
Untuk part ini, jujur guys, membutuhkan waktu paling banyak karena aku sampai melakukan riset tentang ilmu kedokteran demi memperdalam cerita di part ini (aduh, lebay banget yak author satu ini) 😄😄 Karna itu makasih banyak kalau kalian mau memberiku ⭐️⭐️⭐️⭐️⭐️ 5stars, like dan tip-nya ya biar aku makin semangat hahaha ngelunjak ya?😁😁 Pokoknya makasih banget ya yang udah mendukung dan mau baca karya ku ini sampai sekarang. Loph u guys 😘😘 harap maklum ya kalau di part ini feel nya kurang greget. Aku sudah mengerahkan semua tenaga dan otakku untuk menulis part ini 😔😔
Happy reading 📖📖 guys
Aku terbangun karena suara dering ponsel yang tidak berhenti berbunyi. Aku melirik jam di atas nakas. Waktu menunjukkan pukul satu dini.
“Siapa yang menelepon selarut ini?” tanya Deon dengan suara serak khas tidurnya.
Aku meraih ponselku yang masih terus berbunyi. Tante Fifi’s calling.
Jantungku tiba-tiba berdegup kencang diikuti perasaan tidak enak muncul. Tidak ada orang yang menelepon lewat dari tengah malam jika bukan karena ada sesuatu hal penting.
“Ada apa, Tante?”
“Rayla, maaf tante menghubungimu selarut ini. Segera datang ke rumah sakit DN. Maylin dan Darwan mengalami kecelakaan.”
Jawaban tante Fifi membuatku tersentak. “Apa? Bagaimana bisa?” teriakku. Deon ikut bangun dari posisi tidurnya.
“Maylin sedang ngidam sekoteng 38. Dia meminta Darwan mengantarnya ke sana. Dalam perjalanan pulang, mobil mereka ditabrak truk.”
Air mataku lolos dari kedua mata. Bibirku bergetar. Ya, Tuhan! Beberapa hari lagi adalah hari pernikahan mereka. Mengapa peristiwa naas ini dialami oleh mereka berdua?
Deon mengelus-elus punggung polos yang tanpa tertutup busana apa-apa di tubuhku. Beberapa kata penenang di ucapkannya pada telingaku. Namun, aku tidak bisa mendengarnya dengan baik karena perasaanku saat ini sangat kacau.
“Tante sedang dalam perjalanan ke rumah sakit bersama mamamu. Kamu segera berangkat.”
“Aku segera ke sana, Tan. Ada kabar terbaru, segera hubungi aku.” Lalu aku mematikan ponsel.
Masih dengan kondisi berlinganan air mata, aku menatap Deon dan berkata, “Kita ke rumah sakit DN, Deon. Maylin dan Darwan kecelakaan.”
Tanpa berkata apa-apa lagi, kami bergegas mengenakan pakaian. Dengan kecepatan maksimal, Deon menyetir mobilnya ke arah rumah sakit. Sepanjang perjalanan, aku tidak berhenti berdoa atas keselamatan mereka berdua.
*****
“Kamu pulang saja dulu, Deon. Nanti aku akan mengabarimu lewat telepon,” kataku ketika kami sudah sampai di depan pintu masuk Emergency.
“Aku ikut!"
Aku menatap nanar kepadanya. ”Mama dan tante Fifi tidak akan bisa memaafkanmu jika mereka melihatmu ikut datang bersamaku selarut ini, Deon. Mereka bukan anak kecil yang bisa kita bohongi.”
Deon mengulur tangannya, membelai punggung tanganku dengan lembut. “Aku tidak mungkin meninggalkanmu dalam keadaan seperti ini, Sayang. Aku ingin berada di sampingmu. Aku sudah menganggap Maylin seperti adik sendiri. Masalahmu juga menjadi masalahku.”
“Tapi bagaimana kalau mama semakin tidak menyukaimu? Sedangkan tante Fifi, aku tidak yakin apakah beliau bisa menerima hal ini atau tidak,” tanyaku dengan nada penuh kecemasan.
“Jika mereka marah padaku, biar saja. Sudah sepantasnya aku menerimanya. Aku telah mengecewakan mereka,” jawab Deon.
Aku sudah ingin menyuruhnya agar lebih baik menungguku di Apartemen, tapi Deon kembali berkata, “Jika mereka meminta pertanggung jawaban dariku, aku tidak akan lari dari tanggung jawab itu, Rayla. Jika mereka berubah menjadi membenciku, aku akan berusaha membuat mereka kembali menyukaiku. Aku akan melakukan apa saja agar tidak kehilangan dirimu, Sayang.”
Deon menangkup wajahku dan mengecup sekilas bibirku. Kemudian tangannya membelai kepala rambutku. “Biarkan aku berada di sampingmu.”
Kata-katanya membuatku luluh. Aku mengangguk kepala. Kemudian kami berdua melepas seatbelt dan berjalan turun dari mobil.
*****
Aku berlari dengan sekencang-kencangnya ke arah ruang tunggu ICU yang di tunjuk oleh suster setelah Deon menanyakan keberadaan Maylin dan Darwan. Jantungku berdebar dengan cepat.
Ketika kami sudah hampir sampai, sosok Tante Fifi dan Mama terlihat. Aku mengerahkan kedua kakiku agar berlari lebih kencang lagi.
“Mama! Tante Fifi!” panggilku. Tante Fifi langsung menggenggam erat tanganku sambil sesenggukan. “Bagaimana kondisi Maylin?” tanyaku cemas.
“Kami belum lama sampai. Dokter masih di dalam.”
“Kita berdoa saja semoga Maylin dan Darwan tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan,” ucap Deon.
Tante Fifi menatap Deon dengan terkejut. “Deon, kamu ikut mengantar Rayla?”
Aku dan Deon sesaat saling bertatapan hingga akhirnya kembali menatap Tante Fifi dan menjawab, “Aku akan menjelaskannya nanti, Tante.”
“Kalian ….” Tante Fifi menatapku dan Deon bergantian. Matanya terbelalak dan menutup mulutnya sendiri dengan tangannya.
“Kita bahas masalah ini setelah kondisi kembali normal. Sekarang bukan saat yang tepat. Kita fokus dulu dengan Maylin dan Darwan.” Mama sedang duduk di salah satu kursi yang disediakan pihak rumah sakit untuk memberikan kenyamanan pada keluarga pasien yang sedang menunggu pasien di ruang ICU.
Suara tangis Tante Frida membuatku menoleh. Terlihat sosok Om Brian dan Tante Frida, orang tua Darwan, sedang duduk tidak jauh dari tempat kami berdiri. Om Brian menepuk punggung Tante Frida dengan pelan.
Aku melangkah berjalan menghampiri mereka. “Maylin dan Darwan pasti baik-baik saja. Mereka akan segera melangsungkan pernikahan. Tuhan pasti akan menyelamatkan mereka,” ucapku penuh harap.
Tante Frida meraih jari tanganku. Kepalanya mengangguk. Air matanya terus mengalir tanpa berhenti.
“Keluarga Maylin Pramanta?” panggil seorang perawat.
Mama, Tante Fifi, aku dan Deon bergegas mendekati perawat itu. “Saya ibunya pasien, Sus,” jawab mama.
“Ini Dokter Asha, Dokter obgyn. Berhubung pasien dalam keadaan hamil, jadi Dokter Asha yang menanganinya. Beliau akan menjelaskan perihal kondisi pasien,” tutur perawat itu memperkenalkan seorang Dokter yang berada di sampingnya.
Aku berdiri dengan gelisah di samping kiri mama, menunggu penjelasan dari Dokter mengenai kondisi Maylin saat ini. Deon meremas bahuku pelan.
“Pasien mengalami patah tulang lengan atas. Bagian Dokter ortopedi sudah menanganinya dengan lancar karena patahnya tulang tersebut tidak terlalu parah.” Dokter Asha mulai menjelaskannya dengan tenang.
Akan tetapi, raut wajah Dokter terlihat tegang ketika kembali melanjutkan penjelasannya setelah jeda beberapa saat. “Namun, benturan keras pada bagian perut, membuat pasien mengalami perdarahan hebat dan kondisi janin masuk terlalu dalam ke dinding rahim. Jika tidak segera melakukan operasi histerektomi, bukan hanya janin saja, kondisi pasien juga tidak bisa diselamatkan.”
“Tu- tunggu sebentar, Dok. Histerektomi bukankah pengoperasian mengangkat rahim dan leher rahim?” selaku.
“Ya, betul. Tindakan ini satu-satunya alternatif untuk mengatasi keselamatan pasien.”
“Tapi, Dok, bagaimana dengan janinnya?” tanya Tante Frida cemas.
“Mohon maaf, kami tidak bisa menyelamatkan janin yang ada di dalam kandungan pasien.”
Rasanya bagaikan terkena serangan jantung saat mendengar pernyataan Dokter. Napasku tertahan dan dadaku terasa nyeri.
Deon memberiku kekuatan dengan memeluk tubuhku dari samping. Membiarkannya berada di sampingku saat ini ternyata keputusan yang tepat.
“A- apakah … putri saya … masih bisa … hamil, Dok?” Mama terlihat menahan tangis yang sudah hampir pecah.
Kepala Dokter Asha menggeleng. “Kami harus melakukan histerektomi radikal yaitu mengangkat seluruh rahim (uterus), leher rahim (serviks), jaringan sisi rahim dengan cara open surgery. Ketika rahim atau uterus diangkat, tentu tidak akan ada tempat lagi bagi bayi untuk tumbuh dalam proses kehamilan. Secara tidak langsung, peluang pasien untuk hamil setelah menjalani prosedur ini sudah tidak ada.”
Mama terduduk lemas ke lantai dan air matanya mengalir. “Ya, Tuhan, mengapa Engkau memberi kami cobaan berat seperti ini? Mengapa Engkau tidak menghukum diriku saja? Anak-anakku tidak bersalah atas dosa yang kuperbuat.”
“Ma ….” Aku bersimpuh di samping mama dengan berurai air mata. Tante Fifi juga melakukan hal yang sama.
“Maaf jika saya menyela. Saya mengerti perasaan kalian saat ini, tapi kondisi pasien sekarang sedang dalam keadaan kritis. Operasi tersebut harus segera dilakukan. Sebelum itu, keluarga pasien diminta untuk menandatangani persetujuan terlebih dahulu untuk melakukan operasi tersebut,” tukas Dokter.
Mama mencoba menenangkan dirinya. Beliau menyeka air mata yang telah membasahi wajahnya dengan jari tangannya. “Saya mengerti, Dok!”
“Mari ikut saya, Bu,” ucap perawat tadi.
Mama dan perawat tersebut baru akan melangkah, ketika seorang Dokter dan perawat lain keluar dari ruangan ICU. “Keluarga Darwan Bimala?”
“Tunggu sebentar, Suster. Saya ingin mendengar kabar menantu saya,” tukas Mama.
“Kami orang tuanya, Dok,” jawab Om Brian.
“Bagaimana kondisi putra saya, Dok? Tidak ada masalah apa-apa, kan?” Suara Tante Frida terdengar sangat cemas.
Seluruh tubuhnya gemetar. Om Brian memeluk bahu Tante Frida, bermaksud untuk menenangkan istrinya.
“Pembengkakan jaringan pada otak pasien membuat tekanan di dalam tengkorak meningkat, sehingga aliran darah dan oksigen yang seharusnya diterima otak menjadi menurun. Bila tidak segera ditangani, ukuran otak yang membengkak bisa semakin membesar hingga otak terdesak oleh tulang tengkorak. Sayangnya, kondisi pasien saat di bawa ke sini dalam keadaan kritis.”
“Mak … sud Dokter?” tanya Om Brian pelan.
“Pasien saat di bawa ke sini dalam kondisi perdarahan di dalam jaringan otak. Perdarahan inilah yang mengakibatkan pembengkakan otak dan menyebabkan matinya sel-sel di otak,” jawab Dokter menerangkan.
“Ja- jadi?”
Dokter menghela napas. Dengan wajah muram berkata, “Kami sudah berusaha sekuat mungkin. Namun, Tuhan berkehendak lain. Putra Anda tidak dapat diselamatkan.”
“Tidak!” Tante Frida menjerit dengan suara melengking. “Putra saya beberapa hari lagi akan melangsungkan pernikahannya! Tuhan tidak mungkin dengan teganya mengambil nyawa putra saya! Dokter harus bertanggung jawab menyembuhkan putra saya!”
“Frida ….” Om Brian berusaha menenangkan istrinya. Sedangkan beberapa bulir air mata menetes dari kedua matanya.
“Pernikahan Darwan tinggal beberapa hari lagi, Brian. Kita bisa mengundurnya sampai kondisi mereka sembuh,” kilah Tante Frida.
“Darwan sudah tidak ada, Frida. Terimalah kenyataannya.”
Tante Frida melotot tajam pada suaminya. “Tidak! Anakku adalah anak yang tangguh! Dia akan kembali sehat! Aku akan menggugat sopir truk sialan itu! Rumah Sakit ini juga akan aku gugat karena tidak becus menangani pasien!” sungut Tante Frida dengan wajah memerah karena murka.
Aku berniat menghampiri Tante Frida dan memberinya pelukan, tapi Om Brian tiba-tiba menampar wajah istrinya dengan keras.
“Sadarlah, Frida! Darwan sudah meninggal! Dia sudah tidak ada lagi di dunia ini!” bentak Om Brian.
“Tidak!” gumam Tante Frida pelan. Dadanya bergerak naik turun dengan cepat karena tangisan. Dengan tangan mengepal, Tante Frida memukul dadanya. Tangisnya semakin kencang. Siapa pun yang mendengarnya, pasti ikut merasakan sakitnya.
Tubuh Tante Frida tiba-tiba terjatuh ke lantai. Om Brian langsung menangkapnya. “Frida!”
“Tante Frida!” Aku bergegas mendekati tubuh Tante Frida yang sudah tidak sadarkan diri. Wajahnya pucat.
“Cepat bawa ke ruang rawat!” perintah Dokter.
Dengan sigap Om Brian menggendong tubuh Tante Frida, lalu berjalan pergi mengikuti langkah Dokter dan perawat.
“Bu, Anda harus segera menandatangani persetujuan operasinya. Tidak ada banyak waktu untuk menyelamatkan kondisi pasien,” perawat yang sedang menunggu mama kembali mengingatkan.
Mama sedikit tersentak. Sedetik kemudian, kesadarannya telah kembali. Kepalanya mengangguk lalu mengikuti perawat dari belakang.
Jangan lupa tambahkan ke Favorite lalu tinggalkan Komentar, dan Dukungannya ya guys. Terima kasih 🙏🤗 Loph you all 😘