Silence

Silence
Extra Part 4 - Pembuktian Cinta



*Happy reading 📖📖 guys*


Rayla baru saja membaringkan Ray ke box bayi dengan pelan ketika ia mendengar suara pintu dibuka. Tidak perlu menoleh, ia pun tahu siapakah yang sedang masuk ke dalam kamarnya.


“Sayang, aku cemas sekali kamu tidak mengangkat teleponku.” Deon memeluk pinggang istrinya dari belakang dan menaruh dagunya di bahu istrinya.


Rayla menghentakkan tangan Deon. “Apa yang mau kamu jelaskan? Aku lihat sendiri wanita itu duduk di atas pangkuanmu, sementara kamu menikmati sentuhannya di wajahmu.”


“Kamu salah paham, Sayang.” Deon membalikkan tubuh Rayla hingga menghadapnya. “Dia mantanku dulu saat kuliah. Kami bertemu lagi karena dia bekerja sebagai Sekretaris dari kolega bisnis kita. Aku sudah bilang kalau aku sudah berkeluarga, tapi dia tetap berusaha merayuku.”


“Lalu apakah usahanya telah berhasil?” Rayla melayangkan tatapan tajam. Ia berusaha mengontrol amarah yang sedang bergemuruh di dada.


Deon merengkuh Rayla, lalu memeluknya erat. “Aku baru mau mendorong tubuhnya, tetapi kamu sudah keburu datang. Hatiku hanya milikmu, Sayang. Apakah kamu tidak percaya padaku?”


Rayla memejamkan kedua matanya. Ia merasakan pelukan suaminya masih sama seperti dulu. Tidak berubah.


“Baiklah. Kalau kamu masih tidak percaya padaku, aku mau memperlihatkan sesuatu kepadamu.” Deon mengurai pelukannya. Kemudian mengeluarkan beberapa berkas dari tas kerjanya, lalu memberikan pada istrinya.


Rayla mengernyitkan alisnya. Matanya membelalak terkejut ketika manik matanya menangkap tulisan dan angka yang tertera di atas berkas tersebut.


Ia memang sudah mendengar berita tentang bisnis Xavier Jadison yang mengalami penurunan omzet dikarenakan PT. Gemilang Group berhasil memenangkan setiap tender.


“PT. Gemilang Group adalah perusahaan papanya Leonel. Aku mencadangkan dana di sana untuk meningkatkan kualitas produksi mereka, lalu bersaing dengan usaha Xavier Jadison dalam memperebutkan tender.” Deon menjelaskan sambil mata memandang Rayla. Ia ingin lihat bagaimana reaksi istrinya itu.


“Kenapa?” Sebenarnya Rayla tidak perlu jawaban karena ia sudah menebak alasan Deon melakukan hal tersebut. Namun, ia ingin mendengar dari mulut suaminya sendiri.


“Aku sudah bilang kalau aku tidak akan membiarkan diriku jatuh miskin sendirian, bukan? Mereka harus ikut merasakannya. Dan kini mereka tengah cemas atas kemerosotan omzet usaha mereka.”


Hanya mengingat perbuatan yang pernah dilakukan Erik, membuat emosi Deon kembali muncul. Matanya menyala karena amarah.


“Jadi, inilah rencana yang kamu ucapkan padaku ketika itu?” Rayla menangkup wajah suaminya dan menatapnya dalam.


“Aku tidak bisa memaafkan mereka, Sayang. Mereka memang pantas diberi pelajaran.” Deon meremas jari istrinya dengan lembut. “Inilah bukti cintaku kepadamu, Rayla Pramanta. Siapa saja yang telah menyakitimu, akan kupastikan mereka dapat ganjarannya.”


Rayla tersentuh mendengar ucapan Deon. Sebelum suaminya pulang, ia sudah menganalisa baik-baik. Ia percaya kepada suaminya yang tidak akan pernah mengecewakannya. Deonartus Surbakti memang sudah digariskan Tuhan untuk dirinya.


Akan tetapi, mengingat dirinya dulu sering diganggu oleh pria di hadapannya saat ini, ia masih ingin bermain-main sebentar.


“Baiklah. Aku percaya apa yang kulihat tadi hanya salah paham, tapi sekarang aku mengkhawatirkan wanita lain yang menjadi cinta pertamamu.”


Dahi Deon berkerut, tidak paham maksud ucapan Rayla.


“Mama memperlihatkan foto-foto selama pertumbuhanmu. Pada saat kamu sekolah di SD Pelangi, kamu mengejar-ngejar adik kelasmu, bukan? Bahkan, kamu sampai meminta dia begitu dewasa nanti menikah denganmu.”


Mata Deon membulat lebar. Pasalnya, tidak ada satu orang pun yang tahu tentang hal itu.


Ia tidak pernah bercerita kepada mamanya. Anak laki-laki tidak seperti anak perempuan yang suka curhat.


“Sayang, itu cuma janji anak ingusan. Aku tidak pernah bertemu lagi dengannya begitu aku lanjut masuk sekolah menengah pertama.”


“Bagaimana kalau dia muncul di hadapanmu sekarang, lalu menagih janjimu itu? Apakah kamu akan mengajaknya menikah?”


Deon menarik tubuh istrinya hingga menempel dengan tubuhnya. “Sebelumnya, kamu jawab pertanyaanku terlebih dahulu. Dari mana kamu tahu tentang aku mengatakan hal tersebut kepada anak perempuan manis itu?”


“Tentu saja ma-“


Deon mengunci bibir ranum itu dengan bibirnya sehingga Rayla tidak dapat meneruskan ucapannya. Beberapa saat mereka berdua hanyut dalam ciuman panjang hingga kemudian dengan napas sama-sama terengah bibir mereka berdua terpisah.


Kemudian menatap lekat istrinya. “Aku baru teringat nama anak perempuan itu ….”


“Siapa namanya?” Jantung Rayla berdegup sangat cepat. Tatapan mata suaminya seakan menghipnotis dirinya.


Seulas senyum menyungging di bibir Deon. “Rayla Pramanta.”


Deon menundukkan wajahnya dan kembali memagut bibir Rayla dengan cepat. Kedua tangannya yang kuat membelai pinggang wanita itu, naik ke sisi tubuh dan menangkup kedua gunung kembar.


Dengan sisa-sisa kesadaran yang ada, Rayla meminta Deon untuk berhenti. “Jangan dulu ….”


“Kenapa, Sayang? Apakah kamu masih marah? Bukankah jawabanku tadi sudah jelas siapakah cinta pertamaku itu?”


Ekspresi kecewa yang ditunjukkan Deon terlihat lucu di mata Rayla.


“Trimester pertama rentan, Yang. Apalagi hamil kembar lebih beresiko.”


Respons yang ditunjukkan Deon sama persis seperti Maylin. “Kamu hamil kembar?”


“Dokter melihat ada dua kantung janin, tetapi karena ada beberapa kondisi dimana sindrom kembar menghilang yang awalnya dikira anak kembar. Jadi, Dokter minta kita menunggu sampai 10-12 minggu baru bisa memastikan sedangkan usia kehamilanku baru 4 minggu.”


Deon mendekap istrinya begitu erat. Ketakutan akan kehilangan istrinya yang dirasakannya tadi akibat ulah mantannya sedikit terobati mendengar kabar kehamilan istrinya.


“Deon, jangan menangis, please ….” Rayla merasakan bahunya lembab dan basah. Ia mengurai pelukan, lalu menghapus air mata di pipi suaminya.


“Aku menangis karena sangat … sangat … sangat … bahagia, Sayang.” Deon tersenyum dan mengecup bibir Rayla lembut. “Terlebih lagi aku bahagia karena telah menepati janjiku untuk menikah dengan gadis pujaanku.”


Rayla tertawa terbahak-bahak, tapi ia segera mengecilkan suaranya begitu sadar Ray sedang tidur. “Ternyata sikap pantang menyerahmu itu sudah dari sejak kecil.”


Deon turut tertawa. Pantas saja pertama kali melihat Rayla, ada rasa ketertarikan yang begitu besar saat itu, sehingga ia merasakan ada magnet semu yang menarik di antara mereka satu sama lain. Dan perasaan itu masih terasa sampai detik ini. Bahkan, lebih besar.


“Mengapa kamu pindah sekolah? Dua tahun setelah lulus, aku datang ke sekolah Pelangi untuk bertemu denganmu, tapi ibu Anisa bilang kamu pindah sekolah dari setahun yang lalu.” Deon menanamkan pertanyaan ini sebagai pertanyaan pertama yang akan dia ucapkan, jika suatu hari nanti mereka berdua bertemu kembali.


“Papa makin kesulitan mencari uang. Tunggakan sekolah sudah empat bulan belum dibayar. Akhirnya, aku pilih pindah sekolah ke tempat yang lebih murah biayanya.”


Deon merengkuh tubuh Rayla ke dalam pelukannya. “Senang rasanya menemukan gadis manis pujaanku ternyata selama ini berada di dekatku.”


Ia tidak mau istrinya bersedih mengingat masa lalunya yang suram. Oleh sebab itu, ia sengaja mengalihkan pembicaraan.


Deon mengusap-usap punggung istrinya sambil berbisik, “I choose you. And I’ll choose you over and over and over. Without pause, without a doubt, in a heartbeat, I’ll keep choosing you. (Aku memilihmu. Dan aku akan memilihmu lagi, lagi dan lagi. Tanpa henti, tanpa ragu, dalam sekejap, aku akan terus memilihmu.)”


“Thank you for loving me. I have nothing special to offer except my capacity to love you. (Terima kasih untuk mencintaiku. Aku tidak memiliki hal istimewa untuk diberikan kecuali kemampuanku untuk mencintaimu.)” Air mata menitik dari pelupuk mata Rayla. Ia benar-benar merasa bahagia.


Tidak perlu penjelasan untuk mengungkapkan seberapa besar rasa cinta itu kepada pasangannya. Kata hanyalah sebuah ilusi yang mudah terucap, tetapi sulit terjaga. Sedangkan di lain sisi, janji adalah sebuah tanggung jawab yang mengandung banyak konsekuensi.


Kita kerap mengumbar banyak janji saat sedang menjalani sebuah hubungan. Padahal, bukankah tidak ada yang menjamin perkara masa depan?


Situasi bisa berubah kapan saja. Janji yang telah diucapkan mungkin akan sulit terpenuhi karena beberapa hal berjalan tidak semestinya.


Janji yang bertubi-tubi hanya akan membuatmu menjalani cinta yang terbebani. Dirimu justru berusaha sibuk untuk menepati. Lupa untuk tulus mencintai.


Oleh karena itu, cinta butuh sikap nyata untuk membuktikannya. Sebab, kata-kata dapat menguap begitu saja, beda halnya dengan perhatian dan tindakan nyata yang akan tinggal selamanya entah di mata atau di pikiran, bahkan perasaan.


*Hai Readers, jangan ke mana-mana dulu, ya. Masih ada extra part terakhir tentang kisah pertemuan pertama kali Rayla dan Deon waktu masih kecil. Plus edisi spesial part sebelum berlanjut ke cerita tentang Maylin di novel berikutnya. Tolong kasih **⭐️⭐️⭐️⭐️⭐️ 5stars sebagai dukungan semangat buat aku, ya 🤗 Jangan lupa tinggalkan Komentar, berikan Vote, like dan Dukungannya ya guys. Terima kasih 🙏🤗 Loph you all 😘*