Silence

Silence
Bab 85



*Happy reading 📖📖 guys*


Aku berada di ruangan kerja Deon sedang memeriksa beberapa berkas, sementara Deon pergi menemui om Surbakti untuk membahas perihal tentang pemutusan kerja sama dengan Xavier Jadison. Deon tidak mengizinkan aku ikut serta mendengar hasil diskusi mereka.


Saat aku tengah berkutat dengan kesibukan, Elia muncul di balik pintu setelah mengetuknya beberapa kali. “Bu Rayla, ada tamu untuk pak Deonartus,” katanya memberitahu.


Alisku berkerut ke atas. Seingatku pagi ini tidak ada jadwal pertemuan dengan seseorang. “Siapa?” tanyaku.


“Mr. Elian Grayson Carter,” jawab Elia.


“Persilahkan beliau masuk, lalu kamu siapkan minuman,” ucapku yang segera dibalas anggukan Elia. “Biarkan pintunya terbuka,” kataku lagi ketika Elia bermaksud menutup pintu. Peristiwa kejadian kemarin membuatku menjadi sedikit lebih berhati-hati.


Aku bergegas merapikan susunan berkas di atas meja. Tidak lama kemudian, terlihat sosok Elian yang tengah berjalan masuk disertai senyum lebar di bibirnya. “Hai, Rayla!” sapanya.


“Hai, Mr. Elian. Silahkan duduk!” kataku sambil menunjuk kursi kosong di depanku setelah berjabat tangan dengannya. “Pak Deon sedang rapat. Ada hal apakah tiba-tiba Anda datang kemari tanpa memberitahu kami terlebih dahulu?”


Elian tertawa pelan, kemudian menjawab, “Tidak usah formal begitu, La. Bos lo sedang tidak ada di tempat.”


“Di sini kantor. Saya harus bersikap profesional, Mr. Elian.”


“Kita adalah teman yang sudah lama tidak bertemu. Santai saja, La,” ucap Elian.


Suara pintu yang di ketuk kembali terdengar. Elia datang membawa dua cangkir berisi minuman, lalu meletakkannya ke meja.


“Terima kasih,” ucap Elian sambil mengedipkan satu matanya ke arah Elia sehingga wajah Elia bersemu merah. “Sekretaris lo ini cantik. Boleh tidak gue mengincar dia?” tanya Elian sambil mata menatapku penuh harap.


“Tidak hanya penampilan saja yang berubah, sikap lo pun ikut berubah juga. Ke mana perginya Elian si cupu itu?” ejekku. Aku menyilangkan kedua tangan di depan dada sambil menyunggingkan senyuman sarkastik.


Elian tertawa terbahak-bahak. “Kepribadian orang dapat berubah seiring berjalannya waktu, La. Seperti kekasih lo, misalnya. Siapa yang menyangka Playboy akhirnya bisa bertekuk lutut kepada satu wanita?”


“Itu perubahan ke arah lebih baik. Sedangkan lo? Dari kutu buku berubah menjadi tukang tebar pesona. Kepribadian seperti inikah yang lo pelajari selama melakukan studi di London?”


“Gue anggap itu sebagai pujian untuk gue,” ucapnya sebelum menyeruput minuman dengan santai.


Aku mengalihkan pandangan ke arah Elia yang masih berdiri di sana dengan mata berbinar-binar menatap Elian dan bibir terbuka sedikit. “Elia, kamu boleh kembali ke tempatmu,” tegurku. Sebentar lagi air liur menetes dari bibirnya jika aku tidak segera mengusirnya keluar.


Elian tertawa kecil sambil memperlihatkan giginya yang putih dan sangat rapi. “Sekretaris lo sepertinya jatuh kepada pesona gue. Bagaimana kalau gue mewujudkan keinginannya menjadi pacar gue?”


“Apakah semua pria tampan memiliki tingkat kepercayaan diri setinggi ini? Tidak lo, tidak Deon, kalian berdua sama saja,” cibirku sambil memutar bola mata malas.


“Berarti lo mengakui gue pria tampan, dong!” jawab Elian dengan suara menggoda dan mengedipkan satu mata nakalnya padaku.


“Iya, tampan,” jawabku apa adanya. “Tapi bagi gue tetap Deon yang paling tampan.”


Elian terkikik geli begitu mendengar ucapanku. “I can see.”


“Ada apa lo tiba-tiba datang ke sini?” tanyaku langsung setelah dirasa sudah cukup basa basinya.


“Gue cuma mau mengobrol saja sama lo.” Raut wajah Elian dalam sekejap berubah. Dia memandangku dengan tatapan yang sulit terbaca. “Sudah hampir satu bulan Maylin tinggal bersama Mom. Ada apa sebenarnya? Apakah Maylin sedang bertengkar dengan tante Restin?”


Aku sedikit terkejut mendengar pertanyaan yang keluar dari mulutnya. Elian datang mencariku hanya untuk mencari tahu soal itu?


“Kenapa lo tanya ke gue? Seharusnya lo tanya langsung sama Maylin. Bukankah kalian berdua paling akrab?” ucapku berbalik tanya.


Wajah Elian menampilkan senyuman, tetapi pandangan matanya terlihat tidak fokus. “Sejak gue pergi ke London, kesibukan gue selama di sana menyebabkan hubungan pertemanan di antara kami semakin jauh. Kehadiran gue sekarang baginya seperti orang asing.”


Gue mengamati raut wajah Elian yang terlihat seperti…kecewa? Aku dan Elian walaupun saling mengenal, tetapi sebenarnya tidak terlalu akrab.


Tante Frida dan Darwan sering menghela napas pasrah karena Elian sulit dibujuk agar mau meninggalkan bukunya sejenak lalu pergi refreshing bersama mereka.


Sampai ketika Maylin yang memang memiliki sikap periang dan gaul, tidak berhenti mencoba mengajak Elian yang ditolak Elian berulang kali pula. Meskipun demikian, Maylin tidak menyerah begitu saja hingga akhirnya Elian pun luluh. Sejak saat itu, di mana ada Maylin dan Darwan, Elian juga berada di sekitar mereka.


“Salah lo sendiri kenapa lo tidak punya waktu untuk sekadar menghubungi Maylin maupun Darwan? Maylin sempat cerita ke gue, Darwan merasa kehilangan sosok lo sebagai kakaknya,” ucapku memecah keheningan yang sempat melingkupi kami.


“Lo bilang kalau kepribadian gue berubah, tapi lo sendiri juga berubah. Dulu saat gue tanya lo satu kata, lo juga cuma jawab satu kata. Gue sempat berpikir, cewek ini sebenarnya robot atau manusia, sih? Sudah sikapnya kaku, juga irit bicara,” ucap Elian tiba-tiba mengalihkan pembicaraan dengan mengejekku.


“Jangan ngomongin gue! Lo sendiri juga sama kakunya!” jawabku, sewot. Aku mendelik sebal ke arah Elian yang tertawa terbahak-bahak. Sedetik kemudian, tawanya pun menular kepadaku juga.


“Sayang, kenapa tidak bilang kalau ada tamu mencariku?”


Tiba-tiba terdengar suara lembut dari Deon yang sedang melangkah berjalan menghampiri kami.


“Ka-hmmmppphh.“ Aku tidak berhasil menyelesaikan kalimatku karena Deon menciumku tiba-tiba. Dia mel umat bibirku dengan agresif. Apakah dia sudah gila melakukan hal ini di depan rekan bisnisnya?


Aku hendak mendorongnya, tapi Deon sudah melepas ciumannya. “Kamu benar-benar membuatku gila, Sayang. Baru melihat bibirmu saja, aku tidak bisa menahan ga irah,” de sahnya menatapku sayu, membuat degup jantungku berpacu cepat.


“Ah, Maafkan saya Mr. Grayson Carter, membuat Anda melihat kemesraan kami. Saya harap Anda bisa memakluminya, sepasang kekasih yang sedang mabuk asmara sering lupa tempat karena serasa dunia hanya milik berdua,” ucap Deon dengan bibir mengulas senyum kemenangan.


“Tidak apa-apa, Pak Deonartus. Saya sudah terbiasa melihat adegan seperti itu saat di London. Mereka bahkan tidak tanggung-tanggung make out di depan banyak orang.” Elian membalas dengan senyum lebar.


“Baguslah kalau begitu. Saya tidak perlu merasa sungkan lagi karena Anda akan sering-sering melihat kami bermesraan seperti tadi.” Deon pun mengangguk kepalanya tampak puas, lalu tertawa tergelak-gelak.


Aku hanya bisa menahan kekesalan atas sikap kekanak-kanakan Deon. Aku sudah setuju bertunangan dengannya, apakah masih belum cukup juga?


“Ada masalah apakah yang menyebabkan Anda tiba-tiba datang kemari, Mr. Grayson Carter?” tanya Deon setelah duduk di kursinya.


“Mr. Elian. Anda cukup memanggil saya Mr. Elian. Saya adalah teman lamanya Rayla, yang berarti Anda juga adalah teman saya. Bagaimana kalau kita menghilangkan sikap formal di antara kita? Kecuali saat bersama rekan bisnis lainnya.”


Deon terdiam, menatap Elian dengan alis berkerut samar. “Ok, tidak masalah. Kalau begitu, gue to the point saja, don't stealing a glance at my fiance - jangan mencuri pandang tunangan saya. Ini adalah peraturan yang berlaku dalam pertemanan antar pria. Itupun kalau lo memang mau menjadi teman gue,” ucap Deon sambil melayangkan pandangan tajam pada Elian.


“Deon, berhentilah mengintimidasi Elian. Dia bukan musuh kamu.” Aku mulai jengah atas sikapnya yang terlalu paranoid. Ya, Tuhan, aku benar-benar tidak tahu harus bagaimana lagi meyakinkan Deon kalau aku bukanlah tipe wanita yang menjadi bahan rebutan para pria.


“Santai saja, Bro. Gue sudah memiliki wanita yang gue cintai dan wanita itu pastinya bukan Rayla,” ucap Elian disertai gelak tawa.


Deon sedikit memicingkan matanya. “Apakah ucapan lo bisa dipercaya?” Nada suaranya terdengar curiga. Sontak aku langsung melayangkan cubitan keras ke bahunya hingga dia berteriak kesakitan, “Aww, sakit, Sayang!”


Aku meliriknya dengan tatapan horor, tapi Deon memang benar-benar bebal. Dia malah memasang wajah innocent nya. “Kenapa? Aku hanya mau memastikan makhluk alien ini apakah benar tidak mengincar kamu atau malah sebaliknya. Kalau ancaman datang, aku harus waspada, dong!”


“What? Makhluk alien? Dari segi mana wajah gue yang tampan begini mirip alien?” protes Elian.


“Mata lo yang abu-abu itu mirip mata alien!” tukas Deon.


“Asal lo tahu, keindahan mata gue ini sudah berhasil memikat banyak wanita,” balas Elian tidak mau mengalah.


Kepalaku mulai terasa pusing mendengar pertengkaran kedua pria yang masih labil ini. Heran, umur sudah tua, tapi sifat mirip anak baru gede saja.


“Kalian lanjutkan saja ribut-ributnya. Gue mau cari udara segar. Di sini terlalu sumpek!” Aku langsung berdiri dari tempatku duduk lalu berjalan meninggalkan ruangan.


Karena pintu tidak di tutup, Elia yang mendengar pertengkaran absurd antara Deon dan Elian pun terlihat sedang berusaha menahan tawa. Aku menarik napas panjang sebelum kakiku kembali melangkah ke arah pintu, kemudian menutupnya. Kedua pria gagal dewasa itu masih sedang beradu mulut. Mereka berdua benar-benar panutan CEO yang buruk.


Jangan lupa tambahkan ke Favorite lalu tinggalkan Komentar, berikan Vote, Like dan Dukungannya ya guys. Terima kasih 🙏🤗 Loph you all 😘