
Happy reading 📖📖 guys
“Tante berhutang budi padamu karena sudah menolong nyawa Rayla. Namun, alasan ini saja tidak cukup kuat untuk mengubah keputusan Tante. Lebih baik Tante mengatakannya sekarang daripada menghabiskan waktumu dengan cuma-cuma,” ucap Mama.
“Ma! Sampai kapan Mama selalu mencampuri urusan asmaraku? Yang menjalaninya adalah aku! Bukan Mama!” murkaku. Dadaku bergemuruh dengan kencang. Napasku tersengal karena emosi yang telah membludak.
Deon mengusap jemari tanganku dengan lembut. Aku menoleh ke arahnya dan kedua mata kami bertemu. Sebuah
senyuman terukir dari bibirnya, seolah-olah mengatakan semua akan baik-baik saja.
“Saya tidak meminta imbalan, Tante. Saya menolong Rayla karena memang saya tidak mau kehilangan dirinya. Ini suatu hal yang wajar ketika kita menginginkan orang yang kita sayangi tetap berada di samping kita,” ucap Deon dengan suara tenangnya.
“Tante mengerti,” ucap Mama. “Yang membuat saya tidak bisa menerima kamu adalah karena kamu pernah menjadi Playboy, Deon. Tante tahu apa yang ada di pikiran kamu.”
“Seorang Playboy yang gemar bergonta ganti pasangan, tidak perlu bersusah payah mendapatkan wanita. Malah wanita itu sendiri yang datang menghampirinya. Akan tetapi, kali ini kamu sulit mendapatkan Rayla. Jiwa petualang kamu sebagai Playboy merasa tertantang,” ucap Mama lagi.
“Sekarang kamu begitu gigih meraih hati anak saya juga diri saya. Namun, setelah kamu mendapatkan apa yang kamu mau, kamu akan mulai merasa jenuh. Saat itu kamu akan memilih meninggalkan Rayla. Ibu mana yang rela melihat anaknya disakiti? Saya tidak ingin hal itu terjadi. Oleh sebab itu, lebih baik melakukan antisipasi terlebih dahulu,” ucap Mama dengan tegas.
“Tentang saya pernah menjadi Playboy, saya akui itu adalah sisi buruk saya di masa lalu. Saya hanyalah manusia biasa, yang bisa melakukan kesalahan, Tante. Namun, sekarang saya berniat untuk memperbaikinya. Selalu ada kesempatan bagi seseorang yang mau berusaha untuk berubah lebih baik bukan, Tante?” tutur Deon, berusaha membuat Mama berubah pikiran.
“Tidak ada yang bisa menjamin apakah sisi Playboymu suatu hari nanti kembali muncul atau tidak. Saya tidak mau mengambil resiko dengan mempertaruhkan kebahagiaan anak saya,” tukas Mama masih dengan keras kepala.
Kesabaranku sudah di ujung tanduk. Kalau sudah begitu, hanya ada satu cara membuat mama mengubah keputusannya. “Ma, asal Mama tahu. Deon itu adalah anaknya-”
Namun, Deon segera menarik lenganku hingga aku berhenti bicara. Dia menggelengkan kepalanya, memberi tanda agar aku tidak melanjutkan ucapanku. Aku balas memberikan pelototan tajam padanya.
Sudah sampai situasi seperti ini, mengapa dia masih mau merahasiakan identitas yang sebenarnya?
Bukankah dia sangat berharap mendapatkan restu dari Mama? Kalau begitu, dengan mengatakan yang sebenarnya, Mama pasti langsung mengubah keputusannya.
“Mama tahu pria yang terbaik untukmu, Rayla,” ucap mama.
Sontak aku dan Deon menggerakkan kepala, menoleh kembali ke arah Mama. Aku menatap Mama dengan pandangan tidak mengerti.
“Maaf, Deon. Tante sudah membuat keputusan. Restu Tante jatuh kepada pria lain. Pria itu yang terbaik untuk Rayla.”
Mulutku sudah terbuka ingin membalas ucapan Mama, tapi tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu dari luar. “Masuk!” ucap Mama memberi perintah.
Alice membuka pintu setengah dan sambil membungkukkan setengah badannya berkata, “Maaf mengganggu, Bu. Ada tamu untuk Ibu. Katanya sudah membuat janji dengan Ibu.”
“Suruh dia masuk!” balas mama.
Mataku membulat mendengar jawaban dari Mama. Kami sedang membahas masalah penting, Mama malah mengizinkan tamu Mama masuk?
Aku sudah ingin protes ketika terdengar sebuah suara yang tidak asing menyapa Mama. Seluruh tubuhku menegang seketika. Tidak mungkin! Aku tidak salah dengar, kan?
“Hai, Tante! Aku datang di saat waktu yang tepat, bukan?”
Aku menolehkan kepala ke belakang. Bermaksud untuk melihat siapakah tamu Mama itu?
Pada saat itulah kedua mata kami bertemu. Sosok itu menatapku dengan tatapan lembut dan senyum merekah di bibirnya.
“Masuklah, Jason! Kamu datang di saat yang tepat,” ucap Mama. “Deon, perkenalkan, dialah pria yang Tante maksud tadi, sahabat sekaligus cinta pertamanya Rayla.”
Jason mengulurkan tangannya, membuat gerakan berjabat tangan di hadapan Deon. “Hai! Kenalkan, nama gue Jason.”
Sesaat Deon diam terpaku menatap wajah Jason. Tidak berapa lama kemudian, dia membalas salam Jason. “Hai! Nama gue Deonartus Surbakti. Kekasihnya Rayla.” Deon menekankan satu kata itu dengan tegas.
“Gue calon suaminya, Rayla,” tukas Jason tidak mau kalah. “Benar bukan, Tante?” Jason melirik ke arah Mama dan Mama membalas mengangguk.
Ya tuhan! Belum cukup aku menghadapi Mama, sekarang bertambah dengan kehadiran Jason, membuat suasana sekarang semakin runyam. Mengapa Mama selalu membuat hidupku lebih rumit?
“Tanpa restu dari orang tua kekasihmu, apakah kalian bisa menikah, Deon? Lagipula hubungan yang tidak direstui orang tua, biasanya tidak bisa berjalan lama,” ucap Mama, berbalik menyerang Deon.
Jason sudah berdiri di samping Mama. Dia menatap Deon dengan tatapan mencemooh. Terlihat dengan jelas, Jason merasa menang karena Mama akhirnya memihak dirinya.
“Saya mengerti maksud, Tante. Akan tetapi saya tidak akan menyerah, Tan. Kecuali Rayla sendiri yang tidak menginginkan saya,” ucap deon dengan penuh percaya diri.
“Saya rasa Tante membutuhkan waktu untuk bisa menerima saya. Waktu dapat menunjukkan segalanya. Tante bisa melihat apakah saya tulus terhadap Rayla atau tidak. Sampai saat itu tiba, saya tidak akan menyerah.”
“Rayla tidak pernah memberitahumu kalau dia mencintai Jason dan saya pernah memisahkan mereka berdua?” tanya Mama lagi.
“Semua orang memiliki masa lalu, Tante. Saya bisa memakluminya. Seperti saya yang juga punya masa lalu, yaitu mantan Playboy. Namun, sekarang yang terpenting adalah saat ini. Apakah Rayla masih mencintai pria lain selain saya atau tidak, Rayla sendiri yang paling mengerti,” jawab Deon dengan tegas.
Mama terdiam, tidak merespon ucapan Deon. Namun, aku bisa melihat Mama sedikit terkejut atas keberanian Deon. Sedangkan Jason terlihat mengepalkan tangannya dengan kuat dan memandang Deon dengan tatapan lebih tajam.
“Well … Deon sudah tidak perlu bekerja di tempat Mama lagi, aku malah bersyukur karena dengan begitu, kami memiliki banyak waktu untuk berkencan,” ucapku sambil bangkit berdiri dari tempatku duduk. “Ayo, Yang! Kita pergi kencan.”
“Rayla! Mama mengaku salah karena pernah memisahkan kamu dengan Jason, tapi sekarang Mama ingin memperbaikinya. Bukannya kamu masih mencintai Jason?” tukas mama, nadanya terdengar naik satu oktaf.
Aku melirik Jason sekilas yang ternyata juga sedang menatapku dengan tatapan penuh permohonan. Aku mencoba telusur hatiku lebih dalam.
Debaran jantung yang sebelumnya selalu muncul ketika kami bertemu, kali ini aku tidak menemukannya. Perasaan rindu yang membuncah saat itu, sepertinya hilang begitu saja.
“Mama benar. Saat itu, Mama memang sudah melakukan kesalahan, dan sekarang Mama berniat untuk memperbaikinya. Posisi Mama saat ini sama seperti Deon. Mama tidak mau memberi Deon kesempatan untuk memperbaiki kesalahannya yang dulu, lalu mengapa aku harus memberi Mama kesempatan?”
“Apa?” mata Mama membulat dengan lebar setelah mendengar ucapanku tadi.
“Tidak ada yang bisa menjamin apakah Mama akan kembali menghancurkan kebahagiaanku atau tidak. Mama selalu membuat hidupku rumit. Kali ini aku ingin bebas membuat keputusan, Ma. Hidupku adalah milikku! Aku yang paling mengerti mana yang terbaik untukku!”
Mama terlihat kehilangan kata-kata. Beliau hanya diam sambil terus memandangku.
“Rayla! Tante selalu mempertimbangkan kebahagiaanmu!” tutur Jason tiba-tiba membela Mama.
Aku tertawa sinis mendengarnya. “Sekarang lo berpura-pura memihak Mama gue, Jas? Mama gue pada akhirnya memilih lo. Jadi, sekarang lo membelanya?”
Jason terlihat terkejut mendengar kata yang kugunakan sekarang menjadi lo-gue. Aku tidak peduli lagi. Aku segera menarik lengan Deon hingga dia bangkit berdiri. “Kita pergi, Deon!”
Kemudian kami berdua melangkah pergi meninggalkan ruangan Mama setelah Deon berpamitan terlebih dahulu kepada Mama.
Kami sudah berada di luar. Aku sudah siap masuk ke dalam mobil, tetapi tiba-tiba seseorang mencekal lenganku dari belakang.
“Kita harus bicara!” tukas Jason.
Aku melotot tajam padanya. “Tidak ada yang perlu dibicarakan!” Dengan kuat, segera kutepis cekalannya.
“Kalau begitu apakah kamu mau aku bicara pada kekasihmu itu?” tanya Jason lagi. Rahangnya mengetat dengan keras, berusaha menahan emosi.
Aku menghela napas pasrah. Kemudian aku menoleh kepada Deon dan berkata, “Deon, kamu pulang saja dulu. Ada urusan yang harus aku selesaikan.”
Sesaat Deon melirik ke arah Jason, kemudian dia menganggukkan kepalanya. “Ok. Jika ada apa-apa, kamu harus menghubungiku.”
“Tenang saja!” Lalu aku menutup pintu mobil. Deon menjalankan mobilnya pergi meninggalkan Restoran.
Aku berbalik dan menatap tajam ke arah Jason. “Lebih baik kita bicara di tempat lain. Gue tidak mau membahasnya di sini karena Mama pasti ikut campur lagi.”
Jason meraih jemari tanganku, tapi aku segera menepisnya dengan kuat. Dia menatapku dengan sedih. “Ayo, ke mobilku!”
Jangan lupa tambahkan ke Favorite lalu tinggalkan Komentar, berikan Vote, Like dan Dukungannya ya guys. Terima kasih 🙏🤗 Loph you all 😘