Silence

Silence
Bab 47



Happy reading 📖📖 guys


Aku turun dari taxi setelah mengeluarkan beberapa lembar uang pada sopir. Kemudian aku berjalan masuk ke dalam Restoran Mama. Alice menyambutku dengan ramah. “Ada apa, Rayla?”


“Mama masih ada di ruangannya?” tanyaku tanpa basa-basi. Mataku melirik ke arah belakang ruangan.


“Ibu masih ada di sana,” jawab alice. Nadanya terdengar keheranan. Namun, dia tidak banyak bertanya.


Dengan cepat aku melangkahkan kakiku berjalan ke ruangan kerja mama. Tanpa mengetuk, aku langsung membuka pintu begitu saja.


Terlihat Mama sedang mengobrol dengan seseorang lewat telepon. Mama menengadahkan kepalanya, menatapku sebentar, lalu kembali fokus pada teleponnya.


Sambil menunggu Mama, aku melihat ke sekeliling. Mama sudah membuka usaha ini lebih dari sepuluh tahun. Namun, aku jarang sekali datang.


Jangankan sekadar berkunjung ke ruangan kerjanya, datang ke Restorannya pun masih dapat dihitung dengan jari tangan.


Ruangan kerja Mama tidak terlalu besar. Di bagian kiri ruangan, terdapat sofa kecil. Mungkin ketika Mama sedang lelah, digunakannya untuk tidur sejenak. Lalu di sebelah kanan sofa, berdiri rak berisi buku-buku mengenai resep makanan, Marketing dan Manajemen bisnis.


Di bagian kanan ruangan, terdapat sebuah tanaman hias palem. Membuat ruangan terasa lebih hangat. Perhatianku kemudian terpaku pada meja kerja. Hanya ada sebuah telepon yang sedang digunakan Mama, secangkir kopi, lampu meja, laptop dan beberapa lembar kertas.


Tidak ada yang salah dengan interior ruangan kerja Mama. Hanya saja meja kerjanya terkesan dingin.


Umumnya orang-orang akan memajang sebuah foto di meja kerja mereka. Entah itu foto pernikahannya bagi yang sudah menikah, atau foto bersama keluarganya, atau foto bersama kekasihnya.


Namun, aku tidak menemukan satu foto pun di meja kerja Mama. Bahkan, dinding pun juga tidak ada. Sama seperti kondisi meja kerjaku, tidak ada satu pun foto yang bisa aku pajang karena kami memang tidak pernah berfoto lagi sejak hubungan papa dan Mama mulai memburuk.


Foto-foto kami saat masih bahagia dulu, telah dibakar oleh Mama. Mama mencoba untuk membuang jejak masa lalu yang berhubungan dengan pria itu. Namun, sesungguhnya bayang-bayang pria itu tidak pernah lepas dari hidup kami.


“Sikap sopan santun kamu ke mana? Begini cara kamu masuk ke dalam ruangan kerja seseorang?” tanya Mama sinis setelah menutup teleponnya.


“Apa Mama tahu, keputusan Mama itu sudah menyakiti Jason!” Aku mengabaikan pertanyaan Mama. Aku berdiri di depan meja kerja Mama dengan tatapan sorot penuh kesedihan.


Walau bagaimanapun, Jason pernah menempati ruang spesial dalam hatiku. Tidak seharusnya karena permasalahan aku dan mama, telah menyakitinya.


Setelah meninggalkan Jason di coffee shop tadi, aku memutuskan untuk ke sini, membahas semua masalah ini sekarang juga.


Akan lebih mudah jika aku melakukannya hanya berdua saja dengan Mama, karena sesungguhnya akar permasalahan semua ini berawal dari Mama.


“Kalian berdua saling mencintai. Mama hanya ingin memperbaiki apa yang salah.”


“Aku sudah tidak mencintai Jason, Ma!” seruku.


“Tapi saat itu kamu bilang-”


“Aku salah, Ma! Baru tadi aku menyadarinya. Perasaanku terhadap Jason sudah tidak sama seperti dulu. Yang aku cintai sekarang adalah Deon,” tuturku dengan cepat.


Sesaat Mama terdiam. Aku kira Mama sudah mengerti maksudku. Namun, dia menggeleng-gelengkan kepalanya dan berkata, “Tidak! Mama tidak setuju kamu memilihnya, Rayla! Dia seorang Playboy, La! Bagaimana kalau suatu hari nanti dia mengkhianatimu? Mempermainkanmu? Mama tidak mau itu terjadi padamu, Rayla! Cukup Mama yang mengalaminya!”


“Ma … Deon bukan papa …,” ucapku dengan lembut.


Bola matanya berkaca-kaca. Terlihat beberapa butir air mata di dalamnya siap menetes keluar, tetapi Mama sedang berusaha untuk menahannya.


“Pria tidak ada yang bisa dipercaya, Rayla. Cinta itu abstrak. Tidak selamanya cinta itu menyenangkan. Saat cinta itu masih ada, rasanya semua hal di dunia ini adalah milik kita. Akan tetapi saat cinta itu pergi, dunia seakan hancur.”


“Salah satu hal yang paling menyedihkan dalam hidup adalah ketika kamu begitu takut kehilangan seseorang dan terus berusaha untuk mempertahankannya. Namun, tetap saja kamu akan kehilangannya karena dia memang bukanlah milikmu.”


“Mama pikir, dia meninggalkan istrinya dan memilih hidup bersama dengan Mama karena dia benar-benar mencintai Mama. Kenyatannya Mama salah. Dia hanya karena ingin bertanggung jawab atas kesalahan yang diperbuatnya.”


Aku diam, menyimak setiap kata yang diucapkan Mama. Aku teringat kembali ucapan yang dilontarkan Agatha waktu itu,


“Tante Restin ditinggalin suaminya begitu saja! Dia terluka! Sakit hati! Dia pasti mengalami masa yang paling sulit saat itu dan tidak tahu harus ke mana dia bersandar? Tidak mungkin dia curhat dengan kalian, kan?”


Agatha benar. Selama ini kami sibuk dengan ego masing-masing, tidak pernah berusaha menemukan jalan untuk memperbaiki hubungan antara Ibu dan Anak.


“Pertengkaran demi pertengkaran yang terjadi di antara kami, membuat cinta yang ada di hati Mama berubah menjadi rasa benci. Saat dia memilih untuk pergi, Mama berusaha untuk menyemangati diri sendiri. Awalnya memang terasa sangat menyakitkan. Namun, kepergiannya bukanlah akhir dari semuanya. Mama harus menunjukkan padanya, meskipun tanpa dia, Mama bisa hidup dengan baik, Mama bisa membesarkan anak-anak, dan Mama bersumpah, anak-anak Mama akan mendapatkan kebahagiaan yang lebih baik. Terutama kamu, Rayla ….” ucap Mama lagi.


“A- aku?” Dahiku mengernyit, tidak mengerti maksud ucapan Mama.


“Kamu mewarisi matanya. Setiap kali melihatmu, seperti melihat pria itu pada dirimu. Rasa benci itu muncul, membuat Mama tidak bisa mengontrol emosi dan rasa kecewa ini. Oleh sebab itu, Mama selalu berkata kasar padamu.”


“Karena itu juga Mama selalu mencampuri urusan asmaraku?”


Mata mama terpejam. Sebulir air mata menetes keluar dari kelopak matanya.


Dengan suara seraknya, Mama berkata, “Mama tahu, pria itu lebih memanjakanmu dan menyayangimu daripada Maylin. Maka dari itu, Mama lebih bertekat untuk menjodohkanmu dengan anak dari pengusaha kaya raya, agar suatu hari nanti, Mama bisa menunjukkan pada pria itu kalau tanpa campur tangannya, Mama berhasil membuat anak yang paling disayanginya memiliki rumah tangga yang sempurna,”


Mama membuka kedua matanya dan menatapku dalam. “Cinta tidak akan selamanya membuatmu bahagia, Rayla. Maaf kalau cara Mama salah. Hanya saja, Mama tidak ingin kamu mengalami apa yang Mama rasakan dulu,” ucapnya pelan.


Mataku telah buram oleh air mata. Ada setitik rasa hangat yang menyeruak di hatiku saat mendengar ucapan Mama.


Setidaknya kali ini aku bisa memahami kenapa selama ini Mama begitu keras kepadaku. Setidaknya kali ini Mama mau mengungkapkan apa yang ada di pikirannya.


Aku melihat Mama bangkit berdiri, lalu duduk di sebelahku. Sesaat kemudian aku merasakan Mama memelukku. Pelukannya terasa kaku karena Mama sudah sangat lama sekali tidak memelukku.


Pertahananku runtuh. Tangisku mengalir semakin deras.


“Biar bagaimanapun ini tetap hidupku, Ma. Tidak seharusnya Mama merusak hubunganku dengan Jason, mengatur kehadiran Erik dalam hidupku untuk mencapai tujuan Mama, dan sekarang Mama ingin aku meninggalkan Deon,” ucapku lirih.


“Maafkan Mama. Cara Mama mungkin salah. Cobalah untuk mengerti. Cinta membuat orang merasa rentan. Ketika kita jatuh cinta, kita akan menaruh kepercayaan pada orang yang kita cintai dan kemungkinan untuk terluka akan semakin membesar. Mama tidak ingin kamu disakiti. Mama hanya ingin yang terbaik buat kamu, Rayla,” Mama mengelus rambutku dengan lembut.


Jangan lupa tambahkan ke Favorite lalu tinggalkan Komentar, berikan Vote, Like dan Dukungannya ya guys. Terima kasih 🙏🤗 Loph you all 😘