
*Happy reading 📖📖guys*
“Sebenarnya aku tidak membayangkan ini akan terjadi saat ini, di sini, dengan situasi seperti ini,” ucap Deon sambil menatapku lekat.
“Tapi karena aku tidak menemukan cara lain untuk menyingkirkan Ares-Ares yang kelak akan muncul setelah Elian, aku tidak bisa menundanya lagi. Aku bahkan tidak mau membayangkan hal itu terjadi. Tadinya, aku ingin menukar pil kontrasepsi yang kamu minum dengan pil penyubur kandungan,” tuturnya kemudian tertawa kecil.
Jantungku berdebar sangat cepat. Oh, Tuhan! Apa yang harus kulakukan? Ini terlalu cepat!
Meskipun diam-diam sudah tidak minum pil tersebut, aku masih berusaha mencoba keluar dari rasa takut membangun rumah tangga.
“Bagaimana? Apakah kamu setuju kita tunangan terlebih dahulu? Hanya untuk mempertegas kepada orang-orang bahwa kamu milikku,” tanyanya lagi pelan.
Raut ketegangan samar-samar terpancar dari wajahnya yang lembut, sementara aku berdiri terpaku di depannya.
Tiba-tiba terdengar suara intercom masuk. Deon sempat mengumpat kesal karena merasa terganggu. Kemudian dia menekan tombol lalu berkata, “Katakan kepada mereka, saya sedang sibuk! Tidak mau diganggu!”
“Papa sudah menunggu kamu sejak tiga puluh menit yang lalu. Apakah masih belum cukup?”
Suara Om Surbakti yang menyahut dari intercom membuat mataku melebar karena terkejut. Astaga! Setelah ini aku harus bersikap bagaimana di depan beliau?
“Papa mengganggu saja. Aku sekarang sedang bernegosiasi dengan Rayla persoalan tentang pertunangan. Tunggu Rayla menjawab setuju, aku baru buka pintunya. Papa tunggu saja dulu di ruang tunggu,” jawab Deon santai.
Aku segera melayangkan cubitan kencang di pinggangnya dan memberikan pelototan tajam padanya. Deon mengaduh kesakitan.
“Kok, negosiasi sampai selama itu? Jangan dikira Papa tidak tahu isi otak kamu, ya!”
“Aduh, Pa, tentu saja tiga puluh menit yang lalu kami sedang sibuk membuat cucu untuk Papa. Sekarang kami beneran sedang sibuk negosiasi rencana pertunangan. Kalau Rayla jawab setuju, aku baru buka pintunya.”
“Dasar anak durhaka! Cepat selesaikan urusan kalian!” Kemudian terdengar suara bunyi intercom dimatikan.
“Kamu mengancam aku!” gerutuku kesal.
“Aku mana berani mengancam kamu, Sayang. Aku hanya bilang kalau kamu jawab setuju, aku baru buka pintunya. Kalimatku ini tidak mengandung ancaman sama sekali, kok!” jawab Deon membela diri.
“Kalau aku jawab tidak setuju?” tanyaku sengaja menantangnya.
Deon tertawa kecil sebelum menjawab, “Mau tidak mau papa harus lewat intercom menjelaskan tujuannya datang mencariku, lalu pertemuan dengan Xavier Jadison dibatalkan, selanjutnya kita akan bermalam di ruangan ini sampai besok.”
Deon sialan! Ternyata dia bukan hanya pintar merayu wanita, tapi juga ahli bernegosiasi.
Sejak menjadi Asistennya, seharusnya aku tahu dia memiliki kecerdasan dan kemampuan mengontrol orang-orang. Dia tidak mudah terintimidasi oleh orang lain. Malah seringnya dia yang memojokkan koleganya secara halus.
“Aku sungguh-sungguh tidak mengancam, Sayang. Aku memberikan pilihan. Setuju atau tidak?” bisiknya dengan suara rendah dan parau, membuatku terpaku seperti terhipnotis oleh perpaduan suaranya dan tatapannya.
“Kamu tidak mau buka pintunya, biar aku yang buka!” tukasku ketika masih tersisa sedikit kesadaran.
Aku memutarbalik tubuh, bermaksud melangkah menuju pintu. Namun, pergelangan tanganku ditarik hingga bertabrakan dengan tubuhnya.
Aku tak bergerak saat tangannya merangkum pipiku lembut. “Sayang, kamu lupa kalau pintunya terkunci otomatis dengan remote control?” tanyanya dengan nada lembut.
Sial! Apakah lebih baik aku berterus terang saja kepadanya bahwa aku sudah berhenti minum pil itu?
Tapi … tidak! Jangan! Belum saatnya. Jika memberitahunya sekarang, dia pasti menggunakan kesempatan ini dengan menyerangku habis-habisan.
“Kamu trauma dalam membangun rumah tangga, tapi tidak dalam menjalani suatu hubungan. Tidak ada yang berubah dari pacaran menjadi tunangan, kok! Tunangan cuma sekadar simbol keseriusan dalam hubungan sepasang kekasih,” ucapnya sambil mempermainkan helai-helai rambutku dengan jarinya.
Aku masih tak bergeming. Hatiku berkecamuk.
Seolah-olah Deon dapat merasakan kebimbanganku, dia mencoba meyakinkanku dengan berkata, "Just engaged, Honey. Aku janji setelah kita tunangan, aku tidak minta macam-macam lagi sampai trauma kamu sembuh. Ah, ya, cuma satu macam saja yang aku minta. Bercinta tetap menjadi rutinitas kita. Bagaimana? Deal?”
Aku memejamkan mata, mencoba bertanya pada hatiku jawaban apa yang harus kuberi. Saat mataku terbuka, aku melihatnya tersenyum. Dia menunggu jawaban maka aku memberinya sebuah jawaban.
Aku mendesah pasrah, hanya bisa berharap keputusanku tidak salah.
Aku membalas tatapannya tanpa berkedip. “Deal,” jawabku singkat.
Senyum lebar terkembang di bibirnya. Perlahan wajahnya mendekat. “It’s a deal then. Kamu tidak boleh berubah pikiran.”
“Ya,” jawabku tanpa keraguan. “Karena aku cuma mau kamu.”
“Dengan senang hati, Sayang,” bisiknya sebelum bibirnya memagut bibirku.
Aku menikmati rasa bibirnya di bibirku. Menyambut setiap kecupan lembutnya. Karena ciumannya yang begitu memabukkan, membuatku melupakan segala rasa kesal yang kurasakan padanya tadi. Juga nyaris lupa om Surbakti yang sedang menunggu di ruang tunggu.
“Deon…,” panggilku.
“Hmm?” Deon bergumam tanya tanpa melepas kecupan-kecupan yang membuat bagian intiku mulai berdenyut.
Deon pun menghentikan aksinya. Dia menatapku dengan mata yang pekat berlumur ha srat. “Tubuhmu benar-benar membuatku gila,” gumamnya serak.
Kemudian dia melangkahkan kedua kakinya berjalan ke pintu, lalu membukanya. “Elia! Katakan kepada pak Direktur, beliau sudah boleh masuk ke ruangan saya.”
Aku memasang wajah terkejut. Aku bergegas menghampiri dirinya yang baru saja duduk di salah satu sofa. “Kamu bilang pintunya terkunci otomatis dengan remote control.”
“Ya, benar. Lalu?” Deon memasang raut wajah tidak mengerti maksud perkataanku.
“Bukankah kamu bilang mengunci atau membuka pintu dikendalikan dengan remote? Kenapa yang aku lihat tadi, kamu membukanya tanpa remote?”
“Sayang, walau disebut kunci otomatis, semua pintu pasti bisa dibuka secara manual. Tidak mungkin, kan, sepenuhnya mengandalkan kecanggihan teknologi? Kalau remote sedang rusak atau sistem otomatis pada pintu error, lantas bagaimana keluar dari ruangan?” jawabnya sambil memasang raut wajah innocent.
“Tapi tadi saat aku ingin pergi membuka pintu, kamu menarik tanganku dan bilang pintu terkunci otomatis dengan remote.”
“Memang benar, kan? Kamu lihat sendiri aku menguncinya dengan menggunakan remote.”
“Kamu membohongiku, Deonartus Surbakti!” jeritku kesal.
Berengsek! Lagi-lagi aku tertipu olehnya. Sialnya, hatiku malah jatuh padanya.
“Aku tidak bohong, Sayang. Maksudku tadi, kamu tidak usah repot-repot jalan untuk membuka pintu. Aku hanya mengingatkan kamu saja. Lagi pula, aku tidak bilang pintu tidak bisa dibuka tanpa remote,” ucapnya berkilah.
Aku mendiamkannya. Memang benar, sih, dia tidak berkata seperti itu, tapi tetap saja aku merasa telah ditipu.
Deon memeluk pinggangku lalu meletakkan dagunya di atas bahuku. “Jangan marah, dong, Sayang. Kamu tidak tanya dengan jelas. Mana aku tahu kalau kamu salah menangkap maksud perkataanku,” ucapnya berusaha membujukku.
“Astaga! Urusan kalian masih belum selesai juga?” tiba-tiba terdengar seorang pria sedang berdiri membelakangi kami. Membuatku terkejut atas kedatangannya.
Refleks aku berdiri dan memberi salam kepada Om Surbakti yang dibalas beliau dengan gerakan tangan agar aku kembali duduk.
“Papa mencariku ada apa?” tanya Deon tanpa basa basi.
“Papa sudah pernah berpesan kepadamu, mau melakukannya pastikan dulu tidak ada tamu yang akan datang mencarimu. Kali ini Papa yang kebetulan datang dan bersedia menunggu kalian di luar selama lebih dari tiga puluh menit. Bagaimana kalau itu orang lain? Kamu bisa merusak reputasi dirimu sebagai CEO, Deonartus!”
“Mau bagaimana lagi, Pa? Namanya juga kebutuhan mendesak. Sekalian aku mau isi baterai. Nanti sore masih mau menghadiri pertemuan dengan Xavier Jadison,” jawab Deon tanpa tahu malu.
Seketika wajahku memerah karena mendengar obrolan antara ayah dan anak yang sama-sama blak-blakan. Ingin sekali aku segera menyingkir dari situasi seperti ini.
Om Surbakti mendengus kecil sebelum berkata, “Papa sudah memperingati Elia agar tidak menyebarluaskan kejadian tadi kepada siapa pun. Jangan sampai sikap slengean kamu menjadi bahan gosip karyawan di kantor ini.”
“Maafkan saya, Om,” ucapku dengan canggung.
“Bukan salahmu, Rayla. Salahkan anak saya yang tingkat ga irahnya lebih besar daripada isi otaknya," jawab Om Surbakti dengan suara mengejek. Mata beliau melirik Deon.
“Jangan lupa, loh, Pa! Anak adalah cerminan dari orang tua,” balas Deon sambil tertawa kecil.
“Dasar anak durhaka!” Kemudian Om Surbakti tertawa terbahak-bahak. “Tujuan Papa mencari kalian karena ingin makan siang bersama. Ayo, kita berangkat ke Restoran. Sekalian bahas tentang acara pertunangan kalian.”
Aku dan Deon segera berdiri. Baru beberapa langkah, tiba-tiba Om Surbakti menghentikan langkahnya lalu berbalik menatapku sebelum mengalihkan tatapannya ke Deon. “Sebelumnya, kamu urus dulu jejak kebejatanmu. Gunakan alat make up untuk menyamarkan bekasnya pada bagian leher Rayla.”
“Itu adalah tanda kepemilikan dariku, Pa.”
“Papa, sih, tidak masalah, tetapi di lihat relasi bisni tidak bagus untuk citra Rayla. Bukankah sehabis makan siang kalian ada pertemuan dengan Xavier Jadison?”
“Justru itu Mr. Erik harus melihatnya,” jawab Deon, santai.
Aku hanya bisa mengumpat Deon dalam hati karena Om Surbakti masih berada di sini. Tebakanku benar. Dia memang sengaja melakukannya.
“Samarkan dengan make up atau pertemuanmu itu biar Pak Broto yang menemanimu. Sedangkan Rayla bantu Papa di kantor.”
“Rayla tidak punya make up, Pa,” tukas Deon beralasan. Masih keras kepala menolak ide Om Surbakti.
“Kalau begitu pinjam punya Elia. Papa tunggu di Lobby kantor,” ucap Om Surbakti dengan nada tidak ingin dibantah lagi.
“Y- ya, Om.” Aku menundukan kepala untuk menutupi rona wajahku yang semakin memerah.
Sebelum berjalan pergi meninggalkan tempat, Om Surbakti sempat berkata kepada Elia untuk meminjamkan alat make up-nya kepadaku. Deon menghela napas pasrah.
Aku melayangkan pandangan yang tajam kepadanya. Sesaat Deon memandang ke arahku. Dia memasang senyum jahilnya sebelum mengalihkan tatapan ke arah lain.
Ya, Tuhan! Sungguh memalukan tepergok papa dari kekasih sendiri.
Andai Doraemon benar-benar ada di dunia nyata, aku ingin sekali pinjam pintu ke mana saja-nya lalu menghilang dari sini. Atau pinjam mesin waktunya untuk memutar balik waktu. Semua gara-gara Deonartus Surbakti berengsek!
Akhirnya Rayla bersedia tunangan👏 walau baru tunangan, tapi meyakinkan Rayla untuk berani melangkah satu tahap gak gampang, loh! Perjuangan Deon tidak sia-sia 😭 Yuk, kasih semangat untuk mereka berdua dengan memberikan Vote, Like dan Hadiahnya ya. Jangan lupa tambahkan ke Favorite. Terima kasih 🙏 Loph you all 😘