Silence

Silence
Bab 87



*Happy reading 📖📖 guys*


Deon menginjak pedal rem, memarkir mobilnya di depan gerbang rumahku. “Penampilanku masih ok, kan, Sayang?” tanya Deon setelah melepaskan seatbelt-nya.


Aku mengulas senyum dengan lebar. “Kamu tetap terlihat tampan walau sibuk seharian dengan pekerjaan kantor, Yang.”


“Berarti aku jauh lebih tampan daripada alien,” gumam Deon sambil tersenyum puas.


“Astaga, kamu masih membandingkan dirimu dengan Elian setelah tadi kalian ribut berjam-jam tidak jelas?” tanyaku, menyindir. Aku memutar mata malas melihat Deon menyengir lebar di wajahnya. “Ayo, turun!”


Deon tiba-tiba menarik lenganku sehingga tubuhku condong ke arahnya. Aku bisa merasakan jempolnya mengusap lembut bibirku. Perlahan wajahnya mendekat pada wajahku. “Beri aku ciuman. Aku mau mengisi baterai sebelum masuk ke dalam menghadapi mamamu.”


Kemudian bibirnya mel umat bibirku, sementara lidahnya liar menjelajah setiap sudut mulutku. Ciuman yang selalu mampu membuat hatiku bergetar. Napas kami tersengal-sengal saat akhirnya dia melepaskan pagutannya.


“Kalau bukan karena aku masih harus menemui mamamu, aku langsung terkam kamu sekarang juga, Sayang. Sudah lama kita tidak melakukannya di dalam mobil, bukan?” Sudut bibirnya tertarik membentuk seringai nakal.


“Dasar mesum! Ayo, turun! Mereka pasti sudah menunggu kita makan malam bersama,” ucapku dengan wajah bersemu merah ketika bayangan adegan panas itu berkelebatan dalam kepalaku.


Kami berdua pun turun dari mobil. Sambil bergandengan tangan, kami berjalan masuk ke dalam rumah.


“Selamat sore menjelang malam, semuanya!” Seperti biasa, Deon selalu menyapa mama dan tante Fifi dengan penuh semangat.


“Kamu ini sepertinya tidak pernah kehabisan stok energi, ya, Deon?” Tante Fifi menggeleng-gelengkan kepalanya karena sempat di buat kaget oleh suara Deon yang sedikit kencang.


“Pembangkit listrikku ada pada Rayla, Tan. Selama Rayla tidak berjauhan denganku, aku tidak pernah kehabisan energi,” jawab Deon, santai.


Tante Fifi tersenyum, sedangkan Deon langsung mengambil dan menyantap bakwan yang ada di meja. Sekarang dia sudah menganggap rumah ini seperti rumahnya sendiri. Terkadang aku hanya bisa menghela napas pasrah menghadapi sikapnya yang tidak tahu malu itu.


Apakah ada seorang pria datang berkunjung ke rumah orang tua dari wanitanya, tidak menjaga image-nya? Yah, mungkin hanya Deonartus Surbakti, satu-satunya pria itu.


“Wah, ada rendang sapi kesukaanku!” Mata Deon berbinar-binar melihat Mama menghidangkan makanan itu ke meja. “Terima kasih banyak, Tante. Rendang sapi buatan Tante paling enak sedunia, loh!” Deon mengacungkan jempol kepada Mama.


“Memangnya rendang sapi ada di seluruh dunia?” tanyaku dengan nada menyindir.


Deon memasang wajah terkejutnya. “Sayang, apakah kamu tidak tahu kalau sebagian penduduk warga negara kita banyak yang pergi merantau ke negara orang demi mencari uang lebih banyak? Saat berada di negara orang, yang paling sulit beradaptasi adalah tentang makanan. Nah, bagi warga negara kita yang imigran ke negara lain dikarenakan menikah dengan salah satu warga negara tersebut, pastinya tidak akan menyia-nyiakan kesempatan untuk membuka usaha menjual makanan khas kita.”


Wajahku mulai memberengut kesal. Deon berpikir kalau aku tidak tahu apa-apa tentang hal itu. Dengan penuh percaya diri, dia menyebut beberapa negara yang menjadi tempat perantauan. “Ada yang memilih tempat perantauan ke negara Australia, Hongkong, Jepang, Korea, Taiwan, Arab Saudi, Am-“


Tanpa berpikir dua kali, aku langsung menyumpal mulutnya dengan bakwan. “Aku tidak pernah menang berdebat denganmu, jadi lebih baik kamu sibuk makan sana!”


Deon hanya balas menyengir sambil mengunyah makanan di mulutnya.


“Bermesraannya dilanjutkan lagi setelah makan. Nanti keburu dingin sayurnya,” sela Mama.


Aku segera menuang nasi ke piring, lalu memberikannya kepada Deon. “Terima kasih, Sayang,” Deon mendaratkan kecupan kilat di pipiku. Aku menarik bibir, tersenyum simpul.


“Rayla, sudut bibir kamu kenapa?”


Pertanyaan dari Mama membuatku terkesiap. “Oh, I- ini ….” Refleks aku menyentuh luka pada sudut bibirku disertai perasaan gugup karena aku tidak tahu harus bagaimana menjelaskannya ke mama tanpa membuatnya khawatir.


“Apakah itu ulahmu, Deon?” Mama mengalihkan tatapan ke arah Deon yang seketika terbatuk-batuk tersedak makanan.


“Bu- bukan, Ma …,” jawabku sambil mengambil air minum untuk Deon dan menepuk punggungnya. Deon langsung meneguk minumannya hingga tandas.


“Kalau bukan ulah Deon, lalu siapa yang membuat bibirmu terluka seperti itu?” tanya Mama lagi.


“Aku tidak mungkin sekasar itu mencium bibir Rayla, Tante. Yah, sesekali pernah saat sedang lebih berga irah, tapi tidak sampai membuat luka kok, Tante. Sumpah!” tukas Deon dengan cepat.


Astaga, bersama Deon hidupku bukan hanya lebih berwarna, tetapi membuat perasaanku campur aduk seperti roller coaster yang sebentar terasa hangat, sebentar terasa menggebu-gebu, sebentar terasa berdebar-debar, sebentar kemudian terasa sebal dan gemas, lalu pada waktu yang bersamaan juga jatuh terpesona.


Mama berdeham sedangkan Tante Fifi tertawa pelan mendengar jawaban Deon yang membuatku malu setengah mati.


“Sayang, jelaskan kepada Tante bibir kamu terluka karena siapa? Aku tidak mau Tante berpikir kalau aku yang melukai kamu,” ucap Deon sambil menatapku dengan wajah memelasnya.


Aku menarik napas dalam-dalam kemudian mulai menceritakan perbuatan Erik kepada Mama dan Tante Fifi.


“Apa?” Tante Fifi terlebih dahulu menyuarakan rasa terkejutnya. “Berani-beraninya Erik berbuat seperti itu kepadamu! Apakah kamu sudah melaporkannya kepada polisi?” tanya Tante Fifi dengan penuh emosi.


Aku menggelengkan kepala. “Tidak terjadi pemerkosaan, Tante. Deon berhasil menolongku.”


“Memang tidak, tapi nyaris, Rayla. Bagaimana kalau Deon tidak ada di sana? Ya, Tuhan, Tante tidak bisa membayangkannya,” ucap Tante Fifi sambil memijit keningnya. Kemudian Tante Fifi melirik Mama, lalu berucap dengan nada menyalahkan, “Ini semua karena kamu, Restin!”


“Bukan salah Mama! Aku yang memancing kemarahan Erik!” tukasku.


“Sejak awal Tante dan Maylin tidak menyukai Erik. Dia tidak pernah memperkenalkan dirinya kepada Tante dan Maylin. Dia tidak pernah mau masuk ke rumah ini, bertegur sapa dengan Tante. Dia juga mengajak kamu kencan hingga larut malam tanpa meminta izin dari kami,” ucap Tante Fifi tanpa menahan kekesalannya lagi.


“Lihatlah sekarang, Restin! Erik yang pernah menjadi calon menantu idamanmu, ternyata seorang pria bajingan! Beruntung Rayla tidak menuruti egomu itu! Jika tidak, hidup Rayla tidak akan sebahagia saat ini!” tukas Tante Fifi lagi dengan nada mencemooh.


Mama sedari tadi hanya diam. Aku segera meraih tangan mama lalu mengelus punggung tangannya dengan lembut. “Aku baik-baik saja, Ma. Terkadang kita memang dipertemukan dengan orang yang salah terlebih dahulu, sebelum pada akhirnya bertemu dengan seseorang yang tepat. Karena itu, jangan menyalahkan diri Mama. Pertemuan dan perpisahan, semuanya telah diatur oleh takdir.”


“Mama minta maaf, Rayla. Mama terlalu egois. Sikapmu dulu yang suka membangkang, Mama malah sekarang merasa bersyukur,” ucap Mama serak dengan berurai air mata.


Aku menepuk punggung tangan Mama sambil tersenyum. “Biarkan semuanya berlalu. Jalan hidup memang tidak selamanya menyenangkan, bukan? Yang terpenting sekarang Mama sudah sadar dan mulai berubah. Tidak ada kata terlambat bagi seseorang yang ingin memperbaiki kesalahannya. Aku sayang Mama.”


Mama menangis lebih keras. Aku segera berpindah tempat duduk di sebelah Mama, lalu memeluknya dengan erat. “Maylin juga menyayangi Mama. Hanya saja dia membutuhkan waktu menata hatinya untuk menerima semua kenyataan ini, Ma.”


Mama menganggukkan kepalanya. “Hmm,” gumamnya kemudian.


“Tapi Tante tetap saja kesal dengan Erik!” gerutu Tante Fifi.


Deon membusungkan dadanya dan berkata dengan penuh percaya diri. “Tante tenang saja. Soal Erik, biar aku yang urus.”


“Apa yang akan kamu lakukan?” tanya Mama sambil menggunakan tangannya menghapus sisa air mata di wajahnya.


“Kebetulan perusahan Deon bekerja sama dengan perusahaan papanya Erik. Deon ingin membatalkan kerja sama itu, tapi resikonya adalah dikenakan penalti dan perusahaan Deon harus kehilangan beberapa aset tanah,” ucapku menjelaskan, membuat Mama dan Tante Fifi terkesiap mendengarnya.


“Kamu tidak perlu bertindak sejauh itu, Deon,” tukas Tante Fifi merasa keberatan.


“Tidak adil untuk perusahaan papa kamu. Kehilangan aset tanah, berarti akan berkurangnya pendapatan usaha keluarga kalian,” imbuh Mama.


“Aku sudah membahasnya dengan papa dan papa tidak keberatan. Orang semacam mereka memang tidak pantas diajak bekerja sama, Tante. Aku tidak sudi uang mereka mengalir di rekening perusahaan kami. Lagipula, segala hal yang menyangkut Rayla, akan menjadi masalahku juga,” jawab Deon dengan santainya, tetapi ucapannya terdengar sangat berarti bagiku. Mama dan Tante Fifi bahkan bungkam seribu bahasa.


Deon berdeham sebentar. “Daripada kita membahas tentang pria bajingan itu, ada suatu hal penting yang ingin aku bicarakan dengan Tante Restin dan Tante Fifi,” ucap Deon.


Aku merasakan ketegangan menyeliputi diriku dan Deon. Aku harap-harap cemas dengan reaksi yang akan Mama berikan kepada kami.


Deon berdiri dari kursinya, lalu membungkukkan badannya sambil berkata, “Izinkan aku dan Rayla bertunangan, Tante!”


Kedua mata Mama dan Tante Fifi kini membulat sempurna karena terkesiap.


“Hubungan kami menjadi kekasih memang terhitung baru, belum setahun, tapi tidak butuh waktu lama untukku menyadari kalau Rayla lah wanita yang selama ini aku cari. Dia membuat diriku merasa lebih sempurna. Karena itu, izinkan kami melanjutkan hubungan ini lebih serius, Tante. Aku sangat mencintai Rayla. Dia adalah udaraku, tempatku mengambil oksigen untuk bernapas,” Deon mengucapkannya dengan suara mantap.


Jangan lupa tinggalkan Komentar, berikan Vote, like dan Hadiah supaya aku semakin semangat menulis ya guys. Terima kasih🙏Tambahkan juga ke Favorite supaya tidak ketinggalan up-nya🤗Loph you all😘