
Happy reading 📖📖 guys
Dua minggu telah berlalu. Karena perbedaan tiga jam antara Indonesia dan Aussie, membuat komunikasi antara aku dan Erik lebih sering menggunakan chat. Hanya pada saat malam tiba, jika kami masih memiliki waktu luang, Erik mencariku melalui video call.
Sesungguhnya, yang aku tunggu adalah kabar dari Jason. Sejak terakhir kami bertemu di Rumah Sakit saat Bella dirawat, kami tidak pernah bertemu lagi.
Bahkan, dia menghubungiku pun juga tidak. Padahal, aku sengaja tidak pernah mengganti nomor telepon. Dengan harapan dia masih bisa menghubungiku pada saat dia ingin mencariku.
Aku berdiri di depan jendela besar kantor sambil menatap langit.
Aku bersyukur tempat ruanganku bekerja berada pada lantai 12. Dengan begitu, aku dapat menikmati pemandangan langit pada malam hari dengan di temani secangkir kopi hangat.
Waktu sudah menunjukkan pukul delapan malam. Karena laporan neraca bulanan yang kubuat tidak balance, mengharuskan aku untuk lembur malam ini.
Inilah resiko bekerja di bagian Accounting. Selisih satu angka saja, kamu harus mencarinya sampai ketemu.
Aku langsung menoleh ke arah suara pintu terbuka. Walaupun kantor ini keamanannya dapat dipercaya, tetap saja aku mesti waspada. Mengingat sekarang waktu sudah malam dan aku sedang sendirian di ruangan ini.
Aku terkejut melihat sosok Deon lah yang membuka pintu tersebut.
“Deon? Lo masih belum pulang?“ Kutatap dirinya yang mengenakan Navy Blazer dilengkapi dengan dasi motif Pin Dot sehingga membuat penampilannya terlihat lebih profesional.
Penampilannya yang tidak biasanya seperti itu, membuat dahiku mengernyit.
Deon sepertinya tahu bahwa aku sedang mengamati penampilannya. Dengan gugup, dia berkata, “Eh … ini … gue tadi ikut rapat … bersama pak Gunawan.”
Alisku mengernyit, semakin bingung atas penjelasannya. “Rapat apa memangnya? Kok, kami tidak diberitahu ada rapat?”
Deon sudah bekerja di sini selama lima tahun sebagai Staff Accounting. Tentu saja dia yang memberitahuku. Aku tidak mungkin bertanya padanya karena aku bukan tipe orang yang mencampuri atau ingin tahu kehidupan orang lain.
Pada saat aku menolak tawaran dari pak Gunawan sebagai Kepala Akuntansi, aku berpikir posisi itu akan diberikan kepada Deon.
Namun, ternyata aku salah. Pak Gunawan malah merekrut Risa, salah satu rekan kerja kami yang baru bekerja tiga tahun sepertiku.
Deon, di balik sikapnya yang playboy, sesungguhnya dia dapat bersikap profesional dan bertanggung jawab jika sudah menyangkut tentang pekerjaan. Kemampuannya dalam bekerja juga bisa diandalkan.
Namun, tidak ada promosi jabatan satu pun yang ditawarkan padanya. Aku mendengarnya dari beberapa rekan kerja kantor yang sedang bergosip, pada saat kami sedang makan siang di kantin.
“Bukan rapat tentang pekerjaan, kok,” balasnya.
“Kalau begitu rapat apa yang lo hadiri? Penampilan lo juga tidak seperti biasanya,” tanyaku dengan rasa penasaran tanpa memutus tatapanku darinya.
Pada saat hari pertamaku masuk bekerja di kantor ini, meja kerjanya berada di urutan ketiga dari tempatku. Setahun yang lalu, tiba-tiba pak Gunawan mengatur meja kerja Deon di tempatkan berseberangan denganku.
Deon melepas blazer lalu melonggarkan dasinya. “Pak Gunawan ada rapat penting yang seharusnya didampingi oleh Bos kita, tapi mendadak beliau tidak bisa hadir karena ada urusan. Oleh sebab itu, pak Gunawan meminta tolong sama gue.”
“Kenapa pak Gunawan meminta lo yang pergi? Kan, ada General Manager atau atasan lain,” tanyaku lagi.
Deon melirikku sesaat.
Sambil memasang senyum genit, dia menjawab, “Perusahaan kita akan bekerja sama dengan perusahaan lain dan pemilik perusahaan itu seorang wanita. Pak Gunawan tahu tentang kelihaian gue dalam memikat wanita. Karena itu, dia meminta bantuan gue agar pemilik perusahaan itu bersedia untuk bekerja sama.”
“Terus lo berhasil?”
Deon membusungkan dadanya lalu menepuknya dengan perasaan bangga menjawab, “Jelas berhasil, dong! Tidak ada wanita yang tidak berhasil gue taklukan.”
Aku tertawa terbahak-bahak. Entah apakah aku harus mengucapkan selamat kepadanya karena telah berhasil membantu pak Gunawan atau merasa kasihan kepadanya karena secara tidak langsung pak Gunawan menganggap Deon seorang Playboy.
Tiba-tiba suara bunyi keroncongan terdengar keras dari perut Deon. Sambil mengelus-elus perutnya, dia tertawa terkekeh-kekeh.
“Lo tidak diberi makan saat rapat tadi?” tanyaku dengan tersenyum geli.
Deon menggeleng. “Sedang rapat penting begitu, mana mungkin gue membahas isi kerja sama sambil makan?”
Itulah Deon. Dia pandai menempatkan diri, kapan saatnya untuk bercanda dan kapan saatnya untuk bersikap serius. Biasanya orang yang memiliki pembawaan fleksibel cenderung bisa mengikuti alur hidup.
Sesungguhnya aku mengagumi sikapnya yang ini, tapi tentu saja aku tidak akan memberitahunya. Hidungnya akan semakin mengembang besar jika dia tahu.
“Gue beres-beres barang dulu, lalu kita pergi makan,” ucapku kemudian.
“Apa ini sebuah ajakan kencan? Wah! Akhirnya lo bersedia juga kencan dengan gue. Kalau tahu begini, pak Gunawan sering-sering mengajak gue rapat, deh!“ tukas Deon bersemangat.
Aku menggelengkan kepala. “Jangan kepedean dulu! Gue mengajak lo makan karena waktu itu lo sudah membantu gue minta cuti sama pak Gunawan.”
Deon memasang raut wajah pura-pura kecewanya. “Yahhh … gue kira lo akhirnya sadar, tidak ada salahnya mengajak pria yang keren ini berkencan.”
“Gue sudah pernah mengatakannya, kan? Kalaupun tinggal lo satu-satunya pria di dunia ini, gue lebih memilih jadi perawan tua,” jawabku mengingatkannya. Mungkin dia sudah lupa atas ucapanku sebelumnya.
“Cuma lo doang yang tidak berhasil gue taklukin,” gumam Deon yang telah berdiri menunggu di depan meja kerjaku.
Setelah aku merapikan barang-barang di meja, aku bergegas berjalan melangkah keluar. Deon tiba-tiba mengambil dokumen yang berada di tanganku.
“Gue bantu pegang. Tangan lo kerepotan bawa banyak barang. Tas, ponsel, dan botol minum stainless steel itu.”
“Thank’s.”
Kami berdua sedang menunggu lift ketika Deon mengeluarkan pertanyaan sambil melirik botol minum yang ada ditanganku.
“Apakah botol minum itu special banget bagi lo? Gue perhatikan, lo selalu membawa botol itu pulang setiap weekend.”
Aku menatap botol tersebut, lalu mengangguk kepala.
Dengan tersenyum sedih, tanpa sadar aku menjawab, “Botol ini tidak boleh sampai hilang. Tinggal ini satu-satunya kenangan yang gue punya.”
Deon tidak berucap apa-apa lagi. Aku baru menyadari atas keceplosanku mengungkapkan isi hatiku.
Aku melirik Deon. Dia sedang tersenyum padaku tanpa mengatakan sepatah kata pun.
Terkadang, aku merasa Deon memiliki sisi lembut dan pengertian seperti saat ini. Membantuku membawa dokumen yang akan kubawa pulang untuk dikerjakan. Juga tidak banyak bertanya pada saat aku tanpa sadar mengucapkan isi hatiku.
Sayangnya, kelebihannya tersebut tertutupi oleh sikap Playboynya.
Sampai di tempat parkiran, aku terheran melihat mobil mewah di depanku ini. Sebuah mobil Audi, mobil impor yang
harganya sangat mahal.
Aku tidak bermaksud menyepelekan pendapatan Deon, tetapi membeli mobil ini bagi orang sederhana seperti kami yang masih bergantung pada gaji, pastinya terlalu berat.
Deon menekan tombol pada remote mobilnya dan membuka pintu, bermaksud untuk masuk ke dalam mobil.
Namun, gerakannya berhenti saat melihatku yang masih diam berdiri di belakangnya. Dia mengikuti arah pandangan mataku. “Ini mobil pinjaman teman gue. Mobil gue sedang diperbaiki.”
“Gue pikir ini beneran mobil lo. Gue tahu ini mobil impor. Harganya mahal. Bukan maksud gue untuk menyindir lo, tapi membeli mobil ini dengan posisi pekerjaan kita yang cuma staff, terlalu berlebihan. Biayanya juga pasti berat.”
Pada zaman sekarang ini, status sosial menjadi hal yang penting bagi sebagian orang. Bahkan, dianggap terlalu penting sehingga tidak lagi masuk akal.
Tidak heran banyak orang yang rela memboros uang mereka atau malah memaksa diri dengan berhutang untuk mendapatkan barang-barang bermerek.
Deon tertawa. “Mana mungkin gue beli mobil mahal begini, La. Setiap hari harus makan nasi dengan sambal agar gue sanggup membayar cicilannya setiap bulan.” Deon memasang seatbelt kemudian menjalankan mobil meninggalkan kantor.
Entah mengapa, aku merasa di balik dari tawanya itu, ada sesuatu yang dia sembunyikan. Namun, aku tidak mungkin bertanya padanya. Kami berdua hanya rekan kerja. Tidak pantas mencampuri urusan pribadi.
“Kita mau makan di mana, nih?” tanya Deon.
“Terserah lo. Gue yang traktir,” jawabku.
Aku hendak menekan tombol on pada head unit mobil, ketika aku baru sadar bahwa aku sedang berada di dalam mobil orang lain.
“Gue boleh menyalakan radionya?” Aku melirik Deon yang sedang berkonsentrasi menyetir.
“Tentu saja boleh, tapi biasanya jarang ada lagu yang bagus. Tekan saja tombol source lalu pilih USB. Di dalam ada banyak lagu-lagu bagus yang gue simpan. Eh, maksud gue, teman gue yang simpan lagunya.”
Aku mengangguk lalu mengikuti petunjuknya. Kemudian terdengar alunan musik Perfect dari Ed Sheeran.
Sebuah lagu yang menceritakan tentang seorang wanita yang menaruh hati pada sosok pria sejak masih kecil. Bahkan, ketika mereka beranjak dewasa, sang wanita masih tetap mencintai pria tersebut dengan sepenuh hati, tidak peduli sesulit apapun rintangan yang harus dilaluinya.
∮ I found a love for me ∮
∮ Oh darling, just dive right in and follow my lead ∮
∮ Well, I found a girl, beautiful and sweet ∮
∮ Oh, I never knew you were the someone waiting for me ∮
Sial! Lagu ini membuatku teringat akan perasaanku kepada Jason. Sayangnya, aku tidak memiliki kekuatan untuk menghadapi rintangan.
“Bagaimana kalau kita ke rumah makan lesehan padang?” tanya Deon tiba-tiba memberi saran.
“Smarapura saja, deh!” jawabku cepat. Diam-diam aku menghapus air mata dari sudut mataku.
Tempat yang disebutkan Deon tadi adalah tempat di mana saat aku dan Jason membeli makanan untuk Bella dan Agatha. Aku tidak ingin kembali ke sana karena hanya akan membuatku semakin teringat padanya.
“As your wish, My Lady,” Deon menarik bibirnya tersenyum.
Aku tertawa, menutupi kesedihanku.
Jangan lupa tambahkan ke Favorite lalu tinggalkan Komentar, berikan Vote, Like dan Dukungannya ya guys. Terima kasih 🙏🤗 Loph you all 😘