Silence

Silence
Bab 35



Happy reading 📖📖 guys


Aku memarkir mobil Deon di tempat parkiran yang masih kosong. Untung saja masih tersisa.


Restoran mama menyediakan tempat parkiran untuk pelanggannya yang datang dengan mengendarai mobil agar tidak pusing parkir di mana.


Walaupun begitu, kalau sudah hari Sabtu dan Minggu pengunjungnya sangat banyak sehingga hampir sulit menemukan tempat parkiran yang kosong.


Aku memutuskan menyusul ke sini karena khawatir juga sekaligus untuk menjemput Deon.


Darwan dan Maylin pulang lebih dulu kerumah saat siang tadi sekitar jam dua siang. Maylin mengeluh tidak enak badan karena pengaruh efek kehamilannya. Untung saja mereka berangkat menggunakan mobil Darwan. Jadi, aku bisa menggunakan mobil Deon kesini.


Aku mendorong pintu masuk, lalu pandangan kami pun bertemu. Wajah Deon terlihat lelah, tapi dia tetap mengulas senyum ramahnya.


“Sudah makan?” tanyaku dengan nada khawatir.


Deon menggelengkan kepalanya. “Nanti saja setelah selesai jam kerja. Kamu sendiri sudah makan?”


“Bagaimana mungkin aku bisa makan sedangkan kamu di sini disiksa mama menjadi Waiter?” jawabku sambil memasang wajah tidak suka.


“Aku suka rela melakukannya, Sayang. Bekerja sebagai Waiter tidak buruk juga, kok! Bisa bantu meramaikan pelanggan tante,” jawab Deon sambil terkekeh.


Aku memicingkan mata, menatap penuh curiga padanya. “Hitung-hitung kamu juga bisa cuci mata, begitu maksudmu?”


Deon tertawa terbahak-bahak., lalu merangkul pinggangku dengan lembut. “Aku senang melihatmu cemburu, Sayang.”


“Ehem!” Tiba-tiba terdengar suara dehaman keras dari belakang.


Spontan kami menoleh dan menemukan Mama berdiri di belakang kami dengan raut wajah kesal. “Kalau mau bermesraan, cari tempat yang tepat. Di sini tempat untuk makan.”


Dengan kikuk Deon senyam senyum sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


Mama melirik jam tangannya, lalu berkata dengan ketus, “Masih ada dua puluh menit lagi sampai jam delapan. Berarti masih dalam jam kerja. Kalau masih ingin melanjutkan kerja di sini, ikuti aturan yang telah ditetapkan. Kalau tidak bisa, silahkan berhenti sekarang juga.”


“Saya mengerti, Tante. Maaf, saya tidak akan melakukannya lagi,” jawab Deon panik.


Kemudian Deon berbalik menghadapku sambil merentangkan tangannya mempersilahkanku untuk masuk. “Mari silahkan, Nona!”


Aku melotot padanya setelah mendengar kalimatnya barusan. Deon memberi gerakan pada mulutnya tanpa suara. “Tolong kerja samanya, please!”


Disertai perasaan jengkel, aku pun mengikuti langkah Deon yang membawaku ke meja kosong. Kemudian dengan sikap profesionalnya, Deon mengeluarkan sebuah notes dan pulpen, bersiap mencatat pesananku.


“Panggil Alice saja. Biar dia yang melayaniku,” ucapku.


“Alice dipindahkan ke bagian kasir. Siapa yang melayani itu tidak penting. Sekarang yang penting bersikaplah profesional. Tante Restin sedang mengawasi kita. Aku tidak ingin dia makin tidak suka atas kehadiranku di sini.”


Aku menatap ke belakang punggung Deon. Mama masih berdiri di sana sambil melipat kedua tangannya di dada dan matanya menatap tajam ke arah kami.


Kuarahkan kedua mataku kembali menghadap Deon. Dengan tegas aku berkata, “Aku anak dari pemilik Restoran ini. Aku boleh seenaknya memutuskan hal apa pun. Cepat panggilkan Alice! Kalau tidak, biar aku sendiri yang panggil!”


Aku hendak bangun dari tempat dudukku, tetapi ditahan Deon dengan cepat. “Sayang, untuk saat ini saja, please! Bantu aku!” rajuknya.


“Aku tidak mau kamu capek bekerja di sini tanpa digaji, Deon. Kalau mama akhirnya bisa luluh sih, tidak masalah. Tapi kalau tidak, bagaimana?” ucapku.


“Tidak ada salahnya mencoba, Sayang. Siapa tahu lama-lama tante Restin akhirnya luluh juga. Setiap perjuangan pasti membuahkan hasil,” jawab Deon dengan nada optimis.


Kulirik belakang punggung Deon, tampak Mama sedang melangkah mendekati kami.


“Masih mau ngobrol sampai kapan, Deon? Tugas kamu di sini sebagai Waiter. Layani pelanggan dengan baik dan segera catat apa yang mereka butuhkan. Gampang, bukan? Kalau menurut kekasihmu ini pekerjaan ini sulit, bisa berhenti sekarang juga. Saya tidak masalah karena saya memang sedang tidak butuh tambahan karyawan.”


Deon membungkukkan tubuhnya ke arah Mama sambil berkata, “Maaf, Tante! Saya bisa melakukan tugas ini, kok! Melayani tamu, saya ahlinya, loh, Tante.”


“Jangan samakan melayani pelanggan saya seperti kamu melayani kekasihmu! Saya tidak mau Restoran saya ini sebagai ajang tempat kamu mencari buronan wanita. Kalau saya sampai melihat hal itu terjadi, saya tidak akan berpikir ulang. Saya akan langsung mengusir kamu dari sini. Paham?” ucap mama dengan ketus dan memberikan pelototan tajam kepada Deon.


Deon memposisikan lengan kanannya ke atas dan mengangkat tangan sampai ke alis, memberikan gerakan hormat, lalu berkata, “Siap, Tante! Saya akan menjalankan tugas yang Tante berikan dengan sebaik-baiknya!”


Tanpa mengatakan apa-apa lagi, Mama melangkah pergi meninggalkan kami berdua dan masuk ke dalam ruangannya.


Aku menatap Deon yang juga sedang menatapku. Aku menemukan ketegasan dalam manik matanya. Sepertinya Deon benar-benar bersikeras melakukan apa saja yang akan diperintahkan mama.


“Main coursenya 1 ayam penyet, 1 nasi bakar ayam asap, dan 1 kangkung bumbu terasi, Appetizernya 1 porsi sate sapi unggaran. Dessertnya 1 es leci tea dan 1 es teh buah toppes. Dessertnya dihidangkan dulu. Sisanya tunggu kamu sudah selesai kerja, kita makan bersama,” ucapku tanpa melihat isi menu yang disediakan di meja.


“Baik, pesanan Anda akan segera kami siapkan.” Kemudian Deon mengambil buku menu di meja dan berjalan melangkah pergi ke arah kasir.


Alice ternyata sedang menatapku. Dia menganggukan kepala dan tersenyum ke arahku. Aku membalas senyumannya.


Alice adalah salah satu karyawan mama yang paling telaten. Dia seumuran Maylin.


Karena keadaan ekonomi keluarganya yang cukup memprihatinkan, begitu SMP tamat dia mulai bekerja serabutan. Hingga akhirnya melamar di tempat mama.Cerita ini aku tahu dari Maylin.


Aku dan Alice hampir tidak pernah mengobrol. Aku paling tidak bisa tentang berbasa basi dengan orang asing juga tidak pandai menjadikan orang asing dalam sekejap menjadi teman ngobrol.


Itulah perbedaan antara aku dan Deon. Namun, anehnya kami bisa menjadi sepasang kekasih.


Kulirik jam di dinding. Lime belas menit lagi jam delapan. Berarti sebentar lagi jam kerja Deon selesai.


Aku mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan. Aku jarang sekali menginjakkan kaki di tempat ini.


Hanya pada saat Agatha dan Bella jika sedang ingin makan masakan buatan mama, baru aku datang ke sini bersama mereka. Diluar itu, aku tidak pernah berinisiatif datang ke sini sendirian.


Aku berusaha menghindari kontak dengan mama karena setiap kali kami bicara, pasti berujung dengan pertengkaran. Aku tidak mau bertengkar di tempat usaha mama. Bisa berpengaruh pada pelanggan mama. Bagaimanapun juga masalah pribadi kami tidak pantas dibawa sampai ketempat umum.


Sambil menunggu jam kerja Deon selesai, aku memutuskan untuk menelepon Agatha dan Bella melalui group. Lama suara deringan tersambung, tapi tidak ada satu pun di antara mereka yang mengangkat telepon.


Yah, mungkin mereka sedang menghabiskan malam Minggu mereka dengan pasangan masing-masing. Sedangkan aku di sini datang menjemput sang kekasih yang sedang menyumbangkan tenaganya secara cuma-cuma sebagai Waiter.


Aku menghela napas kencang. Sesulit inikah meminta mama untuk menyerah? Mempercayakan sepenuhnya pada pilihanku sendiri?


“Ini es leci tea dan es teh buah toppes nya. Silahkan dinikmati!” Alice memindahkan kedua minuman itu dari nampan di tangannya ke mejaku.


“Thank’s Alice!” Aku memberikan senyum padanya.


“Sama-sama, Rayla. Sudah lama sekali tidak melihat kamu datang,” ucap Alice memulai percakapan.


Aku mengangguk kepala. “Sibuk dengan pekerjaan, Alice. Lagi pula aku bisa makan masakan di sini kapan pun aku mau saat di rumah,” jawabku.


Tentu saja tante Fifi yang membantuku membungkus beberapa porsi makanan yang ada dimenu Restoran ini, lalu dibawa pulang untuk kami makan.


“Deon pria yang tampan juga memiliki daya tarik yang istimewa,” ucap Alice tiba-tiba membahas Deon.


Ucapannya ini membuat alisku terangkat. Alice buru-buru menjelaskan maksud perkataannya itu. “Jangan salah paham! Aku mengatakan itu bukan berarti aku jatuh cinta kepadanya. Aku sudah memiliki kekasih. Jadi, kamu tenang saja!”


Sepasang suami istri saja bisa bercerai, apalagi status kekasih? Setiap hubungan sangat sulit untuk diprediksi apakah hubungan itu dapat berjalan lama atau tidak?


Bahkan, ada yang karena kehadiran pihak ketiga, membuat hubungan yang tadinya berjalan harmonis tiba-tiba retak begitu saja. Hati dan perasaan sesuatu yang hanya kasatmata.


“Aku bisa melihat Deon sedang gigih mengambil hati ibu Restin. Selama ini belum pernah ada pria yang melakukan hal ini untukmu, bukan?”


Pertanyaan Alice barusan membuatku tertegun. Seingatku tidak pernah menceritakan kisah asmaraku kepadanya. Dari mana dia tahu?


“Maylin yang mengatakannya padaku tadi pagi. Dan memang selama aku bekerja di sini, belum pernah aku melihat ada pria yang nekat melakukan hal seperti ini agar bisa mendapatkan restu dari ibu Restin. Tidak perlu aku jelaskan, kamu tahu sendiri seberapa otoriternya ibu Restin, bukan? Bahkan, kekasih kamu yang sebelumnya, dia hanya berkunjung sebentar. Itu pun tidak sampai sepuluh menit,” ucap Alice lagi.


Sambil menyeruput minuman pesananku, aku hanya memandangnya dalam diam. Aku tidak berniat untuk membalas ucapannya karena aku tidak tahu apa yang harus aku katakan. Sudah kubilang kalau aku tidak pandai bersosialisasi.


Alice sepertinya mengerti keenggananku untuk melanjutkan percakapan ini. Oleh karena itu, dia pun pamit meninggalkanku dan kembali sibuk dengan pekerjaannya.


Tepat saat itu, Deon keluar dari belakang tanpa celemeknya dan berjalan ke arahku. Tangannya memegang nampan yang sudah berisi makanan yang kupesan.


“Yuk, Kita makan! Aku sudah laper banget!” Deon mengambil nasi ayam bakar asap, lalu dengan lahapnya menyantap makanan itu.


“Thank’s, Deon!” ucapku dengan lembut.


“Tidak perlu berterima kasih, Sayang. Memang seharusnya aku lakukan untukmu. Untuk kita berdua. Jadi, jangan ucapkan kata itu lagi. Ok?”


Aku mengangguk kepala dengan cepat. Tanpa sadar bibirku tersungging membentuk sebuah senyuman lebar sambil mulai memasukkan potongan daging ayam kedalam mulutku.


Jangan lupa tambahkan ke Favorite lalu tinggalkan Komentar, berikan Vote, Like dan Dukungannya ya guys. Terima kasih 🙏🤗 Loph you all 😘