
*Happy reading 📖📖 guys*
Kami sedang dalam perjalanan menuju rumahku ketika Deon berkata ingin mampir ke toko bunga terlebih dahulu. Dia ingin membeli bunga sebagai pengganti buah tangan.
“Kenapa tidak beli kue atau buah saja?” tanyaku.
“Aku ingin memberikan kesan yang berbeda. Biasanya wanita suka dengan bunga, kan? Kunjungan pertamaku harus berhasil mengambil hati tante Restin.” jawabnya sambil mengeluarkan ponsel dari saku celananya, lalu menyebut nama-nama bunga kepada pegawai toko.
“Aku tidak pernah melihat Mama mendapat bunga dari siapa pun. Jadi, aku tidak tahu apakah beliau akan suka atau tidak.” Aku melangkah mendekati salah satu bunga yang menarik perhatianku.
Harum aromanya ringan, bunga itu memiliki kelopak bunga yang kecil dengan bentuk menyerupai cangkir dan memiliki lima tepal. Warna putih, biru dan pink dirangkai jadi satu membuat tampilan bunga tersebut semakin indah.
“Kalau jenis bunga yang ini ada untuk ditanam tidak, Mbak?” tanya Deon tiba-tiba sudah berdiri di sampingku sambil menunjuk bunga yang menarik perhatianku itu.
“Ada, Mas. Ingin warna apa? Masing-masing warna punya makna yang berbeda, loh!” jawab pegawai toko itu dengan tersenyum lembut.
“Oh ya? Bisa tolong dijelaskan apa saja artinya?” tanya Deon lagi.
“Bunga ini namanya bunga Baby Breath. Warna putih melambangkan ketulusan, kepolosan, spiritual dan kesatuan. Warna pink simbol dari kelembutan, cinta, dan kewanitaan. Warna biru mewakili perasaan jujur, rasa saling menghargai, kesetiaan, kebijaksanaan dan keyakinan. Masih ada lagi warna orange, merah dan kuning. Namun, sayangnya kami kehabisan stok. Inti dari arti bunga Baby Breath ini yaitu kesucian dan harapan, cinta sejati, ketulusan dan kemurnian hati, juga dedikasi.”
Deon terlihat serius mendengarkan. “Bagaimana kalau kita beli yang warna biru, Sayang?” tanyanya sambil melihatku.
“Aku tidak pernah merawat bunga, Deon. Nanti cepat mati bagaimana? Tidak usah, deh!” tolakku. Aku buta soal urusan tanaman.
“Cara merawatnya mudah kok, Mbak! Hanya perlu melakukan penyiraman dengan rutin minimal satu kali dalam sehari dengan metode spray. Selanjutnya lakukan pemupukan lanjutan tiap dua minggu sekali sambil memberikan nutrisi tambahan tiap seminggu sekali. Nanti akan saya berikan brosurnya tentang merawat bunga ini,” ucap pegawai itu.
“Baiklah. Saya mau satu pot warna biru ya. Sekalian pupuk dan nutrisi yang mbak jelaskan tadi,” ucap Deon.
Pegawai itu semakin tersenyum dengan lebar. “Saya siapkan dulu ya, Mas!”
“Untuk apa beli sih, Deon? Buang-buang uang saja!” sungutku yang malah membuatnya tertawa geli.
“Aku lihat sendiri mata kamu berbinar-binar saat melihat bunga itu. Bagaimana mungkin aku pura-pura tidak tahu? Lagipula arti bunga ini sangat bagus. Warna biru mewakili perasaan jujur, rasa saling menghargai, kesetiaan, kebijaksanaan dan keyakinan. Melambangkan perasaanku kepadamu.”
Wajahku memerah mendengar perkataannya. Dia selalu tahu bagaimana membuatku merasa malu sekaligus tersentuh.
Sebelumnya, tidak pernah ada pria yang memperlakukanku seperti ini. Tidak terkecuali Jason. Aku hanya menemukan perasaan nyaman dan tenang saat bersama Jason.
Namun, ketika bersama Deon bagaikan seperti pelangi yang memiliki berbagai macam warna.
Setelah melakukan pembayaran dan pegawai toko selesai merangkai tiga macam bunga, yaitu bunga Kamomil untuk tante Fifi yang melambangkan energi dalam satu kesatuan, bunga Daffodil untuk Maylin yang artinya memberikan semangat baru, dan bunga Morning Glory untuk mama yang mempunyai makna merepresentasikan kasih sayang, kami pun kembali melanjutkan perjalanan.
“Tadi kamu bilang tante Restin belum pernah terima pemberian bunga dari seseorang. Kalau begitu, aku menjadi orang pertama baginya yang memberikan bunga. Walaupun pada akhirnya tante tidak suka bunganya, setidaknya perbuatanku ini akan menjadi kenangan yang tidak akan pernah dilupakan oleh beliau. Calon menantu yang tampan memberinya serangkai bunga yang indah,” ucap Deon dengan penuh percaya diri.
“Terkadang aku suka berpikir, kalau kamu sudah tua dan tidak memiliki wajah tampan seperti sekarang, apa kamu masih bisa senarsis ini?” sinisku.
Deon tertawa. “Masih tampan atau tidak, yang pastinya saat itu kamu masih berada di sampingku sebagai istriku. Dan aku tidak akan berhenti mengakui pada dunia, kalau aku sudah menemukan satu-satunya wanita yang aku inginkan untuk hidup bersama.”
Oh Tuhan, tolong kali ini jangan buat takdirku untuk kembali patah hati. Jika terjadi, aku yakin kali ini sakit di hatiku tidak akan pernah bisa disembuhkan lagi.
Harus kuakui, aku semakin jatuh dalam pesona seorang Deon.
*****
Deon menginjak pedal rem mobil ketika sudah sampai di depan rumah. Aku menengadahkan kepala melihat bangunan rumah itu dari samping kaca mobil. Rasa sedih, rindu, kecewa dan sakit bercampur jadi satu.
Sudah lama aku tidak pulang ke rumah. Pertengkaran-pertengkaran yang pernah terjadi antara aku dan mama, kembali berputar dalam kepalaku. Juga kenyataan diriku hadir di dunia ini karena sebuah kesalahan.
Deon menautkan jarinya pada jariku dan berkata, “Jangan khawatir! Ada aku di sini menjagamu.”
Aku menarik bibir untuk tersenyum dan mengangguk. Hatiku terasa lebih agak tenang setelah mendengar ucapan Deon.
“Yuk, turun!” ajak Deon. Kemudian kami membuka pintu mobil dan turun.
Deon mengambil rangkaian bunga yang dibelinya tadi, lalu kami berjalan masuk. Ketika pintu baru saja kubuka sedikit, sayup-sayup aku mendengar suara di ruang tamu.
Aku membuka pintu lebih lebar agar Deon bisa masuk. Tepat ketika Deon menutup pintu, Tante Fifi muncul. Wajahnya terlihat khawatir.
“Mamamu keburu tahu kalau Maylin hamil. Sekarang mereka sedang disidang di ruang tamu,” ucap Tante Fifi menjelaskan.
Aku bergegas berjalan ke arah ruang tamu. Berniat untuk membantu Maylin. Namun, Tante Fifi menarik lenganku hingga langkahku terhenti.
“Mama tidak akan meminta Maylin untuk mengugurkannya, kan?” tanyaku dengan nada cemas. Tante Fifi diam, tidak menjawab pertanyaanku.
“Jangan khawatir, Tante, Rayla! Mereka pasti bisa membujuk tante Restin.” Deon berusaha menenangkan kami.
“Maaf, Deon. Tante tidak enak mengundangmu kemari dengan situasi seperti sekarang.”
“Jangan sungkan, Tante. Cepat atau lambat juga giliran saya yang akan disidang tante Restin,” ucap Deon. “Oh ya, ini bunga untuk Tante.”
Tante Fifi mengambil bunga yang diberikan oleh Deon. “Aduh, pertama kali Tante terima bunga seindah ini. Terima kasih, ya!” pekik Tante Fifi dengan riang.
“Kalau begitu saya jadi pengagum Tante nomor satu dong, ya?” cengir Deon sembari mengerlingkan sebelah matanya.
Tante Fifi tertawa sambil menepuk bahu Deon. “Bisa saja kamu ini, Deon. Pintar rayu banget sih, kamu?”
“Bukan rayu, Tante. Memang kenyataannya begitu. Sosok Tante yang menggantikan peran seorang ibu untuk Rayla dan Maylin, patut diacungi jempol. Dan saya sangat berterima kasih kepada Tante karena sudah ikut membantu membesarkan Rayla dengan baik.”
Tiba-tiba Tante Fifi terisak menangis. Deon spontan terkejut karena tidak mengira reaksi Tante Fifi seperti ini. Dia langsung memeluk Tante Fifi.
Namun, karena kedua tangannya penuh dengan bunga, dia tidak dapat memeluk erat Tante Fifi.
“Jangan menangis, Tante. Maafkan saya kalau ucapan saya tadi ada yang salah. Saya tidak bermaksud menyinggung atau apa pun yang membuat Tante jadi sedih,” ucap Deon.
Aku memeluk Tante Fifi dari punggung belakangnya. Aku belum pernah melihatnya menangis.
“Kalau ada ucapan Deon yang menyinggung Tante, jangan dimasukkan ke dalam hati. Deon memang suka seenak udel kalau ngomong.” Aku memberikan pelototan tajam ke arah Deon.
“Tante hanya terharu karena ucapan Deon barusan,” jawab Tante Fifi menjelaskan.
Dia menyeka air matanya dengan jarinya. “Kali ini kamu bertemu dengan pria yang tepat, Rayla. Tante berharap hubungan kalian selalu lancar dan bahagia.”
Aku semakin memeluk Tante Fifi lebih erat. Dia memang sudah seperti mama kedua bagiku. Tanpa dirinya, entah aku dan Maylin menjadi seperti apa sekarang.
Dimana seharusnya mama yang berperan sebagai seorang ibu, tapi Tante Fifilah yang menggantikannya. Dia selalu ada untuk kami.
Ketika kami sakit, Tante Fifi yang merawat kami. Ketika kami sedang sedih, Tante Fifi bersedia meluangkan waktu untuk mendengar curhatan kami dan menghibur kami. Semua jasa budi Tante Fifi tidak dapat ditukar dengan uang.
“Kak Deon!” pekik Maylin. Nadanya terdengar senang.
Begitu aku menoleh, dia sudah menghambur ke dalam pelukan Deon. “Kok, tidak beritahu aku kalau Kakak mau ke sini, sih?”
Aku menggeleng kepala melihat tingkah Maylin. Padahal, akulah Kakak kandungnya, tapi sikapnya ini malah terkesan seolah-olah Deon lah Kakaknya.
Sejak bertemu dengan Deon, Maylin terlihat lebih manja kepadanya. Juga berinisiatif memanggil Deon dengan sebutan Kakak.
Padahal, dia tidak pernah memanggilku dengan panggilan itu. Untungnya Darwan tidak cemburu melihat interaksi antara Maylin dan Deon.
“Hai, gadis manis. Happy Birthday, ya. Ini bunga khusus untukmu,” ucap Deon sambil memberikan bunga Daffodil padanya.
Maylin terpekik senang sambil menerima bunga itu. “Wow! Bunganya indah sekali, Kak. Makasih banget, ya! Punya Abang ternyata it’s the best!”
Aku mengeluarkan suara batuk dengan keras. “Jadi, lo menyesal punya Kakak perempuan satu ini, Lin?” ketusku.
Maylin melilitkan lidahnya ke arahku. “Cemburu, nih? Siapa suruh lo tidak bisa manjain gue?”
“Sudah ada Darwan yang manjain lo. Untuk apa gue manjain lo juga?”
Maylin menggandeng sebelah tangan Deon dengan erat. “Dimanjain oleh kekasih dan Kakak tuh, beda lah! Ngomong-ngomong bunga yang ada ditangan Kak Deon satunya lagi itu buat siapa?”
Deon belum sempat menjawab ketika terdengar suara mama, “Ada tamu kenapa tidak dibawa masuk dulu baru ngobrol?”
Serentak kami semua menoleh ke arah mama.
Pada saat mataku bersitatap dengan mama, aku menemukan tatapan lelah dibalik iris coklatnya. Mama juga terlihat lebih kurus. Apakah mama ikut merasakan kehilangan setelah aku memutuskan meninggalkan rumah ini?
Secercah harapan terselip dalam benakku. Namun, ketika mendengar pertanyaan sinis dari mama, membuatku kembali sadar bahwa hubunganku dengan mama tidak semudah itu dapat diperbaiki.
“Masih ingat jalan pulang ke rumah, Rayla? Mama kira kamu sudah lupa kalau kamu masih punya rumah.”
Hai Readers, semoga cerita ini kalian suka. Tolong kasih ⭐️⭐️⭐️⭐️⭐️ 5stars sebagai dukungan semangat buat aku ya. Jangan lupa tambahkan ke Favorite lalu tinggalkan Komentar, Vote, Like dan Hadiahnya ya guys. Terima kasih 🙏