Silence

Silence
Bab 43



Happy reading 📖📖 guys


Aku berjalan mondar mandir sambil bergumam tidak jelas. Aku tidak sedang bermimpi, kan? Aku tidak salah dengar, kan? Otakku memutar kembali beberapa hal yang memang sebenarnya terasa ada kejanggalan.


Seperti saat dia mengajakku dinner di salah satu tempat Restoran mewah Italia, dengan dalih mendapatkan voucher diskon dari sahabatnya.


Lalu mobil Lexus yang dia beli dari sahabatnya dengan harga murah. Kemudian beberapa belakangan ini pak Gunawan lebih sering mengajaknya ikut meeting bersama.


Aku memutar kepala menghadap Deon yang masih duduk di sofa dengan tenang sambil menyeruput secangkir teh hangat di tangannya. Kedua mata kami bertemu.


Perasaan kecewa dan emosi bercampur menjadi satu. Bagaimana bisa selama ini aku ditipu mentah-mentah olehnya?


“You lying to me!” desisku dengan suara rendah dan penuh amarah.


“Aku tidak bermaksud membohongimu, Sayang.”


Tanganku mengepal kuat. Dadaku bergerak naik turun semakin cepat akibat menahan amarah yang sudah hampir meledak. “Kamu tidak pernah mengatakan kalau kamu adalah anaknya pak Surbakti!”


Aku pikir setelah berpisah dari Erik, hidupku akan menjadi lebih tenang. Dan saat aku memutuskan untuk menjalani hubungan dengan Deon yang posisinya sama sepertiku hanya Staff Accounting biasa, aku dapat membuktikan pada mama kalau pemikirannya selama ini yang mengutamakan materi adalah salah.


Namun, ternyata malah sebaliknya. Mengapa aku selalu dikelilingi anak dari pengusaha kaya raya?


“Nama lengkapku yang sebenarnya adalah Deonartus Surbakti. Anak bungsunya pak Surbakti,” ucap Deon mulai menjelaskan.


“Awalnya aku tidak berniat bekerja di perusahaan papa. Namun, setelah almarhum kak Steven, yah ... kamu tahu siapa itu kak Steven … pak Gunawan yang sekaligus juga sebagai om ku, memintaku untuk bekerja di perusahaan papa. Aku menyetujuinya dengan syarat identitasku harus dirahasiakan. Aku tidak ingin dikenal sebagai anaknya pak Surbakti.”


Mataku terbelalak mendengar penjelasannya. Pak Gunawan adalah om nya?


Bodoh! Bodoh! Kamu benar-benar bodoh, Rayla! Mau taruh di mana mukaku besok saat menghadap pak Gunawan?


Deon bangkit berdiri, lalu berjalan mendekatiku. Dengan pelan dia meraih jemari tanganku dan menggenggamnya dengan erat.


“Aku ingin kamu melihatku sebagai Deon, pria Playboy yang gemar bergonta ganti pasangan, pria biasa yang bekerja sebagai Staff Accounting.”


“Aku tidak berbohong padamu, Rayla. Aku hanya menyembunyikan identitasku karena aku ingin kamu melihatku sebagai diriku apa adanya. Bukan sebagai anak dari pemilik perusahaan tempatmu bekerja,” ucap Deon menambahkan.


Aku mendengus kencang. “Mobil Lexus yang sekarang kamu gunakan itu apa? Lalu pak Gunawan membawamu ikut meeting bersama karena kamu memiliki keahlian merayu wanita? Jangan-jangan tempat kost yang kamu tawarkan padaku saat itu juga milikmu?”


Deon menghela napasnya. “Ok, untuk bagian itu aku memang berbohong. Saat itu kita belum menjadi kekasih, Rayla. Aku ingin kamu menerimaku karena aku adalah aku.”


“Tentang tempat kost, memang benar itu milik sahabatku. Aku berbohong padamu hanya tentang harganya saja. Aku membiarkanmu mengeluarkan biaya satu juta per bulan, dan sisanya aku yang akan menanggung.”


“Aku tidak suka dikasihani, Deon!” bentakku kesal. Segera kutepis genggaman Deon dengan kasar.


“Kita sudah menjalani hubungan ini sudah beberapa bulan. Akan tetapi, tidak ada tanda-tanda kamu akan mengungkapkan identitas kamu yang sebenarnya. Hingga akhirnya sampai hari ini, saat pak Gunawan mengatakan tentang pemindahan posisi kerjaku. Kalau bukan karena rapat tadi, kapan kamu baru mau jujur padaku?”


“Maafkan aku, Sayang. Tadinya aku berencana setelah mendapatkan restu dari tante Restin, aku baru akan membuka rahasia identitasku ini, tetapi papa malah menggunakan kesempatan acara ulang tahun perusahaan kali ini untuk sekaligus meresmikan diriku sebagai penerusnya,” tutur Deon dengan nada memelas.


“Bagaimana kalau mamaku tidak akan pernah memberikan restu? Apakah kamu akan tetap menyembunyikan identitasmu itu dariku selamanya?” tanyaku dengan ketus.


“Kalau begitu, terpaksa aku harus mengakui pada tante kalau aku adalah anak dari pemilik perusahaanmu bekerja. Walaupun sesungguhnya aku lebih menginginkan tante menerimaku apa adanya, tapi demi mempertahankan dirimu, aku akan melakukannya.”


Jawaban Deon membuatku bungkam. Jantungku berdetak dua kali lebih cepat.


Bukan karena perasaan emosi, melainkan karena tersentuh atas ucapan yang diucapkan Deon barusan.


Aku memalingkan wajahku ke arah lain. Saat ini aku tidak ingin bertatapan dengannya karena aku yakin pertahananku akan goyah.


Namun, Deon menangkup wajahku dengan kedua tangannya, lalu menempelkan bibirnya padaku. Dia mulai mel umat bibirku dengan perlahan. Tubuhku tidak pernah bisa berkompromi jika sudah menyangkut sentuhan pria ini.


Aku ingin berontak, mendorong, dan menjauhkan Deon dariku, karena aku masih merasa kesal atas kebohongannya. Akan tetapi merasakan bibirnya yang bergerak secara perlahan, begitu memabukkan.


“Aku … masih marah padamu … Deon …,” bisikku lemah disela-sela pagutan kami.


Kedua mata kami saling bertatapan. Deon mengulas senyum manisnya.


Dengan suara serak, dia bertanya, “Kalau begitu, katakan kepadaku. Apa yang harus aku lakukan untuk menebusnya, Sayang?”


“Kamu tahu, Sayang? Aku bisa saja langsung mengatakan pada tante kalau aku adalah CEO di perusahaan ini. Namun, seperti yang kukatakan tadi, aku ingin di lihat sebagai diriku, tanpa embel-embel Surbakti di belakang namaku. Apakah keinginanku ini salah, Sayang?” gumam Deon lagi sambil menyusupkan tangan nakalnya di balik kaosku, berusaha menggodaku.


Dadaku bergerak naik turun dengan cepat karena napasku yang semakin memburu. “Ahh … aku … tidak bisa … berpikir …,” jawabku lirih.


Kemudian dia kembali memagut bibir lebih dalam. Hasrat kami semakin menggelegak di dalam sana. Tangannya meremas dadaku. Ciumannya turun hingga ke bagian leherku dan meninggalkan bekas ciuman.


Ingatkan aku mengenakan kaos berkerah lebih tinggi untuk menutupinya besok pagi.


Deon merebahkan tubuhku di atas sofa yang kami duduki tanpa melepaskan pagutannya.


“Deon …,” panggilku dengan suara tercekat.


“Yes, say my name, Babe,” desisnya.


Tanpa memutuskan ciuman, dia mengangkat tubuhku hingga posisi kami menjadi duduk. Geraman tertahan keluar dari bibirnya yang mulai membengkak karena ciuman kami sejak tadi.


Kunaikkan tubuhku sedikit, lalu memegang miliknya yang sudah sangat tegang. Perlahan ku arahkan ujungnya ke bibir intiku hingga seluruh miliknya terbenam di pusat tubuhku. Kami berdua mengerang bersamaan dan membiarkan gairah semakin berkobar seiring larutnya malam.


“God!  You makes me lose my mind,” ucapku di antara tarikan napas. Kami masih dalam posisi berpelukan dengan tubuh basah oleh keringat.


Sambil mengambil napas dalam-dalam, aku mengamati wajahnya, lalu menggunakan jemari tanganku mengelus wajahnya. “Kamu curang! Seharusnya aku memberimu pelajaran dengan tidak jatah untuk malam ini.”


Deon mengecup bibirku cepat, lalu memasang wajah jahilnya. “Aku senang bisa membuat tubuhmu lebih cepat bereaksi pada sentuhanku. Tidak sia-sia pengalamanku sebagai Playboy.”


Segera kulayangkan pukulan keras pada bahunya dan dia tertawa terbahak-bahak. “Aku harus bersikap bagaimana besok saat ada pak Gunawan?” tanyaku dengan cemas.


“Aku kira setelah putus dengan Erik, kehidupanku akan balik menjadi normal. Namun, ternyata lagi-lagi aku harus berurusan dengan anak dari pemilik perusahaan. Malah perusahaan tempatku bekerja. Kalau mama tahu, dia pasti girang sekali.”


“Bersikap biasa saja. Ingat! Identitasku belum boleh diketahui seluruh pegawai,” Deon membelai rambutku dengan penuh kelembutan. Aku mengangguk patuh.


Tiba-tiba bayangan Rita muncul dalam benakku. Aku jadi teringat kalau Deon pernah mengatakan dia adalah adik dari sahabatnya.


“Berarti selain bagian HRD, pak Gunawan, dan sekarang aku yang tahu identitas kamu, ibu Rita juga tahu? Kamu bilang dia adik dari sahabatmu.”


Deon balas dengan menganggukkan kepala. Aku mengerucutkan bibir. “Jadi, karena dia tahu kamu adalah anak dari pemilik perusahaan, dia tidak berani melakukan perbuatan seperti itu lagi. Begitu?”


Deon tertawa kecil. “Makanya … kan, aku sudah bilang serahkan semuanya padaku.”


Aku memasang wajah malas. “Ya, ya, ya, terima kasih atas semuanya, Pak Deon, sang CEO yang terhormat!”


“So? Menjadi Asisten CEO cocok untukmu, bukan?” tanya Deon memasang wajah memelasnya.


“Apakah aku masih punya kesempatan menolak?”


“CEO nya ganteng begini, loh, Sayang. Masa kamu keberatan? Kalau wanita lain yang menjadi Asistennya, apakah kamu tidak khawatir CEO nya dirayu?”


“Tidak boleh! Enak saja! Siapa yang berani merayumu, aku congkel matanya nanti!” ucapku cepat tanpa berpikir panjang.


Deon memasang senyum puas. Aku menghela napas pasrah. Berdebat dengannya tidak pernah menang.


Suara dering panggilan masuk pada ponselku berbunyi. Aku segera berdiri dan berlari mengambil ponsel yang tergeletak di meja makan.


Jason's calling.


Mataku membulat lebar melihat nama ditampilan layar pada ponsel. Tubuhku tegang seketika. Mau apa dia menelponku malam-malam begini?


“Siapa yang menelepon, Sayang? Ini sudah jam sebelas malam.”


Suara Deon terdengar semakin dekat dari arah belakangku. Refleks aku menekan tombol reject dan menonaktifkan ponsel.


Aku memutar balik tubuhku tepat pada saat Deon sudah berada di belakangku. “Private number. Aku malas mengangkatnya. Jadi, aku reject saja teleponnya.”


Deon menarik pinggangku mendekat ke arahnya. Dengan sengaja dia menggesekkan bukti gairahnya yang sudah sekeras batu ke perutku.


Astaga! Kami baru saja selesai melakukannya. Cepat sekali dia kembali turn on?


“Lanjut di kamar, yuk! Adik kecilku butuh dininabobo, tetapi sebelumnya mandikan aku dulu ya …,” tutur Deon sambil mencium telingaku.


Bisa kurasakan napasnya yang memburu. Gairahku kembali muncul. Oh Tuhan! Aku jadi seperti wanita maniak sekkss.


Deon tiba-tiba menggendongku ala bridal style. Bibirnya kembali mel umat bibirku dengan ganas. Kami berdua pun kembali larut dalam kenikmatan.


Jangan lupa tambahkan ke Favorite lalu tinggalkan Komentar, berikan Vote, Like dan Dukungannya ya guys. Terima kasih 🙏🤗 Loph you all 😘