
*Happy reading 📖📖 guys*
Seorang wanita yang sedang berdiri membelakangi Agatha, membuatku terkejut. “Bella …,” desisku pelan.
“Semalam dia menginap di rumah gue karena Peter sedang keluar kota,” ucap Agatha memberitahu.
Bella berjalan perlahan mendekatiku. Dia tersenyum sambil mata memandangku. “Sudah lama kita tidak bertemu lagi. Gue kangen banget sama lo, La,” ucap Bella sambil menatapku sayu.
Aku langsung memeluknya erat dan air mata mengalir keluar. “Maafin gue, Bel. Gue menyesal tidak bisa lebih peka melihat tatapan mata lo terhadap Jason.”
Bella membalas pelukanku sama eratnya. “Gue yang seharusnya minta maaf atas sikap gue waktu itu. Pada saat itu, gue marah pada diri sendiri yang masih memiliki perasaan untuk Jason. Gue menyalahkan takdir, kenapa harus terjebak dalam hubungan yang rumit bersama orang yang gue sayangi? Gue mencintai Jason, tapi di satu sisi ada hati lain yang harus gue jaga, yaitu lo, La.”
Bahuku terasa lembab, basah oleh air mata Bella. Aku mengurai pelukan kami dan menyusut air matanya. “Kita tidak pernah tahu, kapan cinta itu datang. Kita tidak pernah bisa mengatur hati kita jatuh kepada siapa. Terkadang, cupid cinta juga bisa salah menusuk hati dengan busur dan anak panahnya. Kita hanyalah korban.”
Bella tertawa disela-sela isak tangisnya. “Lo yang sekarang bisa lebih bijak. Katakan, sudah sejauh mana Deon mengajari lo yang tidak-tidak? Ke mana perginya Rayla yang dulu?” tanyanya dengan nada mengejek.
Aku menyunggingkan senyum lebar, lalu menjawab, “Deon mengajari gue banyak hal. Salah satunya, dia membuat gue mau berusaha menggapai kebahagiaan diri sendiri.”
“Gue bisa lihat dari pancaran mata lo, La. Gue bersyukur Tuhan mempertemukan kalian berdua. Deon telah berhasil menarik lo keluar dari hidup lo yang monoton itu. Ucapan gue ini murni dari lubuk hati gue, La,” Bella memandangku dengan penuh ketulusan.
Agatha memanggil nanny agar Vivi yang telah tertidur dibawa masuk ke dalam kamar. Tadinya Agatha memintaku menginap di rumahnya karena kami bertiga sudah lama tidak berkumpul, tetapi aku menolak. Besok aku dan Deon sibuk mencari cincin juga baju untuk acara pertunangan kami.
“Bagaimana dengan kabar Jason?” tanyaku setelah kami bertiga duduk di sofa ruang tamu.
“Kita bahas yang lain saja, Rayla,” jawab Agatha karena Bella hanya diam.
“Gue mau tahu kondisi Jason. Bagaimanapun, dia pernah menjadi sosok sahabat terbaik dalam hidup gue.” Potongan-potongan kenangan manis yang pernah hadir di antara aku dan Jason kembali terputar di kepala. “Tidak apa-apa, Bella. Beritahu gue yang sebenarnya.”
Cukup lama Bella duduk terdiam, hingga akhirnya Bella bersuara. “Dia hidup seperti … zombie. Meskipun masih bernapas, tapi jiwanya seakan … telah mati.”
Mataku mulai terasa panas. Ada setitik penyesalan masuk ke relung hati, tetapi segera kuhalau.
“Sikapnya sekarang menjadi dingin. Tidak banyak bicara. Juga tidak ada lagi senyuman hangat yang biasanya sering dia tunjukkan,” ucap Bella lagi.
Aku mengigit bibir, berusaha menahan air mata. Banyak yang bilang jatuh cinta adalah hal yang menyenangkan. Namun, tidak semua orang bisa memiliki cinta yang dia inginkan. Tidak semua perjalanan cinta juga berakhir manis. Seperti kisah cinta antara diriku dan Jason.
Ketika cinta itu datang, takdir memisahkan kami melalui mama. Dan ketika salah satu cinta itu pergi lalu berpindah ke tempat lain, takdir sekali lagi mempermainkan kami.
Rasa perih dan terluka, itulah yang sedang dirasakan Jason karena cinta yang diharapkan tidak berbalas. Lantas, siapa yang harus disalahkan? Aku? Jason? Takdir? Cupid cinta? Atau Mama?
“Mencintai adalah sebuah takdir sedangkan mendapatkannya adalah persoalan usaha. Kenapa cinta yang dimiliki Jason untuk Rayla tidak bisa berakhir bahagia? Semua itu karena dia tidak berusaha mendapatkannya,” tutur Agatha memecah keheningan.
“Sikap egois tante Restin yang seenaknya menyuruh Jason pergi, juga menyuruhnya kembali, tidak bisa menyalahkan tante sepenuhnya. Karena semua orang tua menginginkan yang terbaik untuk anaknya. Hanya saja terkadang caranya saja yang salah,” kata Agatha lagi.
Ya, cinta yang aku dan Jason miliki adalah cinta yang rapuh. Jika memang perasaan cinta kami itu kukuh, seharusnya kami berjuang mempertahankannya seperti yang dilakukan Deon. Karena cintanya yang gigih, mampu mendapatkan diriku dan mengalahkan ego mama.
“Sekarang lo mesti jawab pertanyaan gue, Bel.” Agatha menatap Bella dalam-dalam. “Apakah lo juga mau seperti Jason yang mencintai tanpa usaha mendapatkannya, kemudian menyalahkan takdir saat dia menemukan wanita lain sebagai pengganti Rayla di hatinya?”
“A- apakah … ada harapan? Gue dan Jason?” Bella balik bertanya ragu-ragu.
“Penolakan bukanlah sebuah akhir, melainkan awal memupuk semangat yang baru untuk mencobanya lagi dari nol,” ucapku sambil menggenggam tangan Bella.
Agatha menepuk bahu Bella. Sambil tersenyum dia berkata, “Lo bisa cari Deon dan belajar dari dia. Usahanya patut dijadikan contoh. Sabtu depan mereka tunangan, tidak lama kemudian mereka akan berlanjut ke pernikahan. Tinggal menunggu waktunya saja.”
“Gue berdoa semoga perasaan lo akan terbalaskan juga, Bella. Semangatlah!” ucapku.
Bella menatapku dan Agatha bergantian disertai mata yang berkaca-kaca. Kepalanya pun mengangguk, tanda dia akan berusaha meraih hati Jason.
Persahabatan yang didasari oleh keikhlasan hati dan kasih sayang, akan melahirkan keabadian dalam kebersamaan.
Sambil bergandengan tangan, kami berdua berjalan masuk ke dalam Jewelry Boutique. Seorang pelayan toko menyapa kami dengan ramah. “Selamat datang, Bapak dan Ibu. Ada yang bisa saya bantu?”
“Saya membutuhkan sepasang cincin untuk pertunangan,” jawab Deon.
“Mari saya tunjukkan koleksi cincin terbaik di toko kami,” ajak pelayan toko sambil melangkah menuju salah satu etalase perhiasan. Kami berjalan di belakang mengikutinya.
“Hmm … apakah ada yang terbuat dari berlian?” tanya Deon setelah beberapa saat kami diam melihat koleksi cincin emas pada etalase tersebut.
“Ada, Pak. Di etalase yang lain. Mari saya tunjukkan,” jawab pelayan toko dengan ramah.
“Tidak perlu beli yang mahal-mahal untuk cincin tunangan, Deon. Tadi aku lihat ada yang bagus,” bisikku di telinganya.
Deon menyunggingkan senyum lebar, lalu mengucapkan kalimat yang membuat hatiku bergetar mendengarnya, “Bagiku kamu seperti berlian, Sayang. Selalu berkilau dan terlihat indah. Aku ingin memberimu perhiasan yang paling mewah di dunia untukmu.”
“Tapi cincin tunangan hanya dipakai untuk sementara saja, Deon. Begitu kita menikah, cincinnya tidak dipakai lagi. Kan, boros jadinya,” tukasku berusaha terlihat santai, tapi sebenarnya jantungku berdebar-debar cepat.
“Untuk kamu tidak ada yang terbuang percuma-cuma, Sayang. Memberimu sebuah cincin berlian tidak ada apa-apanya dibanding kehadiranmu dalam hidupku. Kamu adalah ratuku. Duniaku. Sumber hidupku,” ucapnya sambil menatapku lekat.
Aku hanya diam karena tatapan matanya seakan menghipnotisku. Oh, Tuhan! Senyumnya, tatapannya, perhatiannya, dan tutur katanya, selalu membuatku jatuh cinta kepadanya berkali-kali. Kehadiran Deon dalam hidupku adalah yang paling indah yang pernah ku miliki.
“Belakangan ini Rose gold merupakan suatu jenis emas yang mulai diminati banyak pembeli. Jika Ibu menyukai pengaturan yang sangat indah, saya merekomendasikan cincin ini,” kata pelayan toko sambil mengeluarkan sebuah cincin mewah yang kilauan berliannya terpusat pada batu yang berada di bagian tengah.
Pada letak batu berlian, ada enam gigi yang terpasang di sisi-sisi batu sehingga berlian tampak sedikit lebih besar dan menonjolkan kilauannya. Dengan ukiran tangan yang rumit, memberikan kualitas gemerlap pada Rose gold terlihat lebih memukau.
“Sayang, menurutmu bagaimana dengan cincin ini?” tanya Deon.
Melihat keindahan serta kemewahan yang terpancar dari cincin tersebut membuatku terpana sehingga aku tidak dapat menjawab pertanyaan Deon.
“Cincin ini emas 14 karat dengan 1/5 karat berlian,” tutur pelayan toko menjelaskan.
“Kalau begitu saya mau cincin ini, mbak. Ada pasangannya untuk mempelai pria, kan?” ucap Deon kepada pelayan toko.
“Ada, Pak. Kalau begitu, saya ukur dahulu jari manis Bapak dan Ibu.”
Setelah melakukan pengukuran dan pembayaran, selanjutnya menunggu cincin selesai dibuat sesuai dengan ukuran jari kami. Sambil menunggu, Deon mengajakku pergi ke Boutique wedding.
Pilihanku jatuh pada Embroidered lace dress floral dengan cutting V-neck dengan desain lengan dan paduan warna biru dan tule broken white. Setelah dari Boutique wedding, kami kembali ke Jewelry Boutique untuk mengambil cincin.
“Mama bilang Jumat depan harus kasih kamu izin libur satu hari untuk mempersiapkan diri. Mama mau membawa kamu ke salon langganannya,” ucap Deon sambil berjalan keluar menuju pelataran parkir.
“Apakah kamu mengizinkan? Kalau aku tidak salah ingat, Jumat depan kamu ada jadwal pertemuan dan rapat dengan salah satu kolega bisnis.”
“Tidak perlu khawatir. Aku bisa minta Elia menyiapkan dokumen yang dibutuhkan, lalu meminta papa agar meminjamkan Asistennya sebentar,” jawab Deon dengan santai.
“Baiklah, kalau begitu.”
Setelah cobaan berat hidup yang kujalani selama ini, sama sekali tidak pernah terlintas dalam pikiranku akan menemukan pria, selain Jason, yang bisa membuat diriku mau memberikan hatiku kepadanya, juga memberiku kekuatan untuk terus melangkah.
“Kita mau ke mana lagi?” tanyaku setelah kami masuk ke dalam mobil.
“Ke rumah Darwan. Aku sudah memberitahu Maylin dan tante Frida bahwa kita akan ke sana. Nanti aku coba bujuk dia agar mau kembali pulang ke rumah.”
Aku tersenyum mendengar perhatian yang diberikan Deon kepada Maylin. “Terima kasih, Deon.”
Deon merangkum wajahku dengan sepasang matanya menatapku lembut. “Jangan berterima kasih, Sayang. Maylin juga adikku. Keluargamu adalah keluargaku juga,” bisiknya. Lalu dia memajukan tubuhnya, kemudian memagut bibirku mesra.
*Siapa yang sedang menantikan acara pertunangannya mantan Playboy dan Rayla? Ayo Tinggalkan Komentar, berikan Vote, like dan Dukungannya ya guys. Terima kasih**🙏Tambahkan juga ke Favorite supaya tidak ketinggalan up-nya🤗Loph you all😘*