Silence

Silence
Bab 17



Happy reading 📖📖 ya guys


Aku pulang ke rumah dan memutuskan merebus mie instan sebagai makan malam. Tubuhku sudah terlalu lelah hanya untuk mencari makan di luar dan mie instant adalah pilihan yang praktis ketika kita tidak memiliki alternatif makanan lain.


Aku baru saja menghabiskan makan malamku ketika ponselku berdering tanda panggilan masuk. Erik’s calling.


Cepat sekali tante Rose sudah menghubungi anaknya? Apakah dia ketakutan aku mengadu domba dirinya kepada anaknya?


“Halo!” sapaku dengan tenang. Tidak ada suara balasan apa-apa dari Erik.


Dahiku mengernyit. Aku melihat sebentar tulisan yang muncul pada layar ponselku dalam keadaan telepon masih tersambung. Apakah sinyal Erik di sana sedang ada gangguan?


“Erik? Apa kamu deng-” Sebuah suara wanita di seberang sana membuatku bungkam.


“Rayla, Right? Sorry to disturbing you. I'm just want to talk to you for a second.”


Aku menatap jam pada dinding. Waktu menujukkan pukul 20:15, berarti di sana sudah pukul 23:15.


Sudah hampir tengah malam, Erik sedang bersama seorang wanita?


“Hey! What are you doing with my phone?”


Kemudian aku menangkap suara Erik yang sedang menegur wanita di seberang sana.


Hening kembali menyergap. Aku bersabar menunggu apa yang akan diucapkan Erik setelah ini.


“Rayla? Kamu masih di sana?" Suara Erik kembali terdengar pelan.


“Ya. Apa yang ingin kamu bicarakan, Erik? Aku masih memiliki banyak waktu. Di sini jam sembilan malam. Jam tidurku masih lama, tapi kalau kamu mau bicara besok tidak masalah. Aku tahu di sana sudah hampir tengah malam. Aku tidak mau mengganggu waktu istirahatmu,” jawabku sinis.


Aku tidak butuh penjelasan dari Erik. Hanya orang bodoh yang tidak mengerti apa yang sedang dilakukan seorang pria bersama wanita pada saat tengah malam.


“Jangan salah paham, Beb. Aku sedang berada di rumah temanku dan wanita tadi adalah kekasihnya. Dia suka iseng. Apa yang sudah dia katakan padamu tadi jangan percaya!”


Semua pria ternyata sama saja. Saat belangnya sudah ketahuan, mereka akan mencari seribu banyak alasan untuk menyangkal perbuatannya dan memperdaya kami dengan kebohongan-kebohongan lainnya.


“Ok! Aku anggap kamu ingin melanjutkan obrolan ini walaupun sebenarnya aku mengkhawatirkan kondisi tubuhmu yang sepertinya sering begadang hingga larut malam.” Aku melangkah masuk ke dalam kamar agar pembicaraanku dengan Erik tidak terdengar oleh tante Fifi maupun Maylin. Terutama mama.


“Memangnya wanita tadi akan mengatakan hal apa yang membuatmu terdengar cemas, Erik? Dia bahkan, belum sempat mengatakan apa-apa karena kamu sudah memergoki dirinya tengah menggunakan ponselmu,” timpalku ketus.


“Rayla, listen to me-”


“Tadi sepulang kerja, aku diantar pak Anto ke rumah orang tuamu karena tante Rose ingin bertemu denganku.” Aku segera menginterupsinya.


“What?" terdengar suara Erik terkesiap.


“Lebih tepatnya kami tidak mengobrol karena Tante Rose lebih banyak membahas kekurangan diriku untuk menjadi salah satu anggota keluarga Xavier Jadison. Mamamu tidak menyetujui hubungan kita. Kita tidak akan menikah, Erik.”


“Mom tidak mengatakan apa-apa kepadaku. Seharusnya Mom menghubungiku terlebih dahulu kalau beliau ingin bertemu denganmu.” Suara Erik terdengar gusar. “Kenapa kamu tidak langsung menghubungiku saat berada di sana atau saat sedang dalam perjalanan?”


“Menghubungimu atau tidak apakah akan ada perbedaannya, Erik? Kenapa kamu tidak memberitahu tante Rose terlebih dahulu mengenai latar belakangku? Kenapa harus membiarkan tante Nia yang menceritakan padanya? Apakah kamu sudah bisa menebak mamamu akan bereaksi seperti itu setelah dia tahu?” protesku.


“This is very complicated, Rayla. Aku ingin pelan-pelan membuat beliau bisa menerima hubungan kita. Oleh karena itu, aku sempat protes atas penampilanmu pada saat aku akan membawamu ke acara makan malam. Kamu masih ingat, kan?”


“Pernikahan di dalam keluarga Xavier Jadison mengutamakan yang sederajat. Aku bukan dari golongan kalian dan aku tidak memiliki bakat keterampilan apa pun yang dapat dibanggakan dan dipamerkan untuk keluarga kalian,” tukasku dengan nada naik satu oktaf.


“What do you mean, Beb?”


“Itu yang dikatakan tante Rose padaku, Erik. Dia bertanya padaku, keterampilan seperti apakah yang kumiliki? Bahasa asing apa yang aku kuasai? Jika mereka membutuhkan calon menantu yang pantas untuk bersanding dengan keluarga kalian, maka sudah jelas orang itu bukanlah aku,” ucapku sambil mengatur napas yang terengah-engah karena terbawa emosi ketika teringat kembali ucapan tante Rose.


“Let me fix this, ok? Besok aku akan menghubungi Mom. Mengenai keterampilan atau bahasa asing, kurasa tidak ada salahnya kalau kamu mulai mempelajari salah satunya, Beb. Misalkan bahasa Inggris? Kamu bisa mencari sekolah kursus untuk belajar. Atau kamu ingin mengambil keterampilan seperti bermain piano, biola atau apa pun itu agar Mom dapat sedikit menerimamu.”


Aku tidak percaya Erik berkata seperti itu padaku. Like Mother, Like Son.


Aku tertawa mengejek tanpa suara. Bisa-bisanya aku menghabiskan waktu dengan pria seperti ini. Deon, biarpun seorang Playboy, tetapi dia jauh lebih bisa menghargai wanita daripada Erik.


“Biaya sekolah kursus seperti itu tidak murah, Erik.” Aku sengaja memancingnya, ingin tahu apa yang akan dia katakan setelahnya.


“Bukankah kamu sering lembur, Beb? Aku yakin uang di tabungan kamu pasti cukup untuk membiayai sekolah kursus itu.”


Dia menyuruhku masuk kelas kursus demi mengambil hati ibunya, tetapi biaya kursus itu aku sendiri yang bayar? Apakah ada logika seperti itu?


“Satu hal lagi, Beb. Mungkin kamu harus mencoba mengubah penampilan dirimu menjadi lebih menarik dan lebih cantik sedikit demi sedikit. Misalkan, ber-makeup-lah saat kita sedang berkencan, mulai mengenakan high heels, tas yang sering kamu pakai gantilah dengan barang branded,” tutur Erik kemudian dan membuatku semakin merasa kecewa terhadapnya.


“Aku tidak bermaksud mengatakan dirimu tidak cantik, Beb. Memang benar kecantikan hati lebih penting daripada kecantikan wajah. Namun, bagaimanapun juga, tidak bisa dipungkiri bahwa kecantikan luarlah yang pertama akan dilihat oleh orang lain. Tidak ada salahnya, mencoba merubah diri menjadi lebih baik lagi agar dapat diterima oleh mereka,kan?”


Dia sedang memintaku mengubah diriku demi keluarganya?


Bodohnya diriku membuang waktu berkencan dengan pria yang lebih mendukung keinginan keluarganya daripada kekasihnya.


“Enough, Erik! Mamamu berpikir bahwa aku tidak pantas bersanding denganmu. Mendengar semua ucapanmu tadi juga menunjukkan kamu memiliki pandangan yang sama seperti mamamu terhadapku. Aku tidak ingin mengubah diriku karena aku tetaplah aku,” ucapku kepada Erik dengan tegas.


“Beb, aku hanya ingin-”


“Ada orang mengatakan, jika kamu benar-benar mencintainya, maka cintailah dia seutuhnya dengan kelebihan dan kekurangan yang dimilikinya," ucapku memotong perkataannya.


"Tas sederhana yang kamu sebutkan tadi, dress sederhana yang aku pakai pada saat acara makan malam itu, sepatu sandal dengan sedikit hak yang sering aku kenakan pada saat kita sedang kencan ... semua itu adalah bagian dari diriku. Jika kamu keberatan, kita berhenti di sini saja Erik," ucapku melanjutkan.


“Tidak, Rayla! Aku benar-benar mencintaimu. Hanya saja keadaan memaksaku untuk memintamu berubah. Tidak ada salahnya, kalau kamu sedikit mengubah dirimu demi kita, kan?” pinta Erik putus asa.


“Sesuatu yang dipaksakan, hasilnya tidak akan bagus, Erik. Saat aku berhadapan dengan mamamu tadi, aku mengerti kalau sudut pandang kami berdua bertolak belakang. Hubungan kami untuk menjadi mertua dan menantu, tidak akan berjalan lancar, Erik.” Aku mencoba memberi penjelasan kepadanya bahwa hubungan kami memang tidak memiliki masa depan.


“Lalu untuk kedua kalinya memergokimu saat di sana sudah tengah malam, tapi kamu masih belum beristirahat di Apartemenmu. Setelah kita menikah nanti bagaimana aku bisa percaya saat kamu mengatakan ada rapat penting hingga larut malam atau kamu harus dinas keluar kota atau keluar negeri, tapi ternyata kamu sedang bersenang-senang dengan wanita lain?” lanjutku setelah menarik napas lelah.


“A- aku ….” Erik kehilangan kata-katanya.


“Aku mengerti, Erik. Kamu adalah pria normal. Libido yang ada di dalam tubuhmu membutuhkan tempat untuk di salurkan. Sedangkan aku tidak dapat melayanimu, meskipun aku adalah kekasihmu. Oleh sebab itu, lebih baik kita akhiri hubungan ini. Mungkin wanita yang sedang berada di sampingmu saat ini lebih baik dariku. Kamu bisa memperkenalkannya kepada keluargamu. Bye, Erik.” Kemudian aku memutuskan sambungan secara sepihak, lalu memblokir nomor Whats App-nya.


Satu masalah sudah terselesaikan. Besok aku harus mempersiapkan diriku untuk menghadapi mama.


Aku yakin, entah itu dari Erik atau tante Nia, di antara mereka pasti akan memberitahu mama. Dan mama akan marah besar.


Ya, Tuhan. Beri aku kekuatan untuk menghadapi apa yang akan terjadi besok. Semoga masalah ini tidak akan memperburuk hubunganku dengan mama.


*****


Semalaman aku terus-menerus membolak-balikkan badan untuk mencari posisi nyaman agar dapat tidur. Namun, rasa kantuk tidak juga datang hingga matahari pun terbit.


Aku melihat jam di atas nakas. Waktu menunjukkan pukul setengah delapan pagi. Kuputuskan meraih ponselku dan menghubungi Bella.


Pada dering pertama telepon tidak diangkat. Deringan kedua, Bella masih juga tidak mengangkat telepon. Kucoba sekali lagi menghubunginya. Semalam dia pasti pergi clubbing lagi.


“Jam tiga subuh gue baru tidur, La. Gue masih ngantuk,” protes Bella dengan suara serak di seberang telepon.


Akhirnya dia mengangkat telepon.


“Gue dan Erik putus. Kalau lo mau dengar cerita lengkapnya, gue tunggu lo di rumah Agatha satu jam lagi,” jawabku cepat.


“What? Lo akhirnya putus dengan pria tua itu?” teriak Bella.


Refleks aku menjauhkan ponsel dari telinga karena bella berteriak dengan suara yang nyaring.


Tidak lama kemudian, aku berkata, “Gue mau bersiap-siap ke rumah Agatha. Lo juga cepat pergi mandi. Jangan sampai telat! Gue tidak mau mengulang cerita yang sama dua kali. See you there.”


Kemudian aku memutuskan sambungan telepon, lalu mencari nama kontak Agatha dan menghubunginya.


“Tha, gue ke rumah lo kurang lebih sekitar satu jam lagi, ya. Gue juga sudah menghubungi Bella. Gue dan Erik semalam putus,” ucapku ketika telepon di angkat.


Reaksi Agatha berbeda dengan Bella. Tidak ada balasan suara apa-apa darinya. “Agatha!” panggilku.


Lalu terdengar sebuah suara pria menjawab, “Aku sudah membangunkan Agatha, Rayla. Datanglah kemari.”


Aku merasa malu karena Peter lah yang mengangkat telepon dan mendengar ucapanku tadi.


“Sorry, Peter. Gue mengganggu tidur lo. Sampaikan pada Agatha satu jam lagi gue sampai. Thank’s.”


Aku menaruh kembali ponselku ke meja, kemudian beranjak dari tempat tidur, lalu berjalan melangkah menuju kamar mandi.


Jangan lupa tambahkan ke Favorite lalu tinggalkan Komentar, berikan Vote, Like dan Dukungannya ya guys. Terima kasih 🙏🤗 Loph you all 😘