
*Happy reading 📖📖guys*
“Kalian berangkatlah bekerja. Biar Mama dan Fifi yang menjaga Maylin,” ucap Mama.
Aku menggeleng-gelengkan kepala. “Aku minta cuti satu hari ini.”
“Kamu sudah banyak mengambil cuti, Rayla. Apakah atasan kamu tidak marah?” tukas Tante Fifi.
“Rayla salah satu karyawan teladan di kantor. Dia jarang mengambil cuti. Kurasa tidak masalah. Aku akan menyampaikan permohonan cuti Rayla kepada atasan kami,” jawab Deon.
“Baiklah, kalau begitu.”
Deon berpamitan pada Mama dan Tante Fifi. Aku mengantar Deon sampai di depan pintu kamar rawat.
Deon mengecup bibirku, lalu memelukku sebentar. “Kalau Maylin sudah sadar, kabari aku. Ingat, dia masih dalam berduka. Baik-baiklah bicara dengannya.”
“Aku tahu. Kakaknya tuh, aku atau kamu, sih?” tukasku sambil mengerucutkan bibir.
Deon terkekeh geli. “Kamu menjadi sangat menyeramkan kalau sudah masuk ke mode overprotective, Sayang.”
“Dia adikku satu-satunya. Kalau bukan aku yang melindunginya, lalu siapa yang melakukannya? Sedangkan Darwan sudah tiada.” Wajahku berubah muram mengingat kenyataan tersebut.
“Masih ada aku, Sayang. Kamu lupa sekarang Maylin memiliki dua kakak?” Deon menangkup wajahku, lalu mengecupku lagi. Pernyataan Deon membuatku tersenyum lebar.
“Aku juga ingin merasakan sikap overprotective darimu.” Deon berpura-pura memasang wajah cemburunya.
Aku membalas dengan memberi cubitan pada pinggangnya dan dia tertawa terbahak-bahak. Aku mengerti maksud dirinya yang ingin menghiburku.
Mendapati diriku masih waras sampai saat ini, semua berkat Deon yang terus menemani dan menyemangati diriku.
“Aku merindukan masa-masa kita menghabiskan waktu bersama di Apartemen.” Deon menarik napasnya, kemudian menatapku dengan tatapan rindunya, lalu tangan kanannya menyentuh pipiku lembut.
“Maaf. Aku tidak tenang meninggalkan Maylin. Setelah kejadian ini, aku berpikir akan tidur sekamar dengannya agar aku dapat mengawasi gerak geriknya,” jawabku dengan perasaan bersalah.
“Tidak apa-apa. Aku mengerti. Maylin sekarang lebih membutuhkan dirimu.” Deon menarik tubuhku hingga masuk ke dalam pelukannya. “Aku berangkat dulu, ya. I’m miss you and I love you.”
Aku membalas pelukannya lebih erat. “Me too.”
*****
Kelopak mata Maylin bergerak pelan hingga akhirnya terbuka. Matanya memicing sebelum akhirnya terbuka lebar. “A … ku … di … mana?” tanyanya dengan suara lemah.
Mama menggenggam jari tangan Maylin. “Kamu ada di Rumah Sakit, Nak,” jawab Mama dengan lembut.
“Lo kenapa minum obat tidur melebihi dosis yang dianjurkan?” tanyaku dengan nada sedikit meninggi.
“Rayla, jangan sekarang!” Tante Fifi menarik lenganku agar aku berhenti.
Aku tidak menggubris ucapan Tante Fifi. Rasa takut kehilangan Maylin membuatku tidak dapat lagi menoleransi perbuatannya. Aku menatap Maylin dengan napas memburu karena emosi yang meluap.
“Lo pikir dengan cara seperti ini dapat mengurangi rasa bersalah lo? Lo pikir Darwan akan tenang di sana melihat lo dengan kondisi seperti ini? Gue paham penderitaan dan rasa duka lo saat ini, tapi apakah lo tidak lihat orang-orang yang ada di sekeliling lo selalu mengkhawatirkan diri lo?”
“Gu- gue … tidak bisa tidur,” balas Maylin. Air matanya jatuh beberapa titis.
“Bayangan saat cahaya terang yang menyilaukan mata dari lampu truk itu, berhadapan dengan mobil Darwan. Bunyi dentuman keras yang saling bertabrakan. Teriakan dari suaraku juga Darwan. Rasa sakit yang menggerogoti seluruh tubuh hingga gue hilang kesadaran beberapa detik setelah gue sempat melihat tubuh Darwan yang berlumuran darah di aspal jalanan. Kilasan kecelakaan itu menghantui mimpi gue setiap malam.”
Air mataku sudah tidak lagi terbendung. Sedangkan Mama dan Tante Fifi sudah sedari tadi terisak-isak tanpa mengucapkan sepatah kata.
“Gue minta tolong dibelikan obat tidur di apotek kepada teman kerja yang datang ke rumah untuk mengambil surat pengunduran diri gue. Awalnya obat itu berhasil membuat gue tertidur tanpa memimpikan kecelakaan itu lagi. Namun, hanya beberapa malam saja,” ungkap Maylin menjelaskan disela-sela isak tangisnya.
“Kemudian gue menambah dosis dengan mengonsumsi dua butir, tapi lagi-lagi hanya berhasil beberapa malam. Gue putus asa. Sehingga akhirnya gue menelan beberapa butir sekaligus,” ucapnya lagi.
“Memangnya lo tidak tahu, apa risikonya bila mengonsumsi obat tidur melebihi dari dosis?” timpalku dengan sedikit membentak.
“Saat itu di dalam kepala gue hanya berpikir, gue ingin menghentikan mimpi mengerikan itu. Gue putus asa, ketakutan, juga frustasi, La. Tolong, mengertilah posisi gue saat ini. Gue tidak tahu harus bagaimana lagi menanggung penderitaan ini?” Air mata Maylin pun pecah. Rintihan tangisnya terdengar sangat memilukan hati.
“Kita akan ke psikiater.” Aku menarik napas sebelum kembali berkata, “Gue akan membuat janji dengan Dokter medis. Kalau lo memang menyayangi Darwan, putri lo juga kami semua, lakukan pengobatan ini sampai lo benar-benar pulih, Lin. Mama dan Tante Fifi bisa bergantian menemani lo.”
Aku mendekati ranjang dan menghapus air mata dari wajahnya. “You’ll must fight for us, but you are not fighting alone. Kami tetap selalu berada di sisi lo. Begitupun juga dengan Darwan dan putri lo.”
*****
Setelah melewati beberapa pemeriksaan, Dokter menyatakan tidak ada ketergantungan fisik yang serius. Kadar oksigen pada tubuh Maylin juga telah kembali normal sehingga selang hidung pun di lepas dan keesokkan harinya, Dokter memperbolehkan Maylin pulang.
Atas bantuan kak Sarah, aku membuat temu janji dengan salah satu seniornya, Dokter Kayden, untuk menangani pengobatan Maylin.
“Selama sesi psikoterapi berjalan, pasien mungkin akan menangis, merasa kesal, atau bahkan marah karena luapan emosi saat pasien menceritakan kondisinya. Ini adalah hal yang wajar terjadi karena terapi mental ini memang melibatkan diskusi emosional yang intens. Bahkan, beberapa orang mungkin bisa merasakan kelelahan secara fisik setelah sesi selesai. Namun, jangan khawatir, terapis akan membantu pasien mengatasi perasaan dan emosi yang meledak-ledak tersebut,” ucap Dokter Kayden menjelaskan.
“Tolong kabari saya setiap hasil sesi terapinya. Maaf, telah merepotkan Dokter.”
“Tidak masalah. Sama sekali tidak merepotkan.”
“Hubungi saya jika Dokter memerlukan bantuan saya,” kataku lagi.
“Tentu.”
“Terima kasih banyak, Dokter Kayden.”
Aku tidak bisa menemani Maylin selama pengobatan karena pekerjaanku yang tidak dapat ditunda. Apalagi menjelang mendekati perayaan ulang tahun kantor bersamaan dengan peresmian Deon menjadi CEO baru.
Tante Fifi menemani Maylin pada sesi pertama. Terapis ini terlebih dahulu mengumpulkan informasi tentang pasien, masalah yang pasien miliki, serta alasan dan kebutuhan pasien menjalankan psikoterapi.
Pasien pun mungkin akan diminta untuk mengisi formulir tentang kondisi kesehatan fisik dan emosional saat ini dan pada masa lalu.
Hal ini juga termasuk riwayat kesehatan mental yang keluarga pasien miliki, bagaimana masalah memengaruhi kehidupan keseharian, serta dukungan sosial, termasuk keluarga, teman, atau kerabat, selama ini.
Dari hasil diskusi dan pengisian formulir tersebut, akan menentukan jenis terapi yang cocok, berapa banyak sesi yang dibutuhkan, serta lamanya setiap sesi. Umumnya, setiap sesi berlangsung selama 45-60 menit. Namun, lamanya sesi bergantung pada kebutuhan yang diperlukan pasien.
Tante Frida yang mendengar kabar bahwa Maylin sedang melakukan pengobatan psikoterapi, beliau pun mengajukan diri ikut menemani Maylin. Semoga dukungan dari tante Frida membuat Maylin makin bersemangat untuk mengatasi masalah psikologisnya.
“Rayla! Mau makan siang bareng?” Sheila berdiri di depan meja kerjaku sambil memasang senyum lebarnya bersama Bram dan Andi yang berada di sebelahnya.
Aku mengarahkan tatapanku pada meja kerja Deon. Kursinya kosong. Aku meraih ponsel bermaksud mengecek chat darinya yang kemunginan tidak terdengar saat pesan masuk berbunyi karena aku terlalu fokus bekerja, tapi aku tidak menemukan pesan apa pun.
Alisku mengernyit. Biasanya dia akan memberiku kabar apabila dia tidak dapat makan siang bersamaku.
“Deon?” tanya Bram.
Aku baru saja ingin menjawab ketika suara dering pada ponselku berbunyi, lalu segera ku angkat begitu melihat nama kontak sang penelepon. “Kamu di mana sekarang?”
“Maaf, Sayang. Lagi-lagi aku harus membiarkan dirimu makan siang bersama trio kwek-kwek. Aku masih rapat bersama pak Bos di luar kantor.” Suara Deon terdengar penuh penyesalan.
Aku tertawa pelan dengan mata menatap Sheila, Bram dan Andi. Merekalah trio kwek-kwek yang disebut Deon. “Tidak apa-apa. Jangan lupa makan.”
“Tunggu aku pulang kerja, Ok?”
“Kalau kamu benar-benar sibuk, jangan paksakan diri mengantarku pulang, Deon. Aku bisa pesan taksi online.”
“Aku pasti mengantarmu pulang. Aku sudah melewatkan makan siang denganmu, tapi tidak dengan makan malam. Pokoknya kamu harus menungguku. Ok?” ucap Deon keras kepala.
“Ok. Ok. Jangan membuatku menunggu terlalu lama,” jawabku akhirnya mengalah.
“Of course, Say.” Lalu terdengar suara seseorang memanggil Deon di seberang sana. “Sudah dulu, ya. Pak Bos memanggilku. Makan yang kenyang, ya, Sayang. Love you.” Kemudian Deon memutuskan sambungan telepon.
“Deon sibuk apa, sih, sebenarnya?” tanya Sheila tanpa menutupi rasa ingin tahunya.
“Gue curiga. Kenaikan pangkat dan pemindahan bagian pada beberapa pegawai yang dijelaskan pak Gunawan saat rapat terakhir, Deon termasuk salah satunya, deh!” tutur Andi, berspekulasi.
“Lo pasti tahu, La. Kasih tahu kita, dong!” pinta Bram sambil memasang wajah memelas.
“Kepo banget, sih? Kalian akan tahu saat acara ulang tahun kantor nanti,” jawabku.
“Dasar pelit!” tukas mereka bertiga serempak. Aku pun terkekeh geli melihat kekompakan mereka.
Aku akan merindukan kecerewetan mereka setelah pindah menjadi Asisten CEO, dimana posisi tugas pekerjaan tersebut salah satunya adalah mengikuti semua jadwal CEO ke mana pun, kesempatan untuk makan siang bersama mereka pun tidak ada lagi.
Jangan lupa tambahkan ke Favorite lalu tinggalkan Komentar, berikan Vote, Like dan Dukungannya ya guys. Terima kasih 🙏🤗 Loph you all 😘