
Hai readers! Utk di part ini mengandung bawang bangettt, siapkan tissue dulu ya sblm dibaca 😁 Waktu aku tulis part ini, aku sambil berpikir, bagaimana kalo aku berada di posisi Maylin? 😭😭 Karena itu guys, sisakan, habiskan waktu kita dan gunakan sebaik-baiknya utk org”yg kita sayangi karena kita tdk pernah tahu kpn perpisahan itu tiba😢😢 Tolong kasih ⭐️⭐️⭐️⭐️⭐️ 5stars sebagai dukungan semangat buat aku ya 😁 Jangan lupa tambahkan ke Favorite lalu tinggalkan Komentar, Vote, Like dan Hadiahnya ya guys. Terima kasih 🙏
Happy reading 📖📖
Beberapa kali Maylin berteriak histeris ketika terbangun. Memanggil nama Darwan juga calon anaknya yang telah tiada.
Beberapa kali pula Dokter memberinya obat penenang melalui suntikan karena gerakan penolakan pada tubuhnya dapat mengakibatkan tulangnya yang patah kembali bergeser dan luka bekas operasi kembali terbuka.
“Kami akan melakukan pemakaman untuk Darwan dan anaknya,” ucap Om Brian.
“Kami pikir akan lebih baik jika Maylin ikut hadir agar Darwan dapat pergi dengan tenang,” Tante Frida melanjutkan.
Om Brian dan Tante Frida datang pada hari ke-7 Maylin dirawat. Mereka ingin melihat kondisi Maylin sekaligus mengutarakan maksud mereka.
Mama dan Tante Fifi saling bertatapan satu sama lain. Sedangkan aku berdiri dalam diam, menyimak pembicaraan mereka.
Sesungguhnya aku merasa keberatan karena aku takut Maylin tidak bisa menerima dengan baik selama acara pemakaman berlangsung. Namun, aku tahu Darwan dan anaknya menginginkan Maylin berada di sana, menemani mereka untuk yang terakhir kalinya.
“Melihat kondisi mental Maylin saat ini, saya tidak berani menjamin dia dapat mengatasi rasa dukanya.” Mama mencoba mengemukakan pendapatnya.
“Biar saya yang mencoba bicara dengannya. Bolehkah?” tanya Tante Frida.
Mama dan Tante Fifi mengangguk. Memberi izin kepada Tante Frida mendekati Maylin yang sedang tertidur.
“Maylin, Sayang. Bangunlah, Nak! Ini Mami,” bisik Tante Frida pelan sambil mengelus kepala Maylin dan mengecup keningnya dengan lembut.
Tante Frida memang sudah menganggap Maylin seperti anak kandungnya sendiri. Kasih sayang seorang ibu yang diberikan oleh Tante Frida, yang tidak pernah didapatkan Maylin dari Mama sejak kecil, membuat Maylin tersentuh dan memanggilnya dengan sebutan Mami.
Kedua kelopak mata Maylin mulai bergerak, kemudian perlahan terbuka. Matanya mengerjap-ngerjap. “Ma … mi ….” Suaranya serak.
“Ya, Sayang. Maafkan Mami karena baru sekarang datang menjengukmu.” Tante Frida tersenyum sambil menitiskan air mata.
Air mata Maylin kembali turun. “Darwan, Ma … anakku …,” isaknya.
Tante Frida mengangguk. Kedua tangannya terus mengusap kepala Maylin dan menghapus air mata Maylin dari wajahnya. “Kamu sudah makan, Nak?” Maylin menggeleng, menoleh ke luar jendela dengan pandangan kosong.
“Ini bubur untuk Maylin, Tante. Dia tidak mau memakan apa pun walau kami sudah berusaha membujuknya,” kataku sembari menyodorkan mangkuk berisi bubur yang sudah agak dingin kepada Tante Frida. Melihat sikap Maylin yang lebih lunak terhadap Tante Frida, aku berharap agar Tante Frida dapat membujuk Maylin.
Sungguh, Maylin sekarang terlihat seperti mayat hidup. Wajahnya pun lebih pucat daripada saat Dokter selesai melakukan operasi.
Jika bukan berteriak histeris, dia hanya diam sambil menatap kosong. Tidak mau makan juga minum sehingga Dokter memberikan cairan infus untuk mengatasi kekurangan cairan pada tubuhnya.
“Mami suapin, ya?” Suara Tante Frida sedikit bergetar.
Awalnya Maylin hanya diam memandang Tante Frida. Tidak lama kemudian, dia mengangguk. Aku menghela napas lega.
Tante Fifi berjalan menghampiriku dan berkata dengan pelan di telingaku, “Tante dan Mama keluar dulu. Kamu di sini saja. Berjaga-jaga kalau Tante Frida membutuhkan bantuan.”
Aku balas mengangguk. Mama, Tante Fifi dan Om Brian pun beranjak keluar dari kamar.
Perlahan, Tante Frida meninggikan bagian kepala agar posisi Maylin sedikit duduk. Dengan sigap, aku ikut membantu. Maylin membuka mulut saat Tante Frida menyodorkan sesendok makanan kepadanya.
Maylin menghabiskan sepertiga bubur itu, tapi cukup bagi kami karena sebelumnya dia tidak bersedia makan walau hanya sesuap. Tante Frida menyodorkan segelas air putih yang berhasil diminumnya hingga setengah gelas.
Aku membantu mengambil mangkuk sisa bubur dari tangan Tante Frida, kemudian beringsut mundur, memilih duduk pada sofa yang telah disediakan di ruang rawat VIP ini. Memberi ruang untuk mereka berdua berbicara.
“Maaf, Mami,” ucap Maylin.
“Maaf aku tidak bisa menjaga cucu Mami dengan baik. Maaf karena aku keras kepala, kecelakaan pun terjadi pada kami. Maaf aku membuat Mami kehilangan Darwan. Seandainya waktu dapat berputar kembali, aku akan melakukan apa saja agar mereka kembali kepadaku.” Air matanya pun mengalir.
Aku pun ikut menitiskan air mata. Rasa sedih karena kehilangan seseorang yang berarti jauh lebih sakit dan hampa dibanding sekadar kehilangan benda. Menghadapi rasa kehilangan itu, berusaha untuk bertahan dari rasa sakit emosional, pastilah tidak mudah melewatinya.
Aku berpikir dengan memberinya dorongan semangat dan waktu kepada Maylin, dia pasti bisa melewati masa-masa beratnya ini. Namun, siapa yang menyangka Maylin menyalahkan dirinya sendiri atas kematian kedua orang yang dicintainya. Perasaan bersalah dapat membuat diri sendiri jauh lebih tertekan.
“Bukan salahmu, Maylin. Takdir kehidupan sudah digariskan Tuhan dalam hidup seseorang,” jawab Tante Frida. “Kehilangan sosok yang disayang dan dicintai secara tiba-tiba memang menjadi suatu pukulan berat. Mami juga awalnya tidak dapat menerima Darwan sudah tidak ada lagi di samping Mami, tapi Mami berusaha untuk tegar.”
“Maafkan aku, Mami. Sungguh ....” Maylin meraih kedua tangan Tante Frida dan menggenggamnya dengan erat.
“Aku tidak bisa berhenti menyalahkan diriku, Mami. Dada ini terasa sakit dan perih. Aku marah kepada diriku sendiri. Kenapa malam itu aku keras kepala meminta Darwan mengantarku hanya untuk es sekoteng? Pertanyaan itu terus berputar di benakku, Mi.” Maylin mulai terlihat kalut dan meracau.
Aku tidak sanggup mendengarnya menyalahkan diri sendiri, hingga aku bangun dari sofa tempatku duduk dan ingin menghampiri Maylin, tetapi Tante Frida memberi gerakan ‘stop’ kepadaku dengan tangannya. Aku pun mengurungkan niat dan kembali duduk.
Tante Frida mengelus punggung Maylin untuk menenangkan diri Maylin. Dada Maylin bergerak naik turun dengan cepat. Bibirnya bergetar dengan berlinang air mata.
“Malam itu kamu sedang mengidam, Sayang. Semua ibu yang sedang hamil akan mengalaminya. Semua itu hal yang normal. Sayangnya Tuhan terlalu menyayangi anak Mami dan cucu Mami. Sehingga melalui kecelakaan itu, mereka dipanggil menghadap Tuhan lebih cepat, Sayang,” tutur Tante Frida dengan tenang.
“Aku bingung bagaimana caranya hidup tanpa mereka, Mi? Apalagi aku dinyatakan tidak dapat hamil lagi. Kenyataan pahit ini membuatku ingin menyusul kepergian mereka. Aku tidak siap, Mi!”
“Memang terasa sangat menyakitkan kehilangan seseorang yang kita cintai. Jangan paksakan diri sendiri untuk langsung bersikap baik-baik saja untuk menghadapi rasa sedih itu, Sayang. It’s Okay not to be Okay,” ucap Tante Frida membuat Maylin menangis keras dan memeluk tubuh Tante Frida, menumpahkan seluruh kesedihan, kekecewaan, kekesalan dan putus asa.
“Kehilangan mereka bukanlah akhir dari semuanya, Sayang. Meskipun tanpa mereka, kita harus bisa bahagia. Mereka memang tidak ada di kehidupan kita lagi. Namun, tetap ada di dalam hati kita. Orang yang kita cintai tidak pernah benar-benar meninggalkan kita,” ucap Tante Frida lagi. Maylin semakin membenamkan wajahnya ke dalam.
“Kamu harus tegar dan tabah, Maylin. Darwan dan anakmu tidak bisa tenang di sana,” tutur Tante Frida dengan lembut.
Dikecupnya kepala Maylin dengan penuh kasih sayang. “Jangan lagi mengatakan kamu ingin menyusul mereka, Maylin. Kami menyayangimu dan membutuhkanmu.”
“Aku tidak sanggup menanggung kekuranganku ini, Mami,” ucap Maylin di dalam pelukan Tante Frida.
“Cobalah kamu lihat di sekelilingmu, Sayang. Ada keluarga yang lengkap, tapi mereka tidak dapat hidup bahagia karena mereka tidak mensyukuri kesempurnaan yang mereka miliki. Ada juga sepasang suami istri yang sudah lama menikah, tapi belum dikaruniai seorang anak. Meskipun mereka sudah melakukan beberapa kali program kehamilan, tetapi berujung gagal. Ada pula yang dinyatakan mandul hingga mereka tidak dapat memiliki satu kesempatan pun.”
Tante Frida mengusap punggung Maylin. “Keinginan untuk memiliki anak dalam kehidupan nikah pasti ada. Namun, menikah bukan tentang berkembang biak semata, bukan? Yang sudah memiliki anak belum tentu tidak ada beban pikiran. Yang belum diberi kesempatan juga tetap dapat berbahagia. Kebahagiaan dan keharmonisan rumah tangga tidak semata-mata ditentukan oleh ada atau tidaknya keturunan.”
Maylin terdiam. Tidak ada tanggapan apa-apa.
“Terkadang yang sempurna tidak selalu bahagia, tapi jika kamu dapat menerima kekurangan jadi kelebihan, itu kesempurnaan yang sebenarnya.” Tante Frida kembali bersuara setelah jeda beberapa saat.
Kepala Maylin mendongak. Menatap Tante Frida. “Apakah aku tetap anak Mami? Mami tetap menyayangiku seperti anak sendiri, kan?”
“Tentu saja, Sayang. Mami tetap menjadi Mami kamu. Sampai kapan pun.” Tangan Tante Fifi bergerak untuk membelai pipi dan hidung Maylin. Untuk pertama kalinya setelah empat hari Maylin terpuruk dalam kesedihan, sebuah senyum tulus terukir di bibirnya.
*****
Tiga hari setelah kondisi Maylin pulih dan diperbolehkan pulang ke rumah oleh Dokter, acara pemakaman Darwan dan putrinya pun dilangsungkan di sebuah gereja.
Setelah prosesi pemandian, jenazah pun dimasukkan ke dalam peti. Namun, peti tidak langsung di tutup karena bertujuan untuk memberi kesempatan orang yang ditinggalkan untuk melihat jenazah yang terakhir kalinya.
Maylin meletakkan setangkai bunga anyelir putih di atas telapak tangan jenazah Darwan. Beberapa bulir air mata, menetes perlahan dari kedua sudut matanya. “Saat terbahagiaku adalah saat aku bersama denganmu. Aku bersyukur menjadi kekasihmu. Kamu adalah pria terbaik yang pernah kumiliki.”
Maylin menarik napasnya sebelum kembali bersuara, “Aku tidak akan berhenti mencintaimu, Darwan Bimala.”
Maylin berdiri dan aku segera merengkuhnya. Berjaga-jaga jika dia hilang kesadaran atau kehilangan tenaga. Melihat wajah Darwan untuk yang terakhir kalinya, pastilah menguras batin Maylin.
Setelah seluruh keluarga dan pelayat yang datang dirasa sudah cukup melihat jenazah, maka ibadah penghiburan pun dilakukan. Pemujian Tuhan, mendengarkan khotbah serta memberikan penghiburan tersendiri bagi keluarga yang ditinggalkan.
“Kita memang mempunyai banyak rencana. Namun, Tuhan mempunyai rencana yang lebih baik daripada apa yang kita rencanakan. Salah satunya dengan mengambil nyawa orang-orang yang sangat kita cintai. Namun, percayalah bahwa segala rencana Tuhan adalah yang terbaik. Semua ujian yang diberikan pasti ada hikmahnya. Kematian bukanlah akhir dari segalanya. Melainkan, awal dari sebuah kehidupan yang abadi,” ucap pemuka agama di akhir khotbahnya.
Lalu peti pun ditutup. Keluarga dan para pelayat mengiringi peti jenazah ke tempat peristirahatan yang terakhir. Maylin berjalan didampingi Tante Frida pada urutan terdepan.
Kedua tangan Maylin membawa sebuah peti kecil yakni calon putri kecilnya berada di dalam. Sepanjang pemakaman berlangsung, aku tidak menemukan Maylin dalam keadaan menangis. Namun, tatapan matanya kosong.
“Ya Tuhan, tabahkanlah keluarga yang sedang dilanda musibah. Karena, semua makhluk di dunia pasti akan ada saatnya menemui sang pencipta. Semoga Engkau, menerima arwah saudara kami dengan tangan-Mu yang terbuka lebar menyambutnya dan menempatkannya di tempat yang terindah.” Sang pemuka agama mulai mengucapkan khotbah sebelum prosesi penguburan.
“Kehilangan seseorang yang sangat dicintai memang sangat menyakitkan. Namun, lebih menyakitkan lagi jika kita tidak bisa mengikhlaskan kepergiannya. Biarkan dia yang meninggalkan kita, dapat tenang di alam sana.”
Suara isak tangis dari beberapa keluarga dan para pelayat mengiringi prosesi pemakaman.
“Turut berduka cita atas meninggalnya Darwan Bimala. Semoga segala dosanya di ampuni oleh Tuhan. Turut berduka cita atas kembalinya Kemala Bimala ke Bapa di Surga. Semoga ia mendapatkan tempat terindah di surga Bapa.”
Kemudian kedua peti jenazah dimasukkan ke dalam liang lahat yang terpisah. Maylin meletakkan bunga mawar putih di atas peti putrinya sebelum ditimbun dengan tanah. Setelah itu keluarga dan para pelayat menabur bunga di atas peristirahatan Darwan Bimala dan Kemala Bimala.
Darwan, gue harap lo beri Maylin kekuatan untuk melewati semua ini. Bantu dan lindungilah dia dari sana. Walaupun sepanjang pemakaman ini dia tidak meneteskan air matanya, tapi gue menyangsikan dia telah benar-benar menerima kepergian lo dan putri kalian.