Silence

Silence
Bab 11



Happy reading 📖📖 ya guys


Mama menunjuk diriku dengan jari telunjuknya sedangkan matanya menatap Tante Fifi. “Dia pulang selarut ini bersama pria lain, Fi. Apa nanti yang akan digosipkan para tetangga? Mereka bisa menganggap aku tidak mendidik anak dengan benar.”


“Mama memang tidak pernah mendidik aku! Mama hanya tahu bagaimana mencari uang untuk membiayai hidup kami. Selain itu, tidak penting bagi Mama! Siapa yang mengambil raporku setiap tahun? Di mana Mama pada saat hari kelulusan SMP, SMA dan wisudaku? Di mana Mama saat aku sedang jatuh sakit?” tukasku dengan kata-kata tajam. Napasku tersengal-sengal karena menahan emosi.


“Jika Mama tidak berusaha mencari nafkah untuk kalian, bagaimana kalian bisa sekolah hingga ke perguruan tinggi, hah? Bagaimana hidup kalian bisa tercukupi?”


Kupejamkan mata, berusaha menenangkan emosi dan menahan bulir air mata yang siap menitik jatuh.


“Restin, Sekarang baru pukul 11:20. Saat Erik masih berada di Indonesia, dia selalu mengajak Rayla pergi berkencan hingga pulang lewat tengah malam. Seharusnya kamu menegur Erik, bukan Rayla,” tutur Tante Fifi mencoba menengahi perdebatan antara aku dan mama.


“Erik itu kekasihnya. Wajar kalau dia mengajak Rayla berkencan sampai jam berapa pun. Mereka berdua sudah dewasa. Mau melakukan apa saja terserah mereka,” jawab Mama.


“Menurut Mama wajar-wajar saja karena status kalian sebagai sepasang kekasih dan akan segera menikah, tapi jangan mempermalukan Mama dengan pergi bersama pria lain yang bukan kekasihmu sampai selarut ini!” Mama menatapku dengan tatapan menusuk.


“Astaga, Restin! Apakah kamu sadar yang baru saja kamu katakan?” Tante Fifi mengurut dada.


Aku tertawa parau. “Ma, pernah dengar pepatah mengatakan kalau buah tidak jauh dari pohonnya? Jika Mama menganggap aku serendah itu, berarti Mama juga sama rendahnya seperti aku,” ucapku sinis.


Mama terkejut dengan mata terbelalak. Tangannya terayun ke atas, tapi berhenti di udara. Giginya bergemeretak. Kemudian menurunkan kembali tangannya.


“Mau menamparku lagi? Kenapa tidak jadi, Ma? Tampar saja aku sepuas Mama!” teriakku frustasi dan sakit hati.


Aku berusaha keras agar tidak terlihat lemah di hadapan mama dengan menatap tajam padanya.


Mama sepertinya kehilangan kata-kata. Dia memutar balik tubuhnya lalu berjalan melangkah menuju kamar. Tante Fifi memelukku dengan pelan dan mengelus punggungku.


Aku melihat Maylin menangis. Pertahananku pun runtuh. Air mataku mengalir dengan deras membasahi wajah.


Tuhan, mengapa Engkau memberi cobaan seberat ini dalam hidupku? Aku tidak meminta banyak hal pada-Mu. Yang kuinginkan hanyalah cinta dan kasih sayang dari kedua orang tuaku.


Jika aku ditakdirkan tidak dapat memiliki kasih sayang dari papa, lalu apakah sesulit ini meminta kasih sayang dari mama? Mengapa aku harus dilahirkan di dunia ini jika kehadiranku tidak penting bagi mereka?


*****


Waktu sudah menunjukkan pukul satu siang. Aku sudah bangun sejak pukul tujuh pagi. Namun, aku memilih mendekam dalam kamar karena malas bertemu dengan mama.


Aku memposisikan tubuh dalam kondisi lurus dan kepala menghadap ke langit-langit kamar yang penuh dengan gambar bertaburan bintang.


Lima tahun yang lalu, Jason memberiku ide untuk memasang plafon langit kamar bertaburan bintang untuk mengatasi insomnia-ku.


Dia membantuku memasangnya sambil berkata, "Kalau lo tidak bisa tidur, sambil lihat plafon ini, lo coba membayangkan diri lo seolah-olah sedang berada di alam terbuka disertai langit ynag bertaburan bintang. Dijamin dapat membantu pikiran lo lebih tenang."


Lima tahun telah berlalu. Walaupun warna plafonnya mulai pudar, aku tidak berniat untuk menggantinya dengan yang baru.


Kemudian tatapan mataku beralih pada botol minum stainless steel yang tergeletak di meja. Ada kenangan yang tidak bisa kulupakan pada benda tersebut.


Pada saat itu, aku lulus sekolah dasar dengan nilai terbaik, membuatku masuk peringkat dua. Papa merasa bangga padaku. Beliau memberiku hadiah yaitu botol minum stainless steel. Aku mulai menggunakannya saat hari pertama masuk sekolah menengah pertama hingga sekarang.


‘Mengapa tidak diganti saja botol itu?’ banyak orang-orang yang mengajukan pertanyaan ini ketika mereka melihat kondisi botol tersebut yang warnanya sudah memudar dan penyok di beberapa tempat serta goresan karena tidak sengaja terbentur dengan barang lain.


Aku hanya tersenyum kecil merespons mereka tanpa ada niat untuk menjelaskan. Namun, tanpa sadar aku malah menjawab pertanyaan yang diajukan oleh Deon.


Suara pesan masuk berbunyi. Aku meraih ponselku di atas nakas. Deon mengirim pesan lewat Whats App.


Deon: Sudah bangun? Apakah semalam mama lo marah karena gue mengantar lo pulang larut malam?


Deon: Gue boleh ke rumah lo? Gue mau minta maaf sama tante.


Aku segera mengetik balasan untuknya.


Me: Tidak usah. Gue sudah menjelaskan kepada beliau.


Aku menarik napas kencang. Hubunganku dengan mama tidak pernah berjalan baik. Kami selalu bertengkar. Apakah sudah saatnya aku mengekost saja? Agar aku tidak sering-sering bertemu dengan mama dan bertengkar dengannya.


Sesungguhnya aku mulai lelah. Lelah karena sering bertengkar dengan mama, juga lelah mengharapkan kasih sayang darinya.


Tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu kamar disusul suara tante Fifi, “Rayla, kamu sudah bangun? Sudah siang, loh! Saatnya makan siang. Tadi pagi kamu tidak sarapan apa-apa.”


Mendapat perhatian dari Tante Fifi membuatku berpikir, mengapa bukan Tante Fifi yang menjadi mamaku?


“Tante boleh mengobrol sebentar?” Sorotan mata Tante Fifi terlihat tegas. Biasanya tatapan ini ditunjukkan saat aku atau Maylin melakukan kesalahan.


“Kalau Tante mau membahas masalah semalam, lebih baik urungkan niat, Tante. Aku tidak melakukan kesalahan apa-apa.”


“Dengarkan perkataan Tante dulu, Rayla. Selama ini Tante memilih bungkam karena ingin menjaga perasaan mamamu. Terutama kamu. Namun, kalimat yang kamu ucapkan semalam, membuat Tante mau tidak mau harus menceritakannya padamu.”


Aku kembali masuk dalam kamar tanpa menutup pintu. Tante Fifi ikut masuk lalu menarik sebuah kursi dan duduk.


Matanya terpejam sesaat. Beliau menarik napas dalam kemudian membuka kedua matanya lalu menatapku dengan sedih.


“Dulu Restin, mamamu, bekerja sebagai Sekretaris di tempat perusahaan mertuanya papamu, Frans Pramanta.” Tante Fifi memulai bercerita. Aku terlonjak karena kaget mendengarnya.


“Status Frans saat itu sudah menikah dan memiliki seorang putri. Namun, pelan-pelan rumah tangganya tidak berjalan lancar. Banyaknya masalah-masalah yang muncul, menyebabkan Frans mencari tempat untuk berkeluh kesah. Dan Restin menjadi pendengar yang baik. Itulah awal dari kedekatan mereka. Bermula dari status seorang Sekretaris kemudian pelan-pelan menjadi teman curhat dan akhirnya hubungan mereka melewati dari batas teman.”


Mataku membulat lebar. Papa selingkuh? Mama menjadi orang ketiga dan menghancurkan rumah tangga orang lain? Hal ini tidak pernah terlintas dalam pikiranku.


“Hubungan Frans dan Restin yang semakin dalam karena mabuk asmara, tanpa sadar perbuatan mereka telah membuatmu hadir.”


Seluruh tubuhku bergetar. Detak jantungku berdebar dengan sangat cepat. Kepalaku terasa pusing. Dadaku tiba-tiba terasa sulit bernapas. Aku adalah hasil dari perselingkuhan mereka?


Tante Fifi berpindah duduk di sebelahku. Beliau menggenggam kedua tanganku dengan erat. “Restin meminta Frans untuk bertanggung jawab. Frans merasa bersalah dan akhirnya berniat untuk menceraikan istrinya. Namun, istrinya tidak bersedia menandatangani surat cerai. Sedangkan ayah mertuanya mengusir Frans dan Restin dari perusahaan. Mereka ingin memberi pelajaran pada kedua orang tuamu.”


“Ayah mertua Frans adalah salah satu pebisnis yang memiliki pengaruh besar dalam dunia bisnis. Dia menyebarkan berita tentang perselingkuhan yang dilakukan Frans dan Restin kepada rekan bisnisnya. Juga memberi ultimatum untuk tidak menerima Frans atau Restin bekerja pada perusahaan mana pun. Jika ada salah satu perusahaan yang menerima mereka, maka perusahaan tersebut akan dibuat gulung tikar olehnya.”


Aku tertawa sinis mendengarnya. Apa setiap orang kaya bersikap seperti itu? Menggunakan kekuasaan mereka untuk menyakiti orang yang lemah?


“Lalu mengapa mereka pada akhirnya bercerai?” tanyaku pelan.


Sesungguhnya, aku tidak ingin lanjut mendengar kisah asmara papa dan mama. Aku takut setelah mengetahui semuanya, hanya membuat diriku semakin hancur. Namun, rasa penasaran membuat otak dan mulutku tidak sinkron.


Tante Fifi diam. Aku menatapnya dengan memelas. “Tante, aku sudah dewasa. Sudah saatnya aku harus tahu, sebenarnya apa yang telah terjadi antara papa dan mama?”


Sesaat Tante Fifi terlihat ragu. Tidak berapa lama kemudian, Tante Fifi kembali melanjutkan ceritanya. “Karena status Frans masih beristri, dia tidak bisa menikahi Restin. Mereka berdua pun memutuskan untuk tinggal bersama tanpa perlu menjadi suami istri yang sah secara hukum.”


“Mama menerima keputusan itu dengan sukarela?”


Tante Fifi mengangguk. “Awalnya Restin merasa hal itu tidak menjadi masalah. Namun, saat kamu mulai masuk taman kanak-kanak, banyak orang bergunjing tentang status mamamu yang tinggal bersama papamu tanpa menikah secara sah. Dikartu keluarga juga tidak tercantum nama papamu. Restin merasa malu karenanya. Dia selalu menanyakan pada Frans, kapan istri pertamanya bersedia menandatangani surat perceraian? Frans tidak pernah bisa menjawabnya.”


Tante Fifi menghela napas dalam sebelum kembali melanjutkan ceritanya. “Lalu Maylin pun lahir. Frans semakin kesulitan mencari pekerjaan dengan gaji yang lebih tinggi sedangkan dia harus menghidupi kalian. Restin yang mengalami syndrome baby blues setelah melahirkan Maylin, membuat Frans menjadi stres. Mereka tidak menemukan jalan keluar untuk mengatasi masalah mereka. Hubungan mereka berdua mulai retak. Pertengkaran pun akhirnya tak bisa dielakkan lagi.”


Hatiku berdenyut sakit. Jadi, hal itu yang membuat mereka berdebat? Aku dan Maylin adalah anak diluar nikah?


“Rayla ….” Tante Fifi mengelus pelan punggungku.


“Aku adalah hasil dari perselingkuhan mereka. Karena itu mama membenciku?” gumamku pelan.


“Tidak ada seorang ibu yang benar-benar membenci anaknya, Rayla.”


Aku menutup kedua mataku. Aku ingin mempercayai ucapan Tante Fifi tadi, tapi bayangan pertengkaran antara aku dan mama menari-nari dibenakku.


“Keputusan Frans yang memilih meninggalkan kalian semua, membuatnya merasakan kekecewaan dan sakit hati yang sangat dalam. Namun, Restin mempunyai tanggung jawab untuk menghidupi kalian yang masih kecil. Karena itu, dia berusaha bekerja keras untuk membiayai kehidupan kalian hingga dia tidak memiliki waktu untuk kalian.”


Aku menggeleng kepala. “Tante salah. Mama memiliki waktu untuk berkumpul dengan teman-teman arisannya, tapi tidak memiliki waktu untuk aku dan Maylin.”


Tante Fifi terdiam. Aku menghembuskan napas kencang. Mencoba mengatur perasaanku yang sedang kacau saat ini. “Aku ingin istirahat, Tante.”


Tanpa mengucap sepatah kata, Tante Fifi bangun dari kasurku lalu berjalan keluar.


Ketika Tante Fifi akan menutup pintu kamar, aku segera berkata padanya, “Jangan ceritakan tentang ini kepada Maylin. Aku mohon, Tante.”


Tante Fifi membalas dengan mengangguk kemudian menutup pintu kamarku.


Air mata yang kutahan sedari tadi, akhirnya mengalir. Napasku terputus-putus. Membuatku sulit bernapas. Kenyataan tentang keberadaanku adalah sebuah kesalahan, membuat dadaku terasa nyeri.


Hai Readers, semoga cerita ini kalian suka. Tolong kasih ⭐️⭐️⭐️⭐️⭐️ 5stars sebagai dukungan semangat buat aku ya. Jangan lupa tambahkan ke Favorite lalu tinggalkan Komentar, Vote, Like dan Hadiahnya ya guys. Terima kasih 🙏