Silence

Silence
Bab 96



*Happy reading 📖📖 guys*


“Papa saya memang sudah tiada setelah dia memutuskan pergi meninggalkan kami.” Aku menatap wanita itu dengan dingin.


Wanita itu berdecih dengan tampang mengejek. “Kalau begitu, mengapa Frans mengeluarkan uang sebesar 1,5 triliun? Setelah tahu suami saya adalah seorang pengusaha sukses, lantas kamu memanfaatkan darah yang mengalir di tubuhmu itu sebagai alat agar Frans mau ikut bertanggung jawab, begitu?”


“Apa maksud Anda? Saya tidak pernah meminta uang kepada suami Anda. Saya harap Anda jangan sembarangan bicara, Nyonya Osborn.” tanyaku yang terdengar bingung. Jantungku berdetak kencang. Uang apakah yang dimaksud wanita ini? 1,5 triliun?


“Jangan berpura-pura tidak tahu! Seharusnya calon suami kamu yang mempertanggungkan sendiri atas keputusannya! Tidak ibunya, tidak anaknya, sama-sama tidak tahu malu!” ucap wanita itu mencemooh.


Calon suami? Apakah maksud wanita itu adalah Deon? Apakah uang itu adalah penalti yang harus dikeluarkan Deon sebagai ganti rugi pemutusan kerja sama dengan Xavier Jadison?


Tetapi semua hal itu sekarang tidak penting. Orang lain boleh merendahkan dan bahkan menghina diriku, tapi aku tidak akan pernah terima jika ada seseorang yang berani menghina mamaku.


“Rumah tangga Anda berantakan bukan karena mama saya, melainkan karena kelalaian Anda sendiri yang tidak bisa mempertahankan dan memberi kenyamanan untuk suami Anda. Sehingga suami Anda mencari tempat pelarian dan mama sayalah yang menjadi korbannya.” Aku menatap wanita itu dengan sorot mata tajam.


“Kenapa hanya mama saya saja yang dihujat sebagai perusak rumah tangga kalian? Kenapa Anda tidak menyalahkan suami Anda yang dengan mudahnya mencari pelampiasan dan terjerat naf su ketika Anda tidak bisa memberinya?” tanyaku dengan sinis.


“Ka- kamu ….” Wanita itu kehilangan kata-katanya. Matanya membulat lebar. Wajahnya terlihat memerah penuh amarah.


“Kami pernah mencecap kebahagiaan sampai ketika papa saya yang semakin sulit mencari uang, menjadi sumber hancurnya hubungan kedua orang tua saya. Karena ultimatum dari papa Andalah, papa saya kesulitan mencari pekerjaan dengan penghasilan yang cukup. Sehingga membuat dirinya merasa tidak berguna untuk membiayai hidup kami. Lalu demi kepentingan diri sendiri, papa Anda mencari papa saya dan memintanya untuk meninggalkan kami. Keluarga Andalah yang merenggut kebahagiaan keluarga saya, Nyonya Osborn!” ucapku dengan nada tinggi.


Dadaku bergemuruh kuat menahan tangis karena kenangan menyakitkan itu kembali terlintas. “Yang tidak tahu malu itu kalian! Mengambil kembali sampah yang telah dibuang hanya untuk didaur ulang lalu dipergunakan kembali!” ucapku yang kemudian berhasil membuat wanita itu tersulut emosi.


Dia bersiap melayangkan tamparan sekali lagi ke wajahku. Namun, sebuah tangan lain mencengkeram tangan wanita itu. Aku terkejut saat melihat Maylin mengunci kedua tangan wanita itu kemudian memutarnya hingga membuat wanita itu meringis.


“Get off her, Maylin!” perintah Elian.


Maylin mendorong wanita itu hingga hampir saja jatuh terjungkal kalau Elian tidak dengan sigap menahan tubuh wanita itu. “Tante tidak apa-apa?” tanya Elian dengan nada khawatir.


Aku tidak terkejut melihat kepedulian yang ditunjukkan Elian kepada wanita itu karena hubungan Elian dan Vlora, putri dari wanita itu, sepertinya bukan hanya sekadar teman studynya saat di London.


“Sekali lagi gue lihat lo melakukan kekerasan kepada kakak gue, Rayla, gue tidak segan-segan mematahkan tangan lo!” ancam Maylin dengan mata yang menyalang tajam.


“Saya bukan tipe orang yang ringan tangan kalau bukan karena dia menghina keluarga saya setelah dia menggunakan uang keluarga saya!” tukas wanita itu dengan intonasi yang keras.


“Mengapa Anda tidak langsung mencari calon suami saya untuk minta penjelasannya? Urusan perusahaan tidak ada sangkut pautnya dengan saya!” balasku. Nyeri di kepalaku semakin terasa. Aku berusaha mengabaikannya. Aku tidak mau sampai terlihat lemah di hadapan wanita ini.


“Sepertinya di sini terjadi kesalahpahaman. Bagaimana kalau kita menunggu Pak Deonartus kembali, baru dibicarakan kembali, Tante,” ucap Elian menengahi. Namun, wanita itu tidak menggubrisnya.


“Tidak perlu!” Wanita itu menyentak kasar sehingga pegangan tangan Elian pun terlepas.


“Saya yakin, kamulah yang memberi ide itu kepada calon suami kamu. Dasar anak haram! Jika kalian tidak mau mengembalikan uang perusahaan saya, maka jangan salahkan saya menghancurkan Restoran mama kamu itu! Kalian tahu kekuasaan yang dimiliki Osborn, bukan?” ancam wanita itu sambil tersenyum remeh.


Plak! Suara tamparan menggema di penjuru ruang meeting yang berasal dari Maylin, yang melayangkan tamparan kerasnya pada wajah wanita tersebut.


“Berani banget lo mengancam kami, hah? Jangan kira kalian adalah keluarga yang memiliki kekuasaan hebat, lantas kami takut! Asal lo tahu, usaha mama gue itu modalnya juga dari suami tercinta lo itu.” Maylin menatap wanita itu dengan napas memburu karena emosi yang meluap.


“A- apa?” pekik wanita itu terkejut. Kedua pupil matanya melebar seketika.


Maylin tertawa terbahak-bahak. “Setahun setelah dia kembali menjadi suami lo, dia datang menemui mama kami, lalu memberi kami uang yang banyak. Katanya untuk biaya hidup dan pendidikan kami. Kemudian mama gue menggunakan uang itu untuk mendirikan Restorannya. Suami lo benar-benar sosok pahlawan.” Maylin tersenyum menyeringai.


Sejurus kemudian, wanita itu menarik kuat rambut Maylin hingga Maylin merintih kesakitan. Aku pun tidak membiarkan wanita itu memperlakukan Maylin seenaknya. Dengan kuat, aku membalas menarik rambutnya.


“Lepasin tangan kotor Anda dari adik saya!” teriakku.


“Berhenti kalian!” Elian terkejut melihat aksi kami bertiga yang saling menjambak rambut.


“Aw!” rintih wanita itu kesakitan. Tangannya pun terlepas dari rambut Maylin. “Kurang ajar! Apakah mama kalian tidak mendidik kalian sopan santun, hah? Begini sikap kalian terhadap orang yang lebih tua?”


“Anak sialan!” maki wanita itu keras dan dia mendorong tubuhku hingga terhempas ke lantai.


Tiba-tiba perutku terasa kram dan nyeri. Rasa sakit di kepalaku semakin menjadi-jadi. Aku meringis menahan sakit dengan tangan mencengkeram perut.


"Rayla!” teriak Maylin dan Elian bersamaan.


Aku terkejut melihat darah mengalir dari bagian dalam kedua kakiku.


“Da- darah?” suara Maylin terdengar bergetar.


Pandanganku berubah menjadi gelap dan aku tidak tahu lagi apa yang terjadi sesudahnya.


*****


MAYLIN


“Da- darah?” Gue terkesiap melihat darah yang mengalir dari bagian dalam kedua kaki Rayla. Seketika jantung gue berdetak kencang. Gue pernah mencari info tentang hamil. Jadi, gue tahu darah apakah itu.


“El, cepat panggil ambulans!” gue berteriak kencang karena dilanda panik.


“Langsung bawa ke Rumah Sakit! Lebih cepat daripada menunggu ambulans datang!” tukas Auristela cepat. Suaranya terdengar bergetar. Mungkin dia juga menyadari kondisi Rayla.


Elian segera membopong tubuh Rayla yang sudah tidak sadarkan diri, lalu bergegas berjalan keluar. Gue melayangkan tatapan tajam kepada Auristela.


“Nikmatilah kebahagiaan yang sedang kalian rasakan saat ini, sebelum pada akhirnya kebahagiaan itu akan berakhir dengan kehidupan yang jauh lebih menderita dari sebelumnya.” Kemudian gue cepat-cepat melangkah menyusul Elian, meninggalkan Auristela dengan wajah penuh ketakutan.


Kalian telah salah memilih muncul kembali dalam kehidupan kami. Gue akan renggut satu persatu kebahagiaan kalian. Gue tidak akan berdiam diri, membiarkan kalian terus mencecap kebahagiaan itu, sedangkan kami membutuhkan perjuangan keras untuk bangkit dari kesedihan yang telah kalian ciptakan pada kami.


Ya, tunggulah pembalasan dari gue. Mari kita lihat, sampai di mana kesombongan kalian itu.


“Lin, lo sudah hubungi Deonartus?”


Pertanyaan Elian membuat gue kembali sadar dari pikiran tadi. “Ah, gue lupa.”


Cepat-cepat gue mencari ponsel lalu menghubungi kak Deon. Pada dering pertama telepon tidak di angkat. Gue coba sekali lagi menghubunginya. Akhirnya Kak Deon mengangkat telepon. “Kak Deon di mana?”


“Baru masuk mobil. Tadi habis rapat. Kalian sudah sampai di kantorku?”


Gue tadi menghubungi kak Deon. Mengatakan kepadanya kalau gue dan Elian mau mampir ke kantornya sebentar. Kebetulan pertemuan janji bersama kolega bisnis dekat daerah kantor kak Deon.


“Langsung ke Rumah Sakit DN, Kak. Rayla pingsan,” tuturku memberi tahu.


“Apa? Bagaimana bisa? Sebelum aku meninggalkannya, dia sedang tidur. Memang, sih, dia bilang kepalanya sakit. Oleh karena itu, aku tidak membangunkannya pada saat mau pergi rapat.”


“Sekretaris kakak bilang kalau Rayla sedang menemui tamunya di ruang rapat. Aku dan Elian menyusul ke ruangan itu. Ternyata istrinya Osborn yang datang. Kami bertiga bertengkar, lalu wanita itu mendorong Rayla hingga terjatuh,” gue menjelaskan sekilas tentang kejadian tadi.


“Istrinya Osborn?”


“Ya, wanita itu bilang kalau Rayla menyuruh kak Deon minta bantuan Frans Osborn mengeluarkan uang sebesar 1,5 triliun.”


“Shittt! Aku segera ke sana. Kalau Rayla sudah sadar sebelum aku sampai, katakan kepadanya kalau aku akan menjelaskan semua,” Suara kak Deon terdengar panik.


Gue kembali memandang wajah Rayla yang terlihat pucat setelah sambungan telepon dimatikan. Kilasan peristiwa pada malam saat itu kembali berkelebat. Jantung gue berdebar sangat cepat. Ya, Tuhan. Lindungilah Rayla dari segala musibah.


Gue meraih tangan Rayla, lalu menggenggamnya. “Lo harus kuat, La. Sebentar lagi kita sampai di Rumah Sakit.”


*Kisah antara Rayla dan mantan Playboy, tinggal beberapa episode, nih **😊 Kira-kira happy end atau sad end ya? 🤔 Yuk, tinggalin Komentar, berikan Vote, like dan Dukungannya ya guys 🤗 Terima kasih banyak 🙏 Loph you all😘*