Silence

Silence
Bab 71



*Happy reading 📖📖guys*


Aku mengamati lembaran demi lembaran yang diberikan Deon kepadaku dengan mata memerah karena tangis.


Deon mengaku bahwa dia meminta Leonel, sahabatnya yang ternyata diam-diam memiliki sebuah organisasi rahasia, untuk mencari tahu perihal tentang Frans Pramanta dan Frans Osborn karena semalam aku mengigau memanggil papa saat sedang demam.


“Maafkan aku yang diam-diam mencari info tentang papamu,” tutur Deon.


“Aku mencari tahu karena takut kamu tidak mau berkata jujur padaku. Aku tidak mau kamu menanggung rasa sedih sendirian.” Deon mencium puncak kepalaku lembut.


“Tidak apa-apa, Deon. Salahku karena tidak menceritakan semuanya padamu.” Aku memasukkan kembali kertas-kertas itu ke dalam amplop map. Informasi yang tercantum di dalamnya tidak mencakup semua kebenaran.


Ternyata Osborn memiliki kekuasaan yang luar biasa. Menyembunyikan dengan rapat tentang perselingkuhan yang dilakukan menantunya juga memanipulasi orang-orang melalui media dengan memberitakan kejayaan dan kesuksesan mereka menjadi berita utama.


Aku menata pikiranku agar dapat menceritakan yang sebenarnya pada Deon. Selama ini Deon hanya tahu orang tuaku memilih berpisah karena sudah tidak ada lagi kecocokan di antara mereka berdua.


Aku menyembunyikan bagian bahwa aku seorang anak haram. Rasa takut kalau ternyata diriku tidak bernilai apa-apa, membuatku lari dari kenyataan itu bagaikan seorang pengecut.


Membicarakan tentang hal ini membuatku merasa rapuh, tetes demi tetes air mata perlahan meluncur kembali membasahi wajah.


Deon mengusap wajahku lembut, menghapus air mata yang menetes di sana. “Jangan biarkan dirimu memandang rendah diri sendiri. Kamu berharga karena ada. Bukan karena apa yang kamu lakukan atau apa yang telah kamu lakukan, tetapi hanya karena dirimu. Tuhan menciptakan setiap manusia berharga.”


“Bagiku, kamu istimewa, kamu berharga, kamu penting, kamu hebat, kamu kuat, kamu unik, kamu luar biasa dan tidak tergantikan. Hidup yang kamu jalani mungkin tidak sempurna, tetapi kamu layak untuk dicintai dan dimiliki. Dan aku selalu berada di setiap langkah hidupmu,” tuturnya, kemudian mengecup kelopak mataku yang telah basah oleh air mata.


“Daripada terus menatap masa lalu yang hanya membuka luka lama, lebih baik kita ciptakan sendiri kebahagiaan untuk kita. Kamu tidak memiliki keluarga yang hangat, tetapi kamu bisa membangunnya sendiri kelak di masa depan bersamaku,” bisiknya lembut.


“Belajarlah mencintai diri sendiri. Kamu sudah tumbuh menjadi wanita seperti dirimu sekarang, itu sudah sangat luar biasa. You did a great job, Honey. Please, jangan merasa dirimu tidak berharga. Kamu hanya kebetulan ditakdirkan masuk dalam kehidupan mereka dan menanggung akibat dari kesalahan mereka. Kamu hanyalah korban,” ucap Deon panjang lebar.


Perkataannya membuat air mataku mengucur semakin deras. Kenapa dia selalu mengucapkan kata-kata yang tepat?


Aku menatapnya lekat, kemudian bertanya, “Tidak apa-apakah diriku yang memiliki banyak luka di hati juga kenyataan bahwa aku lahir di luar pernikahan, bersanding denganmu?”


Wajah Deon terlihat masam. “Aku tidak suka mendengar pertanyaan yang baru saja kamu lontarkan, Sayang. Namun, aku tetap menjawabnya agar kamu tidak berpikir yang tidak-tidak.”


Perlahan wajahnya mendekat tanpa sekali pun pandangan kami terpisah. “Aku tidak membutuhkan wanita dengan latar belakang yang sempurna. Aku hanya mau kamu, Rayla Pramanta. Segala yang ada pada dirimu. Semua. Tanpamu, hidupku tidak sempurna,” ucapnya sebelum bibirnya meraup bibirku.


Dia menarik tubuhku agar semakin rapat padanya. Kami berciuman dengan begitu bergairah. Lidahnya terus menjelajahi setiap penjuru mulutku. Menyecap, mengigit, dan mengisap lidahku dengan intens.


Tangannya menyusup dalam tubuhku melalui *b*athrobe yang kupakai dan bermain-main di dadaku. Mengirimkan gelenyar panas di bawah sana.


Kami masih terus berciuman hingga Deon berhenti tiba-tiba. “Sayang, aku ingin membuat penawaran.” ucapnya dengan suara serak. Tatapan matanya terlihat gelap dipenuhi dengan gairah.


“A- apa?” tanyaku sambil berusaha memusatkan pikiran kembali normal. Sentuhan yang baru saja dilakukannya, membuatku melayang.


“Bagaimana kalau kamu berhenti minum pil kontrasepsi?”


Pertanyaannya yang tiba-tiba itu membuatku terkesiap. “Maksud kamu?”


Dahiku berkerut, menandakan tidak paham. Namun, bibirnya kini bergerak menelusuri ke leherku, memberikan kecupan-kecupan yang menghadirkan sensasi geli di perutku. Membuat diriku lupa atas pertanyaan yang diucapkannya tadi.


“Aku ingin kamu berhenti minum pil itu. Aku lihat di sebuah situs mengatakan, keseringan mengonsumsi pil kontrasepsi tidak baik untuk tubuh,” ucapnya sambil memberi gigitan main-main di kulit leherku.


Aku mendorong tubuh Deon pelan dengan sisa-sisa tenaga yang kumiliki. Kemudian mencoba menstabilkan napasku yang terengah-engah karena perbuatannya.


“Kenapa tiba-tiba kamu membahas tentang ini?” tanyaku heran dengan menaikkan satu alis. Deon tidak menjawabku. Dia malah terus mencumbu kulit leherku.


Aku mencengkeram kedua bahu Deon, berusaha mendorongnya ke belakang. “Deonartus Surbakti. Jelaskan padaku, sebenarnya apa yang membuatmu memintaku berhenti mengonsumsi pil itu?” tanyaku dengan tegas. “Jangan memberi alasan padaku bahwa kamu mengkhawatirkan efek obat itu pada tubuhku. Aku tahu bukan itu alasan yang sebenarnya.”


Aku beringsut bangun dan duduk. “Hei, ada apa sebenarnya? Apa yang kamu cemaskan, Deon?” tanyaku sambil menyentuh lengan Deon lembut.


Deon menarik napas panjang sebelum menjawab, “Aku ingin secepatnya memiliki dirimu seutuhnya, Sayang, tetapi aku juga tidak mau mendesakmu.”


Aku menangkup wajahnya dengan kedua tanganku. “Aku sudah menjadi milikmu. Apalagi yang kurang?”


Deon terdiam menatapku sejenak, sebelum kembali bersuara, “Bukan sebagai kekasih, tetapi pasangan hidupku.”


Jantungku seketika berdetak dua kali lebih cepat. Apakah yang dimaksud Deon adalah menikah?


“Aku cemburu karena Alien sepertinya tahu tentang dirimu yang takut menikah. Bukankah kamu bilang tidak ada yang mengetahuinya selain aku? Mengapa Alien bisa tahu tentang ketakutanmu itu?” tanya Deon. Nada suaranya terdengar sangat jengkel.


“Alien? Dia siapa?” tanyaku balik bertanya.


“Siapa lagi kalau bukan Elian Grayson Carter!” dengus Deon kesal.


Aku diam memikirkan dalam-dalam ucapan Deon barusan. Tidak berapa lama kemudian, aku tertawa terbahak-bahak. “Kamu sembarangan mengubah nama orang lain, Yang.”


“Wajah pria itu memang seperti Alien, kok!” elak Deon cepat.


“Kamu belum tahu, dulu penampilan Elian, tuh, culun banget. Berbeda dengan sekarang yang penampilannya bagaikan dewa Yunani seperti Ares,” ucapku menerangkan.


Aku yang tidak menyadari Deon sedang menatap garang padaku, terus berceloteh. “Elian adalah kakaknya Darwan. Mereka saudara seibu lain ayah. Tante Frida menikah lagi setelah bercerai dengan suami pertamanya, yaitu papanya Elian.”


“Elian ikut tinggal bersama Tante Frida, Om Brian dan Darwan sampai ketika dia memutuskan melanjutkan study-nya di London. Aku dan Maylin terkadang main di rumah mereka. Sebelum Maylin dan Darwan resmi berpacaran, mereka berdua adalah sahabat.”


“Lalu, kamu dan Alien tidak pernah pacaran? Mengapa dia bisa tahu ketakutanmu tentang menikah?” tanya Deon.


Aku tertawa pelan sebelum menjawab, “Elian saat itu terlihat culun. Bagaimanapun juga aku wanita normal, melihat penampilan luar terlebih dahulu. Aku tidak munafik. Persoalan dia tahu tidaknya tentang hal itu, aku sungguh-sungguh tidak tahu. Aku tidak pernah memberitahu perihal mengenai traumaku pada siapapun.”


“Apa jangan-jangan dia sebenarnya menyukaimu, tapi tidak berani mengungkapkan perasaannya padamu?” ucap Deon berspekulasi.


“Mustahil. Kami berdua jarang sekali ngobrol. Apa bisa perasaan suka tumbuh tanpa berdekatan?”


“Tapi sekarang penampilan Alien dapat memikat banyak wanita,” gumam Deon.


“Ya, benar. Seandainya aku masih single, mungkin aku akan terpesona pada sosok Eli-”


Aku belum menyelesaikan kalimatku, ketika tubuhku tiba-tiba didorong hingga terbaring ke sofa, lalu Deon menghujaniku dengan cumbuan panasnya. Bahkan, aku sudah sulit bernapas. Namun, dia seakan tidak peduli.


Tangannya sudah menjelajahi sekujur tubuhku. Saat dia akhirnya melepaskan ciuman dan menatapku yang tersengal-sengal, dengan suara rendah dan berat, dia berbisik, “Kamu membuatku kehilangan kendali sehingga harus membekap mulutmu dengan bibirku agar tidak terus memuja Alien itu.”


“Namanya Elian, Yang,” ucapku mengingatkan sambil terkikik geli karena Deon terus memanggil Elian dengan sebutan Alien.


“Aku tidak peduli itu! Aku tidak suka bibir kamu terus membicarakan tentang dia!” tukasnya. Ekspresi wajahnya tampak memberengut.


Aku tertawa kecil, kemudian tanganku bergerak untuk membelai wajahnya dengan lembut. “Sejak aku mengenalmu, aku sudah merasakan ada benih cinta yang perlahan tumbuh, setiap hari aku melihatmu dengan senyuman yang selama ini aku butuhkan. Kamu mengajarkan aku bahagia.”


“Aku tahu sampai saat ini aku masih menyimpan trauma. Bersabarlah menungguku, Deon. Bila saat nanti telah tiba, aku ingin membangun keluarga kecil yang utuh dan bahagia, yang selalu ku impikan selama ini, bersamamu. Tidak ada pria lain yang kuinginkan selain dirimu.”


Sebuah senyum puas seketika hadir di bibirnya. “Deal,” ucapnya singkat sebelum bibirnya mengulum bibirku dan menyesapnya lembut, membuatku melayang dan kami berdua pun larut dalam permainan gairah yang semakin berkobar.


Hai readers, bagi yang belum simak ceritaku ini lebih detail, silahkan baca di part 11, ya. Di sana sudah terungkap rahasia besar tentang kedua orang tua Rayla. Jadi, di part ini aku tidak bahas lagi 😊 Oh ya, Mohon maaf kepada para Authors yang ingin saling dukung, usahakan jangan boomlike ya. Mari kita saling menghargai 🤗 Jangan lupa tambahkan ke Favorite lalu tinggalkan Komentar, berikan Vote, Like dan Dukungannya ya guys. Terima kasih 🙏🤗 Loph you all 😘