Silence

Silence
Bab 88



*Happy reading 📖📖 guys*


“Hubungan kami menjadi kekasih memang terhitung baru, belum setahun, tapi tidak butuh waktu lama untukku menyadari kalau Rayla lah wanita yang selama ini aku cari. Dia membuat diriku merasa lebih sempurna. Karena itu, izinkan kami melanjutkan hubungan ini lebih serius, Tante. Aku sangat mencintai Rayla. Dia adalah udaraku, tempatku mengambil oksigen untuk bernapas,” Deon mengucapkannya dengan suara mantap.


Ada keheningan sesaat sebelum dipecahkan celetukan dari Mama. “Rayla, Apakah kamu sedang hamil?”


Aku terkejut. “Hah?”


“Kalian tidak memakai pengaman saat sedang berhubungan?” tanya Mama lagi.


“Tidak, Tante,” jawab Deon yang membuatku langsung melototnya.


Aku ingin mengucapkan tidak, tetapi lidah ini serasa kaku sehingga membuatku tidak dapat berbicara.


“Ya, Tuhan, kalau Rayla hamil seharusnya langsung menikah, bukan tunangan,” ucap Tante Fifi panik.


“Aku sudah siap menikah, Tante. Sayangnya Rayla masih belum siap,” jawab Deon lagi.


Aku memijit kening yang tiba-tiba terasa pusing. Seharusnya Deon meluruskan kesalahpahaman ini, bukannya malah mengikuti asumsi Mama dan Tante Fifi.


“Loh, kenapa masih belum siap? Umur kamu sudah pantas menikah, Rayla,” tanya Tante Fifi sambil memandangku dengan wajah yang penuh tanda tanya.


“Mama sudah pernah memperingatimu, kalau kamu masih belum sembuh dari traumamu, jangan sampai hamil.”


“Trauma? Apa Maksudnya?” Tante Fifi terenyak, tidak percaya mendengar ucapan Mama barusan.


“Aku tidak hamil!” tukasku dengan lantang. Aku menarik napas dalam-dalam sebelum memberi penjelasan, “Aku punya trauma, Tante Fifi. Pertengkaran yang terjadi antara papa dan mama, juga perpisahan mereka, membuatku takut menjalani pernikahan. Bayangan kenangan saat itu, terus menghantuiku hingga menjadi trauma. Aku … takut rumah tanggaku juga gagal.”


Tante Fifi terlihat terkejut setelah mendengar penjelasanku.


“Aku bersedia menunggu Rayla hingga traumanya sembuh, Tante. Karena itu, aku mengajaknya untuk bertunangan terlebih dahulu. Hari ini aku ingin minta izin dari Tante. Aku harap Tante mau merestui pertunangan ini.” Wajah Deon terlihat sangat serius saat mengucapkannya.


Mama menggerakkan kepala ke samping, menoleh ke arahku. “Apakah kamu sudah yakin bertunangan, Rayla?”


Dengan cepat, aku menganggukkan kepala mantap.


Mama mengangkat tangannya untuk membelai kepalaku. Sebuah senyuman tulus tersungging di bibirnya. “Kebahagiaan kalian sekarang menjadi prioritas Mama.” Tatapan mata Mama yang memandangku terlihat sangat tulus.


“Undang kedua orang tuamu datang ke sini, Deon. Kita akan bahas bersama pertunangan kalian,” ucap Mama kemudian disertai senyuman lebar menghiasi wajahnya.


“Secepatnya, Tante,” ucap Deon dengan mata berkilat bahagia. Kemudian kedua mata kami bertemu. Sebentuk senyum tersungging di bibirnya. Sorot matanya penuh percaya diri seperti biasanya.


Aku tersenyum lega. Hatiku terasa sangat ringan. Tidak ada lagi setitik keraguan. Aku ingin melangkah maju. Bersamanya.


*****


Ketika aku baru saja ingin memejamkan mata, suara ketukan pintu kamar berbunyi. Aku pun bangkit dari tempat tidur lalu membuka pintu. “Mama?” Aku mengernyitkan alis, melihat tangan Mama sedang memeluk guling.


“Malam ini kita tidur berdua, yuk!” ajak Mama.


Sesaat aku terkejut mendengar ucapan Mama. Tidak lama kemudian, aku tersenyum sambil membuka pintu kamar lebih lebar, “Masuklah, Ma.” Tiba-tiba aku merasakan kehangatan merangkul hatiku.


“Terima kasih Mama mau menerima Deon,” ucapku tulus ketika kami berdua tengah berbaring menyamping dengan kedua mata saling bertatapan.


“Baru pertama kali ini Mama bertemu kekasihmu yang begitu keras kepala ingin mengambil hati Mama juga mempertahankan dirimu. Awalnya, Mama berpikir sikap kekeras kepalaannya itu disebabkan karena jiwa petualangnya sebagai Playboy merasa terusik dan tertantang. Lama-kelamaan juga dia akan menyerah. Ternyata perasaannya memang tulus untukmu,” ungkap Mama sambil tertawa kecil.


“Dia berusaha mengambil hatiku selama tiga tahun lebih, Ma, tapi aku tidak pernah menggubrisnya karena aku kira dia hanya bergurau.”


“Aku kira Deon sama sepertiku, karyawan biasa. Aku berpikir sekaligus membuktikan kepada Mama kalau tidak semua materi mendatangkan kebahagiaan. Namun, siapa yang menyangka setelah bebas dari Erik, lagi-lagi aku berurusan dengan anak sang pengusaha. Dan aku sudah telanjur terjebak oleh cintanya,” ucapku.


Keheningan pun menyelimuti kami, membuat kami berdua makin tenggelam dalam pikiran masing-masing.


“Sudah berapa lama kita tidak merasakan kedekatan ini?” tanya Mama setelah beberapa saat hening sejenak.


“Empat belas tahun. Sudah selama itu Mama tidak pernah menginjakkan kaki masuk ke dalam kamarku. Sejak aku berumur sebelas tahun, lebih tepatnya saat kalian mulai bertengkar, Mama mulai mengabaikan aku dan Maylin.”


Dengan lembut, Mama mengusap kepalaku. “Apakah kamu yang menggantikan Mama mendongengkan cerita sebagai pengantar tidur untuk Maylin?”


Aku balas mengangguk. Kenangan saat aku dan Maylin saling menguatkan dan saling membutuhkan, kembali berkelebat di kepalaku.


“Apakah di sekolah ada yang menghina kalian? Mengejek kalian?” tanya Mama lagi.


“Ketidakhadiran Mama saat sekolah melakukan acara, saat pengambilan rapor, saat hari kelulusan, rasanya lebih sakit daripada mendapat hinaan dari mereka,” ungkapku sambil menatap sayu pada Mama. Satu bulir bening air mata lolos menuruni pipiku.


Bibir Mama mulai bergetar. Terlihat matanya mulai mulai berkaca-kaca. “Mama ingin mendengar ceritamu selama Mama tidak berada di sampingmu, Rayla.”


Aku terdiam. Aku tidak tahu harus mulai dari mana bercerita.


“Malam ini Mama akan menjadi pendengar yang baik untuk anak Mama. Keluarkan semua perasaanmu selama ini, Rayla,” ucap Mama lagi.


“Aku … tidak memiliki banyak teman karena aku menarik diri dari pergaulan. Hanya Agatha, Bella dan Jason yang bisa menjadi sahabatku. Lalu, aku tidak menyadari bahwa hubunganku dengan Jason lebih dari sekadar sahabat. Sampai ketika Jason pergi meninggalkanku, aku baru sadar perasaan itu, Ma. Aku … terlambat menyadarinya. Aku dipaksa menelan kesedihan atas kehilangan orang yang paling berarti dalam hidupku, lagi, untuk yang ketiga kalinya.”


“Maaf…,” gumam Mama.


“Aku memilih di sisi aman dengan menarik diri dari siapa pun agar aku tidak terluka lagi. Aku merasa sulit percaya, tidak hanya pada diriku, tapi juga pada semua orang di sekitarku. Aku takut, kembali terluka.” Air mataku menitik dari kedua kelopak mata, membanjiri wajahku.


“Maaf…,” gumam Mama lagi. Suara isak tangisnya mulai terdengar.


“Tahukah, Ma? Aku sering mengendap-endap membuka pintu kamar Mama dan mendengar Mama menangis setiap malam dalam tidurmu. Aku tahu saat itu aku masih terlalu muda, tapi aku berharap akan lebih baik jika Mama bersandar padaku. Sayangnya, Mama hanya melihat luka Mama sendiri. Mama tidak pernah memikirkan kami.”


“Ma … af…,” Suara Mama bergetar karena tangis.


“Aku berusaha untuk melupakan segalanya dan berpura-pura tegar, tapi pertahanan itu luluh begitu saja ketika sakit di hati ini kembali terbuka. Hidupku terasa hampa. Semua karena kalian. Pada akhirnya, aku kehilangan arah dan hanya bisa menangis sendirian di tengah malam.”


Mata hitam Mama kini terlihat mengabur karena air mata yang mengalir deras. “Maafkan, Mama … maafkan, Mama … maaf ….”


Aku menatap wajah Mama, merasa bersalah karena telah membuatnya menyesali perbuatannya. Aku menggenggam kedua tangan Mama. “Aku tidak bisa menghilangkan ingatanku tentang kejadian masa lalu yang pernah aku saksikan, tidak peduli seberapa keras aku berusaha. Namun, aku belajar untuk merelakan semuanya.”


“Ketika seseorang mengecewakan kita, tidak ada yang bisa dilakukan selain menerimanya. Aku ingin berdamai dengan masa lalu, Ma, karena aku ingin sepenuhnya berbahagia bersama Deon.”


Mama menarikku ke pelukannya. Aku merasakan kecupannya pada puncak kepalaku, membuatku semakin menenggelamkan diri dalam pelukannya. Aku merindukan kehangatan ini.


“Mama merasa gagal menjadi orang tua. Seharusnya Mama menjadi tempat perlindungan kalian, tapi Mama malah justru menjauhi kalian. Mama tahu sebanyak apa pun kata maaf yang Mama keluarkan dari mulut Mama, tidak akan mampu mengobati setitik luka dalam hati kalian karena kesalahan Mama. Bahkan, berjuta-juta kata seandainya pun juga tidak bisa mengembalikan waktu yang selama ini telah terbuang,” bisik Mama perlahan diiringi tangis pilu.


“Mama menyesal dan ingin memperbaiki semuanya…,” bisik Mama lagi sambil mengusap-usap punggungku.


Wajahku telah basah oleh air mata. “Everything’s gonna be alright, Mom. If we want to see a rainbow, we have to learn to see the rain. – Semuanya akan baik-baik saja, Ma. Jika kita ingin melihat pelangi, kita harus belajar melihat hujan.”


Entah berapa lama kami berada di posisi itu. Hingga akhirnya, mataku semakin terasa berat, lalu membawaku ke alam mimpi. Untuk pertama kalinya dalam empat belas tahun ini, di dalam mimpi, aku, Mama, dan Maylin, tertawa bahagia bersama-sama.


“If only. Those must be the two saddest words in the world. - “If only”(seandainya). Mereka pasti dua kata tersedih di dunia ini.


*Jangan lupa tinggalkan Komentar, berikan Vote, like dan Tipsnya supaya aku semakin semangat menulis ya guys. Terima kasih**🙏Tambahkan juga ke Favorite supaya tidak ketinggalan up-nya🤗Loph you all😘*