
Happy reading 📖📖 guys
“Saya sudah bilang, kamu tidak usah datang lagi ke sini.” Mama mengambil nampan yang berisi makanan pesanan pengunjung dari tangan Deon yang hendak bersiap mengantar ke meja costumer.
Kemudian nampan itu beralih ke tangan Alice. “Kamu saja yang antarkan, Alice,” perintah Mama.
“Saya berniat untuk membantu, Tante.”
“Terima kasih atas niat kamu, tapi pegawai saya sudah cukup. Lebih baik kamu menghabiskan waktu dengan Rayla. Kalian juga butuh quality time, bukan?” tukas mama.
“Waktu kebersamaan kami sangat cukup, Tante. Tidak perlu khawatir. Kalau Tante merasa saya mengganggu pekerjaan pegawai, bagaimana kalau saya membantu Tante membuatkan laporan keuangan bulanan?”
Dahi Mama berkerut, menandakan tidak paham. “Laporan?”
“Iya, Tante. Salah satu langkah terakhir dalam bisnis yaitu dengan melakukan perhitungan setiap bulan untuk mengetahui apakah usaha bulan ini menguntungkan atau merugikan. Dengan begitu kita bisa mengevaluasi bagian mana yang harus diganti atau dipertahankan.”
“Setiap bulan saya melakukan food cost dan arus kas,” jawab mama.
“Boleh juga, sih! Tapi itu cara paling simple, Tante. Food cost hanya menghitung biaya yang dikeluarkan untuk memproduksi makanan dan minuman dengan standar resep tertentu. Sedangkan laporan arus kas hanya melacak uang yang masuk dan keluar saja. Dua hal itu saja tidak cukup.”
“Mengatur keuangan bisnis dibutuhkan perhitungan laba rugi dengan sistem akuntansi, mengelola inventaris dan juga merekam arus kas.” Deon menjelaskan dengan panjang lebar.
Aku yang sedang berdiri di dekatnya, berusaha untuk menahan tawa. Terlihat dengan jelas Deon sedang berusaha menggunakan cara alternatif lain untuk mendekatkan diri kepada mama.
“Tante dulu bekerja sebagai Sekretaris, bukan? Jadi, Tante tidak begitu paham bagaimana cara melakukan pembukuan dengan sistem akuntansi food and beverage untuk mengontrol arus kas agar dapat mengurangi kerugian dan memaksimalkan keuntungan. Yuk, kita ke ruang kerja Tante. Saya jelaskan lebih lanjut.” Deon menaruh kedua tangan pada bahu Mama, lalu dengan pelan mendorong Mama berjalan maju ke tempat ruangan kerja.
“Orang lain yang membuka bisnis kuliner tidak perlu melakukan pembukuan atau semacamnya seperti yang kamu ucapkan tadi, tapi bisnisnya tetap berjalan lancar,” tukas Mama.
“Mungkin karena mereka tidak mengerti pentingnya melakukan pembukuan dengan sistem akuntansi food and beverage. Atau juga mereka tidak memiliki menantu yang mengerti pembukuan secara profesional.”
“Berhubung Tante memiliki calon menantu yang handal dalam urusan ini, saya bersedia membantu Tante agar usaha Tante makin sukses dan dapat meminimalisir jika terjadi penyimpangan dari rencana semula. Tante percayakan saja pada saya.” Deon terus berceloteh, tidak memberi Mama kesempatan untuk berpikir.
Tanpa sadar Mama menurut pada Deon, mereka berdua melangkahkan kakinya sampai menghilang dari pandanganku.
“Kekasihmu sungguh-sungguh hebat, Rayla. Tahan banting dan juga pintar mengambil perhatian ibu Restin.” Alice tahu-tahu sudah berada di sampingku. Aku membalasnya dengan senyum lebar.
Alice menghela napasnya. Sambil memasang tampang mupeng-nya, dia berkata, “Aku jadi kepingin pria sepertinya.”
Aku langsung memberikannya pelototan tajam. “Jangan mencoba-coba untuk menikung, Alice.”
Alice tertawa terbahak-bahak. Aku menatapnya dengan bingung. Apa ucapanku ada yang lucu?
“Kamu tahu apa yang kupikirkan pada saat pertama kali berinteraksi denganmu dan Maylin? Saat itu aku hanya bisa berucap dalam hati, bagaimana bisa sikap kalian berdua sangat berbeda?” tutur Alice.
“Maylin bagaikan kembang api yang dapat membuat orang-orang di sekitarnya terpukau atas kecerewetannya, humorisnya, dan kehangatannya. Sedangkan kamu, seperti patung manekin yang cantik. Kaku, pendiam, dingin, dan cuek. Hanya bisa dilihat dan didekati, tetapi sulit untuk masuk ke dalam hatimu. Selalu aku yang lebih dulu mengajakmu bicara karena kamu tidak pernah berinisiatif melakukannya,” imbuh Alice terang-terangan.
“Ya, aku tahu. Terkadang aku iri melihat Maylin yang bisa berinteraksi dengan siapa pun,” balasku sambil tertawa kecil karena mengingat sifat Maylin yang terkadang konyol.
Alice memutar kepalanya menghadapku. “Tetapi dirimu yang sekarang terlihat berubah, Rayla. Kamu sudah tidak sekaku dulu. Bahkan, kamu mau melakukan pembicaraan denganku lebih dari satu kalimat seperti saat ini. Bukankah ini kemajuan yang bagus? Aku juga melihat raut wajahmu yang penuh kebahagiaan. Dan itu berkat kekasihmu.”
“Ya, semua orang berkata seperti itu kepadaku,” gumamku.
Sejak kehadiran Deon, hidupku memang menjadi lebih berwarna. Dia membuatku melihat dunia dalam warna-warna cerah ketika semua yang aku lihat sebelumnya adalah abu-abu.
Dia selalu tahu bagaimana membuatku tersenyum. Bahkan, ketika aku mengalami hari yang terburuk.
“Aku turut senang karenanya. Aku doakan semoga kalian berdua secepatnya menyusul Maylin,” ucap Alice dengan tulus. “Aku sibuk dulu, ya. Ada perlu apa-apa, panggil aku.”
Aku mengangguk. Alice kembali ke tempat kasir dan mulai sibuk dengan pekerjaannya. Aku menoleh ke tempat di mana Deon dan mama tadi berjalan masuk ke ruang kerja.
Mungkin aku tidak perlu mengkhawatirkan mereka berdua. Deon pasti memiliki ribuan cara untuk menghadapi mama. Lebih baik aku menunggu mereka di sini.
Aku membalikkan tubuh bermaksud mencari tempat kosong untuk duduk. Namun, mataku menangkap sesosok tubuh yang sedang berdiri di pintu masuk sambil menatap ke arahku dengan tatapan rindu.
Jason diam. Dia menatapku lekat. Aku mulai merasa tidak nyaman karena tatapannya itu. “Mama ada di ruangan kerjanya,” kataku lagi.
“Bisa kita bicara?” tanyanya cepat. Aku mengangguk kepala. “Kita bicara di luar saja, ya?”
“Baiklah. Aku meminta Alice menyiapkan minuman dulu.”
Aku hendak berbalik, tetapi pergelangan tanganku ditarik oleh Jason. “Tidak usah,” gumamnya pelan.
Dengan pelan, aku mencoba melepas cengkeraman tangannya. Kemudian mendahuluinya berjalan melangkah keluar.
Restoran mama di bangun dengan konsep indoor dan outdoor. Pengunjung restoran lebih memilih outdoor pada saat jam dinner karena bisa sambil menikmati langit malam dan hiasan lampu pada untaian lampu yang menyelimuti pohon dan membentang dari ujung ke ujung.
“Hmm … bagaimana kabar lo?” tanyaku memulai percakapan setelah beberapa menit kami berdua hanya duduk dalam diam.
Jason tidak berhenti menatapku dengan tatapannya yang entahlah, aku tidak bisa menangkapnya. Yang jelas, tatapannya membuatku semakin risih.
“I’m really miss you, Ayla. Don’t you?” jawabnya pelan.
Bodohnya kamu, Rayla. Pertanyaan macam apa yang kamu ucapkan tadi? Jelas dia sedang dalam keadaan tidak baik.
“Aku rindu saat kebersamaan kita dulu. Aku merindukan suara tawamu. Aku merindukan senyumanmu,” ungkap Jason. “Aku juga merindukan bibirmu,” kata Jason lagi setelah jeda beberapa saat.
“Stop it!” perasaanku sungguh tidak nyaman saat dia mengucapkan kalimat terakhirnya. Membuatku teringat insiden ciuman sialan itu.
“Dengar, Jason. Gue benar-benar meminta maaf sama lo karena sudah menyakiti hati lo. Gue mengerti perasaan kehilangan seseorang yang kita sayangi itu seperti apa, tetapi lo harus bisa menerima kenyataannya walau pahit. Gue mencintai orang lain.”
“Aku tahu,” jawabnya sambil tersenyum tipis yang membuatku mengigit bibir bawahku untuk menahan perasaan bersalah di dalam dadaku. “Tapi kita sudah bersama selama sebelas tahun. Tidak semudah itu menghilangkan perasaan cintaku untukmu.”
Aku berdeham pelan sebelum menjawab, “Delapan tahun. Lo pergi meninggalkan gue selama tiga tahun. Ingat?”
“Aku minta maaf. Aku telah menyakitimu saat itu. Aku sangat menyesal. Karena kebodohanku, aku kehilangan dirimu. Sampai kapan pun, aku tidak akan pernah melupakan kebodohanku itu.” Jason menatapku dengan mata merahnya yang penuh dengan rasa bersalah dan kesedihan.
Dadanya bergerak naik turun dengan cepat, menunjukkan dengan jelas bagaimana dia menahan emosinya saat ini agar tidak meledak. Melihatnya seperti ini, membuatku benci pada diriku sendiri.
“Maaf karena aku tidak menepati janjiku untuk terus berada di sampingmu. Membahagiakanmu seumur hidup,” ucapnya semakin serak.
“Maaf karena menjadi pria gagal bagimu hingga secara tidak langsung aku memberikan kesempatan itu kepada pria lain.”
Melihatnya tampak begitu menderita, mataku mulai memanas. “Saat terbahagia gue adalah saat-saat di mana gue bersama dengan lo sebagai sahabat. Gue bersyukur dapat mengenal diri lo dan jatuh cinta pada lo. Lo adalah sahabat sekaligus cinta pertama terbaik yang pernah gue miliki,” ucapku serak.
Aku berusaha membentuk senyuman lembut di bibirku. “Mungkin gue terdengar sangat egois. Gue harap bisa melanjutkan persahabatan kita lagi, tapi gue tahu itu tidak mungkin.”
Jason menghela napasnya sebelum kembali menatapku. “Tidak adakah kesempatan untukku memperbaikinya, Ayla?”
“Maafkan gue, Jason.”
Air mata menetes keluar dari sudut matanya. “Semoga kamu bahagia bersamanya, Ayla. Aku mengucapkannya dengan tulus. Selamat tinggal.” Kemudian dia bangun dari kursi yang didudukinya. Berjalan melangkah pergi.
Tepat saat itu, aku melihat sebuah mobil berwarna silver grey terparkir tidak jauh dari Restoran mama. Bella sedang berdiri bersandar pada mobilnya.
“Jason!” panggilku. Dia memutar balik tubuhnya menghadapku. “Bukalah mata lo. Ada seorang wanita yang mencintai lo sepenuh hati. Jangan sia-sia kan wanita itu. Semoga lo dan dia mendapatkan kebahagiaan. Itu harapan gue.”
Jason berusaha membentuk senyuman lembut dengan bibirnya yang kaku, kemudian dia kembali melangkah pergi. Ketika Jason sudah membuka pintu mobil bagian penumpang, Bella turut masuk tanpa menoleh ke arahku.
Aku berdiri menatap mobil tersebut hingga menghilang dari pandanganku sambil menyeka air mata. Terima kasih karena kalian berdua telah menjadi sahabat terbaikku. Semoga kebahagiaan kalian akan tercapai.
Persahabatan sejati adalah ketika kamu harus melihat sahabatmu pergi, tapi kamu tahu dia akan selalu berada di dalam hati dan pikiranmu selamanya. Jika pertemuan adalah awal dari perpisahan, maka perpisahan adalah awal dari keindahan dalam pertemuan yang selanjutnya.
Jangan lupa tambahkan ke Favorite lalu tinggalkan Komentar, berikan Vote, Like dan Dukungannya ya guys. Terima kasih 🙏🤗 Loph you all 😘