
*Happy reading 📖📖guys*
“Aku sedih ketika ada orang yang menceritakan kebahagiaan suasana keluarganya. Aku iri ketika melihat orang lain dapat bahagia bersama keluarganya, sementara aku hanya bisa tersenyum pada saat hati ini terluka,” ucapku lagi. Setetes air mata lolos dari sudut mata.
Deon melingkarkan kedua tangannya di pinggangku, lalu memelukku dari belakang. Dia mengecup leherku sekilas, kemudian disandarkan dagunya ke atas bahuku.
“Aku memang tidak mengerti bagaimana rasanya memiliki ayah dan ibu. Namun, berbeda atap. Akan tetapi, aku yakin Tuhan memiliki rencana yang indah untukmu. Beberapa anak beruntung karena dibesarkan dari keluarga yang utuh, sisanya lebih beruntung karena diberi hati dan tulang yang kuat untuk berusaha sendiri,” ucap Deon.
“Dan aku adalah salah satu yang harus berdiri di tengah reruntuhan perasaan kecewa akibat kehancuran tersebut,” imbuhku datar.
Deon semakin mengetatkan pelukannya. “Terkadang, harus ada air yang jatuh ke dalam tumbuhan agar ia bisa tumbuh dan hidup. Selayaknya manusia, ada saatnya air mata jatuh untuk membuatnya lebih dewasa dan merasakan kehidupan yang sebenarnya.”
“Lihatlah dirimu, Sayang. Walau kamu dibesarkan dalam keluarga yang tidak utuh, tapi kamu bisa melewati semua itu dengan baik dan terkontrol. Kamu tumbuh menjadi wanita yang lebih bisa menghargai hidup. Tidak semua kekurangan berakhir buruk, juga tidak semua kelebihan berakhir baik,” ucap Deon dengan lembut.
Aku diam dengan mata terpejam. Mencoba menenangkan perasaanku dengan fokus mendengar suara ombak dan semilir angin dari pantai.
“Kamu memiliki kelebihan yang tidak dimiliki wanita lainnya, Sayang. Karena itulah, aku jatuh cinta kepadamu. Seorang Playboy yang dulunya gemar bergonta ganti kekasih, takluk kepada wanita sederhana yang dibesarkan dalam keluarga yang tidak utuh. Apakah kamu tidak merasa, bahwa dirimu sangat istimewa?” ucap Deon pelan.
Deon memutar balik tubuhku, menghadapnya. Ketika kelopak mataku terbuka, kedua mata kami bertemu dan saling bertatapan.
Satu tangannya merengkuh pinggangku hingga jarak di antara kami benar-benar terkikis. Satu tangannya lagi, mengusap wajahku lembut. “Tuhan menakdirkan hidupmu kekurangan dari kasih sayang seorang ayah, tapi Tuhan mempertemukan aku denganmu agar aku memberimu kebahagiaan sebagai gantinya.”
“Aku tidak banyak berjanji karena yang kamu butuhkan adalah pembuktian, bukan sekadar janji. Namun, janjiku satu padamu. Aku akan memberimu kebahagiaan berlipat-lipat yang tidak ayahmu berikan. Aku akan menjadi kekasihmu sekaligus pengganti ayahmu. Let me be your saving grace.”
Wajah Deon semakin dekat ke wajahku hingga aku dapat merasakan hembusan napas hangat menerpa wajahku. Membuatku terhipnotis sekaligus merasa nyaman. Kemudian aku merasakan bibirnya mengulum bibirku, mengisap pelan, membuatku mengerang.
Dia terus mengisap dan menggigit kecil, membuatku mulai kewalahan dan nyaris kehabisan napas. Bahkan, aku tidak mempedulikan jika ada salah satu dari pengunjung pantai melihat adegan ciuman kami.
“Damn it! I wanna see you. Bagaimana kalau sekarang kita ke mobil dan melanjutkannya di sana?” tanya Deon dengan suara serak. Warna matanya berubah menjadi lebih pekat. Aku melihat hasrat membara ada di sana.
“Di dalam mobil? Kita belum pernah melakukannya, Deon.”
Senyum nakal menyeringai bibirnya. “Maka dari itu, kita lakukan di sana. Sesekali ganti suasana. Keterbatasan ruang di dalam mobil jadi tantangan tersendiri sehingga bercinta di dalam mobil dapat lebih memacu adrenalin.”
“Berarti kamu pernah melakukannya dengan mantan kamu?” bibirku mengerucut.
“Of course, Honey.”
Mataku membelalak tajam padanya. Deon tertawa pelan sebelum kembali berkata, “Aku tidak mungkin berbohong dengan menjawab tidak pernah, Sayang. Namun, perlu kamu ketahui satu hal. Bersama mereka, aku melakukannya tanpa perasaan apa-apa. Sedangkan bersamamu, aku melakukannya berlandaskan rasa cinta.”
“Dasar mantan Playboy! Paling pintar merayu,” ucapku merungut.
Semilir angin yang berhembus kencang membuat rambutku beterbangan. Deon menyelipkan anak rambut pada telinga belakangku.
“Aku sudah minta izin pada tante Restin dan tante Fifi bahwa kita akan sedikit malam pulangnya. Mereka mengizinkan. Aku ingin dinner di pantai ini bersamamu. Sudah ku siapkan semuanya. Tinggal mengurus adik kecilku yang tiba-tiba terbangun, nih!” ucapnya sambil memasang wajah memelas.
“Kamu memang selalu mesum kapan saja!” cibirku.
“Itu karena tubuhmu seperti candu untukku, Sayang. Hanya sedikit sentuhan, adik kecilku langsung terbangun.” Senyuman Deon merekah di bibirnya. Dia menautkan jarinya dan menggenggam tanganku.
“Yuk! Jangan biarkan adik kecilku terlalu lama menunggu. Kalau dia sampai marah, acara dinner kita nanti jadi berantakan.”
Aku tertawa mendengar ucapannya. Kemudian sambil bergandengan tangan, kami berjalan melangkah menuju ke tempat mobil terparkir.
*****
Kami kembali ke pantai setelah melakukan aktivitas menyenangkan tadi entah berapa lama karena satu ronde tidak cukup bagi Deon hingga kami melakukannya dua ronde.
Kami melakukan eksplorasi bercinta di mobil dengan berbagai macam variasi. Tentu saja semua itu Deon yang menginstruksikan bagaimana dan apa yang perlu kulakukan.
Bersamanya, membuatku menemukan pribadi yang belum pernah diketahui selama ini. Aku menikmati setiap sentuhan tangannya dan mulai menganalisa posisi mana yang menurutku sangat nyaman dilakukan di dalam mobil lain waktu.
Ya ampun, otakku benar-benar telah terkontaminasi oleh kemesumannya.
“Kita bisa melakukannya lagi beberapa kali agar teknik yang ku ajari tadi dapat kamu kuasai dengan cepat,” tutur Deon dengan gamblang.
“Bisakah kita membahas hal yang lain? Aku takut napsu makanku menghilang,” cibirku. Deon tertawa terbahak-bahak. Wajahku terasa panas karena mengingat adegan tadi.
“Tidak perlu malu, Sayang. Kamu hanya boleh bersikap mesum padaku, tapi tidak boleh pada pria lain,” tukas Deon sambil merengkuh pinggangku lebih erat.
Kami berjalan masuk menuju salah satu Restoran yang berada di pantai. Deon menyebutkan namanya kepada Waiter saat ditanya apakah sudah membuat reservasi.
Namun, keindahan interior yang kulihat tadi tidak ada apa-apanya ketika sang Waiter membawa kami ke arah outdoor dan terlihat pemandangan matahari terbenam yang begitu indah.
“Ini meja reservasi kalian,” ucap sang Waiter dengan sopan sambil menunjukkan sebuat tempat bertema Glass Dining.
Menyajikan satu meja bertempat di pinggir tebing dengan lantai kaca transparan yang berdiri kokoh di atas pantai sehingga bisa melihat deburan ombak tepat di bawah kaki.
Beberapa lilin yang diletakkan dan disusun dengan rapih di atas meja dan lantai kaca, lalu rangkaian bunga meja mawar merah dengan beberapa kelopak bunga berserakan di lantai, memberikan kesan sangat private dan romantis di tengah hembusan angin yang lembut.
Keindahan pemandangan alam bercampur dalam balutan suasana romantis yang disajikan tempat restoran ini, membuatku terpukau.
Deon menarik kursi untukku duduk. Kemudian sang Waiter membuka lipatan napkin dan meletakkannya di atas pangkuanku dengan hati-hati. Lalu dengan kain ess yang terlipat rapi pada lengan kirinya untuk memastikan air tidak menetes di atas meja, sang Waiter menuangkan Sparkling wine dari botol yang masih tersegel.
“Makanan sebentar lagi akan kami sajikan. Jika Anda membutuhkan apa-apa, silahkan panggil kami. Permisi, Bapak, Ibu,” ucap sang Waiter sambil tersenyum dengan sedikit membungkukkan badan.
“Aku tidak tahu ada tempat sebagus ini, Deon. Dinner malam ini salah satu momen terindah dalam hidupku,” tuturku langsung setelah Waiter pergi meninggalkan meja kami.
Deon memiringkan kepala, lalu tertawa pelan. Kemudian dia berkata, “Tidak hanya malam ini, Sayang. Aku akan terus memberimu kenangan indah di setiap harinya hingga kamu tidak bisa lupa bagaimana caranya tersenyum.”
Sebuah senyuman tulus mengembang di bibirku. “Kupegang kata-katamu.”
Tidak berapa lama kemudian, seorang Waiter datang mempersiapkan peralatan yang dibutuhkan untuk menyajikan makanan. Lalu seorang Waiter lainnya beserta tray membawa pesanan kami ke meja dengan elegan dan profesional. Tekstur hidangannya terlihat mewah dan memiliki cita rasa yang tinggi.
Matahari sudah turun. Langit berubah menjadi gelap disertai iringan suara deburan ombak. Sambil menikmati suara alam dan hidangan makanan yang disajikan satu per satu, kami berdua larut dalam percakapan.
“Sabtu depan adalah perayaan ulang tahun perusahaan. Sejujurnya, aku sedikit nervous,” ucap Deon tiba-tiba sambil mengiris daging pada piringnya.
“Seorang Deonartus Surbakti nervous? Bukankah kamu memiliki kepercayaan diri yang sangat tinggi?” balasku dengan nada mengejek.
“Aku khawatir kemampuanku menghandle perusahaan tidak sepintar kak Steven.”
Aku meraih tangannya yang bebas dan menggenggamnya. “Sebelum aku tahu tentang identitasmu yang sebenarnya, aku sering bertanya-tanya, mengapa pak Gunawan tidak memilihmu menjadi Kepala Akuntansi? Kamu memang terlihat selengean, suka bermain, belum lagi cap Playboymu itu membuat predikatmu terlihat lebih tidak serius menjalani sesuatu.”
“Namun, di luar itu semua, aku bisa melihat kamu orang yang sangat bertanggung jawab dan dapat bersikap profesional. Terkadang, aku mengagumi sosokmu yang terlihat serius saat bekerja,” ucapku melanjutkan setelah jeda beberapa saat.
“Diam-diam kamu suka memperhatikanku, ya? Mengapa tidak berterus terang saja sedari awal? Dengan begitu aku tidak perlu bersusah payah merayumu selama tiga tahun lebih,” tukas Deon sambil memasang smirk jail.
Aku mengerucut bibir. Kutarik tanganku dari tangannya, lalu melipat kedua tanganku di atas dada. “Kamu lupa kalau kamu, tuh, Playboy? Aku mana mau sembarangan memberi hatiku pada seorang Playboy?”
“Tapi akhirnya kamu jatuh cinta pada Playboy satu ini. Ralat. Mantan Playboy.”
Aku menghela napas frustasi, kemudian memasang raut wajah sedih. “Karena aku tidak punya pilihan lain.”
Deon tertawa terbahak-bahak. “Akui saja kalau kamu memang jatuh cinta pada pesonaku, Sayang. Terutama adik kecilku ini dapat memberimu kepuasan,” ucapnya dengan penuh percaya diri.
Wajahku seketika terasa panas. Walau kami sudah sering melakukannya, tapi aku masih merasa malu mengingat setiap adegan percintaan kami.
Deon mencondongkan tubuhnya ke arahku. “Masih banyak beberapa gaya yang belum ku ajarkan padamu. Nanti kita eksplorasi di ruangan baruku tentunya. Tidak ada orang yang mengganggu kita,” bisiknya dengan suara serak dan memandangku dengan tatapan lapar seolah-olah ingin segera melahapku.
Dengan terburu-buru aku mengambil segelas wine, lalu meneguknya hingga tandas tidak tersisa.
Sekarang tidak hanya wajah saja yang terasa panas, seluruh tubuhku menggelenyar akibat ucapan Deon yang vulgar itu. Jantungku berdebar-debar dua kali lipat.
“Dasar mesum!” tukasku.
“Kalau bukan mesum denganmu, lalu aku mesti mesum kepada siapa?”
Aku memasang wajah masam. “Kenapa, sih, aku tidak pernah menang berdebat denganmu?”
Senyum Deon melengkung ke atas. “Tapi kamu memenangkan hatiku.”
Aku memutar bola mata jengah. Namun, sedetik kemudian aku tertawa lepas. Oh My, Bagaimana bisa dia membuatku merasakan jatuh cinta lagi dan lagi padanya?
If someone asked me to describe you in just two words, I'd say 'Simply Amazing' - Jika seseorang memintaku untuk mendeskripsikan kamu hanya dalam dua kata, aku akan berkata "Luar Biasa".
Jangan lupa tambahkan ke Favorite lalu tinggalkan Komentar, berikan Vote, Like dan Dukungannya ya guys. Terima kasih 🙏🤗 Loph you all 😘