Silence

Silence
Bab 86



*Happy reading 📖📖 guys*


“Kapan lo pulang, Lin? Mama setiap hari terlihat murung. Na fsu makannya juga menurun. Tubuhnya langsung kurus,” tanyaku di telepon.


Aku memutuskan ke pantri dapur kantor untuk menyeduh kopi setelah meninggalkan Deon dan Elian yang sedang sibuk berdebat. Sambil menunggu kopi keluar dari cerat, aku menelepon Maylin sekadar menanyakan kabarnya.


“Gue akan pulang kalau mama mau mengatakan berapa uang yang diberikan bajingan itu,” jawab Maylin, datar.


Aku menghela napas panjang. “Saat gue sedang bertengkar dengan mama dulu, lo selalu suruh gue untuk mengerti posisi mama. Apakah sekarang lo menarik balik kembali kata-kata lo itu?”


“Gue mengerti kondisi mama yang susahnya sebagai single parent, berjuang sendirian demi menghidupi anak-anaknya, tetapi gue tidak sudi menerima uluran bantuan bajingan itu! Apakah bajingan itu berpikir, dengan memberi uang untuk pendidikan kita lantas luka di hati kita akan sembuh?” Suara Maylin terdengar parau, sarat emosi.


“Gue tahu, Maylin. Kita sama-sama terluka karenanya.”


“Kalau begitu, jangan memaksa gue untuk menoleransi sikap sok pahlawan pria itu! Ada beberapa perasaan sakit yang tidak akan tersembuhkan, juga sulit untuk dilupakan.”


Sekali lagi, aku menarik napas dalam-dalam, lalu membuangnya perlahan. Sering kali, perasaan senang, semangat, haru bahkan sedih, menjadi perasaan yang hadir dalam hidup. Tak terkecuali dengan rasa kecewa, yang bisa hadir karena orang lain.


Perasaan kecewa sebenarnya dapat dijadikan pembelajaran hidup. Hanya saja, tidak semua hal yang dikecewakan, bisa dilupakan begitu saja.


“Bagaimana hubungan lo dengan kak Deon?”


Suara Maylin yang terdengar lagi di ujung telepon, membuatku tersadar dari pikiran yang berkecamuk di dalam kepalaku. “Kami berdua memutuskan untuk bertunangan. Nanti malam Deon mau minta izin ke mama.”


“Really? Congratulation to My Sister,” Maylin berteriak histeris, bahagia. “Mama pasti setuju. Gue bisa lihat dari sikap mama yang sekarang mulai bisa menerima kak Deon. Gue turut senang mendengarnya, La. Lo pantas mendapatkan kebahagiaan ini,” imbuhnya.


“Terima kasih ucapannya, Lin. Semoga saja mama menyetujuinya.”


“Usaha kak Deon tidak sia-sia, La. Dia telah berhasil membuat lo bersedia maju satu langkah. Berarti, trauma lo tinggal sedikit lagi. Bersemangatlah, La! Gue selalu mendukung kalian berdua,” ucap Maylin dengan tulus.


“Ya, Lin. Gue ingin menggapai kebahagiaan gue bersamanya. Gue akan berusaha untuk sembuh dari trauma ini,” kataku diiringi sebuah senyum lebar terkembang di bibirku.


“Good. Ngomong-ngomong, gimana caranya kak Deon berhasil mendapatkan jawaban yes dari seorang Rayla Pramanta yang masih trauma takut menikah?” tanya Maylin, penasaran.


Aku berdeham demi meredakan debaran jantung yang tiba-tiba berdegup cepat akibat mengingat kejadian panas yang dilakukan Deon kemarin. “Rahasia,” jawabku, singkat. Mana mungkin aku menceritakannya kepada Maylin. Biarlah jadi rahasia yang indah antara aku dan Deon.


“Dasar pelit! Pasti kak Deon membuat lo terbang ke surga dunia terlebih dahulu, baru kemudian dia minta lo tunangan. Ya, kan?”


“Sok tahu, lo!” elakku cepat.


Maylin tertawa terbahak-bahak. “Apapun itu yang dilakukan kak Deon, gue tetap terkesan dengan kegigihannya dalam memperjuangkan diri lo juga mengambil hati mama. Beruntunglah lo bisa memiliki pria seperti kak Deon. Karena itu, jangan sia-siakan keberuntungan ini.”


Aku mengangguk. “Kali ini gue tidak akan menyia-nyiakan kebahagiaan itu, Lin.”


“Ok. Kabari gue acara pertunangannya kapan dilaksanakan,” kata Maylin, kemudian ingin memutus sambungan, tetapi dengan cepat aku kembali memanggilnya. “Ada apa?” tanyanya.


“Apakah lo bertemu dengan Elian selama tinggal bersama tante Frida?”


“Ya. Sejak Darwan meninggal, Elian sering datang kemari mengunjungi mami. Terkadang dia juga menginap di sini. Memangnya kenapa?”


“Elian datang ke kantor gue. Dia bertanya kenapa lo tinggal di sana? Apakah sedang bertengkar dengan mama?” tanyaku, pelan. Tidak ada tanggapan apa-apa dari Maylin di ujung telepon. “Elian bilang, kalian seperti orang asing….”


“Sejak dia pergi ke London, selain mami, dia tidak pernah menghubungi gue dan Darwan. Gue kecewa kepadanya, La,” Maylin menarik napas sebelum kembali mengucapkan kalimatnya. “Gue marah kepadanya yang menggunakan alasan sibuk belajar dan tidak menyisakan sedikit waktu menghubungi Darwan. Lo tidak tahu bagaimana kecewanya Darwan saat itu kehilangan sosok kakak yang disayanginya.”


“Terkadang di balik menyibukkan diri, ada sesuatu yang sedang berusaha untuk dilupakan, Lin,” gumamku.


“Apa yang mau dia lupakan? Adiknya? Sahabatnya? Kenapa harus melupakan kami? Memangnya kesalahan apa yang sudah kami perbuat terhadapnya?” tukas Maylin, emosi.


“Gue tidak tahu. Hanya saja gue merasakan ada sesuatu yang dia pendam, Lin. Kalian cobalah untuk komunikasi. Dia juga pasti merasa kesepian karena tidak ada Darwan lagi.”


“Dia sama sekali tidak kesepian. Dia sudah punya kekasih.”


Wajah Vlora tiba-tiba muncul dalam kepalaku setelah mendengar ucapan Maylin barusan. “Maksud lo Vlora Lovata Osborn?”


“Gue tidak tahu dan gue tidak perlu tahu itu!” Maylin berdengkus sebal.


“Vlora adalah putrinya Frans Osborn, Lin. Dia juga hadir di acara peresmiannya Deon. Kebetulan Vlora dan Elian saling mengenal saat mereka studi di London,” tuturku menjelaskan.


“Ya, sepertinya Vlora menyukai Elian. Dia mengaku-ngaku sebagai calon tunangannya Elian, tapi Elian tidak menanggapinya.”


Maylin tidak memberikan tanggapan apa pun. Beberapa detik tanpa suara itu membuatku kebingungan. “Maylin? Lo masih di sana?” tanyaku.


“Y- ya … gue … baru ingat ada sesuatu yang … harus gue kerjakan ….”


Dahiku berkerut. Mengapa suara Maylin tiba-tiba terdengar aneh?


“Lain waktu kita lanjut ngobrol lagi ya, La. Gue sekarang sibuk dulu. Bye.” Kemudian Maylin memutuskan sambungan telepon.


Mengapa tiba-tiba perasaan tidak enak menyergap hatiku? Apa yang sedang dia kerjakan sekarang? Semoga saja hanya pikiranku yang terlalu berlebihan.


*****


“Sayang, besok jadwalku apa saja?” tanya Deon setelah selesai menandatangani beberapa dokumen.


Dengan sigap, aku membantunya merapikan dokumen tersebut. “Besok hanya ada satu pertemuan penting dengan kolega bisnis dari Australia sekitar jam sebelas siang di Restoran,” jawabku.


“Kalau begitu, tolong kamu bikin janji pertemuanku dengan pak Osborn, besok sore.”


“Maksudmu, Frans Osborn?” Aku terkejut mendengar perintah yang keluar dari mulut Deon.


Deon menyuruhku untuk tidak bersikap formal terhadapnya pada saat kami hanya sedang berdua. Dia bilang, dia tidak suka mendengar aku menggunakan kata saya dan bapak, yang menurutnya dapat menjadi jurang pemisah hubungan kami.


Berlebihan? Ya, begitulah Deonartus Surbakti. Aku malas membahas panjang lebar dengannya hanya karena urusan penggunaan kata, juga karena aku memang tidak pernah menang berdebat dengannya. Oleh karena itu, aku pun menuruti kemauannya.


Deon menganggukkan kepalanya. “Tanah yang menjadi persyaratan Xavier Jadison, separuhnya diinvestasikan Frans Osborn. Aku harus ke sana mencari beliau untuk membicarakan masalah tanah itu setelah pertemuan dengan kolega bisnis dari Australia selesai.”


“Baiklah, aku akan menghubungi Sekretarisnya.” Aku hendak membawa dokumen tadi keluar, tetapi Deon menahan tanganku. Aku menatap keheranan kepadanya. “Ada lagi yang harus aku lakukan?”


“Apakah kamu mau bersamaku menemui beliau? Atau kamu tunggu di dalam mobil saja?” Deon bertanya dengan pelan dan sangat berhati-hati.


Aku tak bergeming. Sejak acara ulang tahun kantor, aku tidak pernah lagi melihat pria itu. Bayangan bagaimana pria itu terlihat begitu menyayangi putrinya, Vlora Lovata Osborn, membuatku merasa pedih sehingga dada terasa sesak dan sulit bernapas.


Aku menengadahkan kepala ketika aku merasakan sentuhan lembut pada punggungku. Deon berdiri menatapku sambil mengusap kedua pipiku yang telah basah karena air mata yang entah sejak kapan jatuh.


“Kamu tunggu saja di mobil. Biar aku sendiri yang menemui beliau,” ucapnya lembut.


“A- aku ….” Aku menundukkan kepala. Jujur saja hatiku seketika dilanda bimbang. Aku belum siap bertemu pria itu lagi.


“Tidak apa-apa, Sayang. Kalau kamu belum siap bertemu dengan beliau, jangan dipaksakan,” ucap Deon lagi.


“Kamu harus belajar untuk berdamai dengan lukamu.”


“Setiap perjalanan akan ada ujian yang memiliki dua pilihan, terus berjalan dan berhasil atau berhenti dan gagal.”


Kalimat yang pernah diucapkan Deon kepadaku kembali terngiang di telinga. Jika aku ingin meraih kebahagiaan, maka aku harus meninggalkan kenangan masa lalu yang membuatku terluka. Jika bukan aku sendiri yang tegas maju demi kebahagianku sendiri, lalu siapa lagi?


Aku mengangkat kepala, mataku bertaut dengan mata seorang yang tidak pernah pergi dari hidupku selama hampir satu tahun ini. Aku menatapnya lekat. Mengingat kata-kata penyemangat yang pernah diucapkannya kepadaku, membuat pikiranku rasanya lebih tenang.


“Aku ingin berdamai dengan lukaku, Deon. Aku ingin terus berjalan dan berhasil di setiap ujian dalam perjalanan hidupku,” tukasku penuh tekad. “Aku tidak mau berlari lagi dari kenyataan. Besok aku ikut bersamamu menemui Frans Osborn.”


Deon memelukku erat. “Aku akan terus berada di sampingmu, menemanimu di setiap langkah hidupmu, Sayang. Percayalah, kamu pasti berhasil,” bisik Deon lembut di telingaku.


Aku mengangguk. Kamulah sumber kekuatanku, Deon. Tanpa kehadiranmu, diriku terus terpenjara dalam lingkaran memori yang selalu menyiksa hingga pedihnya tidak pernah memudar.


Juga kenyataan tentang kehadiran diriku adalah sebuah kesalahan, tidak bisa dipungkiri ada rasa putus asa yang kerap kali hinggap di dada hingga aku berpikir mungkin aku memang ditakdirkan tidak dapat hidup berbahagia. Rasa sakit mungkin adalah hal yang akan selalu kukenal.


Namun, semuanya berubah ketika Deon datang lalu mengulurkan tangannya untuk menolongku, menerima diriku yang tidak sempurna dan berusaha keras memperjuangkan diriku saat mama menolaknya. Kehadirannya membuat hidupku lebih berwarna ketika sebelumnya hanya abu-abu.


Bisa memilikinya adalah kebahagiaan dalam hidupku. Tuhan, izinkan aku untuk terus bersamanya. Dia adalah penyemangat terbaikku dan aku tidak mau kehilangan itu.


Love is a mystery that is hidden throughout the ages, sneaking behind the appearance and make our hearts as the nest. - Cinta adalah suatu misteri yang terselubung sepanjang zaman, mengendap-endap di balik penampilan dan menjadikan hati kita sebagai sarangnya.


Jangan lupa tinggalkan Komentar, berikan Vote, like dan Hadiah supaya aku semakin semangat menulis ya guys. Terima kasih🙏Tambahkan juga ke Favorite supaya tidak ketinggalan up-nya🤗Loph you all😘