Silence

Silence
Bab 30



*Happy reading 📖📖 guys*


Aku duduk di depannya dan terus memperhatikan wajah Deon. Sejak tadi di antara kami belum ada yang mulai bersuara.


Sesungguhnya jantungku sudah berdebar lebih cepat. Aku khawatir apakah yang akan dikatakan Deon sesuai dengan isi kepalaku saat ini.


“Apa saja yang dikatakan Rita kepadamu?” tanya Deon setelah kami diam entah berapa lama.


“Menurutmu apakah itu penting? Aku lebih suka mendengarnya dari bibirmu, Deon,” jawabku dengan tenang.


Rita memang tidak mengatakan apa-apa padaku. Aku ingin Deon sendiri yang mengucapkannya.


Sekilas Deon melirikku, lalu menghela napas pasrah. “Dia adik dari salah satu sahabatku. Aku tahu kalau dia menyukaiku, tapi aku tidak pernah membalas perasaannya karena aku sudah menganggapnya seperti adik sendiri.”


Aku diam mendengarkan penjelasannya sambil menyeruput secangkir kopi hangat yang kuseduh tadi.


“Aku dan sahabatku seperti membuat peraturan tanpa secara lisan. Kami bebas bergonta ganti pasangan. Bahkan, memacari dari salah satu mantan kami, tapi tidak boleh mengincar saudara perempuan di antara kami,” lanjutnya.


Sudah kuduga mereka saling mengenal jauh sebelum Rita masuk bekerja di kantor. Pantas saja Deon tidak memacari Rita. Padahal, kelihatan jelas kalau Rita memiliki perasaan kepada Deon.


Aku menunggu Deon kembali melanjutkan ceritanya, tapi dia hanya diam. Matanya tertuju padaku.


Aku mengernyitkan sebelah alis. “Tidak ada kelanjutannya?” tanyaku.


Deon terlihat seperti sedang berpikir, kemudian dia berkata, “Aku sudah mencari tahu mengapa hasil angka pada sistem komputermu berbeda. Ternyata hal itu ada campur tangan dari Rita.”


Mataku membulat lebar. “Jadi, karena dia laporan yang kubuat salah, lalu dengan sengaja memiliki alasan untuk menghakimiku?” tanyaku penuh emosi.


“Aku sudah menegurnya, Rayla. Dia berjanji tidak akan melakukannya lagi,” ucap Deon.


Mendengarnya membela wanita itu membuatku semakin marah. “Kamu membelanya?”


Deon bangun dari tempat duduknya, lalu berpindah duduk di sebelahku. Dia menggenggam jari tanganku, tapi aku menepisnya dengan kasar.


“Aku tidak membelanya, Sayang. Aku mengancamnya jika sekali lagi dia berbuat hal seperti itu, aku akan melaporkannya kepada Pak Gunawan!”


“Menurutmu apa dia bisa diancam dengan mudah? Kamu hanya Staff biasa sedangkan dia Kepala Divisi Accounting. Siapa yang akan didengar oleh Pak Gunawan?” jawabku dengan sinis.


Deon bungkam, tidak dapat berkata apa-apa.


Aku menatapnya dengan tajam. “Kamu yakin tidak pernah memberinya harapan?”


Deon langsung menggeleng dengan cepat. “Aku tidak pernah menyambut perasaannya, Sayang. Aku sudah telanjur menganggapnya sebagai adik sendiri. Kan, kamu tahu kalau aku tidak punya adik. Jadi, aku dan Rita hanya seperti kakak adik. Tidak lebih!”


“Tapi dia menginginkan lebih dari itu, Deon. Dia bahkan, berani menggunakan kekuasaannya untuk menyabotase sistem pada komputerku. Setelah ini, hal apa lagi yang akan dia lakukan? Dia pikir masalah pekerjaan bisa digunakan untuk membalas rasa sakit hati atau cemburunya itu?”


“Kalau pada saat itu aku tidak menceritakannya kepadamu, dia memberiku waktu selama apa pun juga aku tidak bisa merevisi laporan itu,” ucapku menambahkan.


Dadaku bergemuruh hebat karena emosi yang kurasakan saat ini. Jika wanita itu sedang berada dihadapanku sekarang, aku ingin langsung menjambak rambutnya dan mencakar wajah cantiknya itu.


“Sudah kukatakan, dia tidak akan berani melakukannya lagi, Sayang,” ucap Deon.


“Aku tidak percaya! Besok aku akan menghadap pak Gunawan, melaporkan apa yang telah dilakukan ibu Rita itu!” dengusku.


“Jangan dulu, Sayang!” sergah Deon.


Mendengar pertentangan dari Deon malah membuatku semakin marah. Tatapan mataku semakin tajam padanya.


Aku sudah ingin protes, tapi dia melanjutkan ucapannya terlebih dahulu, “Kita lihat dulu apakah setelah ini dia masih berani melakukan hal semacam itu atau tidak. Kalau masih juga, baru aku tidak akan melarangmu melaporkannya kepada Pak Gunawan. Aku tegaskan sekali lagi. Aku tidak bermaksud membelanya. Aku hanya merasa beri dia kesempatan. Itu saja!”


Aku diam, memikirkan ucapannya. Aku mengerti setiap orang pernah melakukan kesalahan dan beri mereka kesempatan untuk memperbaikinya.


Hanya saja aku sangat kesal karena Rita tidak dapat bersikap profesional. Tidak bisa memisahkan antara urusan pekerjaan dan pribadi.


Atas kekuasaan yang dimilikinya, seenaknya melakukan hal itu padaku.


Deon menggengam jariku dengan lembut. Kali ini aku tidak menepisnya lagi. “Jangan marah lagi, Sayang. Aku pastikan dia tidak akan berani berbuat seperti itu lagi padamu,” ucapnya dengan lembut.


Hatiku yang tadinya penuh dengan amarah pun perlahan mulai reda. Ucapan Deon membuatku kembali tenang.


Entahlah, jurus ilmu apa yang dilakukan Deon terhadapku. Setiap kali dia mengatakan sesuatu seperti sebuah janji, aku merasa bahwa janjinya dapat dipercaya. Aku bisa menaruh harapan kepadanya.


Tiba-tiba keningku terasa hangat ketika Deon mendaratkan bibirnya. Memberiku ciuman hangat pada keningku.


“Trust me! You can keep my promise! I will be your savior, remember?”


Ough! Aku benci diriku yang makin lemah kalau Deon sudah mengucapkan kalimat itu.


“Selain itu tidak ada lagi yang kamu sembunyikan dariku?” tanyaku.


“Hmm ….” Dia tidak langsung menjawab pertanyaanku.


Deon menarik bibirnya tersenyum, lalu menjawabnya di telingaku dengan suara serak, “Kamu terlihat sexy sekali kalau sudah cemburu, Sayang.”


Aku sempat mengeluarkan suara mendesah karena perbuatan Deon.


Namun, aku teringat kalau aku masih ada perasaan kesal padanya. Kemudian aku mendorongnya dengan kuat. “Mau ngapain kamu? Malam ini tidak ada jatah untukmu!” sungutku.


Deon memberikan cengiran jahil. Kemudian dia mendekatkan wajahnya padaku.


“Tubuh dan bibir kamu seringnya tidak sinkron, Sayang. Akuilah tubuhmu lebih cepat bereaksi pada sentuhanku,” ucapnya sebelum bibirnya memagut bibirku dengan liar.


“Akhhh, Deon, kita … belum … mandi …,” desahku sambil memejamkan mata.


Deon menghentikan pagutannya, lalu dengan mata yang menyorotkan penuh gairah, dia berkata, “Kalau begitu, kita mandi bersama ya, Sayang.”


“Mandi sendiri-sendiri, sana!” tolakku.


Deon tidak menggubris ucapanku. Dia malah menggendongku, lalu berjalan ke arah kamar mandi.


“Hitung-hitung membantu pemerintah soal penghematan air, Yang.” Deon menunduk, lalu kembali mencium bibirku.


Hasratku pun ikut tersulut. Perasaan kesalku pun dalam sekejap menghilang begitu saja.


*****


Deon mengambil drip dari coffee maker, lalu menuang isinya ke dalam gelas kami.


Dia membeli coffee maker-nya sebulan setelah aku mulai tinggal bersamanya. Dia tahu aku coffee lovers, selalu memulai hari dengan secangkir kopi.


Oleh karena itu, dia memutuskan membelinya untuk mempermudahku menikmati kopi kapan pun aku mau.


“Jadi, sudah kamu siapkan hadiah ulang tahunnya Maylin?” tanya Deon sambil memberiku gelas berisi kopi yang baru dituangnya ke hadapanku.


Satu hal yang menjadi nilai plus pada diri Deon. Dia menjalani ritual pagi dengan menyiapkan sarapan pagi untuk kami berdua.


Aku sempat mengatakan kepadanya untuk bergiliran, tapi Deon menolak. Dia malah mengatakan kalau dia sangat senang bisa melakukannya untukku.


“Membuat breakfast mudah kok, Sayang. Aku bisa melakukannya. Kecuali kalau untuk makanan berat seperti makan malam, aku nyerah deh! Itu bagianmu nanti.”


Bagaimana aku tidak makin tersentuh atas sikapnya yang manis itu? Selama ini belum pernah ada pria yang memperlakukanku seperti seorang bak putri.


Atau karena dulunya Deon adalah Playboy? Urusannya memikat hati wanita patut diacungi jempol.


“Kalau aku beli sepasang sepatu bayi, menurutmu cocok tidak?” tanyaku meminta pendapatnya.


“Boleh saja, sih! Tapi kita masih belum tahu calon bayinya laki-laki atau perempuan.” Deon meletakkan gelas kosongnya pada bak pencuci piring, lalu melangkah ke arah sofa ruang tamu dan meraih sebuah dasi. Kemudian dia mulai mengikat dasinya.


Karena Deon berinisiatif membuat sarapan pagi, maka aku meminta padanya agar piring atau gelas kotor biar aku yang mencucinya.


“Kita bisa beli warna biru. Warna ini untuk anak laki-laki atau perempuan pun bisa dipakai,” jawabku sambil sibuk mencuci piring dan gelas yang tadi kami pakai.


Tiba-tiba pinggangku diraihnya dengan lembut, lalu Deon memelukku dari belakang. “Kalau begitu malam ini pulang kerja kita cepat-cepat pergi ke Mall. Sekalian beli hadiah untuk Agatha. Bukannya dia sebentar lagi akan melahirkan?”


Aku mengangguk. “Ok. Agatha bilang kalau tidak meleset dari perhitungan Dokter kandungannya, sekitar minggu depan dia akan melahirkan.”


Aku mengelap sisa-sisa air yang ada di tanganku, lalu berbalik saling menghadap.


Deon mengecup bibirku sekilas sementara kedua tanganku kuletakkan di atas pundaknya. “Berita kehamilan Maylin, lalu minggu depan sahabatmu akan melahirkan, kamu pasti ikut merasakan kegembiraan juga.”


“Tentu saja! Dua hal berita baik dari orang yang kusayangi,” ucapku tersenyum lebar.


Deon menjawil hidungku dan berkata, “Kalau begitu jangan biarkan hal lain merusak rasa kebahagiaanmu hari ini. Ok?”


Aku cemberut mendengar ucapannya. Aku mengerti maksud Deon. Seperti aku punya pilihan lain saja.


Aku yakin, Deon sebenarnya sungkan melaporkan perbuatan Rita pada pak Gunawan. Bagaimanapun juga wanita itu adalah adik dari sahabatnya.


“Aku hanya memaafkannya satu kali saja. Kalau dia masih berani melakukannya, aku tidak mau kompromi lagi denganmu. Saat itu juga, aku langsung menghadap pak Gunawan dan melaporkannya,” jawabku dengan menyilangkan kedua tangan di depan dada.


“Iya, Sayang. Aku janji tidak akan ikut campur masalah kalian. Kamu yang ambil keputusan sendiri.”


Jawaban Deon membuatku puas. Aku tersenyum senang.


Deon mengulur tangannya untuk meraih tangan kananku, menggenggam lembut dengan tangan besarnya yang hangat. “Yuk, kita berangkat!”


Aku mengangguk. Kemudian kami melangkah keluar dari Apartemen ke arah parkiran sambil bergenggaman tangan.


Your hands is the only one i ever want to hold. You complete me.


Jangan lupa tambahkan ke Favorite lalu tinggalkan Komentar, berikan Vote, Like dan Dukungannya ya guys. Terima kasih 🙏🤗 Loph you all 😘