Silence

Silence
Special Part



*Happy reading 📖📖 guys*


Pria itu sibuk memeriksa tumpukan berkas di mejanya. Banyak hal yang harus ia teliti, baca, tanda tangani, dan lain-lain.


Seandainya saja Asistennya masih bekerja, pria itu tidak perlu serepot ini. Ia dapat mengandalkan kemampuan Asistennya itu.


Sayangnya, ia harus memberi cuti melahirkan yang awalnya hanya setahun, tetapi sepertinya akan menjadi lebih panjang dari rencana semula.


Asisten sekaligus adalah istrinya tengah hamil untuk kedua kalinya. Bahkan, kemungkinan hamil kembar.


Suara intercom masuk berbunyi. “Ada Bapak Leonel di sini ingin bertemu dengan Bapak.”


“Suruh masuk saja.”


Tak lama kemudian, Leonel pun muncul. “Kenapa lo tidak cari Asisten baru saja?” Melihat banyaknya berkas yang berserakan di meja kerja sahabatnya, membuat dirinya tergelitik untuk menyuarakan pendapatnya.


“Posisi itu hanya diperuntukan Rayla.”


Pertanyaan sama juga pernah keluar dari bibir papa dan istrinya. Namun, ia menolak penawaran mencari Asisten baru.


“Dasar bucin!” Leonel mencebik. Pernikahan sahabatnya sudah berjalan satu setengah tahun lebih, tapi tingkahnya bagaikan pasangan suami istri yang baru saja menikah.


“Ini laporan produksi bulan kemarin. Omzet PT. Gemilang Group naik 15%.”


Deon mengambil dokumen yang diserahkan Leonel kepadanya. Kemudian ia mengamatinya dengan teliti. “Penyusup yang kita kirim ke perusahaan Xavier bagaimana perkembangannya?”


“Perusahaan mereka mengalami defisit yaitu dimana pengeluaran lebih besar daripada pemasukan. Sekarang mereka sedang kalang kabut mengatasi keadaan ini. Belum lagi persoalan penumpukan stok.”


“Mereka pantas mendapatkannya,” Deon mencebik. “Tapi mengapa tidak terdengar beritanya?”


“Xavier selalu menutup rapat-rapat semua berita yang dapat menurunkan pamornya.”


Deon mencebik sekali lagi. Mendengar nama Xavier saja membuatnya muak. “Suruh penyusup kita sekarang juga jalankan tugas utamanya. Lalu beberapa daftar tender yang menjadi target Xavier, juga masukkan ke dalam target kita. Semua tender harus dimenangkan oleh kita.”


Ia memang menyuruh Leonel mengirimkan penyusup ke salah satu kantor cabang Xavier untuk memata-matai semua hal yang bersangkutan dengan bisnis keturunan bangsawan itu.


Namun, mata-mata bukanlah tugas utama penyusup tersebut. Melainkan mengelola barang yang rusak secara diam-diam pada saat yang tepat. Dan sekaranglah waktunya.


“Tapi menerima penawaran produksi yang makin meningkat, sementara tenaga kerja dan mesin produksi tidak memenuhi-“


“Rekrut tenaga kerja lebih banyak lagi, tapi pastikan mereka sudah lolos pelatihan, lalu tambahkan mesin dan peralatan yang dibutuhkan untuk memenuhi pesanan produksi. Oh ya, gue akan menambahkan cadangan dana 10% ke PT. Gemilang Group.”


Leonel tertawa terkekeh-kekeh mendengar perintah dari sahabat sekaligus bosnya. “Sepertinya berita spektakuler tentang robohnya perusahaan Xavier Jadison tidak akan lama lagi.”


“Jangan lupa hubungi Ceta Group dan Wartawan yang dapat dipercaya. Xavier selalu menutupi kebusukannya. Kali ini kita gunakan kesempatan ini melalui Ceta Group.” Deon tersenyum penuh kemenangan.


Semua rencana berjalan sesuai keinginannya. Ceta Group akan meminta perusahaan Xavier menjadi vendor mereka, sementara penyusup yang Leonel kirim mulai menjalankan tugasnya.


Barang yang akan diterima oleh Ceta Group 50% adalah barang cacat. Lalu, mereka minta ganti rugi kepada perusahaan Xavier. Kemudian Ceta Group sendirilah yang akan menyebarkan kelalaian perusahaan Xavier itu kepada Wartawan.


Xavier tidak akan pernah tahu kalau Deon lah dalang dari kebangkrutan perusahaannya. Dan memang Deon tidak peduli soal itu. Tujuannya hanya satu. Memberikan pelajaran kepada keturunan bangsawan Belanda itu.


“Hai, manis!”


Suara Leonel membuat lamunan Deon pecah. Ia melihat sahabatnya sedang mengobrol dengan seseorang di telepon.


“Sekarang gue sedang di kantor kakak ipar lo. Sebentar lagi urusan gue selesai, lalu gue akan ke sana.”


Alis Deon terangkat ke atas. “Maylin?”


Leonel memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku celananya setelah sambungan telepon berakhir.


“Ada hubungan apa antara lo dan Maylin?” Deon memandang sahabatnya dengan wajah penuh tanda tanya.


“Berkat istri lo mengatur gue menjadi Groomsmen-nya Maylin, sekarang kami menjadi lebih dekat. Gue bakal jadi adik ipar lo.” Leonel memasang senyum lebar.


“Jangan bercanda, deh! Lo sudah punya tunangan!” Tatapan Deon seketika menghunus ke arah Leonel. “Lo boleh main-main dengan wanita manapun, tetapi tidak boleh dengan Maylin. Dia adik gue.”


“Tunangan masih bisa batal, Bro. Yang sudah menikah saja masih bisa bercerai.”


“Kampret! Pokoknya Maylin tidak boleh!”


Leonel merubah posisinya, ia mencondongkan tubuh ke depan dan melipat jari tangannya di atas meja. Wajahnya seketika berubah serius. “Lo sudah tahu kalau Maylin akan ke London? Menurut lo urusan seperti apa antara gue dan Maylin?”


Rayla memang sudah memberi tahu hal itu. Akan tetapi, Maylin berkata kepada Rayla kalau dia ke London karena perintah dari papanya Elian untuk mengurus kantor pusat di sana.


“Lo sudah memberikan semua info yang dia butuhkan?” tanya Deon.


“Kalau tidak mana mungkin dia inisiatif mengajukan diri ikut bosnya ke London?”


Deon memijat kening dan pelipisnya bergantian. Ia memejamkan kedua matanya. Menimbang-nimbang keputusan apa yang harus dia ambil?


“Gue pergi dulu.” Leonel berdiri dari tempatnya duduk.


“Apa saja yang lo tahu tentang rencana Maylin, rahasiakan dari Rayla. Stress tidak baik untuk ibu hamil.” Deon mengembuskan napas panjang.


“Rayla hamil lagi?” Leonel tidak percaya mendengar berita ini. Anak pertama sahabatnya itu baru saja berumur satu tahun.


Deon menganggukkan kepala disertai senyum bahagia. “Kembar.”


“Padahal, gue sempat ragu kualitas bibit lo karena pacaran dengan Rayla berbulan-bulan, tapi tidak hamil-hamil.” Leonel tergelak tawa.


“Sialan lo!”


“Secara dulu lo pernah menghambur-hamburkan bibit lo ke mana-mana. Siapa tahu kualitasnya jadi menurun.”


Gelak tawa keras dari Leonel yang menggema di ruangan Deon semakin membuat dirinya kesal dan jengkel bersamaan.


Leonel sudah akan melangkah pergi, tetapi Deon menahannya. “Tunggu dulu, Leo!”


“Ada apa lagi? Waktu gue mepet, nih!”


“Gue minta tolong lo hapus seluruh info yang bersangkutan dengan keluarga istri gue. Tak terkecuali Frans Pramanta maupun Fifi Banara.” Nada suara Deon terdengar penuh penekanan.


Leonel tak bergeming.


“Kalau ada seseorang yang mencari tahu tentang Pramanta, mereka tidak akan menemukan info apa pun. Setidaknya cara itu dapat melindungi istri gue dan Maylin.”


Leonel menganggukkan kepalanya. “Gue paham.”


“Nanti gue transfer biaya jasa lo.”


“Free. Untuk Maylin, gue tidak minta imbalan.”


Deon menggertakan giginya. Ia paham betul sahabatnya ini seperti apa. “Gue sudah bilang lo boleh cari wanita manapun, tapi-“


“Hati tidak bisa diatur sesuai keinginan kita, Deon.” Lalu Leonel melangkah keluar meninggalkan Deon.


“Kalau lo tetap terusin, lo masih harus menghadapi Elian Carter!” ucap Deon lebih lantang.


Tanpa menoleh ke belakang, Leonel melambaikan tangan dan menghilang dari hadapan Deon.


Deon menghela napas berat. Ia merasa bersalah karena harus menyimpan rahasia ini dari istrinya. Ia hanya tidak ingin sinar kebahagiaan pada wajah istrinya menjadi sirna.


*****


Leonel sedang duduk di kursi kosong sambil memikirkan kembali ucapan Deon tadi. Ia adalah seorang pemilik mafia data, yaitu menjual informasi. Semakin lengkap datanya, semakin mahal harga yang ia buka.


Belakangan ini ia mulai menambah bisnis rahasianya dengan membuka dark web yaitu memberikan pelayanan jasa menerobos sistem keamanan komputer untuk tujuan tertentu sesuai permintaan kliennya.


Hasil bisnisnya tersebut mendapatkan keuntungan yang cukup besar. Leonel mendirikan bisnis ini bukan semata-mata demi uang, melainkan mewujudkan cita-cita kakak sepupunya yang tewas akibat bom di Italia.


Ketika itu polisi memberi keterangan bom dipasang oleh te ror-is untuk mengancam warga negara tersebut. Akan tetapi, tangan kanan kepercayaan sepupunya itu memberi tahu bahwa rival sepupunya lah yang menaruh bom di dalam mobil.


Leonel sangat akrab dengan sepupunya yang lebih tua sepuluh tahun darinya itu sejak kecil. Bahkan, sepupunya mengajari segala praktik di dunia hitamnya.


Tanpa sepengetahuan siapapun, kecuali Deon, sahabatnya, Leonel meneruskan bisnis gelap sepupunya dan mencari tahu kebenaran atas tewasnya sepupunya itu.


Namun, ia tidak menemukan titik terang sedikit pun. Beberapa pengkhianat telah menghancurkan hampir seluruh bisnis yang dimiliki sang sepupu.


“Kak Leo sudah lama menunggu?”


Suara Maylin membuat Leonel tersadar dari pikiran-pikiran tadi. Ia menarik bibir, tersenyum lebar untuk Maylin sementara matanya mengamati intens wanita di hadapannya itu.


Cinta tak pernah bisa diprediksi kedatangannya. Setelah datang, cinta pun tak bisa dipastikan keberadaannya. Entah berada dalam satu hati saja atau hati yang lain juga. Sebab cinta penuh misteri dan rahasia.


Apakah kini saatnya sang mafia jatuh cinta kepada seorang wanita yang tujuan hidupnya hanya untuk balas dendam?


**** FIN ****


Hai Readers, akhir kata dari Deon & Rayla, terima kasih atas dukungan readers & authors semuanya. Tanpa dukungan dari kalian, perjuangan Deon mungkin akan putus ditengah jalan, sedangkan Rayla mungkin masih hidup bersama traumanya. Sayang sekali cerita pasangan ini cukup sampai disini, happy ending. Sekarang kita berlanjut ke ceritanya Maylin ya. Judulnya "CINTA DAN DENDAM". Jangan bosen-bosen dukung aku terus ya, guys 🤗 Jangan lupa tinggalkan Komentar, Vote, Like dan dukungannya ya 🥰 Terima kasih 🙏 Loph u all 😘