
*Happy reading 📖📖 guys*
“Data yang saya terima tidak sesuai dengan isi laporan kamu ini. Segera revisi laporannya. Saya tunggu sampai tiga hari,” ucap Ibu Rita sambil melempar laporan yang kuberikan kepadanya.
Mataku terbelalak mendengarnya. “Tiga hari?”
“Ya, tiga hari. Cukup, kan? Apa terlalu lama? Kalau begitu-”
“Saya masih harus cek ulang semua data yang saya terima bulan lalu, Bu. Tiga hari tidak cukup.” Aku segera memotong ucapannya.
“Kamu pernah direkomendasikan oleh pak Gunawan sebagai Kepala Divisi Akuntansi. Itu artinya kamu punya kemampuan. Atau … karena pak Gunawan tidak punya kandidat lain?” Ibu Rita menatapku dengan sinis. Sikapnya ini membuatku ingin sekali mencakar wajahnya.
“Tiga hari atau saya langsung berikan laporan mentah ini kepada pak Gunawan.” Matanya menatap tajam ke arahku.
Aku mengepalkan tangan di bawah meja. Kupejam kedua mataku, lalu menghela napas berat.
Dengan tegas aku menjawab, “Akan saya revisi dalam tiga hari, Ibu Rita yang terhormat.”
“Bagus! Jangan buang waktu yang tidak berguna! Cepat selesaikan!” Kemudian dengan jari telunjuknya, dia menunjuk ke arah pintu.
Tanpa menunggu lagi, aku melangkah keluar sambil membawa laporan yang ditolaknya.
Dasar nenek sihir! Sejak aku resmi menjadi kekasihnya Deon, dia semakin sinis kepadaku. Apa yang aku lakukan selalu salah dimatanya.
Seperti pada saat rapat beberapa hari yang lalu. Aku hanya mengemukakan pendapatku, lalu dibalas olehnya dengan ketus. “Apakah saya minta jawaban dari kamu, Rayla?”
Pekerjaan yang bukan pekerjaanku, seenaknya saja dia memberikan perintah mengerjakannya. Aku sempat menolaknya secara halus, tapi dengan santainya dia berkata, “Wawan sedang cuti karena istrinya melahirkan. Jadi, pekerjaan dia sementara kamu bantu urus. Sesama rekan kerja harus saling membantu, Rayla. Jangan terlalu perhitungan. Toh, kamu dulu juga sempat handle pengolahan data, kan?”
Ketika itu aku hanya bisa menahan diri untuk tidak menerjangnya.
“Kenapa, Sayang? Kok, habis keluar dari ruangan ibu Rita wajah kamu masam begitu?”
Aku menoleh. Tampak wajah Deon sedang menatapku dengan khawatir. Pria di hadapanku inilah sumber dari sikap ibu Rita kepadaku.
Aku melempar laporan yang ditolak ibu Rita tadi ke meja. “Sejak aku resmi menjadi kekasihmu, nenek sihir itu makin sengaja mencari masalah denganku. Laporanku ditolak. Katanya saldonya tidak sesuai dengan data yang diterimanya. Suruh aku revisi ulang dalam tiga hari harus selesai.”
Deon mengambil laporanku dan menelitinya. “Sepertinya apa yang dikatakannya benar. Bagian hubungan kerja sama dengan beberapa perusahaan lain, totalnya tidak sesuai dengan data bulan lalu. Nanti kamu coba cek lagi.”
Aku menatap heran kepadanya. “Dari mana kamu tahu? Bukannya sekarang kamu handle bagian pajak?”
Deon menarik bibirnya tersenyum. “Kebetulan aku membantu back up data bulan lalu.”
“Wow! Daya ingat kamu hebat banget! Kenapa bukan kamu yang direkomendasikan menjadi Kepala Divisi, sih? Sayang banget!” Aku menatap takjum padanya.
Tidak semua orang memiliki daya ingat yang bagus. Bahkan, aku sekali pun. Angka yang tercantum pada laporan yang kubuat setiap bulan, pasti lupa dibulan berikutnya. Oleh karena itu, aku selalu merekap hasil laporan untuk menjadikan perbandingan.
Deon melangkah ke meja kerjaku dan mengutak atik komputerku. Tidak berapa lama, wajahnya terlihat keheranan.
“Kenapa? Ada apa?” Mataku melihat layar komputer dan wajah Deon bergantian.
“Aneh! Kenapa data yang kamu miliki berbeda dengan yang kuterima?” gumam Deon.
“Beda apanya? Sistemnya, kan online. Seluruh data yang sudah dimasukkan bagian pengolahan data, kita semua tinggal pindahkan saja.”
Deon mengabaikan ucapanku. Dia mengambil secarik kertas, lalu mencatat angka yang muncul pada layar komputerku, kemudian berjalan balik ke tempat meja kerjanya dan mengutak atik komputernya. “Sayang, coba kamu lihat ini!”
Aku berjalan mendekati mejanya. Dia memberiku kertas yang tadi ditulisnya. “Lihat! Postingan saldo yang muncul di sistem kamu dengan sistem punyaku berbeda.”
Aku mengecek angka yang ditulis Deon dikertas dengan komputernya. Mataku membulat lebar. “Kok, bisa beda begini? Pantas saja tadi ibu Rita bilang laporanku tidak akurat.”
Deon menyandarkan punggungnya pada kursi. Satu tangannya mengelus dagunya. “Apa komputer kamu ada masalah, ya? Aku akan hubungi bagian IT untuk memeriksanya. Sementara kamu pakai komputerku saja dulu. Aku sedang tidak sibuk.”
Aku mengangguk kepala. Aku kembali ke meja bermaksud mengambil laporan tadi.
Mataku tidak sengaja melihat ibu Rita berdiri di depan pintu ruangannya dengan sorot mata tajam ke arahku, lalu dia masuk ke dalam ruangannya. Perasaanku tiba-tiba menjadi tidak enak.
Telepon di meja kerjaku tiba-tiba berdering. Aku segera mengangkatnya.
Tidak seharusnya dia mencampur aduk masalah pekerjaan dengan pribadi. Sikapnya ini sungguh tidak profesional.
Deon mengernyitkan alis ketika melihat bibirku cemberut.
“Kenapa kamu tidak pernah menjadikan Rita sebagai kekasihmu? Lihat sekarang! Dia sangat membenciku! Barusan dia melihat interaksi kita berdua. Karena cemburu, dia lewat telepon bilang kalau besok sore sebelum jam pulang kerja laporannya sudah harus ada di mejanya,” ucapku dengan penuh emosi.
Deon berdiri, lalu membelai kepalaku dengan lembut. “Tidak usah pedulikan dia. Aku bisa membantumu.”
Aku menggeleng dengan cepat. “Aku bisa mengerjakannya sendiri! Jangan membuatnya semakin menyusahkanku!”
Deon memelukku dengan erat. “Jangan dipikirkan, Sayang. Abaikan saja sikapnya itu. Lama-kelamaan juga dia capek sendiri.”
Aku hanya bisa menghela napas pasrah. Mau bagaimana lagi? Inilah resiko menjadi kekasih yang memiliki ketampanan di atas rata-rata juga sekaligus mantan Playboy.
“Ehem!” Tiba-tiba terdengar suara batuk dengan keras.
Aku dan Deon menoleh ke sumber suara. Wajahku memerah dan langsung panik. “P- Pak Gunawan, Ma- maaf ….” Aku tidak dapat menyelesaikan kalimatku karena terlalu gugup.
Sambil tersenyum, Pak Gunawan menjawab, “Tidak apa-apa. Saya pernah menjadi anak muda. Jadi, saya bisa mengerti. Hanya saja bermesraan di tempat privasi, itu pilihan yang lebih baik.”
Aku ingin sekali langsung menghilang ke Planet manapun. Ada hal yang lebih memalukan dibanding tertangkap basah bermesraan dengan kekasihmu di depan atasanmu sendiri?
“Kan, Bapak bisa berpura-pura tidak melihat,” ucap Deon dengan cuek. Aku mencubit pinggangnya dengan sekuat tenaga. “Awh! Sakit, Sayang.”
Aku memberi kode melalui tatapan tajam, memperingatinya untuk tidak mengatakan hal-hal yang bisa membuatku semakin merasa malu.
“Deon lagi bisa nahan, Pak! Sepak terjangnya sudah kemana-mana. Urat malunya Deon sudah tidak berfungsi.” Bagas tiba-tiba muncul dari belakang. Kemudian dia tertawa terbahak-bahak sambil berjalan ke tempat meja kerjanya.
Pak Gunawan tersenyum ke arah Deon, lalu menepuk pundak Deon beberapa kali. Tanpa mengatakan apa-apa lagi, Pak Gunawan berjalan meninggalkan kami.
Aku memasang muka cemberut kepada Deon.
“Tidak ada salahnya sepasang kekasih mengumbar kemesraannya, kan?” tanyanya tanpa merasa bersalah.
Aku memutar kedua bola mataku dengan malas. Daripada menghabiskan waktu meladeni sikapnya yang tidak tahu malu itu, lebih baik aku kembali fokus mengerjakan laporan ini.
Tiba-tiba Deon berbisik di telingaku dengan suara dibuat serak. “Nanti malam kita bisa lanjutkan kemesraan kita di atas ranjang, Sayang. Aku pastikan kamu tidak akan menyesal memiliki kekasih yang tidak tahu malu ini.” Bibirnya kemudian mengecup pelan daun telingaku.
Tubuhku bergetar. Tiba-tiba gairah datang meluap begitu saja. Sial! Mantan Playboy memang pintar sekali merayu.
Padahal, hanya berupa kalimat saja mampu membuat tubuhku bereaksi seperti ini. Tubuhku tidak pernah bisa berkompromi jika sudah menyangkut sentuhan pria ini.
Dengan sisa-sisa kesadaran yang kumiliki, aku segera mendorong tubuh Deon sedikit menjauh dariku. “Jangan menggangguku! Aku harus cepat-cepat mengerjakan laporan ini.”
Deon terkekeh geli melihat reaksiku. Kemudian dia mengerlingkan matanya dan berkata, “Ok, Kamu fokus dulu sama kerjaanmu. Nanti malam fokus sama kegiatan olahraga kita ya, Sayang.”
Sebuah ide muncul dalam otakku. Aku menoleh ke arah Deon. Sambil memasang senyum, aku berkata dengan pelan, “Sayang sekali kamu mesti puasa dulu tujuh hari kedepan. Hari ini aku datang haid.”
Deon melongo mendengar ucapanku. Wajahnya terlihat sekali kalau dia kecewa. Aku tertawa di dalam hati. Sesekali giliran aku yang mengerjainya.
Kulihat dia berjalan dengan gontai ke arah meja kerjaku. Masih tidak puas, aku mengambil ponselku, lalu mengetik sesuatu, kemudian mengirimnya.
Me: Sayang sekali, ya. Padahal, aku sudah membeli lingerie sexy berwarna merah maroon khusus untukmu.
Aku berusaha menahan tawa. Tidak lama Deon pun membalas inbox.
Deon: Shiitt! Membayangkan kamu memakai lingerie itu saja membuat adikku bangun, Sayang.
Deon: Setelah 7 hari selesai, aku akan mengurungmu di dalam kamar selama 7 hari 7 malam.
Tawaku pun meledak. Aku tidak bisa menahannya lagi. He always knew how to make me laugh.
You can never fall in love with someone whom you never laugh with.
Jangan lupa tambahkan ke Favorite lalu tinggalkan Komentar, berikan Vote, Like dan Dukungannya ya guys. Terima kasih 🙏🤗 Loph you all 😘