Silence

Silence
Bab 81



*Happy reading 📖📖guys*


Samar-samar aku mendengar sebuah suara yang terus memanggilku. Namun, wajah Erik yang tertawa terbahak-bahak sambil menggerayangi tubuhku mendominasi rasa takutku. “Tidak! Jangan, Erik! Lepas!” jeritku ketakutan.


“Rayla! Bangun! Sayang, bangunlah!”


Suara itu kembali bergema di telinga, disertai guncangan keras pada bahuku sehingga mataku terbuka lebar dan air mata mengalir dari keduanya.


“Sayang, ini aku. Tenanglah. Mereka tidak akan berani mengusikmu lagi. Ada aku di sini melindungimu.”


Napasku memburu. Aku menatap nanar di sekelilingku. Ruangan kamar yang familiar, yang menjadi saksi panas percintaan antara aku dan Deon setiap malam yang tumbuh subur di hari-hari yang semakin berwarna.


“Deon ….” Aku menangkup kedua wajahnya.


Deon mengecup jari-jari tanganku. “Ya, Sayang. Aku di sini.”


Isak tangis lolos dari mulutku. Kejadian tadi siang, menghantuiku sampai ke dalam mimpi. Jantungku bahkan masih berdebar kencang hingga sekarang.


“Sshh … Tenanglah. Selama aku ada di sampingmu, mereka tidak berani berbuat macam-macam lagi.” Deon berusaha menenangkanku dengan memelukku erat-erat.


“Jadikan aku milikmu, Deon. Jadikan aku satu-satunya pemilikmu,” bisikku serak.


Deon memandangku dengan tatapan yang sulit ku artikan. “Di mana berengsek itu menyentuhmu?”


Aku menggerakkan jari tanganku menyentuh bibir, pelan-pelan ke leher, lalu bagian atas dadaku hingga turun sampai ke bagian intiku dengan tangan yang gemetar.


“Aku tidak bisa melupakannya. Semuanya terlalu menjijikan,” ucapku sambil menangis.


Rahang Deon terlihat mengeras. Sejurus kemudian, dia melayangkan ciuman di tempat yang kutunjukkan tadi. Aku membiarkannya melakukan apa yang dia mau.


Hati kecilku berharap dengan apa yang Deon lakukan akan membuatku melupakan kenangan buruk itu. Memastikan tidak ada yang tertinggal, setiap jengkal tubuhku disentuhnya dengan caranya sendiri.


Sentuhannya lembut, memastikan aku nyaman dengan semua yang dia lakukan. Ketika pertahanan kami sudah di ambang batas, Deon menghujam semakin dalam menyentuh titik tersensitifku. Aku pun memeluk tubuh Deon erat-erat.


Kedekatan kami sekarang membuatku kembali merasakan kehangatan dari setiap permukaan kulit tubuhnya. Meski napas kami masih memburu, ada ketenangan yang mulai menyelimuti hatiku.


“Dengan begini hanya ada jejakku yang ada di tubuhmu. Jangan pernah mengingat kejadian buruk itu lagi,” gumam Deon sambil mempererat pelukannya.


Aku mengangguk. “I love you, Deonartus.”


“I love you more than words can say. Aku di sini apa pun yang terjadi.”


Aku tersenyum saat Deon membisikkan kalimat itu di telingaku. Hatiku menghangat.


I never planned it, but having him in my life is the best thing that has ever happened to me. – aku tidak pernah merencanakannya, tetapi dia adalah yang terbaik yang pernah terjadi dalam hidupku.


*****


Aku beranjak keluar dari kamar mandi lalu mengenakan baju tidur. Sudah berbulan-bulan lamanya kamar ini kutinggalkan sejak psikis Maylin terganggu.


Walaupun kondisi Maylin sekarang sudah jauh lebih membaik, tetapi aku tidak bisa meninggalkan mama yang sedang menyesali masa lalunya sendirian.


Ketika seseorang berada di titik terendah dalam hidupnya, biasanya orang tersebut akan merasa sangat terpuruk dan putus asa. Kehadiran seseorang saat kita sedang meratapi kesedihan adalah penyemangat yang paling ampuh untuk cepat kembali bangkit dari keterpurukan.


Aku pernah melewati itu semua. Bagaimana ketika aku sendirian menghadapi luka yang semakin menganga lebar sehingga rasa putus asa yang begitu kuat membuatku hampir menyerah dengan mengakhiri hidupku.


Namun, aku beruntung memiliki sahabat seperti Agatha dan Bella yang selalu menyemangatiku. Dan kini, ada Deon yang berada di sisiku. Melindungiku. Memberikan bahunya untuk kujadikan tempat bersandar.


Sedangkan mama, beliau sendirian. Percayalah, menangis sendirian sakitnya berjuta kali lipat daripada menangis bersama orang yang kita sayangi.


Walau mama telah banyak membuat luka dalam hatiku, tetapi aku tidak melupakan jasa beliau yang berjuang sebagai single parent untuk membesarkan kami.


Bagaimanapun juga, mama masih lebih layak mendapat kasih cinta dari anak-anaknya daripada pria yang membuat kami hadir di dunia ini lalu dengan entengnya membuang kami begitu saja.


Aku melangkahkan kaki keluar dari kamar untuk mencari Deon. Dia tadi bilang mau pesan Go Food untuk makan malam. Aku pikir dia sedang berada di ruang tengah, tetapi aku tidak menemukannya.


Aku berjalan pelan mendekati balkon. Semakin dekat, samar-samar suara Deon semakin terdengar jelas.


“Aku tidak peduli, pa!” Suara Deon pelan, tetapi mengandung emosi.


Aku memutuskan berdiri di dekat pintu balkon, mencuri dengar pembicaran mereka. Sepertinya Deon sedang berbicara dengan om Surbakti lewat ponselnya. Pasti sedang membahas peristiwa tadi siang.


Aku tidak tahu dengan jelas bagaimana akhirnya Deon berhasil menyelamatiku. Yang ku ingat hanya sentuhan menjijikan dari Erik pada tubuhku lalu Deon datang dan menggendongku pergi. Selain itu aku tidak ingat apa-apa. Apakah sempat terjadi perkelahian di antara mereka?


“Biar aku sendiri yang membayar pinaltinya, pa. Aku tidak sudi melanjutkan kerjasama ini dengan orang keparat seperti mereka!”


Penuturan Deon tadi membuatku terkesiap.


“Aku paham, pa, tetapi perbuatan mereka terhadap Rayla sudah lewat dari batas kesabaranku. Aku tidak peduli harus bayar sebanyak berapapun pinaltinya, asalkan bajingan seperti mereka tidak mengusik hidup Rayla lagi. Bagiku Rayla adalah harta yang kumiliki yang tidak terbatas nilainya, pa.”


Aku menangkup mulut dengan kedua tanganku untuk menutupi isakanku. Bukan isak tangis kesedihan, melainkan kebahagiaan karena kupikir diriku yang tidak bernilai apa-apa, ternyata berharga bagi seorang Deonartus Surbakti.


“Rayla?” Deon terkejut mendapati diriku sedang berdiri sambil menangis. “Ada apa? Apakah ada yang sakit?” suara Deon yang penuh kekhawatiran membuatku langsung memeluk tubuhnya erat-erat sambil tidak berhenti menangis.


“Aku tidak mau kehilanganmu, Deon,” ucapku dengan suara yang serak.


“Aku tidak pergi kemana-mana, Sayang. Tenanglah.” Deon membalas pelukanku sama eratnya.


“Kamu memintaku jangan mengingat kejadian tadi siang. Kalau begitu, kamu juga lupakan semuanya. Anggap kejadian itu tidak pernah terjadi,” pintaku.


Deon mengurai pelukannya, mengecup bibirku sebagai gantinya. “Kamu mendengar pembicaraanku tadi dengan papa?”


Aku balas mengangguk. Deon merengkuh pinggangku. Tangan kanannya mengusap sudut bibirku yang terluka. Aku sempat meringis sakit. “Aku tidak bisa, Rayla. Peristiwa tadi terjadi juga karena kelalaianku yang tidak becus melindungimu. Jika seandainya aku tidak membiarkanmu pergi bersama keparat itu me-“


“Bukan salahmu, Deon. Akulah yang memancing kemarahannya,” selaku memotong ucapannya.


Aku menangkup wajahnya dengan kedua tanganku. Memandang lekat-lekat pria yang berhasil menarikku kembali dari jurang kepahitan dan kegetiran hidup. “Jangan menyalahkan diri sendiri, Deon. Kamulah yang selalu menjadi penyelamat hidupku.”


“Aku tidak mau kejadian itu menambah traumamu, Rayla,” ucapnya dengan getir.


“Dia tidak berhasil melakukannya karena kamu telah menolongku terlepas dari bahaya itu. Kamu tadi juga sudah menghapus jejaknya dari tubuhku. Sekarang aku baik-baik saja, Deon. Maka dari itu, kita lupakan saja semuanya. Ya?”


“Tapi-”


“Aku tidak mau karena masalah ini membuat dirimu harus menanggung rugi dengan membayar pinalti kepada mereka,” selaku.


“Aku tidak peduli kehilangan uang sebanyak itu, Sayang. Beraninya dia berbuat hal seperti itu kepadamu yang sama saja telah menginjak harga dirimu. Juga berani-beraninya dia memukulmu. Aku tidak akan diam begitu saja, Sayang. Mereka harus diberi pelajaran agar jera. Mereka sedang bermain dengan api,” tukas Deon berapi-api.


Sebenarnya aku mengerti perasaan Deon saat ini. Kekasih mana yang tidak akan marah melihat wanitanya hampir diperkosa oleh pria lain.


Akan tetapi, lawannya adalah Xavier Jadison. Pengusaha terbesar yang tidak kalah hebatnya dengan Osborn. Aku tidak mau memperumit masalah.


“Bagaimana kalau segala hal yang menyangkut Xavier Jadison, kita serahkan kembali kepada kak Denis? Toh, kerjasama ini berlangsung saat masih di bawah tangannya, kan?” tanyaku memberi solusi.


Deon menggeleng-gelengkan kepalanya kuat. “Aku tidak sudi uangnya mengalir di perusahaan kita!”


“Perusahaan … kita?” tanyaku membeo.


“Ya, perusahaan kita, Sayang. Kamu akan segera menjadi Nyonya Deonartus Surbakti, sang CEO PT. SA,” jawab Deon, lugas. “Kamu … tidak berubah pikiran, kan?”


“Tentang hal apa?” ucapku berbalik tanya.


“Tentang pertunangan kita. Kamu … tidak … berubah … pikiran, kan?” Nada suaranya terdengar ragu-ragu. Aku hanya diam menatapnya tanpa ekspresi. “Apakah … kejadian tadi siang … telah membuatmu … takut?” tanyanya lagi.


“Entahlah, Deon. Sepertinya aku harus mempertimbangkan kembali.”


Mimik wajah Deon pun terlihat semakin khawatir setelah mendengar jawabanku.


Mohon maaf kepada para Readers atau authors yang ingin saling dukung, usahakan jangan boomlike ya. Mari kita saling menghargai 🤗 Semoga cerita ini kalian suka. Tolong kasih ⭐️⭐️⭐️⭐️⭐️ 5stars sebagai dukungan semangat buat aku ya. Jangan lupa tambahkan ke Favorite lalu tinggalkan Komentar, Vote, Like dan Hadiahnya ya guys. Terima kasih 🙏