
*Happy reading 📖📖 guys*
AUTHOR
Suara roda brankar emergency yang didorong dengan cepat dan beradu dengan lantai keramik membuat suaranya terdengar cukup keras dan sangat memekakan telinga bagi siapa saja yang mendengarnya. Di atas brankar itu, Rayla terbaring dengan wajah pucat dan kedua bola mata yang tertutup rapat.
Elian dan Maylin mengikuti langkah petugas medis dengan raut wajah terlihat cemas. Ketika sampai di UGD, Dokter segera datang dan menangani Rayla.
Maylin duduk tak bergeming, pikirannya saat ini dipenuhi oleh kakaknya. Melihat kondisi Maylin, Elian ingin sekali merengkuh tubuh wanita itu ke dalam pelukannya, tetapi ia mengurungkan niatnya karena takut mendapat penolakan dari wanita itu.
Meskipun keakraban mereka mengalami kemajuan, tapi Elian merasa Maylin masih sedikit menjaga jarak dengannya. Elian menyesal, selama ia berada di London dengan sengaja memutuskan segala kontak dan komunikasi baik kepada Darwan maupun Maylin. Ia hanya menghubungi mamanya saja. Semua hal itu ia lakukan bukan tanpa alasan.
“Rayla pasti baik-baik saja.” Elian pun hanya bisa menenangkan Maylin melalui kata-kata. Wanita yang diam-diam ia cintai selama sembilan tahun, bahkan sampai detik ini.
Salah satu bentuk dari mencintai adalah merelakan orang yang kita sayangi bersama orang lain. Namun, diperlukan kesabaran dan keteguhan hati. Sehingga ia pun memutuskan pergi ke London. Berharap tidak lagi bertemu dengan kekasih adiknya, cinta yang bersemayam di dalam hatinya pelan-pelan dapat terkikis.
Namun, semakin dirinya berusaha untuk melupakan, perasaan cinta itu malah semakin membuncah. Bahkan sering kali ia harus menahan rasa rindu hingga membuat hatinya terasa sakit.
“Yang gue khawatirkan adalah janinnya.”
Suara Maylin membuat kedua mata Elian membelalak mendengarnya. “Rayla sedang hamil?”
“Rayla tidak bilang apa-apa ke gue. Kemungkinan besar dia sendiri pun tidak tahu kalau dirinya sedang hamil.”
Elian terdiam. Maylin menghela napas. “Kalau sampai terjadi sesuatu dengan janin Rayla, gue bersumpah tidak akan melepaskan mereka,” ucap Maylin dengan dingin.
Elian mengernyitkan dahinya. “Gue memang dengar perdebatan kalian, tapi gue tidak paham. Sebenarnya apa yang terjadi di antara kalian? Bukankah papa lo sudah meninggal seperti yang lo ceritakan?”
“Bukan urusan lo!” jawab Maylin datar.
Elian mendaratkan bo kongnya di kursi di sebelah Maylin. “Jelas urusan gue karena kita adalah sahabat.”
Kepala Maylin bergerak menoleh Elian. Ia tertawa mengejek. “Tidak pernah memberi kabar sekali pun apakah bisa disebut sahabat?”
Maylin kecewa karena Elian telah melupakan Darwan dan dirinya. Padahal, mereka bertiga pernah bermain bersama, bergembira bersama. Seharusnya kebersamaan itu menjadi satu di antara pengingat betapa pentingnya hidup bersama-sama.
Elian terdiam. Ia tidak tahu harus berkata apa. Mengutarakan perasaannya yang sudah lama ia pendam, jelas tidak mungkin. Maylin masih mencintai Darwan, adiknya yang sudah meninggal.
“Bagaimana kondisi Rayla?” Deon datang dengan napas tersengal-sengal. Setelah ia bertanya kepada salah satu perawat, ia langsung berlari menuju ruang UGD. Ia kalut keadaan tunangannya.
Maylin tidak sempat menjawab karena lampu indikator di atas pintu yang sedang menyala warna merah menjadi redup disusul suara bunyi. Tanda pasien di dalam yang sedang diberikan penanganan telah selesai.
Dokter keluar dari ruang instalasi gawat darurat bersama seorang perawat. “Keluarga Rayla Pramanta?” tanya Dokter.
Deon, Maylin dan Elian berdiri dengan gelisah, menunggu penjelasan Dokter mengenai kondisi Rayla saat ini.
“Saya tunangannya, Dok. Bagaimana kondisi dia?” tanya Deon dengan suara sedikit bergetar. Wajahnya terlihat sangat tegang. Jantungnya juga berdebar kencang.
“Pendarahannya berhasil ditangani. Kondisi ibu Rayla sudah cukup stabil sekarang,” jawab Dokter.
Rasa lega pun langsung dirasakan Deon. Namun, matanya membulat saat mendengar pertanyaan Maylin.
“Bagaimana dengan janinnya, Dok?”
Wajah Dokter itu menunjukkan senyumnya sedikit. “Untungnya ibu Rayla di bawa ke Rumah Sakit lebih cepat. Terlambat sedikit saja, janin yang ada di dalam kandungannya tidak terselamatkan.”
“Janin? Rayla hamil?” ucap Deon pelan seperti tidak percaya.
Kening Dokter berkerut. “Apa Anda tidak tahu tunangan Anda sedang hamil? Dilihat dari hasil pemeriksaan USG, janin ibu Rayla diperkirakan sekitar 7 minggu.”
Deon terdiam seperti patung. Kemudian Dokter tersebut kembali melanjutkan ucapannya. “Sebaiknya ibu Rayla banyak beristirahat dan jangan membuatnya stress. Keguguran rentan terjadi pada kehamilan pertama. Apabila kondisi ibu rahim melemah, leher rahim juga akan ikut lemah sehingga tidak memungkinkan janin untuk berkembang. Juga menyebabkan rahim ibu tidak bisa menahan kehamilan sehingga keguguran.”
“Karena ibu Rayla baru saja mengalami pendarahan, saya sarankan dibawa ke ruang rawat inap untuk memantau kondisinya.”
“Lakukan apa yang menurut Dokter itu terbaik untuk kakak saya. Terima kasih,” ucap Maylin mewakilkan Deon yang masih tak bergeming.
“Aku tidak tahu Rayla hamil,” ucap Deon pelan, ketika Dokter kembali ke ruang UGD.
“Aku juga baru tahu tadi, Kak. Aku hanya menebak-nebak saat melihat darah yang mengalir keluar dari bagian dalam kedua kaki Rayla,” jawab Maylin.
“Tunggu! Bukankah Rayla masih trauma untuk menikah?” tanya Deon panik.
“Apa kalian tidak memakai pengaman saat melakukannya?” Maylin balik bertanya. Ia pun bingung kenapa Rayla bisa sampai hamil sedangkan Rayla memiliki trauma.
Deon tidak menjawab. Ia akan bertanya langsung kepada Rayla begitu tunangannya sadar. Lalu, ia tersenyum sendiri seperti orang bodoh. Ia akan segera memiliki anak dengan Rayla. Perasaan bahagia langsung membuncah dalam hatinya.
*****
Disisi lain, seorang pria sedang berdebat dengan seorang wanita yang kecantikannya tidak memudar seiring dengan bertambahnya usia.
“Kamu baru saja mempermalukan harga dirimu sebagai keturunan Osborn! Aku sudah jelaskan kepadamu, kalau aku membantu mereka bukan sekadar cuma-cuma.”
“Kamu pikir aku percaya ucapanmu begitu saja? Ingat! Kamu pernah berkhianat!” teriak wanita itu murka.
Frans mengambil sebuah dokumen, kemudian memberikannya ke wanita itu yang langsung dibacanya dengan serius. Seketika tubuhnya terkulai lemas. Surat pernyataan bahwa tiga tanah yang dimiliki PT. SA menjadi milik Osborn.
“Kamu tidak seharusnya gegabah seperti itu, Lisya. Akibat perbuatanmu, sekarang Rayla berada di Rumah Sakit.”
Lisya adalah nama panggilan khusus Frans untuk istri yang dicintainya, Auristela allisya Osborn. Deon telah menghubungi Frans dan memberi tahu perbuatan Auristela di kantor pria tersebut.
Frans tahu Auristela bersalah karena telah menyakiti Rayla, putrinya. Namun, ia tidak bisa menyalahkan sepenuhnya kepada istrinya itu. Kesalahan yang ia lakukan dahulu, membuat Auristela kehilangan kepercayaan padanya.
Pada saat ia kembali ke keluarga Osborn, Auristela bersikap sangat dingin kepadanya. Frans sadar hatinya tidak bisa berbohong. Ia masih mencintai Auristela, tetapi ia tidak mau memaksa wanita itu untuk kembali menerimanya. Ia harus menanggung segala akibat atas perbuatannya sendiri.
Seiring berjalannya waktu, pelan-pelan hubungan mereka berdua pun mulai membaik. Empat tahun setelah Frans kembali dalam kehidupan Auristela, wanita itu pun memutuskan untuk membuka hatinya. Kemudian, lahirlah anak kedua mereka, yaitu seorang putra, Adam Bailey Osborn, yang kini berusia sembilan tahun.
“Putri bungsumu itu yang lapor sama kamu?” Auristela menatap Frans penuh selidik.
Frans menghela napas. “Deonartus yang menghubungiku.”
“Lalu … bagaimana keadaan anak itu?” Sikap Auristela mulai melunak.
“Masih belum tahu. Deon sedang dalam perjalanan menuju Rumah Sakit saat menghubungiku.”
Frans dapat melihat jelas wajah cemas pada istrinya. Ia pun memeluk tubuh istrinya untuk menenangkannya. “Rayla anak yang kuat. Dia pasti baik-baik saja.”
Air yang meleleh dari mata wanita tersebut jatuh membasahi pipi. “Sungguh, aku tidak sengaja melakukannya. Aku terlalu marah sampai kalap.”
“Sshh … aku tahu, Honey.” Frans mengusap kepala istrinya dengan lembut.
“Aku tidak tahu kalau anak itu sedang hamil. Aku benar-benar tidak bermak-“
“Hamil?” Frans terkesiap hingga ia mengurai pelukannya.
“Aku melihat darah keluar dari dalam kakinya, Frans. Aku tahu itu ciri-ciri pendarahan.” Takut, cemas, sedih, semua bercampur aduk dari tatapan Auristela.
Jelas ia tahu karena ia pernah mengalaminya ketika Frans memutuskan untuk bertanggung jawab kepada Restin. Stress yang dialami dirinya pada saat itu, ditambah ia yang tidak tahu bahwa dirinya sedang hamil, kejadian keguguran pun tak terelakkan.
Frans yakin istrinya teringat kembali peristiwa keguguran tersebut. Ia sangat menyesali kesalahannya. Ada banyak hati yang telah ia sakiti.
“Kita berdoa semoga tidak terjadi apa-apa.” Frans menciumi punggung tangan Auristela. “Lain kali jangan gegabah lagi. Aku tidak mau nama keluargamu jadi tercoreng. Cukup aku yang menanggung semuanya.”
Auristela bisa melihat ketulusan cinta Frans untuknya. Namun, ia sulit melupakan pengkhianatan yang pernah dilakukan pria yang dicintainya itu. Luka masa lalu, terkadang masih membayanginya.
Ancaman dari putri bungsu Frans bersama wanita itu, kembali terngiang di benak Auristela. Tiba-tiba firasat buruk datang. Membuat perasaannya jadi tidak enak.
Apakah papanya salah meminta Frans kembali? Apakah dirinya tidak boleh memperbaiki rumah tangganya yang sempat hancur? Frans mencintainya. Ia juga mencintai pria itu. Wanita yang bernama Restinlah yang salah karena ia menyelinap masuk ke dalam rumah tangganya.
*Kalau info tentang kehamilan ada yang salah, harap maklum ya **😝 Soalnya aku belum berpengalaman. Aku udah riset lewat google sih cari info tentang hamil 😁 Jangan lupa tinggalkan Komentar, berikan Vote, like dan Dukungannya ya guys. Terima kasih🙏Tambahkan juga ke Favorite supaya tidak ketinggalan up-nya🤗Loph you all😘*