Silence

Silence
Bab 94



*Happy reading 📖📖 guys*


Deon memarkirkan mobilnya di pekarangan rumah orang tua Darwan. Sebuah rumah sederhana dan tampak asri serta nyaman. Di depan rumah, terdapat tanaman bunga tulip sehingga memberikan sambutan hangat.


Penambahan lampu pada tanaman rumput di sepanjang jalan setapak juga menjadi perpaduan dekorasi yang estetik. Sedangkan pada bagian teras, dibuat konsep vertical garden dengan meletakkan rak penyangga untuk belasan pot tanaman. Siapapun yang melihatnya dapat langsung menebak sang pemilik rumah pastilah menyukai tanaman.


“Maaf, kami sedikit terlambat, Tante,” ucapku setelah pintu rumah terbuka, Tante Frida muncul dengan senyum lebar merekah di bibirnya.


“Cuma beberapa menit, kok. Ayo, masuk!” jawab Tante Frida lembut. “Tante panggil om dulu lalu makan siang bersama, ya.”


Kami pun langsung melangkah menuju ruang makan. Di meja makan sudah ada Maylin dan … Elian.


“Hai, Rayla. Lama tidak bertemu,” sapa Elian saat melihatku.


Alisku mengernyit ke atas. “Belum lewat satu minggu pertemuan terakhir kita, Elian.” Aku menarik kursi lalu duduk di depan pria itu.


“Satu hari bagaikan satu bulan, La.” Elian tersenyum sambil mengerling nakal.


Deon berdeham cukup keras. “Kenapa lo tidak godain wanita yang berada di sebelah lo? Maylin belum taken.” Kemudian Deon mencodongkan tubuhnya ke depan, lalu berbisik pelan penuh ancaman. “Sekali lagi mata lo mengerling ke tunangan gue, gue congkel mata alien lo itu lalu gue buang ke laut biar jadi santapan ikan paus.”


Elian tertawa terbahak-bahak. “CEO PT. SA ternyata sangar juga, ya.”


“Gue bisa bersikap baik kalau orang itu tidak memancing lahar api yang ada pada diri gue,” jawab Deon sambil menatap Elian tajam.


Aku memutar bola mata ke atas melihat perilaku mereka berdua. Sebenarnya aku sedikit terkejut menemukan sikap jahil pada diri Elian. Dulu dia tidak seperti itu. Dan Deon malah meladeni ucapan Elian yang terdengar jelas kalau itu hanya gurauan saja.


“Jangan menggoda wanita yang akan segera menikah, Elian.” Tiba-tiba terdengar suara celetukan dari Om Brian sambil menggeser kursi, lantas duduk di sana. Tante Frida pun duduk di sebelah kiri Om Brian.


“Aku tidak berniat menjadi selingkuhan orang lain ataupun merampas milik orang lain. Aku hanya senang melihat reaksi Deonartus Surbakti yang mudah cemburu, Om,” tutur Elian yang membuat Deon berdengus sebal.


“Acara pertunangan kalian kapan?” tanya Maylin mengalihkan pembicaraan sambil melirikku dan Deon bergantian.


“Sabtu depan,” jawabku sambil menuang nasi ke dalam piring Deon, setelah Tante Frida mengambil nasi untuk Om Brian dan dirinya.


“Maka dari itu, aku berharap kamu segera pulang ke rumah, Maylin,” tukas Deon tanpa basa basi.


“Aku akan pulang kalau sudah menemukan pekerjaan baru. Aku tidak mau seharian diam di dalam rumah.”


“Bagaimana kalau kamu bekerja di perusahaan Elian?” Tante Frida tiba-tiba mengatakan keluar idenya. “Elian, kamu masih sedang mencari Sekretaris, bukan? Maylin bisa menempati posisi itu.”


“Ya, Mom, tapi aku butuh yang sudah berpengalaman karena pekerjaan menjadi Sekretarisku sangat banyak. Akan memakan waktu lebih lama kalau masih mau mengajar bagi yang tidak memiliki basic sebagai Sekretaris,” jawab Elian.


“Rayla lulus gelar Sarjana Akuntansi, tapi dia memiliki kemampuan sebagai Asisten gue,” timpal Deon.


“Beda, dong, Bro. Lo mengangkat Rayla sebagai Asisten pribadi. Pekerjaannya jelas beda dibandingkan Asisten umum perusahaan,” tukas Elian sambil tertawa kecil.


Gue langsung melempar serbet ke wajah Elian. “Jangan menghina kemampuan gue. Walaupun status gue sebagai kekasihnya Deon, perusahaan tidak mungkin dengan sembarangan mempekerjakan seorang karyawan yang tidak memiliki kemampuan dalam bidang pekerjaannya.”


“Elian, kamu terima saja dulu Maylin menjadi Sekretarismu. Siapa tahu Maylin memiliki persyaratan yang kamu butuhkan,” ucap Tante Frida.


“Maylin saja tidak bicara apa-apa, mengapa Mom malah sepertinya kepingin banget aku menerima Maylin sebagai Sekretaris?” tanya Elian.


“Jadi, kalau gue yang minta langsung, lo setuju gue bekerja sebagai Sekretaris lo?” tanya Maylin tiba-tiba sambil melirik Elian yang langsung terdiam.


Aku mengamati raut wajah Elian yang seketika berubah begitu Maylin yang angkat bicara. Sebuah pemikiran tiba-tiba muncul dalam kepalaku. Apakah mungkin…


“Me- memangnya lo mau pekerjaan ini?” Elian balik bertanya.


Elian menatap Maylin dengan lekat. Kemudian kepalanya mengangguk. “Besok lo temui bagian HRD. Mereka akan menyiapkan penawaran dan kontrak kerja. Juga merundingkan perihal gaji serta tunjangan perusahaan.”


“Thank’s, Elian,” ucap Maylin.


Elian mengembangkan senyum sambil mata terus memandang Maylin lembut, sebelum dia kembali melanjutkan makannya.


Semua itu tidak luput dari pandanganku. Aku tidak tahu apakah harus merasa senang atau tidak. Namun, ada satu hal yang ku khawatirkan. Apakah Elian tahu tentang Maylin yang tidak bisa memberinya seorang anak? Apakah papanya Elian dapat menerima kekurangan Maylin? Setiap pengusaha pasti menginginkan keturunan untuk meneruskan usaha mereka.


“Kalau begitu, kamu akan pulang ke rumah, kan, Lin?” Deon memandang Maylin dengan tatapan serius. “Menuruti emosi hanya akan merugikan diri sendiri. Penyesalan adalah hadiah yang telah diterima tante Restin. Beliau yang sekarang telah banyak berubah. Beri kesempatan kepadanya untuk memperbaikinya,” imbuh Deon


Maylin terdiam beberapa saat, sebelum pada akhirnya menjawab, “Baiklah.”


*****


Hari ini hari pertunanganku. Aku menanti dengan dada berdebar-debar sehingga semalaman tidak dapat tidur nyenyak. Pagi-pagi sekali aku sudah bangun karena harus bersiap-siap. Kami akan melakukan ibadat pemberkatan pertunangan di rumahku. Sedangkan resepsi acaranya dilakukan pada siang hari di Hotel GH.


Dalam acara istimewa ini, memohon berkat Allah agar kebahagiaan yang dijanjikan dalam pertunangan kami akan terpenuhi. Ibadat di mulai dengan ritus pembuka, yaitu keluarga dari kedua calon yang akan bertunangan berkumpul dalam tempat perayaan kemudian Imam yang memimpin perayaan itu memasuki ruangan diiringi nyanyian.


Dilanjutkan dengan kata pembuka, bacaan sabda Allah, lalu doa umat, kemudian pemberkatan cincin. Deon dan aku saling mempertukarkan cincin yang menjadi benda simbolis yang melambangkan janji pertalian satu sama lain. Setelah itu, dipimpin Imam melakukan doa pemberkatan pertunangan. Setelahnya, diakhiri dengan ritus penutup.


Setelah prosesi ibadat selama hampir dua jam selesai, kami semua langsung ke tempat acara resepsi diadakan. Sejak tadi senyumku tidak berhenti terukir di bibirku. Aku bersyukur dan bahagia karena bisa memiliki Deon sebagai calon suami. Juga memberi diriku harapan untuk kemudian melaju ke tahap yang lebih serius yaitu pernikahan.


Deon mengulurkan tangannya kepadaku, lalu aku turun dari mobil. Kami masuk ke dalam Ballroom yang telah ditunggu oleh para wartawan yang haus berita. Kemudian Deon menatapku dengan matanya yang berbinar bahagia. Tangannya meraih jemariku yang sudah dia sematkan sebentuk cincin di sana, lalu menghadap kamera para wartawan.


Begitu banyak waktu yang telah kami lewati. Juga begitu banyak hal yang sudah kami lalui bersama. Tidak mudah memang, tapi aku selalu heran. Kesulitan yang besar sekali pun dapat dilalui jika itu bersama dengannya. Namun, bukankah segala hal di dunia ini selalu diterima dengan konsekuensi? Tidak ada kesulitan yang berdiri sendiri. Kesulitan selalu seiring dengan kebahagiaan.


“Kamu berhak mendapatkan semua hal indah yang ada di dunia ini, Sayang. Semoga cinta dan kasih sayang kita abadi selamanya,” bisik Deon di telingaku.


Kemudian dia merengkuh pinggangku dengan kedua tangannya. Dengan sepasang mata menatapku lekat, dia berkata, “Matahari adalah kado musim panas. Bunga adalah kado musim semi. Dan kamu adalah kado terindah hidupku.”


Aku balas menatap Deon dengan segenap rasa cinta yang kurasakan di hatiku untuknya. Aku mengalungkan tangan di lehernya. “Kamu adalah alasanku tersenyum. Kamu adalah semangatku mencapai kebahagiaan. Segala yang kulakukan adalah karena kamu. Oleh karena itu, tetaplah selalu menjadi matahariku selamanya.”


“It’s a deal, then.”


Dengan diiringi lagu Marion Raven – Thank you for loving me memenuhi Ballroom, wajah Deon perlahan mendekat dan bibirnya mencium bibirku, begitu lembut namun menggetarkan jiwaku. Aku membalas ciumannya dengan sepenuh hati.


Suara siulan dan pekikan penuh godaan terdengar membahana. Namun, aku tidak peduli. Terlalu hanyut dalam ciuman manisnya.


∮ I never wanna see you sad ∮


∮ I never wanna bring you down ∮


∮ I never wanna make you lie ∮


∮ I'm gonna spend my whole life trying to keep love from dying on me ∮


∮ I'm gonna spend my whole life faking to keep us from breaking ∮


∮ I'll make you see, So take my hand ∮


∮ Thank you for loving me ∮


*Terima kasih untuk para Readers yang sudah mampir ke acara pertunangan Deon dan Rayla di part ini **🤗 Jangan lupa tinggalkan Komentar, berikan Vote, like dan Dukungannya untuk mereka ya guys. Terima kasih🙏Tambahkan juga ke Favorite supaya tidak ketinggalan up-nya🤗Loph you all😘*