
Hai, Readers, sebelum baca part ini, aku mau kasih tahu dulu kalau di part ini muncul 3 tokoh baru. Siapa yang bisa tebak, nih? kira-kira 3 tokoh ini siapa saja, sih? 🤔Yuk, lanjut simak bacanya ya, guys. Happy reading 📖📖 guys
Kami tiba di salah satu sebuah Hotel bintang lima, tempat acara digelar. Hatiku sedikit berdebar karena acara kali ini sekaligus mengumumkan status kepemindahanku sebagai Asisten CEO baru. Deon menggandeng tanganku saat kami melangkah menuju Ballroom tempat acara digelar.
Di depan Ballroom sudah banyak media yang hadir. Kasak kusuk mulai terdengar, di kalangan media memang banyak yang belum mengenal putra bungsu dari pak Surbakti. Bahkan, menyebut namanya di hadapan publik pun juga belum pernah.
Konsep perayaan ulang tahun perusahaan tahun ini dibuat berbeda. Biasanya para tamu duduk mengelilingi satu meja, kali ini tidak disediakan karena total karyawan dan tamu undangan melebihi 2000 orang.
Oleh sebab itu, penyajian makanan yang dipilih adalah Buffet service. Ada banyak pilihan hidangan makanan yang disajikan pada menu Buffet, mulai dari appetizer, main course hingga makanan dessert.
Aku dan Deon berjalan menghampiri Bram, Andi, Sheila, dan Nina yang sedang berkumpul di salah satu sisi ruangan.
“Wah, wah, silau nih, pasangan paling mesra lewat.” Suara Bram terdengar begitu melihat kami.
Deon langsung meninju lengan Bram pelan. “Yang jomblo jangan sirik, ya.” balas Deon sambil tertawa.
“Enak saja, terhitung hari ini gue resmi tidak jomblo lagi!” tukas Bram yang kemudian meraih tangan Nina yang berada di sebelahnya.
Sontak Nina menarik tangannya sambil mengamuk berkata, “Siapa yang sudi sama lo, Bram? Mulut lo comberan begitu. Tampang kurang pas, dompet juga kurang tebal.”
“Lo, ya, kalau menghina tidak tanggung-tanggung,” balas Bram menyeringai.
“Memang kenyataannya, kok! Gue sedang menunggu Rayla mengundurkan diri sebagai Asisten CEO baru kita. Ingat ya, La. Sebut nama gue pas lo mau undurin diri.” Nina memasang senyum manisnya kepadaku.
“Lo doain gue cepat-cepat resign, Nin?” imbuhku sambil menyipitkan mata.
Nina tertawa cengar cengir. “Maksud gue bukan begitu, La. Hanya saja, lo tidak kasihan sama gue yang masih jomblo?”
“Ada pria yang standby di sebelah lo, kenapa tidak diterima saja, sih?” ledek Andi.
Nina memalingkan wajahnya dari Bram setelah menoleh ke arahnya sekilas. “No! Bram bukan tipe gue,” ucapnya menolak dengan ketus.
“Sekarang memang bukan tipe lo, tapi nanti juga lo jatuh cinta sampai ke dalam hati. Contohnya, gue dan Rayla, nih!” ucap Deon.
Dengan satu tangannya, dia merangkul pinggangku hingga menempel pada tubuhnya. Dehaman dan lirikan menggoda muncul dari mereka. Aku hanya geleng-geleng kepala.
Jam tujuh malam acara dimulai, diawali dengan perkenalan dan menceritakan sekilas perjalanan kisah perusahaan dari bawah hingga mencapai kesuksesan. Kemudian dilanjutkan dengan sambutan dari pimpinan perusahaan.
Om Surbakti naik ke atas panggung. “Segala puji bagi Tuhan yang telah memberikan nikmat dan juga kesehatan sehingga kita dapat berkumpul bersama pada acara ulang tahun perusahaan ini yang ke-30 dalam keadaan sehat dan tak kurang satu apapun. Selamat malam semua.”
“Selaku pimpinan perusahaan, tentu saja saya sangat bangga karena usaha ini hingga kini masih masuk dalam deretan perusahaan terbesar. Namun, kesuksesan ini ada karena kepercayaan yang diberikan oleh seluruh para hadirin untuk perusahaan saya. Terima kasih.”
Riuh tepuk tangan menggema memenuhi Ballroom.
Kemudian Om Surbakti kembali melanjutkan kata sambutannya. “Pada acara ini, saya ingin memperkenalkan putra bungsu saya yang akan menjabat sebagai CEO baru setelah Steven Surbakti, putra sulung saya, meninggal tujuh tahun yang lalu. Selama ini putra saya tidak pernah ingin identitasnya diketahui, karena dia nyaman bekerja sebagai dirinya sendiri, tanpa embel-embel keluarga Surbakti di belakangnya.”
“Namun, hari ini saya ingin meluapkan kebanggaan saya sebagai seorang papa pada putranya karena dengan kemampuan yang dimilikinya, dia sudah siap menjabat sebagai CEO. Deonartus Surbakti. Papa menyerahkan perusahaan ke tanganmu.”
Tepuk tangan kembali membahana di sekeliling ruangan, ada decak kagum, ada juga desa han tidak percaya.
Deon melangkah menuju panggung, disambut pelukan hangat Om Surbakti dan tentu saja jepretan kamera tiada hentinya. Om Surbakti menyerahkan mic padanya dan dia mulai bicara.
Namun, aku tidak dapat fokus mendengar ucapannya karena orang-orang yang berada di sampingku terpaku di tempat mereka berdiri.
“Gue tadi tidak salah dengar, kan?” tanya Andi yang pertama pulih dari rasa terkejut dan akhirnya dapat menyuarakan pertanyaan.
“Bukannya kalian selalu heboh mau tahu siapa CEO baru kita? Tuh, Pak Surbakti sudah sebutin nama putra bungsunya itu,” tukasku.
“Jadi … jadi ….” Nina tidak mampu melanjutkan kata-katanya.
“Jadi … jadi, putra Pak Surbakti itu Deon?” pekik Sheila akhirnya.
“Oh My God! Jadi, Deon sang Playboy itu putranya Pak Surbakti?” timpal Bram yang hampir saja membuatku memutar bola mata.
Bukannya pertanyaan mereka sama saja?
“Astaga! Jadi, selama ini kita saling meledeki dan bergosip di depan anak Pak Surbakti?” ucap Andi sambil meringis.
“Jangan lupa, anaknya Pak Surbakti akan menjadi Bos kita juga,” ucapku menambahkan sehingga raut wajah mereka berempat semakin pucat pasi. Aku tertawa geli melihat respons mereka.
“Mati, gue! Mana mulut gue yang paling comberan lagi!” tutur Bram cemas.
“Baru ngaku itu mulut memang comberan?” ledekku.
“Tunggu! Kalau begitu … berarti lo Nyonya CEO dong, La!” tukas Andi. Jari telunjuknya menunjuk ke arahku dengan kondisi mulut terbuka lebar.
Bram, Sheila, dan Nina masing-masing memasang wajah shock. Mungkin mereka masih tidak bisa menerima kenyataan.
“La, tas LV yang gue request ke lo batal, ya. Lo tidak usah kasih hadiah apa-apa ke gue,” ucap Nina lirih.
“Memangnya sejak kapan gue iyain permintaan lo itu?” dahiku mengerut. Seingatku tidak mengiyakan permintaannya, tetapi juga tidak menolaknya.
“La, persoalan gue yang sembarangan bicara tentang lo bunting, maaf, ya. Jangan lapor ke Deon juga, ya. Please …,” ucap Bram sambil memandangku dengan memelas.
“Tidak ada yang minta maaf sama gue, nih?” celetuk Deon tiba-tiba.
“Eh, A- anu … Deon ….” Bram seketika tergagap-gagap.
Andi menggunakan siku tangannya menyikut perut Bram hingga Bram meringis kesakitan dan melotot tajam padanya.
Sheila dan Nina memandang Deon tanpa berkedip. Tiba-tiba aku ingin menjahili mereka.
Aku memeluk pinggang Deon dari samping, kemudian dengan suara manja berkata, “Yang, kamu bisa belikan tas LV asli? Kemarin Nina memintaku membelikan tas LV yang asli untuknya.”
Dahi Deon mengernyit. “Untuk apa memangnya? Nina mau ulang tahun?”
“E- eh, gue, anu, maksud saya tidak jadi, Pak Deon, Ibu Rayla. Kemarin bercanda, kok!” kilah Nina cepat.
“Benar, Nin? Gue tidak mau nanti lo tiba-tiba nagih, loh!” tanyaku berpura-pura memastikan.
Nina cepat-cepat mengangguk kepalanya. “I- iya, Bu. Benar, kok!”
“Ok, kalau begitu.” Lalu aku menoleh menatap Bram. Matanya membelalak.
“Yang, kemarin Bram mengatakan aku bunting. Masa aku dianggap seperti kucing, sih? Dikatai bunting,” kataku merajuk.
“Wah, kalau ini sudah tidak benar. Kamu berpendidikan, kan, Bram? Tidak seharusnya kamu mengatakan kekasih saya bunting,” tukas Deon.
Aku tertawa pelan melihat tubuh Bram mengeluarkan keringat banyak karena ketakutan.
“Ma- ma ... af ... Pak!” jawabnya ketakutan.
“Seharusnya kamu menggunakan kata hamil yang tepat. Kan, lebih enak didengar,” kata Deon melanjutkan. “Kamu hamil, Sayang? Kok, kamu tidak memberitahuku?” Deon menggerakan kepalanya menoleh ke arahku.
“What? Siapa yang hamil?” tanyaku sengit.
“Bercanda, Sayang.” Deon tertawa keras-keras. Aku memanyunkan bibir, lalu menyilangkan tangan di depan dada.
Deon melirik Bram, Andi, Sheila, dan Nina bergantian, kemudian berkata, “Gue minta maaf karena sudah menyembunyikan hal ini. Gue tidak ada maksud buruk sama sekali. Jadi, maaf kalau sudah membuat kalian merasa tidak nyaman. Gue harap untuk ke depannya tidak akan ada yang berubah, tetap perlakukan gue sebagai teman. Tentu saja di luar menyangkut pekerjaan, loh, ya.”
Kami semua saling melirik satu sama lain. Lalu entah mengapa, kami tertawa. Tawa kami sepertinya mencairkan suasana. Bram, Andi, Sheila, dan Nina sudah tidak setegang dan sekikuk tadi.
*****
Aku mengambil beberapa jenis appetizer ke piring. Sambil menyantapnya, aku sambil mengarahkan mata ke sekeliling.
Deon sedang sibuk menyapa para tamu bersama Om Surbakti dan Tante Amanda. Sedangkan Kak Sarah menemani Kak Denis mengobrol bersama tamu yang mereka kenal.
Tadi, beberapa wartawan mengambil fotoku yang sedang bersama Deon. Lalu memberikan pertanyaan apakah kami ada hubungan special? Deon lantas mengiyakan.
Dia mengenalkan diriku sebagai calon istrinya kepada wartawan tersebut hingga kami jadi sasaran jepretan kamera para wartawan yang haus berita.
“Besok gue tidak akan terkejut kalau melihat wajah lo terpampang disurat kabar atau majalah bisnis, Rayla Pramanta.” Sebuah suara pria terdengar. Aku menoleh dan melihat sosok pria asing sedang berdiri di sampingku.
“Elian Grayson Carter. Ingat?” tanya pria itu lagi.
Dahiku mengernyit, berusaha mengingat siapakah dia? Kemudian kilasan tentang masa lalu terbayang. “Elian si culun yang itu?” jeritku histeris.
Elian tersenyum manis. Dengan suaranya yang tenang, dia menjawab, “Gue bukan lagi si culun yang lo kenal, Rayla.”
Aku melongo tidak percaya. Tidak ada kacamata tebal atau penampilan culun. Elian sekarang tampak seperti jelmaan Dewa Yunani. Tanpa kacamatanya, aku bisa melihat sepasang mata berbentuk almond, berwarna abu-abu.
Bibirnya menyunggingkan senyum tipis, terkesan datar, tapi tidak mengintimidasi. Sungguh sebuah metamorfosis yang menakjubkan.
“Kapan lo balik dari London?” tanyaku setelah pulih dari rasa kaget.
“Sudah lama. Setelah menyelesaikan study di sana, gue langsung balik ke Indonesia dan langsung mengurus perusahaan dad.”
“Kalau begitu, kenapa gue tidak melihat lo di-” Aku belum menyelesaikan ucapanku ketika sebuah suara wanita tiba-tiba datang menginterupsi.
“Elian! Aku mencarimu ke mana-mana, Sayang.”
Wanita di hadapanku ini berparas cantik. Tubuhnya ramping. Penampilannya yang glamour dan high class terlihat sangat menonjol.
“Siapa wanita ini, Elian?” Mata wanita itu sekarang beralih menatapku dengan tatapan tajam dan menusuk.
Aku memutar mata malas. Seolah-olah aku sedang mengincar kekasihnya saja. Please, deh! Bagiku ketampanan yang dimiliki kekasihku tetap nomor satu.
“Kenalkan, namanya Rayla Pramanta, temanku.” Elian mulai memperkenalkan aku dengan kekasihnya. “Rayla, dia temanku saat study di London, Vlora Lovata Osborn.”
“Fiancee. Kami akan segera bertunangan.” Vlora segera meralat ucapan Elian sedangkan Elian terlihat biasa-biasa saja. Tidak memberikan respons apa-apa.
Sepertinya hubungan mereka berdua cukup pelik. Aku bisa membacanya dari sikap mereka berdua.
“Papa! Kami di sini!” Tiba-tiba suara teriakan Vlora membuatku tersadar dari pikiranku tadi.
Aku melihat Vlora sedang melambai-lambaikan tangan. Aku mengikuti arah pandangan matanya.
Mataku membulat lebar. Napasku tertahan dan dadaku terasa nyeri bagaikan ditikam ribuan pisau. Telingaku berdenging. Aku tidak dapat mendengar apa yang sedang mereka bincangkan.
Kedua mataku tidak bisa lepas dari sosok yang sedang mengusap kepala Vlora dengan lembut sedangkan Vlora bergelayut manja padanya.
“Ngomong-ngomong, siapakah wanita cantik ini?” tanyanya ketika matanya memandang ke arahku. Vlora mendengus kasar, lalu melihatku sinis. “Perkenalkan, nama saya Frans Osborn. Siapakah nama Anda, Nona?”
Kurasakan mataku mulai memanas. Kilasan masa lalu yang menyakitkan, berputar kembali dalam benakku. Inikah alasannya meninggalkan kami?
Mohon maaf kepada Authors yang ingin saling dukung, usahakan jangan boomlike ya. Mari kita saling menghargai 🤗 Jangan lupa tambahkan ke Favorite lalu tinggalkan Komentar, berikan Vote, Like dan Dukungannya ya guys. Terima kasih 🙏🤗 Loph you all 😘