Silence

Silence
Bab 19



*Happy reading 📖📖 ya guys*


Prang! Sebuah vas bunga jatuh dan pecah berkeping-keping bersamaan dengan teriakan Tante Fifi dan Maylin.


Spontan mataku terpejam dan menggunakan kedua tangan untuk melindungi bagian kepala. Jantungku berdebar sangat cepat. Seluruh tubuhku gemetar.


“Apakah kamu sudah gila, Restin? Bagaimana kalau Rayla terluka akibat perbuatanmu, hah? Demi Tuhan, Rayla adalah anakmu!” Sayup-sayup terdengar suara keras dari Tante Fifi.


Sebuah tangan menyentuh bahuku pelan diikuti kalimat pertanyaan, “Lo baik-baik saja, La? Apakah ada yang terluka?”


Kubuka mata yang sempat terpejam, lalu mendongak. Maylin menatapku dengan tatapan khawatir sambil menitiskan air mata.


Begitupun juga dengan diriku. Seperti keran air yang rusak, mengalir deras tanpa henti.


“Aku memupuk harapan kepadanya menikah dengan Erik, tapi apa yang dia lakukan sekarang? Aku merasa malu pada saat dia Nia memberitahuku,” ucap mama emosi.


“Kenapa kamu tidak bertanya terlebih dahulu kepada Rayla apa alasannya memutuskan hubungan dengan Erik?” tanya Tante Fifi.


“Tidak perlu! Anak ini dari dulu sesuka hati mengambil keputusan sendiri juga pembangkang. Sikapnya seperti inilah yang membuatku selalu emosi.”


“Erik berselingkuh dan mamanya menghinaku karena tidak memiliki kriteria idaman keluarga mereka!” teriakku.


Mendengar Mama lebih membela orang lain daripada anaknya sendiri, membuatku tersulut emosi.


Aku berharap suatu hari Mama dapat melihatku sebagai anaknya, darah dagingnya sendiri.


Aku mendambakan kasih sayang darinya yang pernah kurasakan ketika aku masih kecil.


Nyatanya, terlalu berharap hanya berujung pada kekecewaan.


Aku menatap Mama dengan berurai air mata. Perasaan kecewa, putus asa dan sakit hati kutunjukkan semua padanya. Aku sudah lelah berpura-pura tegar.


“Mamanya Erik berkata, aku tidak pantas bersanding dengan Erik. Aku bukan berasal dari kalangan seperti mereka. Aku tidak memiliki keterampilan yang dapat dibanggakan atau dipamerkan kepada orang lain saat mereka akan mengadakan acara penting. Mereka hidup hanya untuk saling membanggakan apa yang dimiliki,” ucapku sambil tertawa sinis.


“Sedangkan Erik? Aku memergokinya dua kali ketika di sana sudah tengah malam, tapi dia masih belum pulang. Pertama kali, pada saat dia berada di Klub dengan dalih temannya mengadakan party. Kedua kali yaitu semalam, seorang wanita menggunakan ponselnya menghubungiku. Menurut Mama, apakah Erik benar sedang menghadiri pesta bersama temannya? Lalu, apa yang dilakukan seorang pria dan wanita pada saat tengah malam?”


Mama terdiam. Tidak menjawab apa-apa. Aku yakin, Mama mengerti seperti apa rasanya dikhianati.


“Apakah Erik masih pantas dipertahankan, Ma?” tanyaku penuh harap. Berharap untuk kali ini saja mama memikirkan demi kebaikan diriku.


“I- itu … Itu hal yang wajar, Rayla,” kilah Mama.


Aku membuang napas lelah. Tidak ada rasa sakit yang lebih besar di dunia ini daripada mengharapkan kasih sayang seseorang yang sudah menutup pintu hatinya untukmu.


“Dia pria normal. Wajar kalau dia membutuhkan tempat untuk melepaskan libidonya. Mungkin saja wanita itu hanyalah seorang pelacur yang dia sewa?”


“Ma! Kenapa Mama berkata seperti itu? Bagaimana kalau papa yang melakukannya?“ tukas Maylin tidak percaya atas perkataan Mama.


“Semua pria memang seperti itu, Maylin. Mereka akan mencari tempat untuk melampiaskan kebutuhan rohaninya ketika kita tidak dapat memberinya kepuasaan. Kalau kita dikalahkan oleh masalah ini, kita tidak akan bisa mencapai apa yang kita mau!”


“Uang? Harta? Kekuasaan? Semua ini Mama yang butuh, bukan kami!” ucapku menyentak.


“Hidup dengan bermodal cinta, apakah bisa mengenyangkan perut kalian?” tanya Mama sinis.


Aku tertawa dengan kencang. Mama menatapku seolah-olah aku sudah gila. “Sekarang aku mengerti mengapa Mama tidak bisa mencintai kami seperti Ibu umum lainnya.”


Telingaku menangkap suara Maylin yang sedang sesenggukan. Aku dapat merasakan kesedihan yang dirasakannya.


Bahkan, berlipat-lipat sakitnya karena aku mengetahui rahasia besar antara papa dan Mama. Maylin memang lebih baik tidak perlu tahu akan hal itu.


“Kami tidak pernah clubbing, tidak pernah minum alkohol, tidak menjalani kehidupan pergaulan bebas dan sekks bebas seperti anak umum lainnya. Kami berusaha menjadi anak terbaik untuk Mama, tapi sepertinya bagi Mama masih belum terasa cukup. Aku sudah capek, Ma.”


Aku menghela napas lelah sebelum kembali berkata, “Aku berharap Mama mau membuka mata Mama dan melihat kami. Keputusan Papa yang meninggalkan rumah ini, yang terluka bukan hanya Mama seorang, aku dan Maylin juga ikut terluka.”


Beberapa bulir air mata, terus mengalir dari kedua sudut mataku. “Aku berharap suatu hari Mama bisa berkata kepadaku, ‘Tidak apa-apa, Rayla. Kamu tidak bersalah. Ada mama di sini mendukungmu’ atau ucapan seperti ‘Kamu akan baik-baik saja’. Namun, sampai didetik ini Mama tidak pernah mengucapkannya walau hanya sekali pun. Mama tidak pernah mendukung keputusan kami. Mama hanya menuntut dan terus menyalahkan kami. Kalau begitu, apa pentingnya kehadiran kami bagi Mama?”


Tante Fifi terlihat membuka mulut ingin mengucapkan sesuatu, tapi aku terlebih dahulu bersuara, “Aku memutuskan pindah tinggal di luar. Sebenarnya sudah lama aku berpikiran mengekost di daerah dekat kantor.”


“Rayla …,” Tante Fifi menggantungkan kalimatnya. Beliau menatapku dengan khawatir.


“Lagi pula, aku sering lembur. Perjalanan dari rumah ke kantor lumayan jauh jaraknya. Jadi, aku berpikir mengekost di daerah dekat kantor lebih praktis,” kataku sambil berusaha tersenyum.


“Lo tega tinggalin gue di sini, La?” tanya Maylin sambil terisak.


“Tapi-”


“Tolong jaga Maylin, Tante. Maaf merepotkan,” tuturku memotong ucapan Maylin.


Maylin memelukku erat. Kedua mata dan hidungnya memerah akibat tangis yang tidak kunjung berhenti.


“Gue akan merindukan masa-masa ketika kita mengobrol di malam hari. Jangan keseringan makan mie instan,” ucapnya serak.


Aku mengusap kepalanya dengan lembut, sementara Tante Fifi melangkah menghampiriku dengan hati-hati karena pecahan serpihan vas bunga yang berserakan di lantai.


“Kamu sudah menemukan tempat kost?” tanya Tante Fifi penuh perhatian.


“Sudah, Tante. Minggu lalu aku sudah bayar uang muka. Pemilik kost sedang menunggu kabar dariku kapan mulai tinggal?” jawabku berbohong.


Aku belum menemukan tempat kost untuk tinggal. Aku hanya beralasan karena aku sudah tidak dapat tinggal di rumah ini lebih lama lagi.


Pertengkaran yang sering terjadi antara diriku dengan Mama, membuat batinku terasa lelah. Aku butuh ketenangan dan satu-satunya cara yaitu pindah dari rumah ini.


Tante Fifi menghela napas pasrah. “Baiklah kalau itu keputusanmu. Ingat! Jaga kesehatan baik-baik.”


“Jason ….” Tiba-tiba terdengar suara Mama menyebut nama itu. Aku menoleh menatap Mama dengan alis berkerut.


“Apakah hari ini kamu bertemu dengan Jason?”


“Kenapa Mama tiba-tiba mempertanyakan hal seperti itu? Kami sudah lama tidak saling menghubungi,” balasku berbalik tanya.


“Jangan bohong! Beberapa waktu yang lalu, bukankah kalian sempat bertemu? Karena itu Jason mencari Mama. Minta izin kepada Mama untuk kembali dalam kehidupanmu.”


Tiba-tiba leherku terasa tercekik hingga di tenggorokan. Kilasan tentang pesan terakhir dari Jason kembali terbayang.


‘Gue sadar, Gue bukanlah pilihan yang terbaik’.


Juga kalimat yang diucapkannya pada saat kami berada di Coffee Shop dengan suara yang lemah dan tatapan menyiratkan kesedihan.


“Ayla … kamu tidak mengerti.”


Sebuah kesadaran muncul. Membuat jantungku berdebar cepat.


“Apakah tiga tahun yang lalu, Mama pernah menemui Jason dan membicarakan sesuatu perihal mengenai diriku?” tanyaku dengan suara bergetar.


Mama mendengus keras lalu menjawab, “Ya, Benar. Mama memintanya untuk pergi dari kehidupanmu karena dia tidak memiliki masa depan yang bagus untukmu. Namun, sepertinya kalian bertemu kembali. Dia juga tahu tentang Erik.”


Aku terkesiap mendengar pernyataan dari Mama. Aku tidak percaya bahwa Jason meninggalkanku ternyata karena campur tangan Mama.


“Jason menemui Mama. Meminta Mama agar mempertimbangkan kebahagiaanmu. Dia mengatakan kalau Erik bukan pilihan yang terbaik untukmu. Dia juga minta izin kepada Mama agar diperbolehkan kembali dalam kehidupanmu. Yang benar saja? Dia hanya seorang Sales Marketing sedangkan Erik adalah anak dari pengusaha. Tahu apa dia tentang manakah yang terbaik untukmu?” cibir Mama mencemooh.


“Apakah Mama tidak pernah memikirkan perasaanku? Bahkan, Jason lebih mengerti diriku daripada Mama! Aku tidak akan bahagia bersama Erik, Ma!”


Dengan tegas Mama berkata, “Mama tidak akan pernah menyetujui hubunganmu dengan Jason, Rayla. Jika kamu memilih bersama Jason, Mama tidak akan hadir dipernikahan kalian! Mama tidak sudi dia menjadi menantu Mama!”


Aku menatap Mama dengan sendu. “Aku pergi, Ma ….”


Aku memutarbalik tubuh dan bersiap melangkah, tapi terhenti ketika mendengar ancaman dari Mama. “Jika kamu kembali kepada Jason, Mama anggap tidak pernah memiliki anak seperti kamu!”


Aku memutar kepala menghadap Mama. Bola matanya melebar dan menatap tajam padaku.


Mataku bergerak ke bawah, melihat kepingan-kepingan vas bunga yang berserakan di lantai. “Hati manusia ibarat sebuah kaca. Jika pecah, tidak dapat disatukan kembali. Sekalipun berhasil disatukan, retakkannya tetap akan terlihat, Ma.”


Aku pun melewati pintu dan bergegas melangkah meninggalkan rumah tanpa menoleh lagi.


Suara teriakan Mama masih terdengar hingga di luar, tapi aku tidak mengindahkan. Kedua kakiku terus melangkah dengan cepat.


“Mama tidak akan pernah menyetujui hubungan kamu dengan Jason!! Sampai kapan pun kalian tidak akan pernah mendapatkan restu dari Mama!!”


Jalanan di hadapanku tidak terlihat dengan jelas karena kedua mataku berderai dengan air mata. Mungkin aku memang ditakdirkan tidak dapat hidup berbahagia. Rasa sakit mungkin adalah hal yang akan selalu kukenal.


Crying is a way your eyes speak when your mouth can’t explain how broken your heart is.


Jangan lupa tambahkan ke Favorite lalu tinggalkan Komentar, berikan Vote, Like dan Dukungannya ya guys. Terima kasih 🙏🤗 Loph you all 😘