
Happy reading 📖📖 guys
Taksi berhenti di depan pintu masuk Golden Crown, salah satu tempat clubbing terkenal di Jakarta. Seumur
hidup, aku belum pernah menginjakkan kaki ke tempat ini. Namun, malam ini aku membutuhkan tempat pelarian untuk melupakan semua yang diceritakan tante Fifi.
Aku mengenakan dress mini V-neck tanpa lengan warna hitam dan ketat sehingga menonjolkan bagian dada yang terbuka sedikit.
Aku memberikan sebuah tiket pada salah satu Security berbadan besar dan berwajah sangar. Mereka meminta kartu tanda pengenal dan aku memperlihatkannya. Mereka meneliti penampilanku beberapa saat, hingga akhirnya memberiku izin untuk masuk.
Suara musik menghentak dengan keras. Berbagai macam warna sinar laser menerangi ruangan. Terlihat di bawah, dance floor, ada banyak orang-orang sedang bergoyang disana.
Aku berjalan menuju bar dan duduk di salah satu kursi kosong. Seorang Bartender menghampiriku sambil memasang wajah senyum, lalu dengan suara sedikit keras bertanya, “Apa yang bisa saya siapkan untuk Anda?”
Alisku berkerut. Mencoba mengingat-ingat nama minuman alkohol yang pernah disebut Bella atau rekan kerjaku.
Ragu-ragu aku menjawab, “Saya mau Cocktail … Martini.”
“Maaf, Anda menjawab apa? Tolong diperkeras suara Anda. Saya tidak mendengarnya.”
“Saya mau pesan Cocktail Martini!” teriakku.
“Ok. Pesanan Anda akan segera kami siapkan.”
Sambil menunggu minumanku, aku mengarahkan mata ke sekeliling. Banyak orang-orang sedang berdance di bawah sana.
Beberapa bergoyang sambil tertawa. Beberapanya lagi bergoyang dengan gerakan sensual seolah-olah tengah memberikan sinyal kepada para pria untuk menyentuh tubuh mereka.
Pada bagian atas dance floor, pengunjung duduk pada sofa bulat melengkung. Ada yang sedang
bersenda gurau. Ada yang tertawa terbahak bahak. Ada pula yang sambil bercumbu di depan umum. Tidak peduli apakah perbuatan mereka ditonton oleh banyak orang atau tidak. Ternyata seperti inilah tempat hiburan malam.
“Ini pesanannya, My Lady.” Tiba-tiba Bartender tadi muncul hingga membuatku sedikit terkejut.
Aku meraih minumannya lalu memberikan uang cash kepadanya. “Simpan kembaliannya.”
“Thank you. Panggil saya jika membutuhkan sesuatu.”
Kucicip sedikit minuman yang kupesan. Aku mengernyit karena rasanya tidak enak. Ada rasa sepat, pahit dan membuat tenggorokanku sedikit terbakar, tapi inilah tujuanku, membuat diriku mabuk untuk melupakan semuanya dan memberikan kesempatan kepada siapa pun untuk melakukan hal gila yang belum pernah kulakukan.
Aku meneguk lebih banyak lagi minuman itu hingga habis. Kemudian aku memanggil Bartender tadi untuk memberiku minuman yang sama.
Aku kembali meneguk minuman yang ada ditanganku. Sialan! Kata siapa minuman beralkohol rasanya enak? Besok aku akan memprotes Bella karena tadi aku teringat nama minuman yang pernah disebut olehnya saat dia datang clubbing bersama teman-teman have fun-nya.
Tenggorokanku semakin terasa panas seperti terbakar. Kepalaku mulai terasa berat.
‘Keberadaanmu adalah sebuah kesalahan’. Kalimat itu bagaikan alunan musik DJ yang tidak berhenti berputar di kepalaku.
Aku berpikir, dengan membuat diriku mabuk, aku bisa melupakan semua yang diceritakan tante Fifi. Namun nyatanya aku salah.
“Hai! Lo terlihat seperti orang baru di sini. Perlu ditemani?” Seorang pria asing tengah berdiri didekatku.
Tanpa menunggu jawaban dariku, pantatnya mendarat di atas kursi di sampingku. “Siapa namamu manis? Boleh kenalan?” Pria itu memajukan tubuhnya mendekatiku.
Aku diam sambil menatapnya. Pria ini memang tampan. Namun, sayang wajahnya yang tampan berbanding terbalik dengan sikapnya yang tengah mencoba merayu wanita.
“Kenalin, nama gue Rianto ….”
Aku langsung mendaratkan bibirku pada bibirnya sebelum dia menyelesaikan ucapannya.
Persetan dengan nama. Aku tahu apa yang diinginkan pria ini. Buktinya dia mel umat bibirku dengan ganas dan tangannya mulai bergerilya didadaku.
‘Keberadaanmu adalah sebuah kesalahan!' .‘Keberadaanmu adalah sebuah kesalahan!' Kalimat itu masih juga tidak berhenti berputar di kepalaku.
Entah keberanian dari mana aku mendorong tubuh pria itu, kemudian melayangkan tamparan keras pada wajahnya.
Pria itu terkejut. Matanya melebar. Dia berdiri dari kursinya. Dengan suara meninggi dan penuh emosi berkata, “Eh, pelacur! Lo duluan yang menyodorkan bibir ke gue untuk dicicip. Kenapa malah lo menampar gue?”
Aku tertawa kencang. Kemudian aku memandangnya dengan tatapan menghina. “Gue kirain lo gigolo. Tiba-tiba datang ke sini menawarkan diri. Gue pikir pelayanan lo bakal hebat, tapi baru sekadar ciuman saja sudah payah begitu. Apalagi kalau sudah di atas ranjang?”
“Apa lo bilang? Gigolo?” Pria yang bernama Rianto terlihat semakin marah setelah mendengar penghinaanku.
Dia mencekal lenganku dengan keras sehingga tubuhku tertarik berdiri di hadapannya. “Jangan sok suci deh, lo! Kalau pelacur bilang saja! Lo mau buka harga berapa? Gue kasih lebih!”
“Rayla?” Tiba-tiba terdengar seseorang memanggil namaku.
Ketika aku menoleh, terlihat sosok Deon berdiri di sebelah Rianto. “Ini beneran lo, La? Atau lo kembarannya?”
“Lo kenal wanita ini, Deon?” tanya Rianto tanpa menutupi wajahnya yang masih penuh amarah.
Deon mengangguk. “Kenapa?”
Rianto semakin keras mencekal lenganku hingga aku meringis kesakitan. “Dia pelacur lo juga? Tadi dia duluan yang kasih bibirnya ke gue, tapi tiba-tiba dia menampar gue! Pelacur ini harus diberi perhitungan agar dia tidak seenaknya bertingkah lagi.”
“Lepasin dia, To. Dia bukan pelacur,” perintah Deon dengan tegas.
“Tapi dia membuat gue malu, Deon! Dia menampar gue!” teriak Rianto semakin murka.
Deon meliriknya dengan tajam. “Lepas atau lo akan terima akibatnya,” kata Deon dengan nada mengancam.
Rahang Rianto mengeras. Dia merasa tidak terima, tapi sepertinya pria itu pun takut terhadap Deon. Akhirnya dia melepas cekalannya dengan kasar lalu melangkah pergi meninggalkan kami.
Deon mendekatiku dan memberiku senyuman. “Tumben lo ada di tempat ini, La? Bareng siapa?”
Aku tidak menjawab pertanyaannya. Kudorong tubuhnya kuat-kuat, kemudian berjalan dengan cepat ke tempat dance floor dan bergoyang asal-asalan.
Namun, Deon menarik tangan pria itu. Sambil tersenyum berkata, “Sorry, Bro. Wanita ini milik gue.” Pria itu pun akhirnya menyingkir, mencari mangsa lain.
Sambil bergoyang, aku melingkarkan kedua tanganku di leher Deon. “Kita sudah berteman selama tiga tahun lebih. Kenapa lo tidak pernah mengajak gue kalau ternyata lo juga sering ke tempat ini? Ternyata tempat ini sangat menyenangkan.”
“Sudah berapa gelas yang lo minum?” tanya Deon tanpa menggubris pertanyaanku.
Aku menunjuk jari telunjuk dan tengah padanya sambil tertawa. “Dua gelas Cocktail Martini. Hebat, kan gue? Baru pertama kali tapi gue bisa minum dua gelas tanpa ambruk!”
“Sudah larut malam. Gue antar lo pulang,” tukas Deon menarik tanganku.
Aku melepas genggamannya dengan kuat. “Gue tidak mau pulang! Gue masih mau di sini!”
“Astaga! Lo mabuk, La!”
Aku menggeleng kepala kuat-kuat. “Gue tidak mabuk!”
Baru sedetik aku membantah ucapannya, tubuhku tiba-tiba merosot lemah. Deon segera menangkap tubuhku.
“Sudah teler begini lo masih bilang tidak mabuk? Ikut gue!” Deon menggiring tangan dan lenganku, meninggalkan dance floor.
Tubuhku memang mulai terasa melayang. Sepertinya pengaruh alkohol sudah mulai bekerja pada tubuhku, tapi tidak dengan isi kepalaku.
Deon mendudukkanku di kursi bar. “Tunggu gue di sini! Jangan ke mana-mana!” perintahnya dengan menatap tajam padaku. Aku mengangguk kepala menurut.
Deon memanggil Bartender dan berpesan padanya untuk menjagaku sebentar, lalu Deon melangkah pergi entah ke mana.
Tidak berapa lama kemudian, dia kembali dan membopong tubuhku berjalan keluar dari klub.
Dia membantuku masuk ke dalam mobilnya, lalu melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.
“Gue tidak mau pulang, Deon …,” ucapku merengek.
“Kalau begitu kasih tau gue alamat rumah teman lo.”
“Gue tidak mau ke rumah teman gue! Gue juga tidak mau pulang ke rumah!”
“Jadi lo mau ke mana?” tanya Deon frustasi.
Entah mengapa aku merasa senang melihat wajahnya yang seperti itu. “Ke tempat lo saja!” jawabku.
Deon melirikku sebentar sebelum kembali fokus pada jalanan.
“Gue tinggal di Apartemen, La. Lo tahu kan, gue ini Playboy. Tidak baik lo menginap di tempat gue. Kalau gue nerkam lo gimana? Gue pria normal,” ucapnya dengan nada bercanda.
“Lakukanlah!”
Deon segera menepikan mobilnya di pinggir jalan. “Lo sudah mabuk, La! Jangan membuat gue menjadi pria berengsek terhadap lo! Demi Tuhan, lo bahkan sudah punya kekasih! Cepat kasih tahu gue alamat rumah teman lo!” Nada suaranya sedikit meninggi.
Aku melepas seatbelt dan dengan cepat aku menempel bibirku pada bibirnya.
Awalnya Deon tidak merespons karena terlalu terkejut dengan serangan tiba-tibaku ini, tapi beberapa saat kemudian dia membalas ciumanku hingga kami hampir kehilangan napas.
“Tolong gue, Deon ....” Kami berdua saling bertatapan satu sama lain.
“Kalimat itu berputar terus di kepala gue. Bantu gue membuatnya berhenti, Deon. Gue tidak tahu harus mencari bantuan kepada siapa? Gue tidak tahu harus bagaimana lagi?” Air mata perlahan-lahan mengalir dari kedua mataku.
Aku tidak pernah menunjukkan kelemahanku pada orang lain. Bahkan, Maylin, Tante Fifi, dan kedua sahabatku tak terkecuali.
Namun, entah apakah karena perasaan putus asa atau karena pengaruh alkohol, malam ini aku tidak dapat mengontrol diriku seperti biasanya.
Dengan jarinya, Deon menghapus pelan air mata di wajahku. “Semenderita itukah yang sedang lo rasakan sekarang, Rayla?” tanya Deon pelan dan kubalas dengan anggukan. “Tapi bukan dengan cara seperti ini, La!” lanjutnya.
“Help me, Please? Gue percaya lo.”
Deon mengacak rambutnya sendiri dengan frustasi. “Pasang seatbelt-nya.” Kemudian dia kembali melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.
Sesampainya kami di Apartemen Deon, aku mengangkat kedua tanganku dan merangkul bahunya. Deon merapatkan tubuh kami dan segera mencicipi bibirku secara menyeluruh.
Deon beralih ke bagian pada leherku, sesekali menyesapnya dan ketika matanya menatap dadaku, dia bermain-main di sana.
“Lo yakin, La?” tanya Deon disela ciumannya. Dia ingin memastikannya lagi padaku.
Aku melihat binar matanya yang telah gelap dipenuhi dengan gairah. Entah mengapa aku tidak merasa takut. Dengan yakin aku menganggukkan kepala.
“Gue tidak pernah seyakin ini,” jawabku.
Deon memperdalam ciuman. Tangannya mulai meraba bagian titik sensitif. Dengan napas terengah Deon kembali memperingatiku. “Gue tanya sekali lagi, La. Apa lo tidak akan menyesal? Karena setelah ini gue tidak akan berhenti walau lo meminta gue berhenti sekalipun!”
“Keep doing it!”
Tanpa menahannya lagi Deon menghujamkan miliknya dalam-dalam, aku menahan jeritan dengan mengigit bibir.
Deon terkesiap. “Lo masih ….” Deon menatapku tidak percaya.
“Jangan coba-coba berhenti, Deon. Gue bersumpah akan menghajar lo kalau lo tidak menyelesaikan ini,” ancamku.
“Gue sudah bilang kalau gue tidak akan berhenti sekalipun lo yang meminta. Bersiaplah!” gumam Deon.
Awalnya membuatku kesakitan. Namun, perlahan rasa sakit itu berkurang dan berganti dengan rasa nikmat. Dan ketika puncak itu datang, Deon membungkam mulutku dan terus menghentakkan pinggulnya membenamkan diri dalam-dalam di tubuhku.
Jangan lupa tambahkan ke Favorite lalu tinggalkan Komentar, berikan Vote, Like dan Dukungannya ya guys. Terima kasih 🙏🤗 Loph you all 😘