Silence

Silence
Extra Part 2 - Arthuray Surbakti



*Hai Readers, setelah dibaca, ingat jangan dihapus dulu dari list kalian, ya guys 🥰 Masih ada 2 Extra Part berikutnya 🤗 Happy reading 📖📖 *


“Pindah?” Deon terkejut setelah mendengar permintaan Amanda, sang Ibu, untuk tinggal bersama mereka.


Amanda menganggukkan kepalanya. “Mama kesepian di rumah sendirian. Papa kamu sibuk kerja. Sarah sekarang juga sibuk mengurus anaknya sehingga jarang pulang ke rumah menjenguk Mama. Kalau ada Rayla, Mama jadi ada teman ngobrol. Lagipula, sebentar lagi Rayla juga akan melahirkan. Mama bisa bantu merawat anak kalian.”


“Tapi rumah baru yang sedang dibangun hampir selesai, Ma.”


Tinggal di Apartemen tidak baik untuk perkembangan dan psikologi anak. Pintu-pintu Apartemen yang hampir selalu tertutup tidak jarang membuat seseorang menjadi antisosial.


Sedangkan bersosialisasi sangat penting untuk menunjang perkembangan pertumbuhan sang anak, menjadikan ia pribadi yang lebih terbuka dan aktif.


Oleh sebab itu, Deon beserta istrinya memutuskan membeli sebuah tanah kosong disalah satu kawasan perumahan yang lingkungannya asri dan bebas polusi dan kini sedang dalam pembangunan.


“Setelah pembangunan selesai, dijual lagi saja.” Surbakti turut menimbrung. Ia menyetujui ide sang istri.


Rumah ini memang menjadi sepi setelah putrinya menikah, sedangkan putra pertama meninggal, sementara putra bungsunya sejak kuliah memutuskan tinggal di luar untuk hidup mandiri.


“Deon, usia Mama makin menua. Mama cuma mau menghabiskan sisa waktu Mama bersama keluarga yang Mama cintai. Apa tidak boleh?” Amanda mulai berakting demi mengambil simpati putranya itu.


Bagaimanapun, kali ini ia harus berhasil meyakinkan putra dan menantunya agar tinggal bersama mereka setelah ditolak oleh putranya berulang kali.


“Kok, Mama bicara seperti itu?” Deon tahu kalau sang Ibu sedang memainkan drama. Namun, ucapan Amanda telah berhasil terobos masuk ke dalam relung hatinya.


“Kita tidak pernah tahu kapan kita dipanggil oleh Tuhan-“


“Berhenti bicara seperti itu, Ma. Pokoknya Mama sehat terus sampai cicit Mama lahir.” Deon sangat kesal mendengar ucapan Amanda.


“Kalau begitu, kalian mau menyetujui permintaan Mama ini, kan?”


Deon menoleh ke arah Rayla, meminta persetujuan dari istrinya itu. Sekarang ia bukan seorang diri lagi. Setiap hal yang menjadi keputusannya akan membawa dampak untuk keluarga kecilnya.


Dan menjaga komunikasi yang baik antara pasangan suami dan istri adalah kunci untuk membangun rumah tangga yang harmonis dan sehat, serta mengurangi resiko terjadinya perselisihan lantaran karena salah paham dengan keinginan salah satu pihak.


“Baiklah, Ma. Kami akan pindah tinggal di sini,” ucap Deon ketika melihat kepala Rayla mengangguk.


Amanda tersenyum puas diikuti alis dan pipi terangkat ke atas. Membayangkan rumah ini akan ramai atas kehadiran cucunya, ia merasakan amat sangat bahagia.


“Tapi jangan menyalahkan kami kalau Papa dan Mama mendengar suara erotiss dari- Awh!” Deon berteriak kesakitan di akhir ucapannya karena kakinya diinjak kuat-kuat oleh istrinya.


Surbakti tertawa sambil menggeleng-gelengkan kepala. Putra bungsu satunya ini akan segera menjadi seorang Papa, tetapi tingkah dan mulutnya masih juga tidak bisa berubah.


“Tenang saja, Deon. Papa dan Mama juga pernah muda, kok. Kalian sibuk membuat cucu, jelas Mama dukung, dong. Kasih Mama sebelas cucu, ya.”


“Hah?” Rayla melongo dengan mata melihat Amanda. Ucapan Amanda barusan membuatnya terperangah. Memangnya melahirkan anak segampang ayam menetaskan telur?


“Supaya cucu Mama kalau mau main sepak bola, tidak perlu pusing-pusing cari anggota pemainnya.” Amanda sedang mengkhayal bagaimana cucu-cucunya yang manis sedang berdiri berjajar.


Akh … ia ingin sekali kembali ke masa lalu ketika anak-anaknya masih kecil. Mengapa waktu berjalan sangat cepat? Mengapa anak-anak harus tumbuh dewasa?


“Hmm … ide Mami boleh juga. Kalau Papi sudah pensiun, Papi akan mendirikan tim sepak bola yang pemainnya terdiri dari cucu-cucu kita, lalu timnya diberi nama Surbakti Generation.”


Sepertinya khayalan Amanda telah meracuni pikiran suaminya.


“Kok namanya tidak kreatif, sih, Pa? Bagaimana kalau diberi nama Raydeon love?” Deon turut mengajukan nama tim yang akan mereka dirikan kelak.


“Bagus, kan?” Ia menoleh memandang istrinya yang wajahnya tertekuk masam.


“Yang benar saja? Satu ini saja belum lahir, kalian sudah membayangkannya sampai sejauh itu?” Rayla menyuarakan keberatannya. Permintaan mertuanya dengan melahirkan sebelas anak membuat bullu kuduknya meremang.


Semakin bertambah usia kehamilan wanita itu, perubahan pada sifatnya pun terlihat makin jelas. Salah satunya adalah sikap spontanitasnya dalam mengemukakan pendapat. Mungkin disebabkan karena pengaruh efek hamil.


“Namanya rencana memang harus jauh-jauh hari dipikirkan, Sayang.” Amanda mengulum senyum mendengar menantunya menanggapi ucapannya dengan serius.


“Kamu mau mendirikan sepak bola atau biro jodoh? Buat apa pakai kata love segala?” Surbakti menatap mengejek pada putranya.


“Biar seluruh dunia tahu kalau Deonartus hanya cinta kepada Rayla. Seperti yang Papa lakukan.” Pernyataan Deon sontak langsung mendapat perhatian dari ketiga orang yang sedang duduk di sana.


“PT. SA, singkatan dari Sincerely Amanda. Benar bukan, Pa?” Pernah suatu ketika Deon bertanya-tanya kepada kakaknya, Steven Surbakti, mengapa bisnis Papa diberi nama PT. SA? Kenapa tidak dinamakan Surbakti Group saja?


Steven tertawa terkekeh-kekeh. Ketika itu, sang kakak hanya menjawab, “Suatu hari nanti begitu kamu jatuh cinta kepada orang yang tepat, kamu akan tahu dengan sendirinya apakah arti dari PT. SA itu.”


Dan Deon pun akhirnya menyadari arti nama perusahaan yang didirikan Papanya.


Tidak ada jawaban yang keluar dari mulut Surbakti. Pria itu memandang wanita di sebelahnya dengan tatapan penuh cinta, sedangkan wanita yang ditatapnya membentuk sebuah senyum pada bibirnya.


Deon tersenyum melihat kedua orang tuanya yang tetap saling menjaga cinta mereka satu sama lainnya, walau pernikahan mereka telah berjalan puluhan tahun.


Membangun rumah tangga itu mudah, karena pondasinya sudah ada, yaitu cinta. Namun, mempertahankan rumah tangga itulah yang paling sulit. Karena hidup selalu penuh cobaan.


Cinta memiliki masa waktu seperti bunga akan mekar dengan indahnya, sebelum pada akhirnya layu.


Untuk mempertahankan cinta tersebut tetap terus ada, jatuh cintalah setiap hari pada orang yang sama. Maka, kesedihan apa pun, ujian seberat apa pun bisa dilewati dengan baik. Namun, nyatanya tidak semua orang dapat melakukannya.


*****


Sejak usia kandungan Rayla lima bulan, Deon memintanya untuk beristirahat di rumah. Ia tidak ingin istrinya sampai kelelahan karena pekerjaannya yang mengikuti Deon ke mana pun.


Awalnya Rayla menolak karena dia tidak suka berdiam diri di rumah, tetapi Deon sangat protektif atas kesehatan Rayla dan calon anak mereka.


Rayla pernah berpikir sikap Peter terlalu berlebihan ketika Agatha sedang mengandung. Ia kini merasakannya sendiri dari suaminya.


“Yang, apakah kamu masih bertemu dengan Elian?” Rayla sedang membantu memasangkan dasi untuk suaminya yang akan segera berangkat kerja.


“Ya. Kami bertemu untuk bahas masalah pekerjaan. Kenapa?” Kening Deon berkerut, tidak mengerti mengapa istrinya tiba-tiba bertanya tentang makhluk alien itu.


“Jangan bilang kalau kamu kangen bertemu dengannya, Sayang.” Deon menatap istrinya penuh selidik. Ia tidak suka wanita yang dicintainya memikirkan pria lain selain dirinya, terlebih lagi terhadap pria itu.


Rayla pernah meminta Elian menyuap makanan untuknya pada saat istrinya itu sedang mengidam. Jangan ditanya bagaimana perasaan Deon pada saat itu. Marah, kesal, gondok, dan rasa ingin membunuh saat itu juga, bercampur menjadi satu.


Karena Rayla tidak mau menyentuh makanannya jika bukan Elian yang menyuapinya, mau tidak mau Deon pun menghubungi pria itu.


Deon hanya bisa memandangi suapan demi suapan yang masuk ke dalam mulut istrinya dari tangan pria lain dengan sorot mata yang menyala ke arah Elian.


Ia tidak habis berpikir, mengapa istrinya mengidam yang aneh-aneh? Selain membuat kepalanya pusing juga menguras emosi dan batinnya.


“Tenang saja, Yang. Masa ngidamku sudah lewat.” Rayla tertawa, mengingat permintaannya kala itu. “Kalau begitu, apakah Maylin juga ikut bersama Elian?”


Deon menghela napas dengan lega. Jantungnya sudah berdebar-debar kencang. Wanti-wanti istrinya minta hal aneh lagi darinya. “Tentu saja. Bukankah Maylin Sekretarisnya?”


“Hmm … apakah kamu melihat ada sesuatu antara mereka berdua?”


“Tidak. Sepertinya mereka biasa saja. Memangnya kenapa?”


Rayla sesaat berpikir. Sesungguhnya ia curiga Elian memiliki perasaan terhadap Maylin. Beberapa kali ia menangkap Elian yang sedang menatap Maylin dengan tatapan rindu.


Ia ingin Elian bersikap jujur. Maka dari itu, ia sengaja mengatur pasangan Bridesmaid dan Groomsmen dengan Maylin bersama Leonel.


Namun, sampai saat ini hubungan antara Elian dan Maylin tidak ada perubahan apa-apa. Apakah ia salah menangkap arti tatapan Elian itu?


Tiba-tiba perutnya terasa sakit hingga tanpa sadar ia meringis kesakitan.


Deon terkesiap melihat wajah istrinya yang berubah pucat. “Ada apa, Sayang? Mana yang sakit?”


“Sejak semalam perutku memang terasa tidak nyaman, tapi rasa itu sebentar datang sebentar menghilang.” Rayla mencoba mengambil napas secara teratur.


Ia menarik napas sebanyak-banyaknya, lalu dihembuskan setelahnya. Namun, rasa sakit kali ini terasa lebih kuat ketimbang semalam.


“Deon, bawa aku ke Rumah Sakit. Sepertinya aku mulai mengalami kontraksi.” Rayla memejamkan kedua matanya, berusaha menahan rasa sakit. “Oh ya, tolong ambil tas jinjing dari lemari. Aku sudah mempersiapkan semua kebutuhan selama persalinan.”


Deon kebingungan. Bukankah Dokter memperkirakan istrinya akan melahirkan sekitar minggu depan? Masih ada lima hari ke depan waktunya.


Meskipun dalam kepalanya dipenuhi pertanyaan, ia memilih bungkam dan mengambil tas yang dimaksud istrinya, kemudian bergegas membawanya ke Rumah Sakit.


Amanda ikut bersama mereka ketika Deon memberitahu kondisi Rayla saat ini.


*****


Setelah mengalami kontraksi selama sepuluh jam lebih, akhirnya pembukaan serviks sudah terbuka sepenuhnya. Selama itu pula Rayla menahan rasa sakit yang semakin lama terasa semakin lebih berat.


Deon selalu mendampingi istrinya. Tidak pernah beranjak pergi meninggalkan istrinya walau satu detik sekali pun.


Deon diperbolehkan oleh Dokter masuk ke dalam ruang persalinan, sedangkan Amanda, Restin dan Fifi menunggu di ruang tunggu.


Selama persalinan berlangsung, Deon terus menggenggam kedua tangan Rayla dan memberi kekuatan kepada istrinya dengan membisikkan kata-kata cinta.


Berselang lima belas menit kemudian, suara tangisan kencang dari mulut bayi pun menggema ke seluruh sudut ruang persalinan. Menandakan proses kelahiran berjalan lancar.


Dengan sigap, Dokter memotong tali pusar bayi, kemudian menyerahkan kepada Suster untuk dibersihkan, sementara Dokter kembali melanjutkan tugasnya.


“Selama atas kelahiran putra Anda, Pak Deonartus dan Ibu Rayla,” ucap Dokter sambil bibir mengulas senyum.


Perasaan haru muncul menyelimuti Deon dan Rayla. Kebahagiaan yang tengah mereka rasakan, membuat air mata pun menitik keluar.


Deon mengecup kening istrinya dengan lembut. “Terima kasih telah berjuang melahirkan anak kita, Sayang.” Senyumnya lebar, matanya berbinar-binar seperti menemukan harta karun. Begitulah bahagianya seorang Deonartus Surbakti.


“Terima kasih telah lahir ke dunia ini, Nak. Kehadiranmu adalah pelengkap hidup Mama.” Rayla dengan mata memandang bayinya sambil memasang wajah bahagianya.


Seluruh anggota keluarga kedua belah pihak turut berbahagia atas lahirnya buah hati Deon dan Rayla. Dengan tidak sabar, mereka bergantian memeluk bayi mungil tersebut.


“Kalian sudah menyiapkan nama untuk anak kalian?” tanya Fifi.


“Arthuray Surbakti.” Deon mengucapkan nama anaknya dengan bangga.


Ia mengerahkan otaknya demi mencari nama yang bermakna sekaligus menjadi lambang kesempurnaan cinta antara dirinya dan istrinya untuk anaknya.


“Jika huruf H pada bagian tengahnya dihilangkan yaitu Arturay. Artu yang diambil dari nama belakangku Deonartus, dan Ray dari nama depan Rayla. Sedangkan Arthur sendiri dalam bahasa Italia artinya kekuatan. Maka, arti dari keseluruhan nama ini adalah kekuatan cinta yang dimiliki antara diriku dan Rayla.”


Deon menoleh memandang Rayla dengan tatapan lembut dan mendalam. “Dan aku berharap anak kami ketika dewasa nanti, memiliki kekuatan untuk meraih cintanya juga melindungi orang-orang yang disayanginya.”


Rayla membalas menatap suaminya dengan tatapan bahagia.


Ia sangat bersyukur kepada Tuhan karena telah mempertemukannya dengan pria yang gigih memperjuangkan dirinya serta pelan-pelan menyembuhkan traumanya. Pria yang telah membuatnya berani mengambil keputusan untuk membangun rumah tangga dan memiliki anak.


Ia akan menciptakan rumah tangga yang bahagia dan harmonis untuk anak-anaknya. Kesalahan yang dilakukan oleh orang tuanya menjadi suatu pembelajaran baginya.


Tidak perlu menjadi orang tua yang sempurna, karena manusia memang tidak ada yang sempurna, bukan? Menjadi orang tua yang cukup dan bahagialah, sesungguhnya yang diinginkan oleh anak.


*Extra Part ternyata lebih panjang dari pada episode biasanya. Ketik, ketik eh tahu-tahu hampir 1900 kata **😆 Tolong kasih ⭐️⭐️⭐️⭐️⭐️ 5stars dong karena panjang banget nih hehe 😝 Author satu ini ngelunjak yak 🤗 Jangan lupa tinggalkan Komentar, Vote, Like dan dukungannya ya guys 🥰 Terima kasih 🙏 Loph u all 😘*