Silence

Silence
Bab 92



*Happy reading 📖📖 guys*


Perasaan senang dan lega bercampur menjadi satu, ketika Deon memberitahuku bahwa Xavier Jadison tidak jadi mengambil aset tanah perusahaan. Meskipun begitu, penalti sebesar 25% tetap dibayar sesuai isi kesepakatan kontrak.


Deon tidak mau memberitahuku berapakah total penalti yang harus dia bayar. Bahkan, dengan cara merayunya sekalipun, Deon tetap menutup mulutnya.


“Masalah Xavier Jadison sudah selesai, Sayang. Jangan dibahas lagi, ya. Lebih baik kita fokus tentang pertunangan kita,” kata Deon yang pada akhirnya kubalas dengan mengangguk, mengikuti permintaannya.


Tanpa terasa, hari Sabtu di mana Deon bersama om Surbakti dan tante Amanda ke rumahku untuk membahas persoalan pertunangan pun datang.


Bertemu dengan calon mertua dari pasangan adalah hal yang paling mendebarkan sekaligus membahagiakan. Aku mengenakan dress dengan potongan sederhana yang panjangnya selutut berwarna biru langit dan dipoles sedikit make up agar tampak lebih menarik. Tentu saja mama yang membantuku ber-make up, karena aku buta tentang itu.


Meskipun aku sudah pernah bertemu dengan mereka, tapi tetap saja rasa gugup itu datang. Bagaimana kalau tiba-tiba pandangan mereka berubah tidak menyukaiku? Apalagi acara pertemuan kali ini sangat penting. Sebisa mungkin menghindari hal-hal buruk agar pertemuan ini berjalan mulus.


“Kira-kira kapan waktu yang tepat acara pertunangannya?” tanya Tante Amanda.


“Hmm … bagaimana kalau bulan depan?” Mama balik bertanya.


“Bole-“


“Sabtu depan saja!” Deon segera memotong ucapan Tante Amanda. Seketika semua orang menatap Deon dengan terkejut. “Aku mau pertunangannya dilaksanakan Sabtu depan.”


“Hanya seminggu waktu untuk persiapannya tidak cukup, Deon. Lebih baik bulan depan saja seperti kata Restin tadi,” ucap Tante Amanda.


“Undang kerabat dan teman akrab saja. Oh ya, sekalian beberapa wartawan juga diundang agar berita pertunangan kami disebar luaskan,” kata Deon lagi.


“Kenapa kamu terlihat terburu-buru seperti itu, Deon?” Kali ini suara Om Surbakti yang bertanya.


“Aku tidak mau ada pria lain yang tiba-tiba menyelip, lalu membawa Rayla kabur dariku.”


Jawaban dari Deon yang terdengar posesif, membuat semua orang di ruangan tertawa terbahak-bahak. Sementara aku menundukkan kepala demi menutupi rona merah di wajahku.


“Sejak kapan kamu bisa ketakutan seperti itu, Deonartus?” tanya Om Surbakti disertai tawa kecil.


“Apa tidak keterbalikan? Justru Rayla yang seharusnya khawatir dengan sikap Playboy kamu yang bisa terpikat kepada wanita lain kapan saja,” ucap Tante Amanda menimpali.


Deon memasang wajah masam kepada kedua orang tuanya. “Papa dan Mama bukannya meyakinkan Rayla, malah membuatnya semakin ragu. Kalau setelah ini Rayla bilang batal tunangan, Papa dan Mama harus bertangung jawab.”


Deon menarik kedua tanganku, lalu menggenggamnya dengan erat. “Jangan dengarkan kata-kata mereka ya, Sayang. Aku beneran sudah insaf, kok. Hatiku sekarang hanya ada kamu seorang. Aku bersungguh-sungguh mencintai kamu.”


Mama mengeluarkan bunyi batuk kecil. “Rayla, kalau kamu masih ragu, sekarang kamu bisa berubah pikiran.”


“Tidak boleh, Tante!” sergah Deon panik. “Kedua orang tuaku sudah datang kemari. Pokoknya tidak ada yang batal. Acara pertunangan dilakukan Sabtu depan. Aku yang akan mempersiapkan semuanya. Besok aku dan Rayla akan pergi ke toko perhiasan membeli cincin tunangan, lalu hunting baju.”


Tante Amanda terlihat ingin mengatakan sesuatu, tapi Deon langsung menyela terlebih dahulu. “Tante, kegigihanku ini apakah masih belum bisa menyentuh hati Tante? Berikan kesempatan kepada mantan Playboy ini untuk membahagiakan putri Tante. Aku akan memperlakukan Rayla bagaikan ratu. Please …,” pinta Deon dengan wajah memelas lengkap dengan ekspresi puppy eyes-nya.


Kalimatnya membuatku terbuai. Meskipun aku tahu dia mantan Playboy, pandai membuat kata-kata yang indah, tapi tetap saja aku tidak mampu mengingkari hati yang membuncah bahagia mendengar ucapannya itu.


“Aku setuju!” ucapku tiba-tiba dengan lantang. “Acara pertunangannya cukup dihadiri kerabat dan teman dekat saja. Aku juga tidak mau memberi peluang wanita lain mendekati Deon.”


Mataku menatap Deon yang juga sedang memandangku dengan senyumannya merekah di bibirnya. Sedangkan kedua orang tua Deon, Mama dan Tante Fifi pun tertawa terbahak-bahak.


“Anak kita sudah kepingin cepat-cepat tunangan. Kalau begitu, kita ikuti permintaan mereka saja. Bagaimana?” tanya Tante Amanda kepada Mama dan Tante Fifi.


*****


Deon mengatakan kepadaku bahwa dia ada urusan dengan Leonel. Setelah obrolan tentang acara pertunangan selesai, dia akan mengantarkan kedua orang tuanya pulang ke rumah, lalu pergi menemui sahabatnya itu. Entah ada masalah apa yang sedang terjadi.


Deon pernah sedikit menjelaskan bisnis rahasia Leonel, tapi aku tidak begitu mengerti. Yang aku tahu, bisnis tersebut semacam perkumpulan mafia. Karena Leonel tidak berani menggunakan uang keluarganya, Deon mengajukan diri untuk mendanai modal bisnis tersebut.


Sementara Deon sibuk bersama Leonel, aku pun memutuskan mengunjungi Agatha ke rumahnya. Sudah lama kami tidak saling bertemu. Selama ini komunikasi kami lebih sering menggunakan chat.


“Bagaimana kabar lo, Tha?” tanyaku begitu melihat Agatha muncul bersama putrinya yang sedang berada dalam gendongannya.


“Setelah menikah dengan Peter, gue merasa bahagia banget, tapi setelah punya anak, kebahagiaan itu terasa tidak terhingga rasanya.” Sorot matanya berbinar-binar saat mengucapkannya.


“Tapi lo kelihatan lebih kurus. Lo sedang diet?” tanyaku meragu.


Agatha menggeleng-gelengkan kepalanya. “Gue sibuk mengurus Vivi. Bangun tengah malam untuk menyusui, menenangkan Vivi yang menangis, mengganti popok, dan masih banyak lagi. Vivi suka nangis walau popoknya cuma basah sedikit. Terkadang, gue malah kebablasan tidur, tidak kedengaran suara tangisan Vivi karena terlalu capek. Lalu, Peter yang bantu gue urus Vivi.”


“Baguslah kalian berdua bisa saling membantu. Lo tidak mengalami sindrom baby blues? Gue dengar banyak dari orang-orang, kalau ibu yang baru pertama kali melahirkan hampir semuanya rata-rata mengalami baby blues.”


“Ada, kok. Hanya saja tidak terlalu parah dan itu berlangsung selama beberapa bulan. Pada waktu itu, gue sering marah-marah tidak jelas, mudah tersinggung dan suka menyalahkan Peter atas apa saja yang kurang beres. Bahkan, mendengar tangisan Vivi setiap tengah malam bagaikan mimpi buruk dan gue malah ikut nangis. Gue beruntung Peter mau sabar banget menghadapi gue.” Kemudian Agatha tertawa terkekeh-kekeh.


“Tapi sekarang sudah ada nanny yang bantu menjaga anak kalian, kan?”


“Ya. Peter akhirnya mencari jasa perawat nanny untuk membantu gue di pagi hari menjaga Vivi sementara gue bisa beristirahat karena malam kurang tidur. Walau ada nanny, gue dan Peter tetap ingin Vivi tidur bersama kami,” jawab Agatha.


“Memiliki anak adalah suatu pengalaman besar yang merubah hidup kita. Pikiran kita jadi terfokus untuk anak. Tidak ada waktu lagi untuk memikirkan diri sendiri. Walau capek banget mengurus anak, tapi saat lo melihat wajah anak lo sendiri yang sedang tidur, semua rasa capek itu dalam sekejap hilang digantikan rasa bahagia yang setimpal,” ucap Agatha menambahkan. Matanya sambil memandang lembut putrinya yang berada di dalam gendongannya.


“Bersyukurlah lo dikaruniai anak, Tha. Sebab di luar sana masih banyak orang yang menginginkan anak, tetapi tidak terkabulkan,” gumamku pelan. Wajah Maylin yang penuh penderitaan ketika dia harus menghadapi kenyataan bahwa dirinya tidak dapat memiliki anak lagi, terbayang-bayang di kepalaku.


“Kabar Maylin bagaimana?” tanya Agatha tiba-tiba.


“Jauh lebih baik. Dia sudah tidak perlu melakukan terapis lagi.”


“Maylin memang wanita yang sangat tegar. Kalau gue jadi dia, mungkin gue bakal gila.” Agatha mengangguk-anggukkan kepalanya. “Ngomong-nomong, lama tidak bertemu, wajah lo terlihat lebih cantik dan segar. Benar kata orang, wanita tampak lebih cantik saat sedang jatuh cinta.”


Aku hanya balas tersenyum, lalu mengelus pipi Vivi yang tembam dengan gemas. “Lucu banget anak lo, Tha.”


“Kapan lo nyusul? Gue mau lihat seperti apa hasil perpaduan antara lo dengan mantan Playboy,” tanya Agatha sambil tertawa mengejek.


“Sabtu depan gue tunangan. Lo dan Peter harus datang, ya,” jawabku membuat Agatha terpekik kaget. “Setelah Deon berhasil membooking tempat, gue kirim waktu dan alamatnya lewat Whats App.”


“Lo … benar mau tunangan?” tanya Agatha. Dari nada bicaranya, terdengar jelas kalau dia tidak percaya apa yang baru didengarnya.


Aku mengangguk kepala sambil tertawa kecil. “Deon berhasil meyakinkan gue untuk membawa hubungan ini ke tahap yang lebih serius.”


“Selamat ya, La. Gue senang banget dengar berita ini. Kami pasti datang ke acara itu, La. Gue tidak mungkin sampai melewatkan momen paling penting di sepanjang hidup lo,” ucap Agatha sambil meneteskan air mata haru.


“Gue tidak diundang?” Tiba-tiba terdengar suara celetukan dari suara yang tidak asing lagi bagiku.


*Jangan lupa tinggalkan Komentar, berikan Vote, like Hadiahnya supaya aku semakin semangat menulis ya guys. Terima kasih**🙏Tambahkan juga ke Favorite supaya tidak ketinggalan up-nya🤗Loph you all😘*