Silence

Silence
Bab 48



Happy reading 📖📖 guys


Entah kami sudah menangis berapa lama, hingga tiba-tiba suara perutku berbunyi nyaring. Aku dan Mama tertawa sambil menyeka sisa-sisa air mata.


Mama menggunakan intercom, meminta Alice membawa makanan ke ruangan kerjanya. Untuk pertama kali ini kami berdua makan bersama dalam jarak yang dekat.


Kami tidak mengucapkan apa-apa selama makan. Kami membiarkan keheningan tetap tercipta di tengah-tengah kami.


Namun, kali ini aku bisa merasakan sebuah perasaan hangat di antara kami. Perasaan yang sudah sangat lama sekali tidak kurasakan terhadap Mama.


Mama membantuku mengupas daging ayam dan menaruhnya di piringku. Karena tersentuh atas perhatiannya yang selama ini tidak pernah dilakukannya padaku, membuat mataku terasa panas dan sebulir air mata kembali menetes keluar.


“Jadi, bagaimana kelanjutan hubungan kamu dengan Jason dan Deon?” Setelah kami selesai makan, barulah Mama melontarkan pertanyaan yang sedari tadi masih mengganjal.


“Aku sudah mengatakan pada Jason hubungan kami hanya bisa dilanjutkan sebagai sahabat. Tentang Deon, aku mencintainya, Ma ….”


Mama terlihat ingin menginterupsi, tetapi aku cepat-cepat menambahkan, “Aku sudah siap dengan resikonya, Ma. Berani mencintai seseorang berarti harus siap menerima bahwa akan ada kemungkinan kita tidak mendapatkan sesuai yang kita harapkan.”


“Seperti pertandingan sepak bola di Premier League. Setiap kesebelasan yang bertanding pasti berharap menang. Mereka sudah berlatih keras dan keluar banyak biaya. Akan tetapi, tidak mungkin mereka bisa selalu menang. Pasti ada kalahnya juga. Dan ketika kekalahan terjadi, suka atau tidak suka mereka harus menerimanya. Sungguh aneh bukan kalau pertandingan sepak bola tidak ada resiko kekalahan? Demikian juga dalam hal mencintai.”


Aku berhenti sejenak. Mama hanya diam sambil terus menatapku.


“Memang benar tidak ada jaminan bahwa cinta selamanya berjalan baik-baik saja. Tetap ada kemungkinan, baik kecil maupun besar akan adanya kegagalan ataupun resiko. Kalau cinta, tapi tidak mau menerima resiko, bukankah itu adalah perasaan egois yang mementingkan agar harapan kita sendiri yang terjadi?”


Mama menarik napas dalam. “Deon sudah tahu tentang kamu yang takut menikah dan dia tidak menjadikan hal itu masalah. Bukankah itu jelas-jelas dia pun tidak mempunyai niat untuk ke jenjang lebih serius? Tidak ada orang yang menjalani hubungan tanpa ingin menikah, Rayla. Kecuali kondisi seperti kamu.”


Aku menarik tangan Mama dan menggenggamnya dengan erat. “Aku takut menikahi orang yang salah, karena mencari kebahagiaan pernikahan tidaklah mudah. Namun, seseorang mengajariku, kita harus memiliki kapasitas untuk menoleransi perbedaan dengan kemurahhatian. Orang yang paling cocok untuk kita bukanlah orang yang berbagi setiap selera kita, melainkan orang yang dapat menegosiasikan perbedaan rasa secara cerdas, orang yang pandai berselisih pendapat.”


“Apa kamu yakin dia bisa menghilangkan traumamu?” tanya mama.


“Jujur, Ma … aku tidak tahu apakah aku bisa berhasil atau tidaknya mengatasi traumaku ini. Deon ingin membantuku mengobati ketakutanku. Dia juga bilang akan menungguku sampai aku sudah siap. Entah mengapa, aku mempercayakan padanya.”


“Kalau suatu hari nanti, kamu sudah berhasil sembuh dari traumamu itu, apa kamu mempercayakan pria itu menjadi pendamping hidupmu? Setelah berumah tangga, cinta saja tidak cukup, Rayla. Rumah tangga tidak selamanya berlangsung mulus. Dalam perjalanannya, ada saja masalah yang kerap menghampiri, di mana sebagian besar disebabkan karena faktor ekonomi,” ucap Mama lagi. Nada suaranya terdengar tidak yakin.


“Manusia sudah diciptakan lengkap dengan rezekinya masing-masing, Ma. Namun, itu semua juga dibutuhkan usaha. Tanpa berusaha keras dan semangat untuk bekerja, rezeki tidak akan datang,” ucapku mencoba membuat Mama mengerti.


“Masalah perekonomian memang kerap memicu terjadinya keretakan dalam rumah tangga. Akan tetapi, dengan saling terbuka satu sama lain, berkomunikasi dan saling pengertian serta toleransi, Rayla yakin, hal tersebut dapat mencegah terjadinya konflik.”


Mama menghela napas. Dengan wajah yang terlihat lelah, Mama kembali berkata, “Mama tidak ingin nasibmu seperti Mama, Rayla! Suami adalah sebagai kepala rumah tangga dan pencari nafkah bagi keluarga. Ketika seorang suami tidak bisa bekerja, atau terkena PHK dalam pekerjaanya, atau penghasilannya tidak cukup, saat itu masalah finansial dapat membuat hubungan yang sudah harmonis berakhir tragis!”


Aku ingin sekali memberitahu Mama untuk tidak perlu mencemaskan hal itu. Karena, yah, pendapatan Deon tidak ada habisnya.


Akan tetapi, Deon memintaku untuk tidak mengatakannya pada Mama. Deon ingin mama menerima dirinya karena pribadinya. Bukan karena dia anak dari seorang pengusaha.


“Mama tahu kalimat apa yang diucapkan Deon hingga membuatku memutuskan untuk menerimanya?” tanyaku tiba-tiba.


Aku berhenti sejenak sambil mengingat kembali ucapan Deon saat itu. Kemudian tanpa sadar, bibirku tertarik hingga membentuk sebuah senyuman.


“Kamu harus belajar untuk berdamai dengan lukamu, Rayla. I will be your saving grace. Aku akan menjadi pelindung untukmu.”


“Pernikahan hanya sebagai penyempurnaan saja. Aku yakin suatu hari nanti kamu bisa menghadapi ketakutanmu itu. Berapa lama waktu yang kamu butuhkan, aku akan tetap menunggu.”


“Itulah yang diucapkan Deon padaku, Ma. Ucapannya itu berhasil masuk dalam hatiku, membuat perasaanku begitu hangat dan tenang. Bahkan, aku mempercayai ucapannya begitu saja,” ucapku dengan tangan menyentuh dada.


Jantungku berdetak dua kali lebih cepat. Deon sedang tidak berada di sampingku. Namun, hanya mengingatnya saja membuat jantungku bereaksi seperti ini. Dia telah mengajarkan aku untuk kembali mencintai disaat hati sedang terluka.


Mama mengusap kepalaku lembut. Aku menengadahkan kepala, menatapnya.


“Mama tidak bisa mengatakan apakah Mama sudah menyetujui hubungan kalian atau tidak. Namun, melihat raut wajahmu yang berbinar-binar saat membicarakannya, Mama bisa merasakan kalau kamu sudah jatuh cinta padanya,” Mama terus mengusap rambutku dengan jari tangannya.


“Kejarlah kebahagiaanmu, Rayla. Mama hanya bisa membantumu lewat doa. Semoga Deon tidak akan mengecewakanmu,” sambung Mama.


Aku mengulas senyum lebar, lalu memeluk Mama dengan erat. “Thank’s, Ma!” ucapku lirih.


Air mataku kembali menetes keluar. Namun, kali ini adalah air mata kebahagiaan.


“Maafkan, Rayla, Ma. Ada waktu saat aku tidak menuruti ucapan Mama. Ada kalanya aku merasa benci dan ingin melawan, tetapi ketahuilah, yang terdalam dari hatiku adalah mencintaimu, Ma. Aku memang bukan anak yang baik, tetapi bukan berarti aku tidak menyayangimu, Ma … I Love You,” ucapku dengan serak.


Mama tidak mengucapkan apa-apa. Namun, dari cara pelukannya yang semakin mengetat, bahunya yang bergetar, sudah cukup menunjukkan bahwa Mama juga mencintaiku.


Aku tidak tahu apakah ke depannya akan ada perubahan dalam hubungan kami atau tidak, tapi setidaknya kami sudah saling terbuka. Bagiku, ini adalah awal yang sangat baik juga hal yang paling membahagiakan dalam hidupku.


Meskipun tidak semua orang berkesempatan memiliki orang tua yang utuh maupun bersikap baik, sebaiknya tetaplah menyayangi mereka, karena orang tua merupakan sosok yang sangat berjasa dalam membesarkan anak-anaknya.


Seringkali hubungan antara anak dan orang tua pun bisa renggang. Namun, kita bisa coba untuk memperbaikinya dengan meminta maaf dan saling terbuka.


Jangan lupa tambahkan ke Favorite lalu tinggalkan Komentar, berikan Vote, Like dan Dukungannya ya guys. Terima kasih 🙏🤗 Loph you all 😘