
*Happy reading 📖📖guys*
Aku dan Deon sampai di sebuah gedung perkantoran Xavier Jadison yang tergolong gedung premium, memiliki sensasi desain bangunan yang mewah bersama fasilitas lengkap.
Rupanya penampilan fisik gedung yang menawan mampu menjadi faktor penentu kesuksesan dalam suatu perusahaan.
Sebelumnya, aku sudah tahu tentang keluarga Erik yang termasuk golongan atas. Mereka juga memiliki banyak anak perusahaan.
Namun, baru sekarang aku mengetahuinya lebih detail karena tuntutan pekerjaan mengharuskanku mengenal satu per satu informasi mengenai kolega bisnis yang melakukan kerjasama dengan perusahaan tempatku bekerja.
Xavier Jadison adalah salah satu sepuluh orang terkaya sekaligus pengusaha terbesar di seluruh dunia karena tangan dinginnya dalam menjalankan bisnisnya.
Selain itu, beliau juga ternyata keturunan kaum bangsawan di wilayah Eropa yaitu Belanda saat abad pertengahan.
Xavier Jadison dan Osborn, keduanya sama-sama memiliki keahlian dalam suatu usaha. Bedanya, pemikiran Xavier Jadison lebih mengarah ke sistem feodalisme yaitu prinsip pertukaran di mana mereka bersedia melakukan kerjasama atau memberikan suntikan dana dengan memberikan hak mengendalikan atas tanah wilayah-wilayah yang bekerja sama dengan mereka sebagai gantinya.
Sikap feodalisme juga cenderung lebih mengagung angungkan pangkat, bukan prestasi. Pantas saja ketika aku datang ke rumah orang tuanya Erik, tidak ada satu orang pun yang menyukaiku.
Papanya Erik memang terlihat lebih hangat, tetapi sekarang aku ragu apakah sikapnya kepadaku saat itu tulus atau tidak. Untung saja aku sudah mengakhiri hubunganku dengan Erik.
“Selamat siang, Bapak dan Ibu. Ada yang bisa kami bantu?” sapa seorang Resepsionis dengan ramah. Penampilannya sangat modis dan elegan.
“Kami sudah membuat temu janji dengan mr. Xavier Jadison,” jawabku.
“Ibu dari perusahaan mana?”
“PT. SA,” jawabku lagi.
“Mohon ditunggu.” Kemudian Resepsionis membuka sebuah buku. Mungkin untuk mengkonfirmasi siapa saja tamu yang sudah membuat janji datang hari ini. “Pertemuan dengan PT. SA pada pukul setengah dua siang. Mari, ikut saya.”
Aku dan Deon berjalan mengikuti langkah Resepsionis sampai ke sebuah lift.
Saat pintu lift terbuka, Resepsionis hanya menjulurkan setengah badannya ke dalam lift. Dengan sigap dia mengeluarkan kartu dan menempelkannya ke tombol lift dan menekan lantai ruangan yang menjadi tujuan, kemudian beringsut ke tempatnya berdiri tadi.
“Sekretaris mr. Xavier Jadison sudah menunggu di lantai tiga puluh dua,” ucap Resepsionis menyunggingkan senyuman sambil membungkuk badannya.
Kami berdua melangkah berjalan masuk ke dalam lift. Selama menunggu, kami sambil menikmati suara musik yang mengalun dari pemutar di dalam lift.
“Sayang, Apakah kamu pernah berkunjung ke sini saat masih berstatus kekasihnya mr. Erik?” Deon tiba-tiba memecah keheningan dengan melayangkan pertanyaan seperti itu tanpa menutupi rasa penasaran.
“Tidak. Waktu itu kamu lihat sendiri, kan? Aku dijemput olehnya setiap pulang kerja.”
“Hm, Sekarang kita berada di kantor pusat mr. Xavier Jadison. Sedangkan mr. Erik tidak di tempatkan di sini,” ucap Deon menjelaskan.
“Kalau begitu kenapa kamu sengaja meninggalkan bekas di leherku?” cibirku.
“Setahuku relasi bisnis yang sudah terjalin selama tiga tahun ini tidak ada kendala apa-apa. Berdasarkan isi perjanjian kontrak kerjasama, rapat rutin di lakukan setiap tiga bulan sekali dan baru dua bulan yang lalu kemarin diadakan rapat tersebut. Lalu kenapa beliau mengajukan pertemuan?” Alis Deon berkerut saat menyuarakan pikirannya.
“Kamu terlalu banyak berpikir, Deon. Mungkin saja karena kamu baru menjabat sebagai CEO, beliau merasa perlu mengadakan pertemuan ramah tamah,” jawabku.
Wajah Deon terlihat sangat serius saat berkata dengan pelan, “Secara umum, beliau dipandang sebagai pimpinan yang rendah hati dan penuh pertimbangan. Beliau berbicara dengan ramah dan santai, tetapi aku melihat gelagatnya seperti pimpinan yang sok pamer seolah-olah berkata, pandang saya, lihat apa yang telah saya kerjakan.”
Aku diam. Tidak tahu harus berkata apa karena sebenarnya aku juga memiliki pemikiran yang sama tentang Xavier Jadison.
“Jangan terlalu banyak bicara di depan mereka, Rayla. Biar aku yang mengendalikan pembicaraan. Aku yakin, mr. Erik juga berada di sana sedang menunggu kita,” tutur Deon dengan sepasang mata yang menatapku serius. Aku hanya membalas mengangguk.
Suara dentingan lift berbunyi menandakan sudah sampai lantai yang kami tuju. Kami berdua berjalan keluar.
“Selamat siang, Bapak Deonartus Surbakti. Mr. Xavier Jadison masih ada kesibukan sebentar. Beliau meminta Anda untuk menunggunya di ruang rapat. Mari, saya antarkan ke sana.” Wanita itu menjelaskan dengan mengeluarkan suara yang dalam dan sedikit serak sehingga terdengar sangat seksi.
Aku hanya bisa urut dada melihat kelakuan wanita yang sedang berjalan di depan kami untuk menujukkan jalan. Bahkan, caranya berjalan pun memberi kesan sensual dengan menggerakkan pinggul secara memutar dari sisi ke sisi. Mengirimkan pesan kepada pria, bahwa dia mampu mengendalikan tubuhmu.
Wanita itu mendorong pintu dengan lebar ketika sudah sampai di ruang rapat. “Silahkan masuk!” Aku dan Deon berjalan masuk menuju kursi kosong.
“Anda ingin minum apa, Pak Deonartus Surbakti?” Wanita itu memasang senyum tipis dengan kontak mata yang hanya fokus kepada Deon. Hatiku pun mulai panas.
“Saya mau air putih saja. Untuk calon istri saya, tolong berikan espresso atau americano,” jawab Deon.
“Calon istri?” Alis wanita itu terangkat ke atas. Matanya kemudian beralih memandangku.
“Wanita yang bersama saya ini adalah calon istri saya. Padahal saya pernah mengumumkan hal ini kepada wartawan. Foto kami berdua pun juga telah terpampang dan tersebar disurat kabar, majalah bisnis dan media sosial,” tukas Deon menjelaskan.
“Saya tidak pernah melihat berita itu, Pak.”
Senyum tipis dari bibir Deon mengembang. “Mungkin karena Nona terlalu sibuk membaca majalah fashion. Saya sarankan Nona lebih baik sedikit banyak baca majalah bisnis agar Nona bisa tahu pengusaha manakah yang masih single dan yang sudah taken atau sudah beristri.”
Wajah wanita itu sekejap kemudian memerah lalu pamit pergi dan menutup pintu.
“Like father, like son. Aku semakin tidak suka dengan Xavier Jadison. Mengapa papa bersedia bekerja sama dengannya?” tukas Deon dengan nada kesal.
“Wanita tadi sedang merayumu, Deon. Bukan mr. Xavier Jadison.”
“Makanya aku bersikap seperti itu kepadanya. Menurutmu pimpinan seperti apa yang mengizinkan karyawannya berpenampilan seperti itu?” Deon berbalik tanya kepadaku.
Aku terdiam. Mungkin kecurigaan Deon benar. Wanita itu terlihat sudah terbiasa merayu pria. Melihat dia bagaimana caranya tadi mencoba memikat Deon, tidak ada kemungkinan wanita itu juga melakukan hal yang sama terhadap Xavier Jadison maupun Erik.
Tiba-tiba terdengar suara pintu di buka disertai suara tawa Mr. Xavier Jadison. “Maaf, tadi saya masih sibuk. Apakah Anda sudah lama menungu?”
Deon dan Mr. Xavier Jadison berjabat tangan. “Kami baru sampai tidak lama, Mister.”
Pintu kembali terbuka. Wanita tadi muncul membawa nampan berisi minuman disusul sosok Erik yang melangkah masuk.
Ruangan hening sejenak saat aku dan Erik bertatapan sesaat. Tidak berapa lama kemudian aku membuang pandangan ke arah wanita tadi yang sedang meletakkan gelas ke meja satu per satu dengan hati-hati.
Erik duduk di sebelah kanan Papanya, berhadapan denganku. Erik secara terang-terangan terus menatapku lekat, membuatku terasa canggung. Aku lebih mengkhawatirkan tindakan apa yang akan dilakukan Deon.
“Bukankah Mr. Erik seharusnya berada di gedung kantor lain? Mengapa Anda ikut hadir pertemuan ini?” tanya Deon tanpa berbasa-basi lebih dahulu.
“Putra saya ikut hadir karena ada sangkut pautnya dengan hal yang akan kita bahas, Pak Deonartus,” jawab Mr. Xavier Jadison sambil mengulum senyum.
“Oh, ya? Tentang apakah itu, Mister? Kelihatannya hal yang sangat mendesak karena Anda tidak bisa menunggu sampai rapat rutin di bulan depan.”
Mr. Xavier Jadison berdeham. Beliau melirik Erik yang sedang fokus menatapku. “Erik! Jelaskan maksudmu kepada Pak Deonartus.”
Suara teguran dari Mr. Xavier Jadison yang keras, sontak membuat Erik sadar.
Dia memperbaiki posisi duduk sambil menarik bahu ke belakang, tubuhnya menghadap lurus ke depan lalu menegakkan kepalanya. “Saya ingin menjadi investor penyandang dana pada perusahaan Anda. Melihat potensi bisnis yang Anda miliki, saya yakin keuntungan yang akan didapatkan akan bertambah.”
Mr. Xavier Jadison menambahkan kalimatnya karena Deon hanya diam, tidak memberikan tanggapan. “Tentu saja keinginan Mr. Erik ini di luar dari kontrak kerjasama kita yang sudah terjalin selama tiga tahun. Saya tidak akan ikut campur tentang ini karena Mr. Erik menginvestasikan dana pada perusahaan Anda atas namanya sendiri. Tidak ada hubungannya dengan saya.”
“Jika kita sama-sama sepakat tentang investasi ini, lantas permintaan apa yang Anda inginkan sebagai gantinya Mr. Erik?” tanya Deon dengan suara rendah tapi terdengar penuh penekanan.
Jangan lupa tambahkan ke Favorite lalu tinggalkan Komentar, berikan Vote, Like dan Dukungannya ya guys. Terima kasih 🙏🤗 Loph you all 😘