Silence

Silence
Bab 61



*Happy reading 📖📖guys*


“Selamat malam semuanya, Tante,” sapa Deon kepada Mama dan Tante Fifi.


Hari ini malam Sabtu. Kami berdua memutuskan makan malam di luar. Deon mengatakan sudah lama tidak dinner berdua.


“Besok tidak perlu datang ke Restoran, Deon. Membuat laporan tidak perlu terburu-buru. Masih pertengahan bulan,” ucap Mama.


“Maksudnya Restin, lebih baik besok kalian berdua pergi berkencan. Sudah lama kalian tidak memiliki quality time semenjak masalah Maylin, bukan?” imbuh Tante Fifi.


“Benar, nih, Tante? Kalau begitu, besok aku izin, ya, Tan,” tukas Deon dengan mata berbinar-binar dan penuh semangat yang dibalas Mama dengan mengangguk.


“Besok kita pergi ngedate ya, Sayang. Aku kangen banget, nih!” Deon melingkarkan tangannya ke pinggangku dengan erat.


“Tapi hari Senin, aku harus memberikan laporan final kepada ibu Rita,” tukasku sedikit keberatan.


Pekerjaanku memang harus segera diselesaikan sebelum pemindahan bagian agar yang menggantikan diriku tinggal melanjutkan laporan pada bulan berikutnya.


“Cuma lo karyawan yang membawa pulang pekerjaan ke rumah,” cibir Maylin mengejek.


“Kakak kamu yang satu ini memang tipe orang yang sangat bertanggung jawab dalam pekerjaannya.” Pujian dari Deon membuatku tersipu. “Laporan itu bisa ditunda dua hari, Sayang. Dengan tingkat kecerdasan yang kamu miliki, hari Senin kamu pasti dapat menyelesaikannya dalam satu hari.”


Aku menatap horor pada Deon. “Dia akan memberiku ceramah panjang lebar. Lebih baik aku pusing melihat angka pada komputer daripada mendengar ceramahannya itu.”


Bayangan wajah Rita yang sedang berceramah sambil menggerutu, membuatku bergidik. Aku segera menggeleng-geleng kepala bermaksud mengusir bayangan tersebut.


“Biar aku yang menghadapinya. Dia tidak bisa berkutik jika sudah CEO yang angkat bicara.”


Ucapan Deon membuat Mama, Tante Fifi dan Maylin yang tadinya sedang duduk di ruang tamu dengan santai, sontak berdiri. Mereka terdiam dalam keheranan, menatap Deon penuh tanya.


“Maksud Kak Deon tadi apa?” tanya Maylin.


Deon berdehem sebentar sebelum membuat pernyataan. “Tentunya semua sudah tahu kalau Rayla akan menjadi Asisten CEO, kan? Sebenarnya CEO itu adalah … aku.”


Semua terpaku, mencerna apa yang baru saja dikatakan Deon. Aku hanya tersenyum kecil.


“Oh My God! Jadi, Kak Deon anak dari bos nya Rayla?” Maylin yang pertama pulih dari rasa terkejut dan akhirnya menyuarakan pertanyaan.


Bibir Deon mengulas senyum lebar. “Ya, Benar. Maafkan aku baru mengatakannya sekarang.”


Maylin menatap Deon dengan mulut terbuka. Tante Fifi menekap mulutnya, matanya memandang kepadaku dan Deon bergantian. Sedangkan Mama termangu-mangu.


“Ma! Rayla tidak jadi dengan Erik, tapi jodohnya tetap saja berakhir dengan anak bos. Sesuai keinginan Mama, bukan?” tukas Maylin tiba-tiba. Mama segera memberinya pelototan tajam.


“Awalnya Rayla tidak tahu tentang ini karena memang identitasku dirahasiakan. Lalu ketika Rayla sudah mengetahuinya, aku meminta Rayla agar tidak memberi tahu kepada kalian karena aku ingin Tante Restin menerimaku sebagai Deonartus tanpa nama Surbakti di belakangnya.”


Penjelasan dari Deon membuat semuanya tak bergeming. Tak berapa lama kemudian, Maylin menepuk tangannya. Tante Fifi pun ikut bertepuk tangan.


“Kak Deon memang the best brother-in-law.” Maylin mengacungkan jempol ke arah Deon.


Deon tertawa pelan melihat tingkah Maylin. Kemudian matanya bertemu dengan mata Mama. Deon menautkan jarinya, menggenggam tanganku erat dan membawaku mendekati tempat Mama berdiri.


“Di luar perkara tentang aku adalah anak dari bos tempat Rayla bekerja, apakah aku sudah berhasil masuk kategori calon menantu, Tante?” tanya Deon dengan mimik wajah serius. Sedangkan jantungku berdebar-debar menunggu jawaban Mama.


Mama diam sambil menatapku sejenak. Kemudian mengarahkan tatapannya kembali pada Deon. “Jika masih belum berhasil, bagaimana?” tanya Mama dengan mata menyipit.


Deon tersenyum, lalu menjawab, “Terpaksa aku menggunakan nama keluargaku menghadap Tante. Aku tidak ingin kehilangan Rayla. Jadi, apapun akan kulakukan untuk mempertahankan Rayla di sisiku.”


“Bukankah kamu ingin di terima sebagai dirimu apa adanya?” tanya Mama lagi sedikit menantang.


“Demi Rayla, aku akan membuang egoku, Tante,” jawab Deon lugas.


Mama tiba-tiba tertawa. Bukan tawa mengejek, juga bukan tawa sinis, melainkan sebuah tawa lepas yang belum pernah ditunjukkan di hadapan kami.


“Pantas saja kamu pintar mengurus Restoran saat Tante tidak memiliki banyak waktu. Kamu juga dapat melakukan pembukuan dengan sistem akuntansi food and beverage yang kamu katakan pada saat itu. Ternyata kemampuan yang kamu miliki berasal dari darah leader yang diturunkan dari keluargamu,” ucap Mama.


“Kuakui itu salah satu trik agar meluluhkan hati, Tante. Dan memang aku memiliki kepintaran di atas rata-rata. Tante tidak akan malu memiliki menantu seperti aku ini,” ungkap Deon dengan penuh percaya diri.


Aku menyikut perutnya sedikit keras hingga dia meringis sakit. Deon benar-benar tidak memiliki urat malu sedikitpun.


Apakah ada calon menantu yang secara terang-terangan berkata seperti itu terhadap calon mertuanya?


Mama memutar matanya malas dan berkata, “Ajukanlah pertanyaan ini pada Tante saat kalian sudah siap melangkah ke hubungan lebih serius. Satu hal lagi, meskipun kamu segera menjadi Bos nya Rayla, bukan berarti tugasmu melakukan pembukuan di Restoran Tante terabai. Ingat, kamu sendiri yang bersedia membantu Tante agar usaha Tante makin sukses.”


Mama menggeleng-geleng kepala melihat kelakuan Deon.


“Tante adalah Bos ku yang memiliki kedudukan lebih tinggi. Jadi, apapun perintah Tante, pasti aku jalani.”


“Lebih tinggi daripada pak Surbakti?” tanyaku coba memancing.


“Tentu saja!” jawab Deon dengan cepat. “Tapi jangan sampai bos ku yang satu itu tahu. Namaku bisa dicoret dari surat warisannya,” gumam Deon pelan padaku, tapi aku yakin Mama mendengarnya.


“Tadi kamu bilang apa pun perintah Tante, kamu akan melakukannya. Benar?” tanya Mama menginterupsi.


Deon mengangguk. “Benar, Tante.”


“Kalau begitu, Tante minta kamu putus dengan Rayla sekarang, apakah kamu mau melakukannya?”


“Ma!” sergahku. Setelah Deon mengaku identitasnya pun, Mama masih juga tidak bisa menerima Deon?


Sontak Deon menggeleng kuat-kuat. “Untuk yang satu itu tidak bisa, Tante. Bagiku kehadiran Rayla ibarat udara. Kalau aku kehilangan udara, bagaimana aku dapat mengambil oksigen untuk bernapas, Tante?” tukas Deon sambil memasang wajah memelas yang membuat Maylin tertawa tergelak-gelak sedangkan Tante Fifi tertawa bergumam, berusaha menahan tawa.


“Kalau Tante memintaku segera menikahi Rayla, aku akan mengerahkan tangan kananku agar segera menyiapkan dokumen yang diperlukan untuk diurus Kantor Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil setempat,” ucap Deon lagi.


Aku mendelik protes padanya. “Tidak ada resepsi pernikahan?”


“Tentu saja ada, Sayang, tapi yang terpenting sah dulu sebelum Mama kamu berubah pikiran.”


Kali ini Tante Fifi tidak dapat menahan tawanya lagi. Beliau pun tertawa keras-keras. Sedangkan Mama menghembuskan napasnya, seolah-olah pasrah atas tingkah laku calon menantunya yang memang luar biasa. Namun, detik berikutnya sebuah senyum tulus terukir pada bibirnya.


Rasa bahagia di dalam dada pun membuncah melihat Mama tersenyum dan mendengar gelak tawa Maylin setelah sekian lama sejak tragedi yang menimpa dirinya.


Jika kehadiranku bagi Deon ibarat udara, maka kehadiran Deon bagiku ibarat oksigen. Tanpa oksigen, aku tidak dapat bertahan hidup. Seperti itulah pentingnya Deon dalam hidupku.


*****


“Kembalilah ke kamar lo, La. Keadaan gue sekarang sudah lebih membaik. Gue tidak akan mengulangi hal gila lagi,” ucap Maylin ketika melihatku sedang merapikan selimut dan bantal, bersiap-siap untuk tidur.


Setelah Maylin keluar dari Rumah Sakit, aku memutuskan untuk tidur di kamarnya. Aku tidak mempedulikan Maylin yang protes karena menganggap diriku terlalu berlebihan.


“Lo satu-satunya adik gue. Kalau lo merasa sikap gue berlebihan, maka gue tidak pantas sebagai kakak lo,” tuturku saat itu. Maylin pun akhirnya mengalah.


“Gue tetap tidur di sini sampai Dokter Kayden mengatakan lo sudah sembuh,” balasku tegas. Tidak mau mendengar tawar menawar lagi dari bibirnya.


Suasana hening menyergap. Hanya terdengar suara napas kami berdua. Aku menatap langit-langit kamar.


Pikiranku kembali melayang pada pembicaraan antara diriku dengan Dokter Kayden di telepon siang tadi.


“Efek dari beberapa sesi hipnoterapi yang kami jalani nampaknya mulai terlihat. Rasa cemas dan sakit yang dialami adik Anda perlahan-lahan mulai berkurang. Namun, pada sesi hari ini, saya menemukan kompleksitas masalah yang baru hari ini saya ketahui,” tutur Dokter Kayden lewat sambungan telepon.


“Masalah apakah itu, Dok?”


“Tumbuh dikeluarga broken home membuatnya berambisi untuk membentuk keluarga sendiri yang harmonis dan bahagia. Oleh sebab itu, adik Anda sangat terpukul menghadapi kenyataan bahwa dia tidak akan pernah bisa meraih mimpinya tersebut. Lalu keputusan ayah kalian untuk pergi dari kehidupan kalian, adik Anda menaruh dendam padanya.”


Pernyataan Dokter Kayden tersebut membuatku sangat terkejut. Maylin tidak pernah bercerita perihal mengenai dua hal itu. Bahkan, kami seolah-olah membuat peraturan tak tertulis, tidak boleh membahas apa pun tentang pria itu.


Keputusan papa meninggalkan kami dan sikap mama yang menjauhi kami, tidak hanya menoreh luka yang dalam bagi kami berdua, tetapi juga meninggalkan trauma masing-masing.


“Rayla! Lo sudah tidur?” Suara pertanyaan dari Maylin membuatku menoleh menghadapnya.


“Ada apa?” balasku balik bertanya.


“Waktu gue masih sekolah, teman-teman dan para guru sering bertanya, cita-cita gue apa? Saat itu gue langsung menjawab ingin menjadi Pramugari karena dengan begitu, gue bisa berkeliling dunia tanpa mengeluarkan biaya tiket.” Maylin terkikik geli pada akhir ucapannya.


Kemudian dia kembali melanjutkan ucapannya. “Sampai ketika gue jatuh cinta pada Darwan, gue baru sadar Pramugari hanyalah sekadar cita-cita. Impian gue yang sesungguhnya adalah menjadi seorang Ibu yang selalu ada untuk anak-anak gue. Lalu bersama pria yang gue cintai, membangun keluarga yang bahagia dan harmonis.”


“Gue ingin anak-anak gue mendapat curahan kasih sayang yang lengkap dari kedua orang tuanya. Sampai suatu hari, gue mendapati diri gue hamil, perasaan bahagia langsung membuncah begitu saja. Bahkan, gue tidak banyak berpikir, bagaimana seandainya kalau Darwan tidak mau bertanggung jawab?” lanjut Maylin setelah berhenti sejenak.


Aku diam. Membiarkan Maylin bercerita. Maylin menggerakkan kepala menoleh kepadaku. “Bagaimana dengan lo, La? Apa impian lo?” Pertanyaan Maylin sontak menghujam ulu hati.


Dulu aku pernah berpikir ingin menjadi Kepala Akuntansi. Namun, ketika Jason pergi meninggalkanku, keinginan itu langsung menghilang begitu saja.


Sekarang setelah dipikir baik-baik, ternyata itu bukanlah cita-citaku. Bukan impianku. Lalu apakah impianku itu?


Mohon maaf kepada para Authors yang ingin saling dukung, usahakan jangan boomlike ya. Mari kita saling menghargai 🤗 Jangan lupa tambahkan ke Favorite lalu tinggalkan Komentar, berikan Vote, Like dan Dukungannya ya guys. Terima kasih 🙏🤗 Loph you all 😘