
*Happy reading 📖📖guys*
DEON
Gue menepikan mobil di pinggir jalan, lalu melepas seatbelt dan menoleh Rayla.
“Sorry, gue pinjam ponsel lo sebentar. Gue hubungi sahabat lo, ya.” Kemudian gue mencari ponselnya dari dalam clutch.
Gue segera membuka applikasi Whats App. Mata gue langsung menangkap isi pesan yang muncul pada layar ponsel dari seseorang bernama Maylin.
Maylin: Mama sepertinya sangat marah! Walau ...
Apakah Maylin adalah adiknya? Rasa penasaran membuat gue ingin sekali membuka isi pesan tersebut, tapi gue sadar perbuatan itu tidak sopan.
Tepat saat itu, sebuah pesan baru masuk dari group yang bernama Three Angels.
Bella: La. gimana? Apa lo dan tante Restin baik-baik saja?
Jantung gue berdebar secara tiba-tiba. Perasaan cemas yang menyerang membuat gue tidak bisa menahan diri lagi untuk membuka pesan yang bernama Maylin.
Maylin: Tante Nia tadi datang dan mengobrol lama dengan mama.
Maylin: Lo dan Erik putus? Thank's God! Sebenarnya gue dan tante Fifi tidak menyukai Erik, tapi kami tidak berani mengatakannya kepada lo karena kami menghargai pilihan lo.
Maylin: Mama sepertinya sangat marah! Walau dia tidak menunjukkannya di hadapan tante Nia, tapi gue bisa lihat dari raut wajah mama. Nanti lo harus hati-hati saat bicara dengan mama, ya.
Jadi, karena masalah putus dengan seseorang yang bernama Erik, Rayla bertengkar dengan mamanya? Oleh sebab itu, malam ini dia kembali ke Klub?
Sebuah bunyi klakson yang terdengar nyaring, membuat gue memalingkan kepala ke arah sumber suara.
Mata gue membulat lebar. Detik berikutnya, gue langsung membuka pintu mobil dan berlari ke tempat Rayla yang sedang diam berdiri di tengah jalan.
“Rayla!!!” teriakku.
Gue merengkuh tubuh Rayla masuk dalam pelukan dan menutup mata. Untungnya mobil itu berhasil mengerem hingga tidak menabrak tubuh kami.
“Dasar orang gila! Kalau mau cari mati, jangan di sini!!!” umpat pengemudi itu, kemudian membelokkan mobilnya dan meninggalkan tempat.
Gue menarik tangan Rayla kasar. Membawanya ke pinggir jalan.
“Lo jangan gila, La! Seberat apa pun masalah yang sedang lo hadapi saat ini, bukan dengan cara seperti itu mengatasinya!” bentak gue di hadapannya.
Ketakutan akan kehilangan dirinya membuat gue tidak dapat mengendalikan emosi.
Rayla memandang gue dengan tatapan kosong. Tidak berapa lama kemudian, suaranya yang serak diikuti isakan tangisnya akhirnya terdengar. “Tidak ada yang membutuhkan gue … lalu untuk apa gue hidup? Hati yang telah disakiti … selamanya tidak bisa disembuhkan … gue sudah tidak sanggup … menahannya lagi.”
Gue memeluk tubuhnya erat, lalu dengan pelan berkata, “Kalau mereka tidak membutuhkan lo, masih ada gue di sini, La. Gue butuh lo.”
Rayla tidak menjawab. Suara tangisannya semakin kencang.
Melihat dirinya yang sedang hancur, sebuah kesadaran tiba-tiba muncul. Tentang perasaan yang selama ini tidak gue sadari. Gue telah jatuh cinta kepada Rayla Pramanta.
*****
Gue menekan sebuah bel. Tidak berapa lama, pintu di hadapan gue terbuka. Kak Sarah memandang dengan tatapan terkejut.
Ketika kami sedang berpelukan di pinggir jalan, tiba-tiba hujan turun dengan deras sehingga tubuh kami berdua pun basah kuyup.
“Malam ini aku boleh numpang menginap di sini, Kak Sarah?” tanyaku.
Kak Sarah melarikan matanya ke arah Rayla yang sedang berada dalam gendongan gue.
Dari raut wajah Kak Sarah tersirat pertanyaan. Namun, Kak Sarah membuka pintu lebih lebar tanpa berkata apa-apa.
Gue segera berjalan masuk, kemudian membuka salah satu pintu kamar dan membaringkan tubuh Rayla di atas kasur dengan pelan.
“Tolong gantikan baju Rayla, Kak. Maaf, merepotkan Kakak.”
“Tidak usah sungkan, Deon. Aku ini Kakakmu,” jawab Kak Sarah dengan lembut.
Kak Sarah berjalan keluar dari kamar tanpa menutup pintu. Beberapa saat kemudian, dia kembali dengan membawa handuk dan pakaian ganti.
“Kamu pergilah mandi dan ganti bajumu. Pakai dulu baju Denis.”
Gue mengangguk patuh, lalu berjalan keluar ke kamar mandi.
Setelah selesai mandi, Kak Sarah memanggil gue dari pantri dapur. “Kakak buatkan teh hangat untukmu agar kamu tidak masuk angin. Cepat diminum selagi hangat.”
Sekali lagi gue menurutinya tanpa mengucapkan sepatah kata.
Melihat keadaan Rayla yang sangat rapuh, bayangan saat dia ingin bunuh diri dengan membiarkan dirinya ditabrak mobil, membuat pikiran gue kacau. Gue takut kehilangan dirinya.
“Rayla. Nama yang bagus. Selain pintar, wajahnya juga terlihat cantik. Akhirnya, kamu jatuh cinta kepada wanita yang baik-baik, Deon. Om Gunawan ternyata juga tidak salah menilai orang saat beliau ingin merekrut dia menjadi Kepala Divisi Akuntan.”
Ucapan Kak Sarah membuat gue tersedak. Kak Sarah tersenyum melihat respons gue.
“Om Gunawan yang menceritakan tentang kamu sedang akrab dengan salah satu Staff Accounting yang pernah beliau ingin merekrutnya, tapi ditolak secara halus,” ucap Kak Sarah menjelaskan.
“Papa tidak pernah ikut campur urusan asmara kita semua, anak-anaknya, tapi keterbalikan dari mama. Beliau malah ingin sekali bertemu dengan Rayla. Ingin mengucapkan terima kasih kepada Rayla karena sudah membuat kamu insaf.”
Gue memasang raut wajah pura-pura sebal. Namun, tidak lama gue tersenyum. “Hari ini aku baru menyadarinya. Entah sejak kapan aku sudah jatuh cinta kepadanya. Mungkin pada saat pertama kali bertemu dengannya.”
“Kakak senang mendengarnya. Sudah saatnya kamu mengubah kebiasaan burukmu itu. Sebentar lagi kamu akan menginjak umur tiga puluh tahun. Umur segitu sudah matang untuk menikah,” ucap Kak Sarah.
“Doakan semoga lancar, ya, Kak. Rayla tidak seperti wanita umum lainnya. Dia menjaga jarak dengan siapa pun. Seolah-olah tidak ingin orang lain masuk ke dalamnya. Dia memang terlihat tegar di luar, tapi tidak di dalam hatinya.”
“Tadi dia berniat bunuh diri. Berdiri di tengah jalan, membiarkan dirinya ditabrak mobil. Untung saja mobil tersebut sempat melakukan pengereman. Aku tidak bisa membayangkan kalau mobil itu benar-benar menabrak tubuhnya,” tutur gue sambil mengingat peristiwa tadi.
“Itu ciri-ciri depresi. Kalau dia tidak berhasil membuatnya keluar dari rasa depresi itu, akibatnya akan fatal.”
“Depresi?” sontak gue terkejut mendengar perkataan Kak Sarah barusan.
Kak Sarah adalah seorang Dokter Psikiater. Sejak awal dia memang bercita-cita ingin menjadi Dokter bagian Psikolog.
Orang tua kami tidak melarang. Mereka menghargai setiap keputusan yang kami ambil. Tidak seperti orang tua umum lainnya yang menuntut anak-anak untuk menuruti keinginan mereka.
“Isolasi sosial. Seperti katamu tadi, dia menjaga jarak dari hubungan dengan siapa pun. Ini salah satu komplikasi depresi. Namun, jika beberapa belakangan ini dia dapat akrab denganmu, berarti kondisinya tidak terlalu parah. Masih bisa disembuhkan dengan cara memberikannya suntikan semangat. Mereka sangat membutuhkan ini. Apalagi semangat dari orang-orang yang ada disekitarnya.” ucap Kak Sarah menjelaskan.
Gue termenung. Benarkah Rayla mengalami depresi? Lantas sekarang harus bagaimana?
Sedangkan kondisi dia sekarang sedang bertengkar dengan mamanya. Apakah gue harus memberitahu keluarganya perihal tentang kejadian tadi?
“Deon, kalau kamu benar-benar mencintainya, kamu bisa menunjukkan kepadanya. Buat dirinya merasakan kalau kehadirannya masih dibutuhkan oleh seseorang. Itu obat yang paling ampuh,” ucap Kak Sarah lagi.
Kalimat terakhir yang diucapkan Rayla tadi, kembali terngiang di benak gue.
Dengan penuh keyakinan, gue berkata, “Aku akan mencoba ….” Gue menggeleng-geleng sebelum kembali melanjutkan, “Tidak. Aku pasti akan mengobati lukanya, Kak. Aku tidak mau Rayla semakin terpuruk atas luka-luka yang diterimanya.”
*****
“Terima kasih atas semuanya, Deon. Lo teman yang baik.”
Tiba-tiba gue tersentak bangun. Gue mendengar suara Rayla di dalam mimpi, tapi rasanya seperti nyata.
Gue mengedarkan pandangan ke sekeliling dan teringat sekarang sedang berada di Apartemen Kak Sarah.
Gue memilih tidur di sofa ruang tamu karena tidak berani tidur seranjang dengan Rayla. Hanya melihat wajahnya yang sedang tertidur lelap, membuat hasrat gue muncul.
Pantulan cahaya dari arah pantri dapur membuat dahi gue mengernyit. Seingat gue sebelum tidur gue sudah mematikan semua lampu di ruangan.
Gue bangun dari sofa dan berjalan perlahan menuju dapur. Jantung gue seketika berhenti berdetak.
Gue menemukan Rayla tergeletak di lantai dengan kondisi pergelangan tangan berlumuran darah. Rayla mencoba bunuh diri menyayat nadi tangan kirinya dengan pisau. Damn It!
Serangan panik pun menghampiri hingga gue dicekam perasaan takut yang luar biasa.
Gue bergegas mendekati tubuhnya dan mengecek denyut nadinya masih bekerja. Kemudian gue berlari ke kamar Kak Sarah dan menggedor pintu dengan keras. “Kak Sarah! Bangun, Kak!”
Tidak berapa lama kemudian, pintu pun terbuka. “Ada apa, Deon? Kenapa berteriak di tengah malam begini?” tanya Kak Sarah.
“Rayla menyayat pergelangan tangannya dengan pisau dapur!” gue cepat-cepat menjawab.
Suara derap langkah kami yang terburu-buru, membuat suasana tengah malam itu terasa mencekam.
Kak Sarah menggenggam pergelangan tangan Rayla. Dia berteriak, menyuruh gue mengambil kain dan gue segera mengikuti instruksinya.
“Denyut nadinya lemah. Kita harus segera membawanya ke Rumah Sakit!” tutur Kak Sarah.
“Ambil kunci mobil, Kak!” Gue segera menggendong tubuh Rayla, bergegas berjalan ke tempat parkiran.
Gue mengemudikan mobil dengan kecepatan penuh. Seluruh tubuh gue gemetar ketakutan.
Gue mengutuk diri sendiri berkali-kali. Seharusnya gue bertahan tidur satu ranjang bersama Rayla. Dengan begitu gue akan tahu ketika dia bangun.
Otak lo memang tidak berguna, Deonartus! Bisanya cuma mikir buang hajat dari adik kecil lo!
Gue memarkir mobil dengan sembarang ketika telah sampai di sebuah Rumah Sakit terdekat. Gue tidak peduli apakah menghalangi jalan mobil lain atau tidak.
Dalam otak gue sekarang hanya fokus pada satu hal, Rayla harus segera diselamatkan.
Kak Sarah sedang berbicara dengan seorang Dokter. Gue tidak menggubris percakapan mereka. Pandangan mata gue hanya terfokus pada sosok Rayla yang dibawa ke ruang darurat.
Gue duduk pada salah satu kursi kosong dengan gelisah. Gue berdoa dalam hati dengan mata terpejam. Semoga Rayla berhasil diselamatkan.
Kak Sarah menepuk bahu gue pelan.
“Aku pikir saat dia mengucapkan terima kasih kepadaku itu hanya sebuah mimpi. Begitu melihat tubuhnya yang tergeletak di lantai dengan pergelangan tangan berlumuran darah, ternyata ucapannya itu bukan mimpi.” Rahang gue mengeras ketika mengingatnya.
Sebulir air mata menetes keluar. Gue mengusap wajah dengan kasar. “Aku baru saja menemukan wanita yang telah mengambil hatiku. Tuhan tidak boleh merebutnya begitu saja! Ya, kan, Kak?”
“Semua akan baik-baik saja, Deon. Percayalah pada-Nya,” ucap Kak Sarah lembut.
Hai Readers, semoga cerita ini kalian suka. Tolong kasih ⭐️⭐️⭐️⭐️⭐️ 5stars sebagai dukungan semangat buat aku ya. Jangan lupa tambahkan ke Favorite lalu tinggalkan Komentar, Vote, Like dan Hadiahnya ya guys. Terima kasih 🙏