “Melalui cara apa kita mengganti tanah itu kepada pak Osborn?”
Sejenak aku terdiam, berusaha mencari cara untuk menyelesaikan masalah itu. Lama gue berpikir sebelum akhirnya gue berkata, “Biar aku sendiri yang membicarakannya kepada pak Osborn, Pa.”
“Aku akan mencobanya dulu, Pa, Kak Denis,” jawab gue dengan antusias. Sebuah ide muncul di dalam kepala. Gue yakin ide gue ini pasti berhasil.
“Apa yang akan lo katakan kepada beliau?” tanya Kak Denis lagi.
“Kalian tenang saja. Tunggu kabar baik dariku,” jawab gue sambil menyunggingkan senyum lebar.
Papa menatapku sambil berdecak-decak. “Semoga kepercayaan diri yang kamu miliki dapat membuahkan hasil, Deon. Papa serahkan masalah Frans Osborn kepadamu.”
Gue tersenyum semakin lebar. Gue yakin, tidak ada orang tua yang tidak menyayangi anaknya. Frans Osborn yang meninggalkan Rayla dan Maylin ketika mereka masih dini, memang suatu kesalahan yang sulit untuk dimaafkan. Namun, pria itu masih peduli atas pendidikan kedua putrinya dengan memberikan uang kepada tante Restin.
Walau bagi Rayla dan Maylin pemberian uang itu sekadar untuk menebus perasaan bersalah pria itu, tetapi jika kita melihatnya dengan mata hati, sesungguhnya Frans Osborn masih menaruh kasih sayang kepada mereka berdua. Hanya saja, hati yang sudah telanjur terluka membuat kakak beradik itu menampik perhatian kecil tersebut.
“Broto, tolong buatkan jadwal rapat bersama pak Prawobo dan pak Sugiono,” ucap Papa memberi perintah.
“Besok,” tukas gue dengan cepat. Papa mengernyitkan alis. “Langsung buat janji rapatnya besok, Pak Broto. Besok aku juga akan menemui Pak Osborn.”
Kemudian gue menggerakan kepala, menatap Kak Denis. “Kak Denis, tolong hubungi Xavier Jadison. Katakan kepadanya kalau kerja sama ini dibatalkan.”
“Jangan terburu-buru mengambil langkah, Deon. Kita belum membahasnya bersama Investor. Bagaimana kalau semuanya tidak berjalan lancar?” tanya Papa.
“Benar, Deon. Tunggulah sampai masalah tanah ini mendapat kesepakatan dari Investor, baru menghubungi Xavier Jadison,” tukas Kak Denis menimpali.
“Sekarang atau nanti juga sama saja, kan? Toh, kerja sama itu tetap dibatalkan. Aku ingin memberi peringatan kepada mereka bahwa perkataan yang aku ucapkan tidak pernah main-main.”
Papa menghela napas panjang. “Apakah kamu punya keyakinan berhasil mendapat persetujuan dari Frans Osborn? Kita masih harus memberinya ganti rugi sebanyak jumlah yang dia investasikan atas ketiga tanah itu.”
“Aku akan menebusnya dengan semua harta yang ku punya, Pa. Jika masih tidak cukup, aku pinjam uang Papa lalu potong gajiku setiap bulan.” Gue menatap mata Papa penuh tekad.
Papa terdiam sebentar, memikirkan matang-matang. Tidak berapa lama kemudian, Papa bersuara, “Denis, hubungi Xavier Jadison. Katakan kepada beliau, tiga hari lagi kita akan ke sana untuk mengurus pembatalan kerja sama.”
“Baiklah, Pa.”
“Dan kamu, Broto, tolong hubungi pak Prawobo dan pak Sugiono. Katakan kalau ada suatu hal penting yang ingin saya bahas dengan mereka,” perintah Papa kepada Pak Broto.
“Maafkan aku yang telah membuat perusahaan Papa rugi sebanyak ini,” ucap gue dengan perasaan menyesal.
“Kalau begitu kamu harus lebih giat lagi membantu Papa mengembangkan bisnis ini menjadi lebih besar.”
“Siap, Pak Bos!” gue menjawab sambil tangan memberi hormat, kemudian kami pun tertawa.
Gue bersyukur memiliki orang tua yang selalu mendukung anak-anaknya. Semoga nanti gue juga bisa menjadi Papa yang hebat untuk anak-anak gue. Astaga, gue terkejut mendapati diri gue memiliki pikiran seperti itu.
Saat gue masih menjadi Playboy, tidak pernah terlintas dalam pikiran gue tentang menikah dan memiliki anak, tetapi sekarang gue malah membayangkannya bersama Rayla. Ternyata gue benar-benar sudah menjadi budak cinta.
Sekali Playboy tetap Playboy, itulah kepercayaan sebagian besar orang. Nyatanya, Playboy bisa insaf dan setia pada satu orang ketika merasakan cinta, percaya, hormat, dan berkomitmen dari seorang wanita. Percayalah. Itulah yang gue rasakan saat ini.
Gue baru saja balik dari ruangan papa ketika gue melihat pemandangan yang sontak membuat gue tersulut api cemburu. Bagaimana tidak? Rayla sedang tertawa bersama makhluk planet yang tersasar ke bumi. Damn it! Inilah alasan gue ingin segera mengikat Rayla.
Daya tarik seorang wanita di mata pria tidak hanya tentang kecantikan wajah yang dimiliki. Inner beauty yang dimiliki oleh seorang wanita juga dapat menjadi daya tarik tersendiri dan Rayla memiliki inner beauty itu. Maka dari itu, tidak heran pria bajingan seperti Erik pun tidak rela melepaskan Rayla.
Nanti malam gue harus berhasil mendapat restu dari tante Restin, lalu segera mengadakan acara pertunangan. Tidak boleh ditunda berlama-lama. Lebih cepat lebih baik.
“Sayang, kenapa tidak bilang kalau ada tamu mencariku?” gue berjalan cepat menghampiri Rayla dan sebelum dia menjawab, gue langsung mendaratkan bibir gue ke bibirnya di depan makhluk planet luar itu.
Peduli amat dilihat makhluk alien itu! Memang gue sengaja mempertegas ke dia kalau Rayla milik gue. Siapa pun jangan berharap bisa mengambil wanita ini dari gue.
Jangan lupa tambahkan ke Favorite lalu tinggalkan Komentar, berikan Vote, Like dan Dukungannya ya guys. Terima kasih 🙏🤗 Loph you all 😘