
*Happy reading 📖📖 guys*
Tepat ketika aku selesai menyeduh kopi di pantri dapur kantor, suara dering ponsel berbunyi. Aku menatap layar menampilkan Tante Fifi’s calling.
“Ya, tante. Ada apa?”
“Sabtu ini kita akan merayakan ulang tahun Maylin. Kamu dan Deon hadir, kan?” tanya tante Fifi.
“Tentu. Kami akan ke sana. Acaranya jam berapa?” tanyaku kemudian meneguk kopi.
Tadi aku sudah meletakkan laporan yang telah direvisi, di meja kerja ibu Rita karena dia sedang tidak berada di ruangannya. Berkat bantuan Deon, aku dapat menyelesaikannya dengan cepat.
“Sebelum jam sebelas siang kalian sudah harus sampai di sini.”
“Ok, tante!”
Aku hendak berjalan kembali ke ruang kerja, tetapi tidak sengaja melihat sosok Deon dan Rita sedang berdiri di pojok lorong.
Mereka terlihat sedang serius membicarakan sesuatu. Namun, aku tidak bisa mendengar percakapan mereka karena jarak kami cukup jauh.
Deon terlihat marah beberapa saat kemudian ketika Rita mengucapkan sesuatu. Rahangnya mengetat.
Terakhir kali aku melihat reaksinya seperti itu adalah ketika pada saat malam setelah aku menyerahkan keperawananku kepadanya, esok harinya dia tahu kalau aku sudah mempersiapkan diri melakukan one night stand dengan pria mana pun.
Apa yang sedang mereka bicarakan? Mengapa mereka terlihat seperti sedang bertengkar?
“Rayla, kamu dengar kata-kata tante?” Suara tante Fifi membuatku kembali teringat pada perbincangan kami.
“Maaf, tante. Tadi bilang apa?” tanyaku. Aku berusaha mengabaikan yang barusan kulihat.
“Tante bilang kalau Darwan mau membuat kejutan kepada Maylin. Jadi, minta kita untuk berpura- pura lupa kalau Maylin ulang tahun. Jangan mengucapkan selamat ulang tahun dulu kepadanya.”
Aku kembali melangkahkan kakiku pergi dari sana. “Bukannya setiap tahun dia selalu memberikan hadiah untuk Maylin? Lantas apa bedanya dengan tahun ini?”
Aku tahu Darwan sangat mencintai Maylin. Setiap tahun selalu memberikan hadiah dan merayakan ulang tahun Maylin secara berlebihan.
Maylin sangat beruntung memiliki kekasih seperti Darwan.
“Darwan berniat melamar Maylin,” jawab tante Fifi dengan antusias.
“Apa? Wow! Ini berita paling terbaik yang pernah aku dengar, tante!” pekikku dengan senang.
Aku tidak menyangka secepat ini Darwan memutuskan untuk melanjutkan hubungan mereka lebih serius. Aku turut merasa bahagia mendengarnya.
“Ingat, jangan bocorkan rencana ini kepada siapa pun, ya, Rayla. Bahkan, mamamu juga. Rencananya setelah melamar Maylin, malam ketika dinner, Darwan akan menyampaikan hal ini pada mamamu,” ucap tante Fifi menjelaskan.
“Tante tenang saja. Tante tahu kalau mulutku bisa menjaga rahasia, kan?”
“Ok. Jangan lupa ya! Sebelum jam sebelas siang kamu sudah harus datang bersama Deon,” ucap tante Fifi mengingatkan. Kemudian sambungan telepon dimatikan.
Dari keputusan yang diambil Darwan, dapat ditarik kesimpulan bahwa dia adalah pria yang bertanggung jawab. Aku senang mendengar berita ini.
Namun, tidak dapat dipungkiri timbul perasaan cemas akan pernikahan mereka apakah dapat berjalan lancar atau tidak.
Aku berharap Tuhan memberi keadilan untuk Maylin. Sudah cukup kami merasakan kekurangan kasih sayang dari kedua orang tua kami. There’s always rainbow after the rain, right?
Aku ingin melanjutkan pekerjaan ketika kulihat Deon telah datang. Dengan raut wajah serius, dia berjalan ke arah meja kerjanya, lalu mulai kembali bekerja. Tidak berapa lama kemudian, Rita pun juga datang.
Ketika melewati mejaku, dia menoleh dan bertanya, “Rayla, apakah laporannya sudah selesai?”
Aku menganggukkan kepala. “Sudah saya taruh di meja ruangan Ibu.”
“Ok, terima kasih!” Rita kembali berjalan melangkah ke ruangannya.
Aku mengernyitkan alis, tidak mengerti apa yang sedang terjadi antara Deon dan Rita.
Tidak biasanya Rita berbicara kepadaku tanpa sinis. Apa sebenarnya yang mereka bicarakan di pojok lorong tadi?
Aku menoleh ke tempat Deon. Dia masih berkutat pada komputernya.
Aku yakin kalau dia mendengar apa yang ditanyakan Rita tadi kepadaku, tapi Deon seolah-olah tidak mendengarnya. Atau dia berpura-pura tidak mendengar?
Aku tidak ingin berburuk sangka kepadanya, tapi sikapnya ini mau tidak mau membuatku curiga. Apakah ada sesuatu antara mereka berdua yang tidak kuketahui? Aku akan mencari tahu saat pulang kerja nanti.
*****
Deon: Rayla, pulanglah duluan. Aku masih rapat bersama pak Gunawan. Makan malam jangan menungguku.
Aku menatap layar ponsel di genggaman tanganku. Sebuah inbox masuk dari Deon beberapa menit yang lalu.
Padahal, aku sudah berencana untuk melakukan interogasi padanya. Kalau sudah begini aku harus menunggu di Apartemen.
Sampai di Apartemen, aku memutuskan untuk merebus mie instan karena malas memesan makanan.
“Sering-sering saja makan mie instannya, Sayang. Biar aku ada alasan untuk protes dan kamu punya alasan mengecup bibirku yang sexy ini,” ucap Deon pada saat itu sambil memasang wajah cengirnya.
Aku hanya memutar bola mata ke atas. Malas menanggapi sifat narsisnya.
Aku sedang mencuci mangkuk ketika suara ponselku berbunyi. Segera ku lap kering kedua tanganku, lalu bergegas meraih ponsel. Siapa tahu itu panggilan dari Deon. Namun, yang kulihat dilayar muncul tulisan Darwan’s calling.
“Ya, Wan. Ada apa?” Aku menjepit ponsel pada telinga dan bahu, kemudian melanjutkan kembali aktifitas mencuci mangkuk yang belum diselesaikan.
“Rayla, besok pulang kerja bisa temani gue beli cincin tidak?”
Alisku berkerut. Tidak mengerti maksud ucapan Darwan. “Maksud lo?”
“Gue mau beli cincin untuk melamar Maylin, tapi gue bingung beli model yang mana? Gue takut kalau pilihan gue tidak sesuai seleranya,” ucap Darwan dengan nada khawatir.
“Wan, apa yang lo beli, Maylin pasti suka. Selama ini dia tidak pernah mengatakan tidak suka atas hadiah yang lo kasih, kan?”
“Tapi yang ini beda, La. Gue takut dia tidak suka,” ucap Darwan.
Aku tersenyum mendengar nada kekhawatirannya. Padahal, aku yakin Maylin tidak mempedulikan cincin seperti apa yang dibeli Darwan nanti.
“Dengar ya, Wan. Semua wanita bahagia hanya mendengar ucapan will you marry me? Bukan dari seberapa mahal atau seberapa indah cincin lamarannya. Yah, kecuali kalau wanita itu matre. Tidak benar-benar mencintai lo.”
“Yakin, La?” Darwan masih terdengar ragu.
Aku menganggukkan kepala. “Yakin, Wan. Gue kakaknya. Gue kenal banget Maylin seperti apa.”
Kemudian tidak ada jawaban apa-apa darinya. Hingga aku berpikir mungkin Darwan sudah memutuskan sambungan.
Aku ingin menekan tanda end call ketika suara Darwan kembali terdengar. “La, gue dan Maylin harus secepatnya menikah.”
Aku diam. Secepatnya menikah? Sebuah jawaban terpikir dalam otakku. Apakah mungkin…
“Maylin hamil. Pada saat itu kami tidak sengaja melakukannya. Karena kami dibawah pengaruh alkohol. Sebenarnya besok gue khawatir menghadapi tante Restin. Tante pasti kecewa sama gue.” Darwan menghela napas.
Aku terkejut mendengar pengakuan darinya tentang Maylin hamil. Aku kira Darwan memutuskan untuk melamar Maylin karena sudah siap lanjut kejenjang berikutnya.
Entah mengapa aku merasakan firasat buruk. Tidak! Tidak! Aku hanya terlalu banyak berpikir. Semua pasti baik-baik saja.
“Wan, kita semua tahu kalau lo mencintai Maylin. Kalian sudah berpacaran bertahun-tahun. Bayangkan! Sejak kalian masih SMA. Ma-” ucapanku terhenti karena pada saat aku ingin mengucapkan sebutan itu, lidahku terasa kaku.
Sebersit rasa perih kembali terasa di hatiku. Ternyata efek dari perlakuan mama terhadapku sangat dalam.
“Tante Restin pasti bisa mengerti. Kami semua sangat mengenal lo. Jadi, tidak perlu khawatir,” ucapku kembali melanjutkan kalimat yang sempat tertunda tadi.
“Thank’s, untuk supportnya, La. Kalau begitu, besok gue pergi sendiri beli cincinnya. Sorry ya, sudah mengganggu lo malam-malam begini,” ucap Darwan dengan tulus.
“Lo sudah gue anggap sebagai adik sendiri, Wan. Jangan sungkan sama gue. Kalau tante Restin berulah, gue bisa bantu kalian, tapi tenang saja. Gue yakin tante Restin tidak akan menolak pernikahan kalian. Sudah ada calon cucu di rahim Maylin. Dia tidak akan tega meminta Maylin mengugurkan calon anak kalian.”
“Gue harap juga begitu. Ok deh, take a rest, ya. Thank you for your time. See you at Saturday.” Kemudian Darwan memutuskan sambungan telepon.
Aku akan menjadi tante. Ada rasa senang mendengar Maylin sedang hamil. Namun, aku juga merasa gelisah.
Apa yang akan mama katakan begitu tahu kalau Maylin hamil? Selama ini perlakuan mama sering menyakiti hati kami. Akan tetapi untuk yang satu hal ini, mama tidak mungkin minta Maylin mengugurkan kandungan, kan?
“Hey, Rayla! Apa yang sedang kamu pikirkan, Sayang?”
Tiba-tiba aku mendengar suara keras Deon. Dia berdiri di depanku sambil memasang wajah khawatir.
“Kapan kamu pulang? Aku tidak mendengar suara pintu.”
“Jelas kamu tidak dengar karena kamu sedang fokus memikirkan sesuatu. Aku sudah memanggilmu beberapa kali, tapi kamu tidak bergeming. Ada apa? Ada masalah?”
Aku menggelengkan kepala. “Tidak ada apa-apa.” Aku ingin menceritakan tentang Maylin kepadanya, tetapi Deon memberikan pertanyaan yang membuatku teringat kembali kejadian siang tadi.
“Apakah Rita mencari masalah denganmu lagi?” tanyanya dengan nada rendah. Namun, wajahnya mulai terlihat marah.
Aku diam memperhatikan sikap Deon yang menurutku aneh. Dia juga menyebut wanita itu langsung menggunakan nama. Mendengarnya dia menyebut nama itu seolah-olah mereka pernah akrab.
Deon membelai wajahku dengan lembut. “Katakan kepadaku, Sayang. Jangan diam saja. Apa yang Rita lakukan atau katakan kepadamu?”
“Sebenarnya apa hubunganmu dengan Rita, Deon? Sejak kapan kalian saling kenal? Aku yakin sebelum dia masuk bekerja di kantor, kalian sudah saling mengenal. Kenapa tidak mengatakannya kepadaku?” tanyaku.
Entah pikiran dari mana tiba-tiba aku mengucapkan pertanyaan seperti itu.
Namun, melihat reaksi Deon yang terkejut, membuatku yakin atas pertanyaan yang barusan ku ucapkan.
Mereka sudah saling mengenal sebelum Rita masuk bekerja di sana. Apakah mereka pernah memiliki hubungan khusus? Memikirkan hal ini membuatku cemburu.
Aku tahu kalau dulu Deon seorang Playboy. Jadi, pasti memiliki banyak mantan, tapi itu kalau aku tidak mengenal mantannya dan tidak perlu setiap hari bertatap muka dengannya. Aku tidak bersedia jika setiap hari harus bertemu dengan mantan kekasih Deon yang pernah memberikannya kehangatan di atas ranjang.
Jangan lupa tambahkan ke Favorite lalu tinggalkan Komentar, berikan Vote, Like dan Dukungannya ya guys. Terima kasih 🙏🤗 Loph you all 😘