Silence

Silence
Bab 74



*Happy reading 📖📖guys*


Aku memutuskan bersama Maylin pergi meninggalkan Restoran dan meminta tolong pada Deon agar menemani mama yang sedang terpukul.


Aku merasa kecewa atas keputusan mama yang menerima uluran tangan pria itu, tetapi aku kembali berpikir, jika seandainya aku berada di posisi mama, mungkin aku juga akan melakukan hal yang sama, mengusahakan pendidikan anak agar tidak putus di tengah jalan.


Kini, aku dan Maylin sedang berada di sebuah taman. Dimana dulu kami pernah menghabiskan waktu bersama papa setiap Minggu sore.


Taman ini tidak ada banyak yang berubah. Masih diisi ribuan pot tanaman hias walau mungkin sering di ganti yang baru karena bunga memiliki batas masa waktu saat mekar. Taman ini juga memberikan suasana yang sangat sejuk karena di kelilingi pohon-pohon rindang.


Sebagai manusia, terkadang kita berharap tidak ada yang berubah dalam hidup kita. Apalagi jika selama ini kita hidup dalam kondisi nyaman, memiliki keluarga yang bahagia, dan sebagainya. Rasanya, kamu tidak ingin semua itu berlalu darimu. Kamu ingin berada dalam situasi tersebut selama kamu bisa.


Namun, tak ada yang abadi di dunia ini. Perubahan akan selalu terjadi. Tidak peduli apakah kamu siap menghadapi dan menerimanya atau tidak.


“Sejak kapan lo tahu rahasia itu, La?” Maylin menyuarakan pertanyaannya setelah kami berdua hanya duduk dalam diam beberapa lama di bawah pohon yang rindang.


“Masih ingat malam ketika gue dan mama bertengkar karena mama menganggap gue selingkuh dengan Deon saat Erik sedang berada di Aussie?” ucapku berbalik tanya. Maylin menganggukkan kepala.


“Keesokan harinya, tante Fifi menceritakan rahasia besar tentang mama dan pria itu juga alasan mengapa mereka sering bertengkar. Namun, untuk cerita lebih detail tentang kisah mereka berdua, baru hari ini gue mendengarnya langsung dari mama.”


“Gue kecewa pada mereka, La. Gue marah pada mereka. Mengapa kesalahan yang mereka perbuat malah kita yang terkena imbasnya?” gumam Maylin pelan.


“Mungkin Tuhan ingin kita belajar dari kegagalan orang tua kita, Lin. Menjadikan diri kita lebih menghargai apa yang kita miliki.”


Maylin tertawa sinis sebelum berkata, “Tetapi prosesnya terlalu sakit, La.”


“Tidak ada yang praktis dalam hidup ini, Maylin. Bahkan, untuk bernapas pun membutuhkan proses.”


Sejenak keheningan kembali menyergap. Pandanganku lurus ke depan. Terlihat seorang gadis kecil duduk di pundak ayahnya sambil tertawa lepas. Dadaku berdenyut nyeri melihat pemandangan tersebut.


Tidak lama keheningan terpecah oleh suara isak tangis Maylin. Aku menggerakkan kepala, menoleh ke arahnya lalu mengikuti arah tatapannya yang ternyata juga tertuju pada gadis kecil tadi.


“Bagaimana perasaan lo … saat lo bertemu bajingan itu? Apakah dia … mengenali lo?” tanya Maylin tersendat-sendat. Dia mengigit bibir bawahnya sambil sesenggukan.


“Percayalah, Maylin. Akan lebih mudah menjalani hidup lo tanpa perlu bertemu dengan pria itu lagi,” jawabku dengan getir.


“Dia tidak mengenali lo? Sungguh keterlaluan! Mama malah membantunya bicara, mengatakan kalau dia sayang pada kita. Ternyata jauh lebih gampang memaafkan seorang musuh daripada memaafkan keluarga.”


Maylin menarik dan menghela napas sebelum melanjutkan ucapannya. “Gue akan tinggal bersama mami Frida untuk sementara waktu sampai emosi gue reda. Dan lo, kembalilah tinggal bersama Deon. Lo tidak perlu mengkhawatirkan gue lagi. Sekarang gue punya tujuan kuat untuk terus melangkah ke depan.”


“Maksud lo?”


“Gue bisa baik buat orang yang baik dan bisa lebih jahat buat orang yang lebih jahat. Setiap perkara ada gantinya. Setiap perlakukan ada ganjarannya. Setiap kejadian ada hikmahnya,” tutur Maylin. Sorot matanya terlihat menyala saat mengatakannya.


“Maylin! Jangan bersikap bodoh!” sontak aku langsung memperingatinya agar tidak melakukan sesuatu yang akan memperumit keadaan. “Lo tidak kenal siapa itu Osborn!”


Maylin mencebik. “Diluar tentang kehebatannya dalam berbisnis, dia hanyalah seorang manusia bajingan yang menjalani hidup bahagia di atas penderitaan orang.”


“Lo tidak perlu membalas. Biarkan Tuhan yang membalasnya atau orang lain yang melakukannya. Bukan kita,” ucapku menasihatinya. Berharap Maylin berpikir ulang sebelum bertindak. Aku memang marah atas perilaku pria itu, tetapi tidak terlintas sedikit pun di pikiranku untuk membalas dendam.


“Ketika lo kecewa, meski cukup dewasa untuk memberi maaf padanya, lo juga harus cukup pintar untuk tidak kembali mempercayainya. Terkadang cara menyadarkan orang seperti mereka adalah dengan membalas. Yang melakukannya orang lain itu adalah gue,” balas Maylin.


“Balas dendam tidak akan menyelesaikan masalah, malah memperpanjang masalah, Lin. Balas dendam memang dapat memuaskan hati lo, tapi itu tidak mengubah keadaan menjadi lebih baik. Please, Lin. Jangan biarkan emosi yang memuncak membuat lo hilang akal.”


“Gue bukan pendendam, La! Tapi gue ingat apa yang mereka perbuat! Gue cuma mau menyadarkan mereka!”


“Tapi, Lin-“


Maylin memotong ucapanku yang belum selesai. “Lo tidak usah ikut campur urusan ini, La. Fokus saja urusan lo dengan kak Deon. Dia sedang menunggu lo bersedia menikah dengannya. Lo harus secepatnya mengatasi trauma lo itu sebelum lo menyesalinya. Penyesalan kerap kali datang di akhir, La.” Nada suaranya tegas, tidak mau di bantah.


Aku terdiam mendengar kalimatnya. Maylin membentuk senyuman lembut di bibirnya. “Gue harap lo mendapatkan kebahagiaan, La, lalu tunjukan kebahagiaan lo itu di depan orang-orang yang telah menyakiti kita. Itu adalah cara lo membalas dendam yang paling baik untuk mereka.”


*****


Hari berganti Hari. Minggu berganti Minggu. Sejak pertengkaran terakhir dengan mama yang menguras batin, Maylin memilih tinggal bersama tante Frida hingga sampai saat ini belum ada tanda-tanda darinya akan pulang ke rumah.


Aku mengerti perasaan Maylin yang dikecewakan oleh orang yang kita sayangi. Sama hal nya seperti aku yang sempat kecewa kepada mama ketika aku mengetahui Jason pergi meninggalkan diriku karena permintaan mama. Sehingga aku juga memutuskan pergi meninggalkan rumah. Luka yang menganga dalam hati semakin terbuka lebar. Air mata pun sudah tidak mampu membasuh luka.


“Janji pertemuan dengan Xavier Jadison jam berapa?” tanya Deon sambil berjalan menuju meja kerjanya setelah berakhirnya meeting dengan rekan kerja dari Jepang.


Meskipun aku berstatus sebagai kekasihnya, aku tetap menggunakan panggilan dengan formal saat kami berada di kantor. Bagaimanapun aku harus bersikap profesional sebagai seorang Asisten CEO.


“Hm, dua setengah jam lagi, ya? Pertemuannya di mana?” tanyanya lagi.


“Di kantor mereka, Pak!” jawabku.


Aku melirik Deon yang sedang meneliti berkas di mejanya. Aku sudah wanti-wanti dia akan membahas lagi tentang Erik.


Beberapa hari yang lalu, aku dikejutkan saat menerima permohonan janji temu untuk Xavier Jadison dari Elia, Sekretaris.


Deon bilang tidak mau aku kelelahan mengatur semua pertemuan dengan klien, acara kantor, dan lainnya. Sedangkan aku masih harus mendampinginya setiap saat. Oleh sebab itu, dia mempekerjakan Sekretaris untuk meringankan pekerjaanku.


Setelah aku menyampaikan permohonan Xavier Jadison, Deon baru menceritakan kepadaku saat acara ulang tahun kantor, mereka berdua sempat berbincang perihal tentang diriku.


Sepertinya Erik sedang berusaha mendekatiku. Tentu saja itu hanyalah pemikiran Deon. Aku yakin, Erik sudah melupakanku.


“Nanti biar aku sendiri saja yang ke sana. Kamu siapkan rangkuman isi kerjasama yang sudah disepakati.”


“Bukankah mendampingi Bapak setiap pertemuan maupun meeting dengan klien adalah tugas saya?” Perkataan Deon tadi membuatku mengernyit keheranan.


“Rapat tadi memakan waktu lama. Kamu pasti lelah. Kamu istirahat saja.”


“Saya bekerja di sini tidak mau makan gaji buta,” tukasku. Deon menengadahkan kepalanya, lalu menatapku.


“Kamu harus pintar memisahkan urusan pribadi dengan perusahaan,” ucapku lembut.


“Aku tidak mau pria tua itu menganggap ini adalah kesempatan untuk kembali padamu,” tukasnya sambil mengerucutkan bibir.


Aku tersenyum geli melihatnya. “Aku duluan yang inisiatif mengakhiri hubungan kami. Jika dia masih tidak dapat menerima keputusanku, itu urusan dia. Yang jelas, bagiku dia sudah menjadi masa lalu. Sekarang yang aku cintai adalah kamu.”


Kemudian aku memasang senyum menggoda. “Lagi pula, aku tidak pernah serius menyukainya, Yang.”


“Kemarilah!” panggilnya.


Aku langsung berjalan menghampirinya, lalu berdiri di sebelahnya.


Dia memutar kursinya menghadapku. “Naik ke pangkuanku.”


Aku menuruti perintahnya, duduk di atas pangkuannya lalu melingkarkan kedua tanganku di lehernya. Aroma parfum dari tubuhnya menguar hingga ke hidungku. “Kamu mau apa?” tanyaku waspada.


“Show me, how much you love me,” jawabnya. Perlahan Deon mulai menciumi telingaku lalu turun ke leherku dan menggigit kecil di sana. Membuatku menge rang.


“Yang, kamu gila. Ini di kantor,” desisku pelan. Meskipun bibirku menolak, tetapi sesungguhnya aku menikmati apa yang dilakukannya di leherku.


“Kamu tidak kangen sama aku?” tanyanya dengan suara rendah penuh ha srat.


Bibirnya terus mencecap bibirku lembut. Tangannya menyelinap masuk Blazer yang kukenakan kemudian mulai bermain dengan dadaku.


“Satu jam lagi lunch, Deon,” ucapku serak. Deon berhasil membuatku panas dingin. Dia selalu bisa membuaiku hanya dengan sentuhan-sentuhannya.


“Waktunya cukup untuk bakar kalori sebelum isi perut, Sayang,” jawabnya.


Cum buannya berubah menjadi lebih agresif. Lidahnya menjangkau tiap sudut rongga mulutku. Blazer yang kupakai sudah teronggok di lantai. Kancing kemejaku pun berhasil terlepas tanpa kutahu entah kapan.


“Deon, pintunya belum dikunci,” ucapku mengingatkan.


Sangat tidak lucu kalau tiba-tiba Elia masuk lalu terpana melihat adegan 21+ secara live di depan matanya. Aku juga tidak rela, mengizinkan wanita manapun melihat tubuh kekar Deon. Hanya aku yang boleh melihat dan menikmatinya.


Deon tiba-tiba menghentikan cum buannya. Aku sudah ingin protes, tapi tidak jadi karena Deon mengambil sebuah remote, lalu menekan salah satu tombolnya. Bip! Suara pintu terkunci pun terdengar.


Sambil mengeluarkan seringai andalannya, Deon berkata, “Aku meminta papa memasang kunci otomatis yang dikendalikan dengan menggunakan remote control untuk mengunci atau membuka pintu.”


“Hah?” Aku memasang wajah cengo.


“Dengan begini mempermudah kita melakukan aktivitas yang menyenangkan tanpa perlu capek-capek jalan mondar mandir kesana kemari hanya untuk mengunci pintu,” imbuh Deon disertai seringai jahil.


Jangan lupa tambahkan ke Favorite lalu tinggalkan Komentar, berikan Vote, Like dan Dukungannya ya guys. Terima kasih 🙏🤗 Loph you all 😘